A Complicated Love Story (Part 5)
Genre: Humor, Romance, Drama
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe Cerita: Cerbung
Enjoy it~
Rumah bu Endang terletak lima blok dari rumah gue. Jadi, gue harus berjalan agak jauh dari rumah gue. Ada jalan pintas, sih. Tapi jalan pintas itu angker. Jalan pintas itu ada di deket pemakaman. Setiap kali gue lewat sana untuk memotong jalan, buluk ketek eh bulu kuduk gue selalu berdiri. Bukan berdiri karena kedinginan, ya. Tapi karena gue takut, bray!
Konon katanya, dulu di salah satu rumah yang ada di area jalan pintas itu ada orang yang bunuh diri. Katanya sih bunuh diri gara-gara diteror orang misterius. Nah, orang yang bunuh diri itu merasa ketakutan akibat teror-teror dari orang misterius itu hingga akhirnya orang itu milih untuk bunuh diri dengan cara gantung diri di pohon beringin. Agak konyol sih tapi itu tetep aja serem, bray! Okeh, berhenti bahas jalan pintas terkutuk itu!
Gue jalan dengan santai sambil membawa kue blackforest pesanannya bu Endang buat acara arisan di rumahnya. Mamah juga diundang. Di sepanjang jalan gue disuguhkan pemandangan anak-anak yang sedang bermain dengan bahagianya. Lalu, ada anak-anak yang kira-kira masih SMP sedang bermain sepak bola di lapangan sepak bola di ujung jalan itu. Gue dulu suka banget main sepak bola di lapangan sepak bola itu sama Mario dan teman-teman gue yang lainnya. Tapi, semenjak kaki gue cedera pas main sepak bola dulu -- kira-kira itu pas gue kelas 1 SMP-- gue udah gak pernah main sepak bola di sana lagi. Mamah yang larang gue buat main sepak bola lagi karena takut kaki gue cedera lagi.
Gue berjalan menyusuri ramainya jalanan komplek yang dihiasi oleh pemandangan anak-anak yang bermain ke sana kemari, ibu-ibu komplek yang lagi gosip di warung, dan hilir mudik kendaraan yang membuat komplek ini terasa... eh itu dia rumah bu Endang! Gue mempercepat langkah gue hingga akhirnya gue sampe di depan pintu pagar rumahnya bu Endang. Gue memencet bel yang ada di pintu pagar rumahnyaa bu Endang.
"Silakan masuk." Ujar seseorang seraya membukakan pintu pagar ini tak lama setelah gue memencet bel-nya. "Aalya?" tanya gue heran setelah sadar siapa orang yang membukakan pintu pagar ini. "Rio?" tanyanya balik. Okeh fix, gue bingung. "Lo anaknya bu Endang?" tanya gue (lagi). "Hehe iya. Ohiya, ayo masuk. Ibuku udah nunggu di dalem." jawabnya seraya mempersilakan gue masuk. "Bu, ini kuenya datang." Itu bukan gue. Itu suara Aalya yang lagi ngomong sama ibunya. Aduh, bray. Jantung gue dag-dig-dug-serrr nih kalo ada di deket Aalya.
Bu Endang keluar dari dalam rumahnya dan berjalan menghampiri gue yang lagi duduk di teras rumahnya. "Eh, ada nak Rio." kata bu Endang. "Hehe ini kuenya, bu." balas gue seraya menyerahkan kue blackforest buatan mamah pada bu Endang. "Oh, iya. Makasih ya, nak Rio." ucap bu Endang. "Sama-sama, bu." balas gue. "Eh maaf ya nak Rio ibu harus ke belakang lagi. Maklum, lagi repot hehe. Kamu ngobrol aja ya sama anak tante, Aalya." kata bu Endang yang hendak kembali ke dalam rumahnya. "Oh, iya, bu gapapa." balas gue. Bu Endang masuk kembali ke dalam rumahnya. Di luar sini cuma tersisa gue dan Aalya berdua yang sedang berdiri dengan canggung persis kayak anak gadis yang mau dilamar.
"Aalya." kata gue, memulai percakapan. "Iya?" tanyanya. "Nanti malem kita jalan yuk. Iya, gue tau kita kan baru kenal tapi nanti di rumah lo ada acara, 'kan? Nah, daripada diem di rumah kayak kambing yang kena stroke, mendingan kita jalan." jawab gue panjang lebar. "Hmhm.. boleh deh." katanya, mengiyakan ajakan gue. YES!!!! "Okeh, gue tunggu di deket lapangan bola sana ya, jam 7."
***
Pukul 18.50.....
Gue siap-siap untuk kencan sama Aalya. Okeh, itu bukan kencan. Gue cuma lagi ngarang aja. Itu cuma jalan-jalan malam biasa tanpa ada maksud terselubung lain. Gue masih gak percaya kalo Aalya nerima ajakan jalan gue. Gue gak mimpi kesurupan arwah banci gila, 'kan? Ahhhh.... senangnya hati gue, bray.
Mamah udah berangkat arisan dari sehabis solat maghrib tadi. Jadi, cuma tinggal gue dan Mario yang ada di rumah. Papah masih di kantor. Gue udah biasa ditinggal berdua doang sama Mario. Apalagi kalo workholic-nya mamah kambuh lagi, gue bisa berhari-hari ditinggal berdua doang sama babon rakus nyebelin yang bernama Mario itu.
"Widih, cakep amat lo. Mau mangkal di mana?" ejek Mario yang dengan lancangnya masuk ke kamar gue tanpa mengetuk pintu. Gue yang lagi berdiri di depan kaca untuk memastikan apa yang gue pake ini udah rapih atau belum kaget melihat Mario yang tiba-tiba ada di kamar gue. Dia gak ada kerjaan lain ya selain gangguin gue, heh? "Gue emang cakep, gak kayak lo yang buruk rupa, bitch!" balas gue. "Kita ini kan kembar, bitch! Jadi, muka lo sama muka gue itu sama." katanya. Ohiya, gue dan Mario kan kembar. Kok gue bisa lupa, ya? "Udah, ah! Buang-buang waktu aja ngobrol sama lo! Minggir! Gue mau keluar!" ujar gue.
Gue mendorong tubuh bongsor Mario hingga dia jatuh ke atas kasur gue. Kali ini dia gak pasang muka iblisnya setiap kali gue bertingkah kasar padanya kayak tadi, dia malah menatap gue dengan tatapan penuh tanda tanya. Itu aneh memang tapi biarin aja, ah. Mario kan emang aneh. Kapan tau itu dia pernah ngira kalo makanan anjing itu Koko Crunch saat gue mau ngasih makan Selena Gomez --anjing gue-- tapi sekarang Selena Gomez udah mati dilindes mobil tahu bulat. Gue sedih banget waktu itu tapi seminggu kemudian gue udah lupa sama Selena Gomez. Duh, maafin gue ya, selena.
Eh, kenapa gue malah bahas Selena Gomez, ya? Okeh, lupakan!
Gue melangkahkan kaki keluar dari kamar gue melewati ruang tamu hingga gue sampe di pintu pagar rumah gue. Gue membuka pintu pagar rumah gue dan keluar melewatinya untuk berjalan menemui Aalya di lapangan sepak bola dekat rumahnya. Iya, gue jalan kaki, bray. Gue gak mau naik mobil ataupun motor. Alasannya sih...
Pertama, jarak lapangan sepak bola itu dari rumah gue lumayan deket. Okeh, gue bohong. Jaraknya agak jauh tapi gapapa, bray. Kedua, gue ini salah satu pendukung gerakan Go Green. Kalau gue naik mobil atau motor, itu akan menghasilkan yang akan membuat kualitas udara menurun. Udah banyak orang yang bikin bumu ini rusak, gue gak mau jadi salah satu dari mereka.
***
Gue udah sampe di lapangan sepak bola tempat gue janjian sama Aalya. Lapangan sepak bola ini udah sepi, bray. Wajar sih, ini kan udah malem. Anak-anak kecil yang biasa main sepak bola di sini pasti gak boleh keluar sama orang tua mereka. Komplek perumahan gue ini emang sepi kalau malam gini. Gak banyak yang lalu lalang atau melakukan aktivitas di luar rumah. Ada sih orang yang lalu lalang tapi gak sebanyak ketika di siang ataupun sore hari.
Gue duduk di salah satu kursi penonton untuk menunggu kedatangan Aalya sembari memainkan ponsel. Gue buka aplikasi Facebook dan melihat-lihat beranda Facebook gue. Eh, Revan mengunggah foto mesra dengan seorang gadis. Mereka terlihat sangat mesra dalam foto itu. Dasar Revan kurang ajar! Bikin gue iri aja! Eh, kenapa gue sewot ya? Okeh, lupa... eh Aalya udah hampir nyampe, bray! Lihat itu, Aalya memakai kaos lengan panjang berwarna putih dengan sedikit aksen warna merah muda dan memakai celana jeans berwarna hitam. Dia terlihat sangat cantik malam ini. Aduh, gue deg-degan nih, bray!
Gue mematikan ponsel gue dan memasukannya ke dalam saku celana gue. "Hei." sapanya saat tiba di hadapan gue. "Hei juga." sapa gue balik. "Maaf telat, tadi ibuku nyuruh ikut gabung bareng mereka dulu tapi untung aku bisa cari alesan buat kabur dari mereka." jelasnya panjang lebar. "Gapapa, gue juga belum lama kok nyampe di sini." balas gue. "Makasih." Dia tersenyum. Okeh, bentar lagi gue pingsan nih. Ahhhhh! Senyumannya manis banget, bray! "Lo cantik banget malam ini." puji gue. Gue gak bohong, bray. Dia emang cantik banget malam ini. "Kamu bisa aja." katanya malu-malu beruang. Eh, kucing maksud gue. "Hehehe" tawa gue salah tingkah.
Kami diam setelahnya. Suasana langit malam ini sangat bersahabat. Oh, lihat itu, bintang-bintang yang membentuk gugusan itu terlihat sangat indah menghiasi gelapnya langit malam. Ini romantis banget, bray!
"Jadi, lo ambil jurusan apa di SMAN 79?" tanya gue, membuka obrolan. "Aku ambil IPS, kalau kamu?" jawabnya. Oh, dia anak IPS. "Gue ambil IPA. Kata mamah gue, anak IPS itu berandalan semua. Kecuali lo, ya. Jadi, gue disuruh ambil IPA. Lagian gue juga gak minat IPS hehe." balas gue panjang lebar. "Oh, kamu anak IPA. Keliatan kok dari mukanya hehe." katanya. "Lho? Emang di muka gue ada tulisan 'IPA' ya?" tanya gue bloon. "Bukan, maksudku, muka kamu itu keliatan kayak muka-muka kutu buku gitu hehe." jawabnya. Okeh, dia nyebelin. Masa muka ganteng gini dibilang kayak muka kutu buku, heh? Untung dia cantik. Huh!
Gue diam, gak menanggapi omongannya lagi. Bukan karena kezel, ya. Tapi, karena gue bingung mau jawab apa. Gue deg-degan bray! "Eh, aku sering lho liat kamu di kantin sekolah. Kamu temennya Revan, Alfan, dan vla...vla...aduh, siapa ya nama cowok bule itu?" ujarnya, memecahkan keheningan.
"Vladislav." sambung gue.
"Nah, iya, itu hehe." katanya. Duh, tawanya enak didenger, bray! "Iya, gue temennya mereka. Eh, lo kan sering liat gue sama temen-temen gue di kantin tapi kok gue gak pernah liat lo, ya?" tanya gue. Iya, gue gak pernah liat dia, bray. "Aku selalu duduk di meja paling depan sedangkan kamu selalu duduk di meja paling pojok. Jadi, mana mungkin bisa liat aku. Eh kemarin kita ketemu pas lagi pesen makanan sama bu Juju. Aku mau nyapa tapi aku takut karena kita kan belum saling kenal." jawabnya. Iya, ya, dia bener hehe. "Sapa aja kali. Gue gak binal kok kayak Jenita." kata gue asal.
"Hehehe." tawanya.
"Duh, anak kita romantis ya, jeung." Itu bukan Aalya. Itu suara mamah dan bu Endang yang tiba-tiba muncul kayak arwah banci gila. "Iya, ya jeung. Kalo dijodohin mau gak ya mereka?" sahut bu Endang. "Ih, ibu apa-apaan sih! Udah, ah. Aalya mau pulang aja." ucap Aalya salah tingkah. Aaaarrrrggghhh! Kenapa mamah harus muncul sih di saat gue udah mulai deket sama Aalya? "Rio juga pulang ah, mah." kata gue. Gue bangkit dari kursi penonton yang gue duduki tadi. Gue melangkahkan kaki pergi meninggalkan mamah dan bu Endang yang lagi ketawa-tawa kayak anak perawan.
"Mereka lucu ya, jeung haha." kata mamah. Gue masih bisa denger apa yang mamah dan bu Endang bicarakan.
BERSAMBUNG....
============================
Komentar, kritik, dan sarannya ditunggu, ya. :)
Komentar kalian sangat berharga untukku. :)
Okeh, see ya. ;)
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe Cerita: Cerbung
Enjoy it~
Rumah bu Endang terletak lima blok dari rumah gue. Jadi, gue harus berjalan agak jauh dari rumah gue. Ada jalan pintas, sih. Tapi jalan pintas itu angker. Jalan pintas itu ada di deket pemakaman. Setiap kali gue lewat sana untuk memotong jalan, buluk ketek eh bulu kuduk gue selalu berdiri. Bukan berdiri karena kedinginan, ya. Tapi karena gue takut, bray!
Konon katanya, dulu di salah satu rumah yang ada di area jalan pintas itu ada orang yang bunuh diri. Katanya sih bunuh diri gara-gara diteror orang misterius. Nah, orang yang bunuh diri itu merasa ketakutan akibat teror-teror dari orang misterius itu hingga akhirnya orang itu milih untuk bunuh diri dengan cara gantung diri di pohon beringin. Agak konyol sih tapi itu tetep aja serem, bray! Okeh, berhenti bahas jalan pintas terkutuk itu!
Gue jalan dengan santai sambil membawa kue blackforest pesanannya bu Endang buat acara arisan di rumahnya. Mamah juga diundang. Di sepanjang jalan gue disuguhkan pemandangan anak-anak yang sedang bermain dengan bahagianya. Lalu, ada anak-anak yang kira-kira masih SMP sedang bermain sepak bola di lapangan sepak bola di ujung jalan itu. Gue dulu suka banget main sepak bola di lapangan sepak bola itu sama Mario dan teman-teman gue yang lainnya. Tapi, semenjak kaki gue cedera pas main sepak bola dulu -- kira-kira itu pas gue kelas 1 SMP-- gue udah gak pernah main sepak bola di sana lagi. Mamah yang larang gue buat main sepak bola lagi karena takut kaki gue cedera lagi.
Gue berjalan menyusuri ramainya jalanan komplek yang dihiasi oleh pemandangan anak-anak yang bermain ke sana kemari, ibu-ibu komplek yang lagi gosip di warung, dan hilir mudik kendaraan yang membuat komplek ini terasa... eh itu dia rumah bu Endang! Gue mempercepat langkah gue hingga akhirnya gue sampe di depan pintu pagar rumahnya bu Endang. Gue memencet bel yang ada di pintu pagar rumahnyaa bu Endang.
"Silakan masuk." Ujar seseorang seraya membukakan pintu pagar ini tak lama setelah gue memencet bel-nya. "Aalya?" tanya gue heran setelah sadar siapa orang yang membukakan pintu pagar ini. "Rio?" tanyanya balik. Okeh fix, gue bingung. "Lo anaknya bu Endang?" tanya gue (lagi). "Hehe iya. Ohiya, ayo masuk. Ibuku udah nunggu di dalem." jawabnya seraya mempersilakan gue masuk. "Bu, ini kuenya datang." Itu bukan gue. Itu suara Aalya yang lagi ngomong sama ibunya. Aduh, bray. Jantung gue dag-dig-dug-serrr nih kalo ada di deket Aalya.
Bu Endang keluar dari dalam rumahnya dan berjalan menghampiri gue yang lagi duduk di teras rumahnya. "Eh, ada nak Rio." kata bu Endang. "Hehe ini kuenya, bu." balas gue seraya menyerahkan kue blackforest buatan mamah pada bu Endang. "Oh, iya. Makasih ya, nak Rio." ucap bu Endang. "Sama-sama, bu." balas gue. "Eh maaf ya nak Rio ibu harus ke belakang lagi. Maklum, lagi repot hehe. Kamu ngobrol aja ya sama anak tante, Aalya." kata bu Endang yang hendak kembali ke dalam rumahnya. "Oh, iya, bu gapapa." balas gue. Bu Endang masuk kembali ke dalam rumahnya. Di luar sini cuma tersisa gue dan Aalya berdua yang sedang berdiri dengan canggung persis kayak anak gadis yang mau dilamar.
"Aalya." kata gue, memulai percakapan. "Iya?" tanyanya. "Nanti malem kita jalan yuk. Iya, gue tau kita kan baru kenal tapi nanti di rumah lo ada acara, 'kan? Nah, daripada diem di rumah kayak kambing yang kena stroke, mendingan kita jalan." jawab gue panjang lebar. "Hmhm.. boleh deh." katanya, mengiyakan ajakan gue. YES!!!! "Okeh, gue tunggu di deket lapangan bola sana ya, jam 7."
***
Pukul 18.50.....
Gue siap-siap untuk kencan sama Aalya. Okeh, itu bukan kencan. Gue cuma lagi ngarang aja. Itu cuma jalan-jalan malam biasa tanpa ada maksud terselubung lain. Gue masih gak percaya kalo Aalya nerima ajakan jalan gue. Gue gak mimpi kesurupan arwah banci gila, 'kan? Ahhhh.... senangnya hati gue, bray.
Mamah udah berangkat arisan dari sehabis solat maghrib tadi. Jadi, cuma tinggal gue dan Mario yang ada di rumah. Papah masih di kantor. Gue udah biasa ditinggal berdua doang sama Mario. Apalagi kalo workholic-nya mamah kambuh lagi, gue bisa berhari-hari ditinggal berdua doang sama babon rakus nyebelin yang bernama Mario itu.
"Widih, cakep amat lo. Mau mangkal di mana?" ejek Mario yang dengan lancangnya masuk ke kamar gue tanpa mengetuk pintu. Gue yang lagi berdiri di depan kaca untuk memastikan apa yang gue pake ini udah rapih atau belum kaget melihat Mario yang tiba-tiba ada di kamar gue. Dia gak ada kerjaan lain ya selain gangguin gue, heh? "Gue emang cakep, gak kayak lo yang buruk rupa, bitch!" balas gue. "Kita ini kan kembar, bitch! Jadi, muka lo sama muka gue itu sama." katanya. Ohiya, gue dan Mario kan kembar. Kok gue bisa lupa, ya? "Udah, ah! Buang-buang waktu aja ngobrol sama lo! Minggir! Gue mau keluar!" ujar gue.
Gue mendorong tubuh bongsor Mario hingga dia jatuh ke atas kasur gue. Kali ini dia gak pasang muka iblisnya setiap kali gue bertingkah kasar padanya kayak tadi, dia malah menatap gue dengan tatapan penuh tanda tanya. Itu aneh memang tapi biarin aja, ah. Mario kan emang aneh. Kapan tau itu dia pernah ngira kalo makanan anjing itu Koko Crunch saat gue mau ngasih makan Selena Gomez --anjing gue-- tapi sekarang Selena Gomez udah mati dilindes mobil tahu bulat. Gue sedih banget waktu itu tapi seminggu kemudian gue udah lupa sama Selena Gomez. Duh, maafin gue ya, selena.
Eh, kenapa gue malah bahas Selena Gomez, ya? Okeh, lupakan!
Gue melangkahkan kaki keluar dari kamar gue melewati ruang tamu hingga gue sampe di pintu pagar rumah gue. Gue membuka pintu pagar rumah gue dan keluar melewatinya untuk berjalan menemui Aalya di lapangan sepak bola dekat rumahnya. Iya, gue jalan kaki, bray. Gue gak mau naik mobil ataupun motor. Alasannya sih...
Pertama, jarak lapangan sepak bola itu dari rumah gue lumayan deket. Okeh, gue bohong. Jaraknya agak jauh tapi gapapa, bray. Kedua, gue ini salah satu pendukung gerakan Go Green. Kalau gue naik mobil atau motor, itu akan menghasilkan yang akan membuat kualitas udara menurun. Udah banyak orang yang bikin bumu ini rusak, gue gak mau jadi salah satu dari mereka.
***
Gue udah sampe di lapangan sepak bola tempat gue janjian sama Aalya. Lapangan sepak bola ini udah sepi, bray. Wajar sih, ini kan udah malem. Anak-anak kecil yang biasa main sepak bola di sini pasti gak boleh keluar sama orang tua mereka. Komplek perumahan gue ini emang sepi kalau malam gini. Gak banyak yang lalu lalang atau melakukan aktivitas di luar rumah. Ada sih orang yang lalu lalang tapi gak sebanyak ketika di siang ataupun sore hari.
Gue duduk di salah satu kursi penonton untuk menunggu kedatangan Aalya sembari memainkan ponsel. Gue buka aplikasi Facebook dan melihat-lihat beranda Facebook gue. Eh, Revan mengunggah foto mesra dengan seorang gadis. Mereka terlihat sangat mesra dalam foto itu. Dasar Revan kurang ajar! Bikin gue iri aja! Eh, kenapa gue sewot ya? Okeh, lupa... eh Aalya udah hampir nyampe, bray! Lihat itu, Aalya memakai kaos lengan panjang berwarna putih dengan sedikit aksen warna merah muda dan memakai celana jeans berwarna hitam. Dia terlihat sangat cantik malam ini. Aduh, gue deg-degan nih, bray!
Gue mematikan ponsel gue dan memasukannya ke dalam saku celana gue. "Hei." sapanya saat tiba di hadapan gue. "Hei juga." sapa gue balik. "Maaf telat, tadi ibuku nyuruh ikut gabung bareng mereka dulu tapi untung aku bisa cari alesan buat kabur dari mereka." jelasnya panjang lebar. "Gapapa, gue juga belum lama kok nyampe di sini." balas gue. "Makasih." Dia tersenyum. Okeh, bentar lagi gue pingsan nih. Ahhhhh! Senyumannya manis banget, bray! "Lo cantik banget malam ini." puji gue. Gue gak bohong, bray. Dia emang cantik banget malam ini. "Kamu bisa aja." katanya malu-malu beruang. Eh, kucing maksud gue. "Hehehe" tawa gue salah tingkah.
Kami diam setelahnya. Suasana langit malam ini sangat bersahabat. Oh, lihat itu, bintang-bintang yang membentuk gugusan itu terlihat sangat indah menghiasi gelapnya langit malam. Ini romantis banget, bray!
"Jadi, lo ambil jurusan apa di SMAN 79?" tanya gue, membuka obrolan. "Aku ambil IPS, kalau kamu?" jawabnya. Oh, dia anak IPS. "Gue ambil IPA. Kata mamah gue, anak IPS itu berandalan semua. Kecuali lo, ya. Jadi, gue disuruh ambil IPA. Lagian gue juga gak minat IPS hehe." balas gue panjang lebar. "Oh, kamu anak IPA. Keliatan kok dari mukanya hehe." katanya. "Lho? Emang di muka gue ada tulisan 'IPA' ya?" tanya gue bloon. "Bukan, maksudku, muka kamu itu keliatan kayak muka-muka kutu buku gitu hehe." jawabnya. Okeh, dia nyebelin. Masa muka ganteng gini dibilang kayak muka kutu buku, heh? Untung dia cantik. Huh!
Gue diam, gak menanggapi omongannya lagi. Bukan karena kezel, ya. Tapi, karena gue bingung mau jawab apa. Gue deg-degan bray! "Eh, aku sering lho liat kamu di kantin sekolah. Kamu temennya Revan, Alfan, dan vla...vla...aduh, siapa ya nama cowok bule itu?" ujarnya, memecahkan keheningan.
"Vladislav." sambung gue.
"Nah, iya, itu hehe." katanya. Duh, tawanya enak didenger, bray! "Iya, gue temennya mereka. Eh, lo kan sering liat gue sama temen-temen gue di kantin tapi kok gue gak pernah liat lo, ya?" tanya gue. Iya, gue gak pernah liat dia, bray. "Aku selalu duduk di meja paling depan sedangkan kamu selalu duduk di meja paling pojok. Jadi, mana mungkin bisa liat aku. Eh kemarin kita ketemu pas lagi pesen makanan sama bu Juju. Aku mau nyapa tapi aku takut karena kita kan belum saling kenal." jawabnya. Iya, ya, dia bener hehe. "Sapa aja kali. Gue gak binal kok kayak Jenita." kata gue asal.
"Hehehe." tawanya.
"Duh, anak kita romantis ya, jeung." Itu bukan Aalya. Itu suara mamah dan bu Endang yang tiba-tiba muncul kayak arwah banci gila. "Iya, ya jeung. Kalo dijodohin mau gak ya mereka?" sahut bu Endang. "Ih, ibu apa-apaan sih! Udah, ah. Aalya mau pulang aja." ucap Aalya salah tingkah. Aaaarrrrggghhh! Kenapa mamah harus muncul sih di saat gue udah mulai deket sama Aalya? "Rio juga pulang ah, mah." kata gue. Gue bangkit dari kursi penonton yang gue duduki tadi. Gue melangkahkan kaki pergi meninggalkan mamah dan bu Endang yang lagi ketawa-tawa kayak anak perawan.
"Mereka lucu ya, jeung haha." kata mamah. Gue masih bisa denger apa yang mamah dan bu Endang bicarakan.
BERSAMBUNG....
============================
Komentar, kritik, dan sarannya ditunggu, ya. :)
Komentar kalian sangat berharga untukku. :)
Okeh, see ya. ;)
Comments
Post a Comment