Telepon

Penulis: Muhammad Rizaldi
Kategori: Cerbung


BAB 1 ...


"Pagi, Mah, Pah," sapa Valerie pada kedua orangtuanya seraya mengambil sebuah roti kemudian melapisinya dengan selai kecang kesukaannya.

"Pagi, Nak," sahut Papah.

Mamah yang menangkap sesuatu yang berbeda dari Valerie tampak terheran-heran. "Kenapa terburu-buru, Nak? Ayo sarapan dulu."

"Tidak, Mah. Val sudah terlambat. Yasudah, Val berangkat dulu, ya?" Valerie menggigit roti yang sudah dia lapisi dengan selai kacang tadi kemudian menyalami Papah dan Mamahnya dengan terburu-buru.

"Jangan lupa makan, Nak." Mamah memperingatkan.

"Iya, Mah!" balas Valerie seraya berlari ke luar dengan terburu-buru.

Valerie Anastasia adalah putri tunggal dari pasangan Martin Wisasena dan Martha Nathalia yang masing-masing dari mereka bekerja sebagai CEO atas perusahaan yang mereka dirikan dengan usaha mereka sendiri. Ya ... bisa dikatakan bahwa dia adalah anak dari pasangan suami-istri kaya.


Namun, dia selalu tidak suka jika ada orang yang menyebutnya begitu. Menurutnya, orangtuanyalah yang kaya dan memiliki banyak uang, sedangkan dia hanya menikmati uang orangtuanya saja.

Valerie atau yang akrab dipanggil Val juga tidak suka membanding-bandingkan status sosial seseorang. Bahkan, dia bisa marah jika ada seseorang yang menyinggung dan membandingkan status sosialnya dengan orang lain.

Dia memiliki wajah yang agak sedikit oriental serta dibalut dengan kulit seputih susu, mata dengan pupil hitam yang indah, rambut hitam panjang yang selalu dia gerai, hidungnya yang mancung, bibir mungil berwarna merah merona, barisan gigi putih kecilnya yang membuat laki-laki mana pun akan langsung jatuh hati padanya, dan tubuh proporsionalnya yang membuat banyak gadis iri padanya.

Valerie adalah pribadi yang baik, mudah bergaul, terkenal pintar di sekolah, dan ramah. Namun, dia tidak sesempurna kelihatannya. Dia memiliki dua kekurangan; mudah panik dan tidak mudah percaya pada orang lain. Maka dari itu, sulit bagi siapa pun untuk mendapatkan kepercayaannya.

Bahkan, ada satu quote khusus yang dibuat teman-teman Valerie untuknya: "Jika kau ingin mendapatkan kepercayaan Valerie, maka buktikanlah."

****

Valerie menghempaskan bokongnya di bangkunya ketika dia sudah berada di dalam kelas. Dia duduk di samping Anna, sahabat karibnya.

"Untung saja aku tidak terlambat," gumam Valerie seraya mendengus lega.

"Tidak biasanya kau hampir terlambat seperti ini, ada apa?" balas Anna.

Valerie menegakkan tubuhnya, mengubah posisi duduknya hingga menghadap ke arah Anna. "Kau mungkin tidak akan percaya."

"Ada apa?"

"Dia meneleponku lagi."

"Apa?! Dia yang selalu meneleponmu itu?!" Anna tampak terkejut dengan jawaban Valerie.

Valerie membekap mulut sahabatnya itu agar dia bisa lebih sedikit tenang dan tidak membuat keributan. "Ya, dia meneleponku lagi. Kumohon jangan buat keributan di sini."

"Baiklah, baiklah," kata Anna.

"Sudah berapa kali dia menerormu seperti itu, Val? Apa kau tidak mau melaporkannya saja pada kepala sekolah?" lanjut Anna.

"Tidak, Anna. Aku tidak mau karena aku tidak punya alasan apa pun untuk melaporkannya. Maksudku, dia tidak berbuat jahat padaku—dia justru selalu berkata manis padaku. Contohnya pagi ini ketika dia meneleponku saat aku hendak beranjak mandi yang membuatku jadi hampir terlambat, dia berkata bahwa aku adalah gadis tercantik yang pernah dilihatnya."

Anna memegang kedua bahu Valerie seraya menatapnya intens. "Val, dengarkan aku. Bagaimana jika kata-kata manisnya itu hanya dia pakai sebagai alat untuk melemahkanmu dan di saat kau sudah masuk ke dalam perangkapnya, dia akan berbuat jahat padamu?"

"Anna," Valerie melepaskan pegangan tangan Anna pada kedua bahunya. "dia tidak mungkin melakukan itu. Ya ... mungkin aku memang tidak tahu siapa dia dan selalu dibuat kesal ketika dia tidak menjawab saat aku bertanya siapa dia sebenarnya, tapi kurasa aku menyukai kata-kata manisnya padaku."

Anna menempelkan permukaan tangannya pada kening Valerie. "Apa kau sudah gila? Apa kau juga sudah mulai menyukai dan mencintainya?"

"Jangan bodoh, Anna. Aku tidak mengenalnya, bagaimana aku bisa menyukai atau bahkan mencintainya?" Valerie menyingkirkan tangan Anna dari keningnya.

"Syukurlah," gumam Anna.

Annastasya Widyastuti adalah salah satu sahabat karib Valerie yang sudah sangat mengenal dirinya. Mereka sudah bersahabat sejak pertama kali mereka masuk SMA. Memang, tidak mudah untuk mendekatinya. Namun, Anna tidak pantang menyerah hingga dia berhasil membuatnya percaya dan mau menjadikannya sahabat karib bagi dirinya.

Kesamaan nama mereka juga ternyata terjadi pada kesamaan beberapa sifat mereka, salah satunya adalah mereka sama-sama memiliki perasaan yang sensitif dan mudah menangis. Bahkan, mereka bisa langsung menangis hanya karena menonton acara televisi saja seperti saat mereka mengadakan acara menginap di rumah Valerie beberapa waktu lalu.

Anna tahu betul bagaimana sifat Valerie, begitu pun sebaliknya. Mereka bagaikan ikan yang tidak dapat dipisahkan dengan airnya.

"Jika memang aku menyukai atau mencintai orang itu, aku tidak akan memberitahumu," kata Valerie.

"Hey, aku juga ti—"

Ucapan Anna terpotong oleh suara bel yang berbunyi dan menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya lalu mengeluarkan buku pelajaran yang akan dia pelajari hari ini. Valerie lantas melakukan hal yang sama dengan menghela napas berat.

Jujur saja, Valerie sangat penasaran pada orang yang selalu meneleponnya. Maksudnya, siapa dia? Mengapa dia selalu menelepon dirinya? Dia menelepon saat pagi, sore, bahkan malam dan sesekali dia merasa terganggu saat orang itu kembali menelepon. Jika didengar dari suaranya, dia adalah seorang laki-laki. Namun, siapa laki-laki itu? Apa dia mengenal laki-laki itu?

Seingatnya, dia ingat semua suara teman-temannya. Namun untuk yang satu ini, dia sama sekali tidak ingat suara siapakah itu. Jika saja ada satu petunjuk yang dapat membuatnya memecahkan identitas orang itu, rasa penasaran dalam dirinya bisa segera hilang dan dia bisa sedikit lebih tenang.

Valerie sempat berpikir bahwa mungkin saja orang yang selalu meneleponnya itu adalah penjahat yang berniat jahat padanya, seperti kata Anna tadi. Namun dengan melihat fakta yang ada, rasanya tidak rasional jika dia menyebut orang itu sebagai penjahat. Dia terlalu romantis untuk jadi seorang penjahat.

Oh, dia sudah mulai tidak waras.

Hilangkan pikiran itu dari kepalamu, Valerie. Lupakan dia dan jangan membayangkannya, batin Valerie.

****

Bel tanda istirahat baru saja berbunyi. Valerie dan Anna bergegas merapikan buku serta alat-alat tulis mereka sebelum pergi menuju kantin.

Pada jam istirahat seperti ini, mereka tak jarang menghabiskan waktu bersama di kantin dengan mengobrol atau sekadar membahas pelajaran. Mereka juga tak jarang berkumpul bersama anak perempuan lain walau mereka lebih senang menghabiskan waktu berdua.

"Apa kau paham dengan apa yang Pak Hendra jelaskan tadi? Jujur saja, aku tidak paham sama sekali. Caranya mengajar begitu membosankan," ujar Anna saat mereka sedang berjalan di koridor sekolah yang sudah ramai menuju kantin.

"Benar, aku bahkan mengantuk saat mendengarnya menjelaskan materinya," balas Valerie.

"Untung saja dia lumayan tampan, jadi aku bisa menikmati pemandangan wajah tampannya daripada mendengar penjelasannya yang membosankan."

Valerie berhenti kemudian berbalik yang membuatnya berhadapan dengan Anna lalu memegang kedua bahunya. "Kau menyukai Pak Hendra?!"

Anna menyingkirkan kedua tangan Valerie dari bahunya seraya tertawa. "Tentu saja tidak, aku hanya bergurau tadi."

"Syukurlah." Valerie mendengus lega.

"Tapi jika diperhatikan, dia memang tampan."

Valerie memelotot setelah mendengar ucapan Anna yang sontak saja membuatnya takut.

"Baiklah, baiklah. Tidak perlu memelototiku seperti itu, kau membuatku takut."

Valerie tidak membalas lagi, dia hanya terus berjalan di sepanjang koridor dengan Anna yang berdiri sejajar dengannya. Tidak ada obrolan lagi yang tercipta di antara mereka yang seakan terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing.

Valerie mulai bosan, dia mengedar pandangnya ke sekeliling koridor; dia melihat beberapa siswa yang sedang bermain basket, lalu beralih ke arah beberapa kumpulan siswi yang tengah berkumpul di bangku yang ada di sepanjang koridor seraya mengobrol dengan heboh, dan pandangannya berakhir ke salah satu siswa bertubuh sedang yang sedang memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh.

Dia tidak mengenal siswa itu, dia juga risih saat siswa itu terus saja memperhatikannya. Dan saat dia dengan Anna berjalan melewatinya, siswa itu juga mengikuti arah mereka berjalan. Bahkan saat dia menoleh, siswa itu masih saja memperhatikannya.

"Anna, apa kau kenal dengan laki-laki yang sedari tadi terus memperhatikanku di sana?" tanya Valerie pada Anna setelah dia sudah berjarak agak jauh dari siswa itu seraya menunjuk.

Anna mengikuti arah tunjukan Valerie. "Tidak, aku tidak mengenalnya."

Valerie berbalik. "Lantas kenapa dia sedari tadi terus memperhatikanku seperti itu? Aku risih diperhatikan seperti itu."

"Mungkin dia menyukaimu," goda Anna seraya tersenyum menyebalkan.

"Jangan konyol, Anna."

"Apa? Aku hanya menebak. Bagaimana kalau memang itu benar?"

"Maka kau akan jadi orang pertama yang kucari karena telah berbicara yang aneh-aneh terhadapku," ancam Valerie.

"Wow, aku takut," Anna menunjuk raut wajah takut yang dibuat-buat. "sudahlah, ayo jalan. Kantin hanya tinggal berjarak beberapa langkah lagi."

Valerie menurut, tapi dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari siswa tadi karena dia masih penasaran dengan dia yang terus saja memperhatikannya.

****

Rupanya, itu tidak berhenti sampai di situ saja karena ketika Valerie dan Anna sudah berada di kantin, dia kembali melihat siswa yang dia temui di koridor tadi kini kembali memperhatikannya seraya bersembunyi di balik sebuah dinding yang berada tidak jauh dari tempatnya dan Anna duduk.

Perasaannya menjadi tidak enak, dia risih jika terus saja diperhatikan begitu. Dan sepertinya, Anna tidak menyadari keberadaan siswa itu. Jadi, dia memutuskan untuk izin menemui laki-laki itu dengan dalih ingin pergi ke toilet. Beruntung sekali Anna percaya dan tidak bertanya yang macam-macam.

Valerie berjalan agak memutar agar siswa itu tidak dapat melihatnya atau menyadari bahwa dia akan menemuinya.

"Hai," sapanya seraya menepuk bahu siswa itu.

Siswa itu terlonjak kaget dan berbalik dengan gerakan refleks. Wajahnya tampak terkejut ketika melihat Valerie di hadapannya, dia juga tampak salah tingkah dan gugup.

"H-hai juga," balasnya dengan terbata-bata.

"Namaku Valerie Anastasia, siapa namamu?" Valerie memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya.

Siswa itu menyambut uluran tangan Valerie, tapi kemudian menariknya kembali dan terlihat salah tingkah. "N-namaku Narendra Viodika, tapi kau bisa memanggilku Rendra."

"Baiklah, Rendra. Aku melihatmu sedari tadi terus saja memperhatikanku, ada apa? Apa ada yang ingin kau sampaikan padaku?" ucap Valerie to the point.

"Apa? Aku memperhatikanmu? Tidak, aku tidak melakukan itu. Mungkin kau salah lihat hehe ..," bualnya. Bahkan, dia menambahkan nada tertawa di akhir kalimatnya agar terdengar meyakinkan.

"Orang bodoh pun akan tahu jika kau sedari tadi terus memperhatikanku, kau bahkan juga mengikutiku ke sini. Ada apa?" desak Valerie.

Wajah Rendra tampak semakin gugup, bahkan keringat mulai mengalir dari pelipisnya. Dia mengerling dan samar-samar menelan ludahnya.

"Aku ..." dia menggantungkan kalimatnya seraya melirik ke kanan dan ke kiri dengan wajah gugup.

"Ya?" Valerie menunggunya untuk melanjutkan kalimatnya.

"Rendra!" tiba-tiba saja seseorang memanggilnya dari arah belakang yang kontan membuatnya melirik ke arah orang tersebut.

"... dipanggil. Senang berkenalan denganmu, Valerie!" Rendra berlari menghampiri orang yang memanggilnya tadi dan meninggalkan Valerie sendiri dengan raut wajah penuh tanda tanya serta kerutan di keningnya.

Setelah Rendra benar-benar hilang dari jarak pandangnya, dia kembali menghampiri Anna dan menghabiskan waktu istirahat bersama sahabat karibnya itu seraya menceritakan semua yang dia alami tadi. Tentu saja, Anna marah karena Valerie tidak jujur padanya.

Namun, kemarahannya hilang ketika dia mendeskripsikan penampilan Rendra yang memiliki wajah tampan khas pribumi dengan hidung yang hampir mancung, kulit yang agak kecokelatan, bertubuh sedang, garis rahang yang tampak dipahat dengan sempurna, mata besar dengan pupil hitam yang mengilap serta rambut hitam pendek yang dia tata rapi, dan pipinya yang akan memerah ketika dia malu dan salah tingkah seperti tadi.

Valerie tidak berbohong soal itu meskipun dia masih tidak mengerti dengan sikap Rendra tadi.

Anna yang tadinya tidak tertarik mendengarkan karena dia masih marah padanya pun akhirnya menjadi bersemangat mendengarkannya setelah dia mendeskripsikan wajah Rendra yang kontan membuatnya antusias karena dia adalah pecinta laki-laki berwajah tampan yang selalu bersemangat jika dihadapkan pada apa pun yang berhubungan dengan laki-laki wajah berwajah tampan seperti Rendra.

Pada akhirnya, mereka pun menghabiskan waktu istirahat dengan membicarakan Rendra. Sebenarnya, Anna yang memaksa Valerie untuk membicarakannya meskipun dia malas untuk melakukannya. Namun karena dia adalah sahabat yang baik, akhirnya dia menuruti apa yang Anna inginkan.

Sepulang sekolah, Valerie bergegas pulang ke rumahnya walaupun Anna sempat mengajaknya untuk berjalan-jalan sebentar ke mall untuk membeli beberapa pakaian baru. Namun, dia sedang malas pergi ke mana pun, termasuk mall.

Bahkan karena saking malasnya, yang dia lakukan sepulang sekolah hanyalah berbaring di ranjang seraya memainkan ponselnya serta memasang earphone di telinganya lalu memutar lagu dengan volume yang keras. Hampir semua lagu yang ada di ponselnya dia putar karena bosan dan tidak ada satu lagu pun yang bisa membangkitkan semangatnya kembali. Dan akhirnya karena rasa bosan yang terus melanda dirinya, dia memutuskan untuk membuka aplikasi Facebook dan memainkannya.

Saat dia membuka akun Facebook-nya, dia melihat ada seseorang yang menambahkannya sebagai teman dengan nickname NRV dan foto profil yang menampilkan seorang remaja laki-laki mengenakan seragam SMA lengkap sedang berdiri di tengah lapangan dengan bagian wajah yang dibuat blur. Tanpa berpikir panjang lagi, dia lalu menerima permintaan pertemanannya. Tak berselang beberapa lama, saat dia sedang melihat-lihat beranda Facebook-nya, sebuah pesan masuk.

NRV •sedang aktif

Makasih udh dikonfirm

Valerie Anastasia •sedang aktif

Sama-sama

NRV •sedang aktif

Boleh knalan nggk?

Valerie Anastasia •sedang aktif

Boleh

NRV •sedang aktif

Nama kmu syapa?

Valerie Anastasia •sedang aktif

Valerie anastasia

NRV •sedang aktif

Nama yg bagus

Valerie Anastasia •sedang aktif

Makasih, kalo nama km siapa?

Si NRV agak lama membalasnya yang membuat Valerie kembali dilanda rasa bosan. Dia membalas semua pesan yang masuk untuk menunggu dia membalas pesannya lagi, dia bahkan juga kembali melihat-lihat beranda Facebook-nya untuk membunuh rasa bosannya dan membuka beberapa beranda grup yang dia ikuti walaupun tidak ada yang menarik sama sekali, tapi Si NRV tidak kunjung membalas pesannya.


Karena bosan, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari aplikasi Facebook.

NRV •sedang aktif

Maaf, aku nggk bsa ngasih thu nama aku

Valerie Anastasia •aktif dua menit yang lalu

(... Makasih, kalo nama km siapa? ...)

NRV •sedang aktif

Hallo? Kmu masih di sana?

Valerie bisa melihat ada pesan masuk dari Si NRV di Facebook-nya, tapi dia sedang malas membalasnya.

Dia menaruh ponselnya di nakas dan memutuskan untuk tidur sejenak. Namun saat dia hampir memejamkan matanya, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara telepon berdering. Dia lantas beranjak dari ranjangnya dengan malas dan mengangkatnya

"Halo?"

Ada jeda lama sebelum si penelepon menjawabnya.

"Halo juga."

"Siapa ini?"

"Kau tidak perlu menanyakannya lagi."

"Aku tidak bercanda. Siapa ini?"

"Aku tahu kau mengenalku."

"Anna, apa itu kau?"

"Sayangnya ... bukan."

"Kumohon, jangan bercanda. Ini tidak lucu. Siapa ini?!"

"Apa kau yakin ingin tahu siapa aku?"

"Cepatlah jawab, kau membuatku takut. Apa kau penjahat?"

"Bukan, aku bukan penjahat. Aku tidak akan menyakitimu sama sekali."

"Lalu ada apa kau meneleponku?"

"Aku ... aku hanya ingin mendengar suaramu."

Valerie menatap telepon di tangannya.

"Kau ingin katakan siapa dirimu sebenarnya atau tidak?"

"Aku rasa aku tidak perlu mengatakan siapa aku sebenarnya karena kau mengenalku. Kita pernah bertemu."

"Baiklah, aku anggap jawabanmu adalah tidak."

Valerie lalu menutup teleponnya.

Karena dia sedang tidak ingin dibuat pusing oleh dia-yang-misterius-yang-selalu-meneleponnya ini, dia pun memutuskan untuk kembali ke ranjangnya dan melanjutkan tidurnya.

****

Pukul 18.30, Valerie terbangun karena sang Ibu membangunkannya. Dengan keadaan setengah sadar, dia membelalakkan matanya ketika melihat jam di nakasnya yang menunjukkan pukul berapa dia bangun. Dia menggerutu terlebih dulu pada Ibunya karena tidak membangunkannya lebih awal, tapi Ibu menjawab, "Ibu sudah membangunkanmu dari jam 5 tadi, tapi kamu tidur dengan sangat pulas."

Alhasil, dia tidak bisa berkelit atau menggerutu lagi karena memang dia yang salah.

Jadi setelah dia dibangunkan oleh sang Ibu, dia lalu mandi dan membersihkan tubuhnya. Dia belum membersihkan tubuhnya sejak pulang sekolah tadi, jadi tidak heran jika dia agak lama berada di dalam kamar mandi. Bukan mandinya yang lama, tapi acara konser tunggalnya.

Tidak usah heran, terkejut, atau mengerutkan kening ketika mendengar Valerie melakukan konser tunggal ketika mandi. Sudah menjadi kewajiban baginya untuk bernyanyi dengan menggunakan gayung yang dia gunakan sebagai mic ketika dia sedang mandi.

Menurutnya, jika dia tidak bisa bernyanyi atau berkonser di atas panggung untuk menyalurkan hobinya, maka kamar mandi adalah pilihan terakhinya.

Pukul 19.00, dia sudah berada di meja makan bersama Mamah dan Papahnya. Dia mengambil piring lalu mulai menyendok menu makan malamnya.

"Bagaimana sekolahmu hari ini, Nak?" tanya Martha, Mamah Valerie, membuka percakapan.

"Biasa saja, Mah. Hanya ada sedikit kejadian yang tidak mengenakkan saja," jawab Valerie.

Mamah beradu pandang terlebih dulu dengan Papah sebelum merespons. "Kejadian apa, Nak?"

"Bukan apa-apa, kok, Mah. Tidak perlu dipikirkan."

"Ceritalah pada kami, Nak," sahut Papah.

Mamah memegang telapak tangan Valerie seraya menatapnya. "Iya, Nak. Jangan membuat kami cemas."

Valerie menatap Papah dan Mamahnya secara bergantian. Mereka mengangguk dan tersenyum kecil yang seolah berkata, "Tidak apa-apa, ceritalah."

Valerie ragu, tapi mungkin rasanya akan lebih melegakan jika dia sudah menceritakan semuanya pada kedua orangtuanya. Dia tidak tahu apa reaksi mereka ketika dia menceritakan perihal seseorang yang selalu meneleponnya itu, tapi setidaknya, mereka harus tahu.


Memang, dia-yang-misterius ini tidak melakukan sesuatu yang jahat, tapi dia agak sedikit risih jika dia selalu diganggu oleh dia-yang-misterius ini dengan cara terus meneleponnya.

Baiklah, mungkin ini yang terbaik. Dia menarik napas dalam terlebih dulu sebelum mulai bercerita. "Ada seorang pemuda yang selalu meneleponku, tapi ketika kutanya siapa dia, dia sama sekali tidak mau menjawabnya. Dia malah berkelit setiap kali aku bertanya seperti itu."

"Apa? Apa dia berkata kasar padamu atau mengancammu?" tanya Mamah cemas sekaligus terkejut dengan apa yang baru saja anaknya jelaskan.

"Tidak, tidak sama sekali. Dia justru selalu berkata manis padaku, memujiku, atau menggodaku."

Ada sedikit rasa lega di hati kedua orangtua Valerie setelah mendengar jawaban darinya. Namun, mereka agak sedikit tidak mengerti dengan apa yang baru saja anak mereka jelaskan. Maksud mereka, mungkinkah ada peneror yang seperti itu, kecuali pemuda yang selalu meneror Valerie?


Bahkan, tidak pernah sekalipun diceritakan peneror seperti itu dalam semua film yang pernah mereka tonton.

"Maksudmu?" tanya Mamah lagi yang tidak mengerti dengan jawaban Valerie.

"Aku tahu Mamah tidak mengerti dengan kata-kataku tadi, tapi memang itulah yang dia lakukan padaku."

"Tapi apakah dia benar-benar berkata manis padamu atau hanya ingin menjebakmu saja, Nak?"

"Iya, Papah sering mendengar motif-motif penjahat dalam melakukan aksinya di televisi, Nak. Kau harus berhati-hati." Papah menyahut.

"Aku yakin dia bukan seorang penjahat."

Mamah mengerutkan alisnya. "Dari mana kau tahu?"

Pertanyaan Mamahnya terdengar masuk akal. Maksudnya, dari mana dia bisa tahu bahwa dia-yang-misterius-yang-selalu-meneleponnya ini bukanlah seorang penjahat dan begitu yakin pada apa yang dia sendiri belum tahu pasti?


Memang, dari apa yang selalu peneror ini ucapkan, tidak ada tanda-tanda seorang penjahat sama sekali walaupun dia tidak tahu tanda-tanda seorang penjahat itu seperti apa.


Namun, tentu saja, itu tidak bisa menjamin bahwa dia bukanlah seorang penjahat. Bagaimana bahwa kata-kata manisnya itu hanyalah perangkap yang digunakannya untuk menjebaknya?

Seketika, terlintas banyak skenario tentang hal-hal yang mungkin saja menimpa dirinya, seperti ternyata dia adalah seorang pedofil yang sedang mengincar dirinya untuk dijadikan korban pelecehan seksual di bawah umur.


Memang terdengar agak tidak masuk akal dengan mengingat umurnya, tapi setiap kemungkinan memiliki peluang untuk terbukti benar dan di balik setiap kemungkinan masih ada ribuan kemungkinan lain, termasuk kemungkinan terburuk sekalipun.

"Aku tidak tahu, Mah, tapi firasatku berkata seperti itu." Setidaknya, Valerie telah berkata jujur.

"Firasat belum tentu sama dengan kenyataan, Nak."

"Ya, aku mengerti, tapi entah kenapa aku merasa sangat yakin bahwa dia bukanlah seorang penjahat. Jika seandainya memang iya, sudah dari kemarin mungkin dia mengancamku atau yang terburuk: menculikku kemudian meminta tebusan miliaran pada Mamah dan Papah."

"Kau membuatku takut, Nak." Mamah tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu benar-benar terjadi pada putrinya.

"Sudahlah, Papah percaya padamu. Papah tahu kau bisa menjaga dirimu sendiri—kau sudah dewasa. Papah percayakan kau untuk menyelesaikan masalahmu sendiri, tapi jika terjadi sesuatu atau dia mulai mengancammu, segeralah beritahu Papah." Papah menyela seraya menenangkan Mamah.

Valerie tersenyum, bahagia rasanya jika seseorang percaya padanya. "Terima kasih, Pah."

Mamah dan Papah lantas ikut tersenyum dengan senyum khas yang diberikan orangtua pada anaknya: lembut dan penuh kasih sayang.

Valerie telah selesai menyantap makan malamnya. Dia lalu berdiri kemudian berpamitan pada kedua orangtuanya untuk kembali ke kamarnya. "Aku masuk ke kamar dulu ya, Mah, Pah?"

"Iya, Nak," sahut Mamah dan Papah secara bersamaan.

Setelah Valerie sudah benar-benar pergi ke kamarnya, Papah melirik ke arah Mamah yang disambut dengan beliau yang balas meliriknya seakan mereka memiliki telepati dan saling mengirimkan sinyal untuk kemudian saling melirik.


"Apa Valerie serius dengan ucapannya tadi ya, Mah?"




—To be continued—



Maaf atas keterlambatannya, ya. 


Comments

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon