A Complicated Love Story (Part 3)

Genre: Humor, Romance, Drama
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe cerita: Cerbung
Enjoy it~

Krrrriiiiiiinnnngggggg....

"PULANG!!!" seru semua murid di kelas gue dengan hebohnya saat bel pulang telah berkumandang. Revan, Alfan, dan Vladislav juga gak mau kalah. Mereka teriak lebih heboh dari yang lain. Iya, mereka emang gila tapi gue sangat menyayangi mereka. Sebagai sahabat, tentunya. Gue gak mungkin jatuh cinta sama sahabat gue sendiri. Apalagi mereka semua itu cowok, cowok gila lebih tepatnya. Maksud gue, lihat mereka. Siapa yang mau jatuh cinta sama tiga cowok gila kayak mereka? Cowok gila bermulut jahanam, lebih tepatnya. Tapi, walau mereka itu gila, gue sangat menyayangi mereka. Sebagai sahabat, tentunya.

Oh, great! Gue lupa kalau mereka bilang gue ini gigolo taman lawang saat di kantin tadi! Cowok-cowok sialan! Mereka juga gak mau denger gue curhat dan main pergi gitu aja! Cowok-cowok sialan! Gue benci mereka! Gue mau ngambek, ah. Eh, tapi pas terakhir kali gue ngambek sama mereka -- well, lebih tepatnya sih sama Alfan-- karena mereka dengan kurang ajarnya minum susu kotak gue yang baru gue beli di Indomaret depan sekolah itu, mereka malah ngira kalau gue keracunan tahu bulat!
Ngezelin, 'kan?

Aaaaarrrrrrghhh! Hari ini gue kezel banget. Pertama, tiga sahabat gue bilang gue gigolo taman lawang dan gak mau denger gue curhat tentang Aalya. -- cewek cakep yang gue liat di kantin bu Juju tadi-- Kedua, gue lupa bawa buku pr gue. Padahal, dalam buku itu ada pr dari pak Jonathan. Pak Jonathan itu terkenal sebagai guru paling galak di sekolah gue. Nah, hari ini gue lupa bawa buku pr yang di dalamnya ada pr dari pak Jonathan. Alhasil, gue dihukum dengan cara berdiri di depan kelas sampe bel pulang berkumandang. Itu kan capek, bray! Aaaarrrggghh!

"Hei tampan." sapa seseo...aarrggh! Itu Mario! Please, jangan bikin gue tambah kezel! "Ada apa lagi sih? Uang jajan yang gue kasih kurang?" tanya gue. "Ih jangan galak-galak dong, tampan." rengeknya. Okeh, itu menjijikan! "Lo kerasukan arwah Jenita ya?" tanya gue lagi yang mulai jijik dengan sikapnya itu.

"Parah lo, dia kan masih hidup. Gue aduin ah biar badan lo digrepe-grepe sama dia hahaha" katanya. Mario!!! " aaarrgggh! Lo mau apa sih sebenernya?" tanya gue untuk kesekian kalinya. "Gue bareng lo ya, tampan." bujuknya. "Sakarepmu wae lha." balas gue pake bahasa Jawa. Gue gak tau artinya sih tapi... who cares! "Lo bisa bahasa Jawa? Ajarin gue dong biar gue bisa gombalin si Dewi pake bahasa Jawa. Dia kan orang Jawa. Pasti dia bakal takluk sama gombalan gue hehe." katanya.

Dewi itu incaran Mario. Gue tau orangnya tapi gak kenal deket. Dia emang cantik sih  tapi gue gak suka sama temennya. Siapa ya nama temennya? Hmhm...
Oh, Ratna! Gue gak suka sama Ratna karena dulu dia pernah numpahin minuman ke baju gue dan gak minta maaf. Okeh, itu lebay. Mungkin kalo Revan, Alfan, dan Vladislav tau gue gak suka sama Ratna cuma gara-gara itu, mereka pasti bakal bilang kalau gue ini gigolo pendendam. Tapi, gue kan kezel, bray! Okeh, lupakan itu!

"Bukannya terakhir kali lo gombalin cewek, tuh cewek langsung masuk UGD ya?" sarkas gue. "Makasih pujiannya." balasnya, sarkas balik. Aaargghh!

***

"Yuhuuuuu... Mario pulang!" Itu bukan gue. Itu Mario. Dia emang suka lebay. Dia kan titisannya Jenita versi maskulin. Dan, versi nyebelin, tentunya. Eh, Jenita juga nyebelin sih tapi Mario ini level nyebelinnya udah kuadrat!

Gue turun dari mobil sesaat setelah Mario turun dan ngilang entah ke mana, mungkin dimakan iblis. Eh, iblis kan gak doyan daging orang nyebelin kayak dia. Okeh, berhenti bahas si Mario stupid itu! Gue melangkahkan kaki masuk menuju ke dalam rumah gue. Gue melangkahkan kaki dengan lesu ke dalam rumah gue karena suasana hati gue lagi kezel. Hari ini gue dikelilingi oleh orang-orang nyebelin. Gak perlu gue sebutin lah ya, bray. Lo pasti tau. Iya, 'kan bray? Jawab iya!

Ketika gue sampe di dalem rumah gue, rumah ini tampak sepi. Sunyi. Ke mana sih orang-orang? Mereka gak diculik arwah banci gila, 'kan? -- okeh, gue ngawur--
"Adek." panggil seseorang dari arah belakang gue. Itu mamah, bray! Buset, bray! Gue kaget. Gue kira tadi itu arwah banci gila... eh taunya mamah, bray! MAMAH.
"Mamah bikin adek kaget aja. Kalau adek jantungan terus mati gimana? Ih adek sih gak mau, ya. Adek belum mau mati. Adek kan masih mau nyoba naik wahana kora-kora yang di TransStudio itu lho. Nah, mamah kapan mau ajak adek ke TransStudio lagi? Udah lama lho mamah gak--" kata gue terputus. "Adek bawel ih. Tuh di kamar adek ada Arka, mau ngajak pergi keluar katanya." ujar mamah. Apa? Arka? Di kamar gue? Aaahhh! Gue kangen sama tuh anak semenjak dia pergi ke Lombok buat jenguk neneknya yang sakit lumayan parah itu. Ohya, Arka ini sahabat gue sejak SMP. Sejak kelas dua SMP, lebih tepatnya. Dia ganteng, baik, lucu dan lesung pipitnya itu lho. Gak nahan! Gue selalu suka sama orang yang punya lesung pipit. Gak peduli itu cewek atau cowok. Terlihat manis aja gitu, apalagi kalau mereka senyum. Gak nahan, bray!

Gue bergegas lari menuju kamar gue untuk menemui Arka. Gue mau melepas rindu dengannya. Gue juga mau curhat soal Aalya dengannya, ah. Jarak kamar gue dari ruang tamu tuh deket. Tinggal lurus dikit dan di si... nah itu kamar gue! Eh, pintunya kok kebuka sih? Ohiya, kan ada Arka di dalamnya hehe.

"Arkaaaaaaaaa" teriak gue memanggil namanya. "Roykoooooooo" teriaknya balik. Gue berhenti, sadar akan teriakannya. Aarrrgghh! Dia masih manggil gue royko -- panggilan sayang dia buat gue-- ternyata. Arka nyebelin! "Come to papa, nak." ujarnya seraya meregangkan tangannya tanda gue harus memeluknya. "Gue mau come kalo lo berhenti manggil gue royko." balas gue. Ngambek ceritanya. "Ok, rio." Katanya.

Gue memeluknya dengan sangat erat. "Gue kangen lo, ka." ujar gue. "Gue juga." balasnya. Gue melepaskan pelukannya dan melempar tas gue ke sembarang arah. "Gue mau curhat banyak sama lo, ka. Gue kangen deh curhat sama lo." kata gue. "Gue juga. Gue kangen pengen liat lo bt setiap kali lo curhat sama gue." balasnya. "Ahhh" desah gue. "Hahahaha."

"Berisik! Lo udah kayak homo kurang kerjaan tau gak." Itu bukan gue ataupun Arka. Itu Mario. "Go to hell, bitch!" umpat gue pada Mario. "Lo yang bitch weh." umpatnya balik. "Aaarrrgghh!" desah gue frustasi. Dia kabur setelahnya. Kurang ajar!

"Hahaha. Ganti baju sanah, gue mau nyulik lo." ujar Arka. "Nyuliknya ke mall aja, ya. Jangan ke warung bakso atau ke bawah pohon beringin kayak waktu terakhir lo nyulik gue. Itu gak elite banget. Mau ngapain coba nyulik gue ke bawah pohon beringin? Mau nontonin tante kunti pacaran sama om buto ijo? Ih serem tauk!" balas gue. "Lo tuh bawel ya kayak tante Mona." balasnya lagi. "Aaarrrggh! Gue gak mau disamain sama tante Monyong eh tante Mona maksud gue!" geram gue.

"Hahaha." tawanya. Kurang ajar!

To be continued...
==========================
Gimana part 3-nya?
Komentar, kritik dan sarannya ditunggu ya. ;)
Komentar kalian sangat berharga untukku. :)
Okeh, see ya.

Comments

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon