A Complicated Love Story (Part 8)
Genre: Humor, Romance, Drama
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe Cerita: Cerbung
Enjoy it
Eh, ada yang ketok pintu kamar gue, bray. Gue bangkit dari kasur dan berjalan menuju pintu kamar gue untuk membukakannya. "Aalya?" tanya gue terkejut. Dia tau kamar gue dari mana? Ah, pasti dari mamah! "Aku boleh masuk?" tanyanya balik. "Oh, silakan." jawab gue, mempersilakannya masuk. Gue balik ke atas kasur tercinta gue, Aalya ngikutin gue dari belakang. Ada apa ya Aalya ke kamar gue? "Aku mau ngomong sama kamu, Rio." ujarnya yang ikutan duduk di atas kasur gue. "Well, sebelum lo ngomong, gue mau ngomong duluan..." balas gue. Aalya gak menanggapi omongan gue, dia cuma tersenyum sebagai tanda setuju. "Gue gak setuju sama perjodohan ini bukan karena gue gak suka sama lo atau karena lo jelek, ya. Gue gak setuju karena gue gak mau secepet itu, gue bahkan baru kenal lo dua hari. Jadi, gue mau mengenal lo lebih dalam dulu." lanjut gue.
"Iya, aku ngerti kok. Aku juga gak setuju sama perjodohan mendadak ini tapi ibuku maksa dan kalau ibuku sudah maksa kayak gitu, aku gak bisa nolak." balas Aalya. Dia juga keliatan frustasi sama kayak gue karena perjodohan mendadak itu. "Dan, maaf kalo sikap gue tadi kasar sama lo." kata gue merasa bersalah. "Kamu gak salah kok." balasnya seraya memberikan senyum termanisnya. Gile bray manis banget senyumannya sekarang! Bahkan lebih manis dari senyum yang dia berikan tadi pas di ruang tamu. "Makasih, ya." Gue gak mau kalah, gue juga memberikan senyum termanis yang gue punya. "Iya." balasnya, masih dengan senyuman menawannya itu.
"Ohya, tadi lo mau ngomong apa?" tanya gue. "Gak, tadi aku juga mau bahas soal perjodohan itu tapi berhubung kamu udah ngomong duluan, ya aku gak jadi ngomong hehe." jawabnya dengan nada cengengesan. "Oh..." balas gue, ber-Oh ria...
"Eh bro, gue pu--" itu bukan Aalya. Itu Arka yang tiba-tiba nongol dari balik pintu. "Ups! maaf ganggu hehe" lanjut Arka dengan cengengesan seraya menutup kembali pintu kamar gue. Dasar Arka kurang ajar! Masuk ke kamar orang bukannya ketok pintu dulu eh ini malah main nyelonong gitu aja! Kalo gue lagi telanjang alias topless terus dia main nyelonong gitu aja gimana? Gue gak mau ya tubuh seksih gue terekspose begitu aja. Tubuh gue ini mahal tauk! Gak sembarang orang boleh liat tauk!
Okeh, gue ngawur. Lupakan!
Aalya yang ngeliat kejadian tadi cuma ketawa-tawa kecil bak seorang Miss World.
***
"APA?! lu dijodohin sama Aalya? anak IPS itu?" tanya Alfan tiba-tiba yang sontak bikin gue kaget gak ketulungan. "Iya, bray. Mendadak banget, 'kan?" jawab gue. "Jangan terima, bro. Aalya itu cewek jalang. Dia gak pantes buat lo. Lo cuma pantes sama Sisca." sahut Revan. Dasar sahabat kurang ajar! "Iya, bro. Lu harus dengerin apa kata kita-kita." tambah Vladislav.
Ohiya, sekarang gue, Revan, Alfan, dan Vladislav lagi ada di kantin, bray. Tongkrongan kesukaan gue dan tiga sahabat gue. Gue lagi curhat soal gue yang dijodohin sama Aalya secara mendadak pada tiga sahabat gue ini. Gue curhat sama mereka karena gue udah gak tahan galau sendirian mikirin masalah perjodohan mendadak itu. Gue mau berbagi masalah sama mereka. Ya, walaupun gue tau kalo gue curhat sama mereka itu sama aja kayak curhat sama rumput yang bergoyang, gak guna. Jangan harap bisa dapet solusi atau pencerahan ataupun hidayah kalo curhat sama mereka, yang ada malah makin rumit masalahnya. Tapi, mau bagaimanapun juga, sebuah masalah akan terasa ringan jika dibagi dengan orang yang kita percaya dan sayangi, betul?
"Gue juga maunya gitu, bray. Tapi mamah gue tuh gak suka kalo kemauannya ditolak. Jadi, gue harus terima perjodohan ini. Kalo gue nolak, uang jajan gue bakal dipotong 99%, mobil gue bakal disita, dan gue gak bakal diajak je TransStudio lagi." jelas gue panjang lebar. "Gue turut prihatin ya, bro. Saran gue sih mending lo kabur aja dari rumah kayak yang ada di tipi-tipi itu lho." balas Alfan. Please, deh. "Kalo gue kabur dari rumah, nanti gue mau tinggal di mana? Gue gak mau jadi gembel ya." tanya gue. "Lo bisa tinggal di salah satu rumah kita." jawab Alfan seraya melirik ke arah Revan kemudian ke arah Vladislav. Revan dan Vladislav hanya tersenyum, mengiyakan usul Alfan. "Thanks tapi gue gak mau jadi penerusnya Malin Kundang." sela gue. "Ok, itu semua terserah sama lo. Kita-kita sebagai sahabat lo cuma pengen lo bahagia." balas Alfan. Duh, gue jadi terharu nih, bray.
"Iya, bro. Kita gak mau liat lo nelangsa. Kalo salah satu dari kita ada yang nelangsa, yang lain juga akan ikut nelangsa because we're best friends." sahut Revan dengan nada serius. Kami berpelukan setelahnya. Mereka emang sahabat paling pengertian sedunia walaupun kadang omongan mereka nyebelin. Dulu, gue gak suka pelukan sama mereka di tempat rame kayak gini tapi sekarang gue akan selalu merindukan pelukan persahabatan kayak gini. Gue gak peduli apa kata orang di sekitar kami yang natap kami dengan tatapan nista. Gue gak peduli jika orang bilang gue dan tiga sahabat gue itu homo laknat yang harus dimusnahkan. Sekarang gue cuma butuh mereka, tiga sahabat gue yang selalu ada buat gue. Yang selalu memotivasi gue di saat gue terpuruk seperti sekarang, yang selalu menghibur gue di saat gue lagi galau. Gue bersyukur punya sahabat kayak mereka, mereka adalah bagian terpenting dalam hidup gue selain orang tua gue. I love my best friends!
"Makasih ya, guys. Kalian emang sahabat terbaik gue." tutur gue pada mereka seraya melepaskan pelukan. Gak terasa, air mata gue mulai menetes. Mungkin kalo gue gay, sekarang gue mirip kayak botty-botty lemah yang berhati sensitif. Thanks God, engkau telah mempertemukanku dengan mereka. "Woy, kenapa lo senyum-senyum gitu? tanya Revan. Oh, dari tadi gue senyum, ya? "E-eh... gapapa kok." jawab gue gugup. "Oh, masuk yuk. Udah bel tuh." ajak Revan. Oh, udah bel, ya? "Ayo." balas gue, mengiyakan ajakan Revan.
Gue, Revan, Alfan, dan Vladislav bangkit dari bangku yang kami duduki tadi untuk kembali ke kelas kami. Kami berjalan keluar kantin. Kami berjalan secara bergerombol bagaikan boyband. Beberapa siswa yang kami lewati menatap kami dengan tatapan takjub dan beberapa lagi menatap kami dengan tatapan jijik. Kurang ajar! Berani-beraninya mereka menatap kami dengan tatapan jijik kayak gitu! Apa mereka gak pernah liat cowok ganteng, heh? Atau..... mereka iri dengan ketampanan kami, heh?
Kami terus berjalan di sepanjang koridor sekolah. Melewati perpustakaan, ruang UKS, lab bahasa, dan lab IPA. Di sepanjang koridor yang kami lewati ada beberapa siswi yang menatap kami dengan tatapan terpesona. Well, tatapan kayak gitu emang udah sering kami dapatkan. Beberapa siswi di sekolah ini emang ada yang terang-terangan bilang kalo mereka naksir salah satu di antara kami. Bahkan, ada yang pernah blak-blakan bilang kalo dia naksir Revan. Kami emang cukup populer di sekolah ini. Karena ketampanan kami, tentunya.
Oh, itu dia kelas kami.
Kami masuk ke dalam kelas kami dan duduk di tempat kami masing-masing. Revan duduk dengan Alfan, Vladislav dengan Robby dan gue dengan Tiara. Fuck! Gue duduk sebangku dengan cewek centil kayak Tiara. Dulu gue duduk sebangku dengan Faisal tapi cewek centil yang satu itu maksa minta duduk sebangku sama gue. Dan Faisal pun menuruti kemauan Tiara dengan pindah tempat duduk. For your information, Tiara itu suka sama gue. Makanya dia ngebet banget pengen deket-deket sama gue. Gue sih jijik sama dia tapi dia selalu aja deket-deketin gue. Fuck!
Okeh, lupakan soal cewek centil itu.
"Rio..." panggil Alfan dengan suara super pelan. Tadi gue hampir ngira kalo itu suara cicak karena saking pelannya. "Apa?" tanya gue seraya menoleh ke arahnya. Kenapa dia harus bisik-bisik kayak gitu sih? Padahal kan belum ada guru yang dateng. "Nanti pulang sekolah lu nginep di rumah gue, ya? Rumah gue sepi. Ortu gue lagi keluar kota selama dua minggu. Mau, ya?" pinta Alfan. "Gue harus izin dulu sama mamah." balas gue. "Urusan gampang itu mah. Okeh, deal?" pintanya lagi. "Okeh, deh." Gue mengiyakan ajakannya tanpa pikir panjang lagi. Setelah dipikir-pikir, ajakan Alfan itu boleh juga, apalagi gue kan lagi ngambek sama mamah soal perjodohan mendadak itu. Ya, keputusan yang tepat!
Alfan tersenyum bahagia, gue balas tersenyum dengan senyuman paling manis yang gue punya.
***
Waktu pulang pun tiba....
Gue membereskan buku-buku gue dan kemudian memasukannya ke dalam tas gue untuk siap-siap pulang. "Are you ready, bitch?" tanya Alfan ujug-ujug. "Iya, gue si--"
"C'mon!" potong Alfan seraya menaril tangan gue tanpa izin. Dasar Alfan kurang ajar! Main potong aja omongan gue! Ini nih kebiasaan jelek tiga sahabat gue, selalu main potong omongan gue seenak jidatnya aja.
Alfan lari sambil menggenggam tangan gue. Gue otomatis ikutan lari karenanya. Gue dan Alfan lari di sepanjang koridor sekolah kayak di film-film romantis gitu. Koridor sekolah gue udah mulai sepi, cuma beberapa siswa dan siswi aja yang masih lalu-lalang di sepanjang koridor ini. Alfan masih menggenggam tangan gue. Gue dan Alfan terus lari hingga kami tiba di parkiran motor sekolah gue. Lho, kenapa Alfan ngajak gue ke parkiran motor? Kenapa gak ke parkiran mobil? Parkiran mobil kan ada di sebelah utara dari sini. Atau.... jangan-jangan?
"Iya, gue bawa motor." ujar Alfan ujug-ujug, seolah-olah dia baru aja baca pikiran gue. "Mobil lo ke mana?" tanya gue yang masih agak bingung. "Gue bawa mobil cuma kalo ada ortu gue aja. Nah, ortu gue kan sekarang lagi ke luar kota, jadi gue bawa motor. Lagian gue juga lebih suka bawa motor hehe." jawab Alfan panjang lebar. "Oh..." balas gue, ber-Oh ria. Bingung mau balas apa lagi. Alfan gak menanggapi omongan gue lagi, dia langsung menyalakan mesin motor ninjanya. Gue naik ke atas jok belakang motor Alfan yang agak nungging itu. Alfan mulai menjalankan motornya meninggalkan parkiran motor yang udah mulai sepi ini.
Motor Alfan keluar dari pintu gerbang sekolah gue. Alfan mengendarai motornya dengan agak kencang yang bikin jantung gue jerit-jerit kayak banci yang baru aja menang lotre. Ini baru pertama kalinya gue naik motor, bray. Gue ke mana-mana selalu naik mobil. So, jantung gue jadi agak norak gini kalo dibawa naik motor dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan, gue dan Alfan gak ada ngomong apa-apa. Kami diam membisu. Gue yang mulai bosan pun cuma bisa melihat keramaian jalanan Jakarta yang super padat ini. Hilir mudik kenda...
Eh...
Itu orang yang pake baju pink dengan celana jins yang agak ketat dan lagi dibonceng sama seseorang itu kayaknya gue kenal, bray. Tapi siapa, ya? Dari belakang sih kayaknya gue kenal, bray. Tapi, siapa ya?
Lho, kok motornya berhenti sih? Oh, ada lampu merah hehe.
Orang yang kayaknya gue kenal itu berada dua motor dari posisi gue dan Alfan. Gue penasaran, bray. Dia siapa sih? Kok kayaknya insting gue bilang kalo gue kenal dia, ya? Sumpah, bray. Gue pena....
Eh, dia menoleh ke arah belakang, bray.
Tunggu....
Aalya?
To be continued...
===================
AN:
Haiiii..
Saya update lagi xD
Duh, maaf ya baru di-update sekarang. Soalnya kemarin saya UTS, senin besok pun masih UTS. Mapelnya Fisika pula. Huhuhuhu
Okeh, gak usah banyak omong kali ya.
Komentar, kritik, dan sarannya ditunggu, ya. ;)
See ya. ;)
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe Cerita: Cerbung
Enjoy it
Eh, ada yang ketok pintu kamar gue, bray. Gue bangkit dari kasur dan berjalan menuju pintu kamar gue untuk membukakannya. "Aalya?" tanya gue terkejut. Dia tau kamar gue dari mana? Ah, pasti dari mamah! "Aku boleh masuk?" tanyanya balik. "Oh, silakan." jawab gue, mempersilakannya masuk. Gue balik ke atas kasur tercinta gue, Aalya ngikutin gue dari belakang. Ada apa ya Aalya ke kamar gue? "Aku mau ngomong sama kamu, Rio." ujarnya yang ikutan duduk di atas kasur gue. "Well, sebelum lo ngomong, gue mau ngomong duluan..." balas gue. Aalya gak menanggapi omongan gue, dia cuma tersenyum sebagai tanda setuju. "Gue gak setuju sama perjodohan ini bukan karena gue gak suka sama lo atau karena lo jelek, ya. Gue gak setuju karena gue gak mau secepet itu, gue bahkan baru kenal lo dua hari. Jadi, gue mau mengenal lo lebih dalam dulu." lanjut gue.
"Iya, aku ngerti kok. Aku juga gak setuju sama perjodohan mendadak ini tapi ibuku maksa dan kalau ibuku sudah maksa kayak gitu, aku gak bisa nolak." balas Aalya. Dia juga keliatan frustasi sama kayak gue karena perjodohan mendadak itu. "Dan, maaf kalo sikap gue tadi kasar sama lo." kata gue merasa bersalah. "Kamu gak salah kok." balasnya seraya memberikan senyum termanisnya. Gile bray manis banget senyumannya sekarang! Bahkan lebih manis dari senyum yang dia berikan tadi pas di ruang tamu. "Makasih, ya." Gue gak mau kalah, gue juga memberikan senyum termanis yang gue punya. "Iya." balasnya, masih dengan senyuman menawannya itu.
"Ohya, tadi lo mau ngomong apa?" tanya gue. "Gak, tadi aku juga mau bahas soal perjodohan itu tapi berhubung kamu udah ngomong duluan, ya aku gak jadi ngomong hehe." jawabnya dengan nada cengengesan. "Oh..." balas gue, ber-Oh ria...
"Eh bro, gue pu--" itu bukan Aalya. Itu Arka yang tiba-tiba nongol dari balik pintu. "Ups! maaf ganggu hehe" lanjut Arka dengan cengengesan seraya menutup kembali pintu kamar gue. Dasar Arka kurang ajar! Masuk ke kamar orang bukannya ketok pintu dulu eh ini malah main nyelonong gitu aja! Kalo gue lagi telanjang alias topless terus dia main nyelonong gitu aja gimana? Gue gak mau ya tubuh seksih gue terekspose begitu aja. Tubuh gue ini mahal tauk! Gak sembarang orang boleh liat tauk!
Okeh, gue ngawur. Lupakan!
Aalya yang ngeliat kejadian tadi cuma ketawa-tawa kecil bak seorang Miss World.
***
"APA?! lu dijodohin sama Aalya? anak IPS itu?" tanya Alfan tiba-tiba yang sontak bikin gue kaget gak ketulungan. "Iya, bray. Mendadak banget, 'kan?" jawab gue. "Jangan terima, bro. Aalya itu cewek jalang. Dia gak pantes buat lo. Lo cuma pantes sama Sisca." sahut Revan. Dasar sahabat kurang ajar! "Iya, bro. Lu harus dengerin apa kata kita-kita." tambah Vladislav.
Ohiya, sekarang gue, Revan, Alfan, dan Vladislav lagi ada di kantin, bray. Tongkrongan kesukaan gue dan tiga sahabat gue. Gue lagi curhat soal gue yang dijodohin sama Aalya secara mendadak pada tiga sahabat gue ini. Gue curhat sama mereka karena gue udah gak tahan galau sendirian mikirin masalah perjodohan mendadak itu. Gue mau berbagi masalah sama mereka. Ya, walaupun gue tau kalo gue curhat sama mereka itu sama aja kayak curhat sama rumput yang bergoyang, gak guna. Jangan harap bisa dapet solusi atau pencerahan ataupun hidayah kalo curhat sama mereka, yang ada malah makin rumit masalahnya. Tapi, mau bagaimanapun juga, sebuah masalah akan terasa ringan jika dibagi dengan orang yang kita percaya dan sayangi, betul?
"Gue juga maunya gitu, bray. Tapi mamah gue tuh gak suka kalo kemauannya ditolak. Jadi, gue harus terima perjodohan ini. Kalo gue nolak, uang jajan gue bakal dipotong 99%, mobil gue bakal disita, dan gue gak bakal diajak je TransStudio lagi." jelas gue panjang lebar. "Gue turut prihatin ya, bro. Saran gue sih mending lo kabur aja dari rumah kayak yang ada di tipi-tipi itu lho." balas Alfan. Please, deh. "Kalo gue kabur dari rumah, nanti gue mau tinggal di mana? Gue gak mau jadi gembel ya." tanya gue. "Lo bisa tinggal di salah satu rumah kita." jawab Alfan seraya melirik ke arah Revan kemudian ke arah Vladislav. Revan dan Vladislav hanya tersenyum, mengiyakan usul Alfan. "Thanks tapi gue gak mau jadi penerusnya Malin Kundang." sela gue. "Ok, itu semua terserah sama lo. Kita-kita sebagai sahabat lo cuma pengen lo bahagia." balas Alfan. Duh, gue jadi terharu nih, bray.
"Iya, bro. Kita gak mau liat lo nelangsa. Kalo salah satu dari kita ada yang nelangsa, yang lain juga akan ikut nelangsa because we're best friends." sahut Revan dengan nada serius. Kami berpelukan setelahnya. Mereka emang sahabat paling pengertian sedunia walaupun kadang omongan mereka nyebelin. Dulu, gue gak suka pelukan sama mereka di tempat rame kayak gini tapi sekarang gue akan selalu merindukan pelukan persahabatan kayak gini. Gue gak peduli apa kata orang di sekitar kami yang natap kami dengan tatapan nista. Gue gak peduli jika orang bilang gue dan tiga sahabat gue itu homo laknat yang harus dimusnahkan. Sekarang gue cuma butuh mereka, tiga sahabat gue yang selalu ada buat gue. Yang selalu memotivasi gue di saat gue terpuruk seperti sekarang, yang selalu menghibur gue di saat gue lagi galau. Gue bersyukur punya sahabat kayak mereka, mereka adalah bagian terpenting dalam hidup gue selain orang tua gue. I love my best friends!
"Makasih ya, guys. Kalian emang sahabat terbaik gue." tutur gue pada mereka seraya melepaskan pelukan. Gak terasa, air mata gue mulai menetes. Mungkin kalo gue gay, sekarang gue mirip kayak botty-botty lemah yang berhati sensitif. Thanks God, engkau telah mempertemukanku dengan mereka. "Woy, kenapa lo senyum-senyum gitu? tanya Revan. Oh, dari tadi gue senyum, ya? "E-eh... gapapa kok." jawab gue gugup. "Oh, masuk yuk. Udah bel tuh." ajak Revan. Oh, udah bel, ya? "Ayo." balas gue, mengiyakan ajakan Revan.
Gue, Revan, Alfan, dan Vladislav bangkit dari bangku yang kami duduki tadi untuk kembali ke kelas kami. Kami berjalan keluar kantin. Kami berjalan secara bergerombol bagaikan boyband. Beberapa siswa yang kami lewati menatap kami dengan tatapan takjub dan beberapa lagi menatap kami dengan tatapan jijik. Kurang ajar! Berani-beraninya mereka menatap kami dengan tatapan jijik kayak gitu! Apa mereka gak pernah liat cowok ganteng, heh? Atau..... mereka iri dengan ketampanan kami, heh?
Kami terus berjalan di sepanjang koridor sekolah. Melewati perpustakaan, ruang UKS, lab bahasa, dan lab IPA. Di sepanjang koridor yang kami lewati ada beberapa siswi yang menatap kami dengan tatapan terpesona. Well, tatapan kayak gitu emang udah sering kami dapatkan. Beberapa siswi di sekolah ini emang ada yang terang-terangan bilang kalo mereka naksir salah satu di antara kami. Bahkan, ada yang pernah blak-blakan bilang kalo dia naksir Revan. Kami emang cukup populer di sekolah ini. Karena ketampanan kami, tentunya.
Oh, itu dia kelas kami.
Kami masuk ke dalam kelas kami dan duduk di tempat kami masing-masing. Revan duduk dengan Alfan, Vladislav dengan Robby dan gue dengan Tiara. Fuck! Gue duduk sebangku dengan cewek centil kayak Tiara. Dulu gue duduk sebangku dengan Faisal tapi cewek centil yang satu itu maksa minta duduk sebangku sama gue. Dan Faisal pun menuruti kemauan Tiara dengan pindah tempat duduk. For your information, Tiara itu suka sama gue. Makanya dia ngebet banget pengen deket-deket sama gue. Gue sih jijik sama dia tapi dia selalu aja deket-deketin gue. Fuck!
Okeh, lupakan soal cewek centil itu.
"Rio..." panggil Alfan dengan suara super pelan. Tadi gue hampir ngira kalo itu suara cicak karena saking pelannya. "Apa?" tanya gue seraya menoleh ke arahnya. Kenapa dia harus bisik-bisik kayak gitu sih? Padahal kan belum ada guru yang dateng. "Nanti pulang sekolah lu nginep di rumah gue, ya? Rumah gue sepi. Ortu gue lagi keluar kota selama dua minggu. Mau, ya?" pinta Alfan. "Gue harus izin dulu sama mamah." balas gue. "Urusan gampang itu mah. Okeh, deal?" pintanya lagi. "Okeh, deh." Gue mengiyakan ajakannya tanpa pikir panjang lagi. Setelah dipikir-pikir, ajakan Alfan itu boleh juga, apalagi gue kan lagi ngambek sama mamah soal perjodohan mendadak itu. Ya, keputusan yang tepat!
Alfan tersenyum bahagia, gue balas tersenyum dengan senyuman paling manis yang gue punya.
***
Waktu pulang pun tiba....
Gue membereskan buku-buku gue dan kemudian memasukannya ke dalam tas gue untuk siap-siap pulang. "Are you ready, bitch?" tanya Alfan ujug-ujug. "Iya, gue si--"
"C'mon!" potong Alfan seraya menaril tangan gue tanpa izin. Dasar Alfan kurang ajar! Main potong aja omongan gue! Ini nih kebiasaan jelek tiga sahabat gue, selalu main potong omongan gue seenak jidatnya aja.
Alfan lari sambil menggenggam tangan gue. Gue otomatis ikutan lari karenanya. Gue dan Alfan lari di sepanjang koridor sekolah kayak di film-film romantis gitu. Koridor sekolah gue udah mulai sepi, cuma beberapa siswa dan siswi aja yang masih lalu-lalang di sepanjang koridor ini. Alfan masih menggenggam tangan gue. Gue dan Alfan terus lari hingga kami tiba di parkiran motor sekolah gue. Lho, kenapa Alfan ngajak gue ke parkiran motor? Kenapa gak ke parkiran mobil? Parkiran mobil kan ada di sebelah utara dari sini. Atau.... jangan-jangan?
"Iya, gue bawa motor." ujar Alfan ujug-ujug, seolah-olah dia baru aja baca pikiran gue. "Mobil lo ke mana?" tanya gue yang masih agak bingung. "Gue bawa mobil cuma kalo ada ortu gue aja. Nah, ortu gue kan sekarang lagi ke luar kota, jadi gue bawa motor. Lagian gue juga lebih suka bawa motor hehe." jawab Alfan panjang lebar. "Oh..." balas gue, ber-Oh ria. Bingung mau balas apa lagi. Alfan gak menanggapi omongan gue lagi, dia langsung menyalakan mesin motor ninjanya. Gue naik ke atas jok belakang motor Alfan yang agak nungging itu. Alfan mulai menjalankan motornya meninggalkan parkiran motor yang udah mulai sepi ini.
Motor Alfan keluar dari pintu gerbang sekolah gue. Alfan mengendarai motornya dengan agak kencang yang bikin jantung gue jerit-jerit kayak banci yang baru aja menang lotre. Ini baru pertama kalinya gue naik motor, bray. Gue ke mana-mana selalu naik mobil. So, jantung gue jadi agak norak gini kalo dibawa naik motor dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan, gue dan Alfan gak ada ngomong apa-apa. Kami diam membisu. Gue yang mulai bosan pun cuma bisa melihat keramaian jalanan Jakarta yang super padat ini. Hilir mudik kenda...
Eh...
Itu orang yang pake baju pink dengan celana jins yang agak ketat dan lagi dibonceng sama seseorang itu kayaknya gue kenal, bray. Tapi siapa, ya? Dari belakang sih kayaknya gue kenal, bray. Tapi, siapa ya?
Lho, kok motornya berhenti sih? Oh, ada lampu merah hehe.
Orang yang kayaknya gue kenal itu berada dua motor dari posisi gue dan Alfan. Gue penasaran, bray. Dia siapa sih? Kok kayaknya insting gue bilang kalo gue kenal dia, ya? Sumpah, bray. Gue pena....
Eh, dia menoleh ke arah belakang, bray.
Tunggu....
Aalya?
To be continued...
===================
AN:
Haiiii..
Saya update lagi xD
Duh, maaf ya baru di-update sekarang. Soalnya kemarin saya UTS, senin besok pun masih UTS. Mapelnya Fisika pula. Huhuhuhu
Okeh, gak usah banyak omong kali ya.
Komentar, kritik, dan sarannya ditunggu, ya. ;)
See ya. ;)
Comments
Post a Comment