A Complicated Love Story (Part 9)

Genre: Humor, Romance, Drama
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe cerita: Cerbung
Enjoy it~

Demi kulit kerang ajaib!

Itu Aalya lagi dibonceng siapa? Mau ke mana? Dan kenapa ada adegan peluk-pelukkan pinggang segala?
Dan....

Astaga naga dragon ball!

Orang yang bonceng Aalya itu cowok, bray! Iya, C O W O K!

Gue gak cemburu kok, bray. Gue cuma penasaran aja. Penasaran, gak lebih. Gue gak bakal turun dari motor, nyamperin Aalya dan marah-marah gak jelas gara-gara cemburu kayak ibu tiri yang sering ada di FTV Hidayah. Itu hak Aalya mau jalan sama siapa, toh gue juga bukan siapa-siapanya Aalya. Gue tau diri kok, bray. Mungkin aja itu temennya dan mereka mau ngerjain tugas kelompok bareng. Kan who knows ya, bray?
.
.
.
Tapi, gue penasaran, bray.
.
.
.
Cowok yang bocengin Aalya itu pake helm. Jadi, gue gak bisa liat mukanya. Aalya juga kayaknya gak sadar akan keberadaan gue yang berada gak jauh darinya. Dia tetap keliatan santai dan anggun seperti biasanya. Gue benci berada dalam situasi kayak gini, bray!

"Lu gak mau turun, bro?" tanya Alfan ujug-ujug, membuyarkan lamunan gue. "E-eh... iya, ini gue mau turun." jawab gue gugup. Oh, ternyata gue udah nyampe di rumahnya Alfan. Rumah Alfan tampak masih sama kayak terakhir kali gue dateng ke rumah ini. For your information, rumah Alfan itu megaaaaaaah dan luaaaaaaaas banget. Jadi, kalo lo main sepak bola di rumah Alfan, lo pasti bakalan capek banget, bray. Wajar sih rumah Alfan ini bisa megaaaaah dan luaaaaaas banget kayak gini, soalnya Papahnya Alfan itu pengusaha batu bara dan Mamahnya Alfan pemilik salah satu restoran paling tersohor di Jakarta yang punya banyak cabang di setiap daerah. Meskipun terlahir sebagai orang kaya, Alfan gak pernah pake barang-barang mewah ataupun pamer kekayaan kayak pemeran antagonis di sinetron-sinetron Indonesia yang hobinya pamer kekayaan dan menindas orang miskin. Alfan lebih suka hidup sederhana. Dia juga ramah sama siapa aja, gak peduli akan status sosial seseorang.

Gue turun dari motor Alfan dan berjalan mengikuti Alfan masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di dalam, rumah ini bener-bener sepi. Hening. Oh, gak. Ternyata masih ada dua orang pembantunya Alfan yang ada di rumah ini yang bikin rumah ini gak kayak rumah gak berpenghuni.

"Ayo!" ajak Alfan seraya menarik tangan gue tanpa izin ke kamarnya. Kamar Alfan ada di lantai dua. Alfan membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalamnya, gue mengikuti Alfan dari belakang. Kamar Alfan didominasi oleh warna biru muda, di sekitaran dinding kamarnya dipenuhi oleh foto-foto Tailor Swift dan One Direction. Iya, Alfan ngefans banget sama Tailor Swift dan One Direction.

Gue bakalan nginep di rumah Alfan untuk malam ini.

"Eh bro, lu udah izin sama ortu lu, belum?" tanya Alfan ujug-ujug. Dia udah mengganti seragam sekolahnya. Entah kapan dia menggantinya. "Waduh, belum, bray." jawab gue. Iya, gue belum izin sama Mamah dan Papah, bray. "Izin dulu sana." perintah Alfan. Gue nurutin apa yang Alfan katakan. Gue mengambil handphone gue, gue mulai menelepon orang rumah.

"Hallo? Rumah keluarga Archenhaud di sini. Mau pesan apa?" sapa seseorang dari ujung sana.

Fuck! Gue salah mencet nomor! Itu nomornya Mario stupid itu, bray!

"Pesen kucing goreng bumbu rica-rica, mas." sarkas gue. "Hahahaha. That's not funny, bitch!" umpat Mario. "Lo yang yang bitch!" umpat gue balik. "Ada apa lo nelpon gue, heh?" tanya Mario dengan nada sinis. "Tadinya gue mau nelpon Mamah tapi mungkin Dewa Zeus lagi hukum gue gara-gara kemaren gue lupa baca doa pas mau makan, jadinya yang kepencet malah nomor lo. Jadi, gue nelpon cuma mau ngasih kabar kalo malam ini gue gak pulang karena mau nginep di rumah Alfan." jawab gue panjang lebar. "Bagus, deh. Jatah makan malem lo jadi buat gue hahaha." balasnya dari ujung sana. Kurang ajar! "Dasar babon rakus nyebelin!" umpat gue kezel.

"Bia--"

Gue menutup teleponnya, gak mau nanggapin omongannya lagi. Gue males ngomong lama-lama sama dia. Ngomong sama dia itu sama aja kayak nyolong jambunya Pak RT., dosa. Nanti Dewa Zeus pasti marah sama gue dan gue dihukum dengan cara dimasukin ke neraka. Gue gak mau masuk neraka, bray. Nanti gue pasti bakal ketemu Mario di sana. Dia kan iblis. Terus nanti gue gak bakal bisa tebar pesona lagi sama cewek-cewek. Ih, gak mau, ya.

Gue menaruh handphone gue ke dalam saku celana sekolah gue. Gue berjalan menghampiri Alfan yang lagi sibuk mengaduk-aduk sesuatu. Mungkin uangnya jatoh dan uang yang jatoh itu kebetulan uang koin. Jadi, keselip entah di mana, deh. Gue suka gitu. Gue kadang nyimpen uang koin kembalian beli permen karet, gue taro duitnya di saku celana gue tapi besoknya udah ilang tuh duit. Pas gue cari, rupanya jatoh dan keselip di kolong tempat tidur gue. Tapi, kadang duit gue ilang tuh bukan gara-gara jatoh dan keselip tapi diambil sama Mario buat beli tahu bulet. Kurang ajar!

"Oi, bray." sapa gue seraya menepuk bahunya. Dia kaget dan hampir kejengkang. "Apaan sih lo bro pake kagetin gue segala! tanggung nih!" maki Alfan. "Lo lagi cari apa sih?" tanya gue penasaran. Gue duduk di samping Alfan yang masih aja sibuk mencari sesuatu entah apa itu. "Gue lagi cari novel gue yang judulnya Endless Love. Gue baru beli kemaren di Gramedia deket sekolah kita itu lho. Gue baru baca halaman pertama eh novelnya udah ilang entah ke mana." jawabnya panjang lebar. Hah? Alfan? Baca novel? Gue gak salah denger, kan?

"Sejak kapan lo suka baca novel, bray?"

Iya, selama gue temenan sama dia tuh gue gak pernah liat dia baca buku. Apalagi novel. Terakhir kali gue liat dia baca buku tuh pas gue sama dia baca buku di perpustakaan pas kelas sepuluh. Itupun keesokan harinya Alfan langsung demam. Sejak saat itu dia gak mau baca buku lagi. "Sebenernya gue udah lama suka baca buku dan sumpah gue dulu buat gak baca buku lagi pas kelas sepuluh itu cuma bullshit. Gue cuma gak ngasih tau kalian aja kalo gue masih suka baca buku hehe." dia gak noleh ke arah gue sama sekali. "Oh...." gue ber-Oh ria.

"Nah, ini dia!" seru Alfan ujug-ujug. Gue kaget tapi gak jadi karena Alfan keburu berdiri dan duduk di atas kasurnya yang super besar itu. "Eh bro, lu ganti baju dulu sana." perintah Alfan seraya membolak-balik novel Endless Love-nya itu untuk mengecek apa ada yang rusak atau gak. "Gue gak bawa baju ganti, bray." kata gue. Gue emang gak bawa baju ganti kok, bray. "Pake baju gue aja." usul Alfan. "Oke." kata gue, mengiyakan usul Alfan.

Gue mengiyakan usul Alfan. Gue berjalan ke arah lemari baju Alfan buat milih baju apa yang bakal gue pake nanti. Gue milih baju kaos putih yang di tengahnya ada gambar Minion yang lagi pasang wajah bloon dan gue milih celana boxer sebagai teman dari baju kaos yang gue pilih tadi. Gue bawa baju dan celana yang udah gue pilih tadi ke kamar mandi. Gue ganti baju di sana.

***

"Istirahat dulu ah, bray. Capek nih" pinta gue, yang mulai capek karena udah sejam lari. Alfan berhenti. Dia membalikkan badannya, mendapati gue yang lagi kelelahan dengan nafas yang terengah-engah. Dia berjalan ke arah gue dan bantu gue berdiri. Gue udah capek banget, bray. Mana belum sarapan pula.

"Yaudah, kita istirahat sekalian sarapan aja. Kebetulan di sekitar sini ada tukang bubur ayam. Lo pasti udah laper kan, bro?"

Banget, batin gue.

"Okeh, bray." balas gue, mengiyakan ajakan sarapan bubur ayamnya. Dia tersenyum dan ngerangkul pundak gue untuk berjalan menuju tukang bubur ayam yang Alfan maksud.

Ohiya, kalian pasti bingung kan kenapa gue dan Alfan bisa lari-lari di pagi yang indah nan cerah ini? Gak usah bingung apalagi sampe dipikirin, bray. Kata Mamah, kalo orang terlalu banyak pikiran, nanti rambutnya gampang rontok. Entah apa hubungannya. Gue juga gak tau.

Gue dan Alfan bisa lari-lari di pagi yang indah nan cerah ini karena gue dan Alfan kesiangan, bray. Alhasil gue dan Alfan gak masuk sekolah, deh. Gue dan Alfan bisa kesiangan tuh gara-gara semalem gue dan Alfan baca bareng novel Endless Love-nya Alfan sampe larut malam. Gue sempet baper baca novel itu. Abisan sedih banget bray ceritanya. Bahkan, lebih sedih dari novelnya Randy --temen sekelas gue-- yang pernah gue baca dulu. Judul novelnya Randy yang dulu pernah gue baca tuh Kuntilanak Beranak Dalam Kubur.

Nah, gara-gara acara baca bareng novel Endless Love-nya Alfan itulah yang bikin gue dan Alfan kesiangan. Kami bangun jam 07:29, sedangkan gerbang sekolah udah ditutup dari sejak jam 07:00. Daripada gue dan Alfan cuma bengong di rumah aja, akhirnya gue dan Alfan mutusin buat joging keliling komplek rumah Alfan.

Gue dan Alfan sampai di lapak tukang bubur ayam yang Alfan maksud. Jaraknya cukup jauh dari tempat gue dan Alfan tadi berada. Sesampainya di lapak tukang bubur ayam itu, tempat ini udah dipenuhi banyak orang yang mau sarapan di sini. Kayaknya sih mereka itu juga abis joging kayak gue dan Alfan. Kata Alfan, bubur ayam ini tuh terkenal akan keenakannya. Gue jadi penasaran dong, akhirnya gue dan Alfan pesen dua porsi bubur buat kami santap. Setelah memesan, gue dan Alfan duduk di bawah salah satu pohon yang berada gak jauh dari lapak tukang bubur ayam yang katanya enak banget itu.

Pesanan gue pun dateng gak lama setelah gue pesen. Pelayanannya cepet, gue suka. Tanpa berlama-lama lagi, gue mulai mencicipi seporsi bubur ayam yang gue pesen tadi. Alfan juga mulai menyantap bubur ayamnya. Gue mulai mencicipinya...

Astaga naga dragon ball!

Bener, bray! Bubur ayamnya beneran enak, bray! Ini bubur ayam terenak yang pernah gue makan, bray. Gue gak bohong. Ini beneran enak banget! Alfan bener. Gak sia-sia gue keluarin duit Rp. 7.000,- buat bubur ayam seenak itu. Pantes aja banyak banget pembelinya.

"Bro, gue mau ke kamar mandi dulu, ya." pamit Alfan setelah memakan bubur ayam miliknya. "Kamar mandi? Emang ada? Di mana, bray?" tanya gue heran. "Ada, kok. Itu di ujung deket pohon mangga di ujung sana." jawab Alfan seraya menunjuk ke arah pohon mangga yang ada di ujung sana. "Oh, oke." balas gue. Dia pun membalikkan badannya dan pergi ninggalin gue sendiri. Bubur ayam gue udah habis. Gue mau nambah tapi kata Mamah kalo sarapan itu gak boleh banyak-banyak. Takut gemuk, katanya. Gue pun selalu nurutin semua apa kata Mamah biar gue gak dikutuk jadi batu kayak si Malin Kutang-- eh.. Malin Kundang, maksud gue.

Gue mulai bete berada di bawah pohon sendirian. Alfan mana sih? Ke kamar mandi kok lama amat. Lapak bubur ayam yang super enak ini mulai sepi, haripun udah semakin siang. Gue celingak-celinguk ke sekeliling gue, orang-orang yang tadi pada lagi joging juga mulai berhamburan pergi. Taman komplek ini udah mulai sepi. Gak ada ma-- eh.. ada satu cewek yang lagi duduk di salah satu bangku taman di ujung sana, bray. Dari belakang gini sih kayaknya gue kenal, bray. Atau.... jangan-jangan itu Aalya?

Karena penasaran, gue pun menghampiri cewek yang lagi duduk di salah satu bangku taman komplek ini. Jarak bangku taman itu dari lapak bubur ayam yang enak banget ini gak terlalu jauh. Gak sejauh jarak cinta gue sama Aalya.

Okeh, gue ngawur.

"Aalya?" sapa gue pada cewek itu sesampainya gue ke bangku yang lagi dia duduki. Cewek itu membalikkan badannya, dia menoleh ke arah gue. Binggo! Itu Aalya. "Ahh, udah gue duga itu pasti lo." tambah gue. Aalya keliatan kaget ketika sadar akan keberadaan gue. Dari raut mukanya sih gue bisa liat kalo dia kaget dan kayak antara takut dan cemas gitu. Ekspresi muka Aalya sekarang mirip ekspresi muka Selena Gomez pas mau gue mandiin, takut dan harap-harap cemas gitu.

Selena Gomez yang gue maksud itu kucing gue yang mati dilindes mobil tahu bulet ya, bray. Bukan Selena Gomez yang mantan pacarnya Justin Bieber. Yakali dia mau gue mandiin.

Dia kenapa, ya?

Gue duduk di sebelahnya. Sekarang, dia kayak lagi mengawasi keadaan sekitar dengan ekspresi wajah antara takut dan cemas kayak anak gadis yang mau diperkosa gitu. Fix, gue bingung.

To be continued...
======================
Haiiii....
Saya update lagi. xD
Udah lama gak update cerita ini. Saya udah selesai UTS dan sekarang lagi harap-harap cemas takut nilai saya jelek. Huhuhu

Komentar, kritik, dan sarannya ditunggu, ya.

Okeh, I love y'all. :*
XOXO

Comments

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon