A Complicated Love Story (Part 6)

Genre: Humor, Romance, Drama
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe cerita: Cerbung
Enjoy it~

"Adeeeeeekkkkkkkkkk! Bangun!"
Itu bukan suara Lady Gaga lagi kena sembelit kok, bray. Itu suara mamah. Mamah emang gitu kalo pagi, konser dengan hebohnya kayak lagi kena badai katrina. Iya, konser mamah gue itu bukan konser yang bakal bikin lo teriak kegirangan tapi konser mamah gue itu konser yang bakal bikin lo teriak minta tolong karena berisiknya setengah hidup, bray! Iya, bahkan kemarin anak ayamnya pak Bambang --tetangga gue-- mati gara-gara denger mamah gue konser. Anak ayamnya pak Bambang aja keganggu sama suara konser mamah gue. Sampe mati pula. Apalagi gue sebagai anaknya yang tiap hari denger secara langsung mamah gue konser? Bayangin, bray! Bayangin!

Gue meregangkan otot-otot gue sebelum bangkit dari kasur tercinta gue. Gue melirik ke arah jam sebentar buat liat ini udah jam be.... Astaga naga dragon ball! Udah jam 06:30, bray! Sedangkan gue masuk jam 07:00. Waduh, mati gue! Mati!

Gue bangkit dari kasur dengan hebohnya karena gue udah hampir telat dan gue ngacir ke kamar mandi tak kalah heboh. Gue masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. Gue menyalakan shower, gue melepas semua pakaian yang menempel di tubuh gue hingga tubuh gue kini gak dibalut oleh sehelai benang pun.

***

"Mah, pah, Rio berangkat dulu, ya." ujar gue pada mamah, papah, dan... eh, mana Mario? Apa dia udah berangkat duluan? "Iya nakc berangkat sanah. Udah siang nih. Tadi Mario udah berangkat duluan." balas mamah. Tumben amat Mario berangkat lebih dulu dari gue. "Dah!" kata gue sembari melambaikan tangan ala ala Miss Universe gitu. Tapi versi maskulinnya, ya. Eh, Miss Universe ada versi maskulinnya gak sih?

Gue berlalu meninggalkan mamah dan papah yang sedang asyik bercengkrama sambil menikmati santap pagi mereka di meja makan. Gue melirik ke arah jam tangan yang gue pake di tangan sebelah kiri gue buat memastikan ini udah jam berapa. Gue tercengang ketika jam tangan yang ada di tangan sebelah kiri gue ini sudah menunjukkan pukul....
....
....
Pukul 07:00, bray!
....
....
Astaga naga dragon ball!
Gue udah telat, bray! Aduh, mati gue! Mati! Gue bisa dihukum lagi nih. Aaaarrrrrrgggghhhh!

Gue bergegas lari menuju mobil gue yang terparkir di garasi. Gue masuk ke dalamnya, mengeluarkannya dari dalam garasi dan bergegas pergi ke sekolah gue. Gue mengemudikan mobil gue dengan kecepatan di atas rata-rata. Baru kali ini gue telat bukan karena Mario stupid itu, bray. Entah kenapa gue bisa kesiangan kayak gini. Eh, ngomong-ngomong, kencan gue semalem gagal, bray. Okeh, itu bukan kencan. Itu cuma guenya aja yang ngarep. Acara ketemuan gue sama Aalya di lapangan sepak bola semalem gagal karena ujug-ujug mamah dan bu Endang datang mengacaukan semuanya. Nyebelin deh. Padahal, gue udah mulai deket sama Aalya, bray! Kalau gue udah deket sama Aalya kan gue bisa modus-modus gitu. Tenang aja, bray. Gue gak binal kok. Gue cuma nakal aja. Iya, nakal. Kayak motto hidupnya Revan, Alfan, dan Vladislav..

"Biar jelek asal nakal"

Entah apa maksudnya. Gue juga gak tau, bray. Mereka emang gila. Bukan gila lagi tapi gila bingitz pake binggo. Selain gila, mereka itu mesum. Gak usah gue jelasin kali ya mesum itu apa dan mesum yang kayak gimana. Lo semua pasti udah paham lah ya, bray.

***

Gue udah sampe di sekolah, bray. Tadi pak Maryono --satpam sekolah gue-- hampir aja mau nutup gerbang sekolah tapi untung gue datang tepat waktu. Kalo gerbang sekolah udah ditutup kan gue gak bisa masuk lagi. Gue memarkirkan mobil gue di parkiran sekolah. Gue keluar dari mobil dan bergegas lari menuju kelas gue. Gue lari di sepanjang koridor menuju kelas gue. Koridor menuju kelas gue ini udah sepi, bray. Gak ada orang yang lewat di koridor ini selain gue. Eh, tadi gue berpapasan dengan beberapa guru yang menatap gue dengan tatapan yang seakan-akan berkata 'telat lagi?' Pada gue yang sedang lari menuju kelas gue. Iya, beberapa guru di sekolah ini udah tau kalo gue sering telat. Gak terlalu sering sih, palingan gue telat kalo Mario stupid itu berangkat bareng gue aja. Tapi...
Hari ini gue telat bukan karena Mario, bray!

'Nah itu dia..' batin gue, saat gue melihat kalau gue udah hampir sampai di kelas gue.

Gue berhenti berlari saat gue liat pak Hendra --guru yang luar biasa galak di sekolah ini selain pak Jonathan-- sedang berdiri di depan kelas gue sambil berdecak pinggang dengan memasang wajah garang dan gue berdiri tepat di depan hadapannya. Aduh, mati gue! Mati!

"Terlambat lagi?" tanya pak Hendra dengan nada sinis. Gue memasang wajah polos bagaikan anak kecil yang gak tau apa-apa. "Hehe iya, pak." jawab gue bloon. "Mau sampai kapan kamu datang terlambat terus?" tanya pak Hendra lagi dan masih dengan nada sinisnya. "Iya pak, saya janji gak akan terlambat lagi." jawab gue. "Saya udah bosen sama janji kamu, Rio." kata pak Hendra. "Ini yang terakhir, pak. Saya janji." balas gue. "Yasudah, sanah masuk." ucap pak Hendra mengizinkan gue masuk. YES!! akhirnya gue bisa bebas dari guru killer yang satu ini.

Gue berjalan melewati pak Hendra dengan posisi badan yang agak sedikit gue bungkukan. Untuk menunjukkan rasa hormat maksudnya, bray. Bukan karena duit gue jatuh atau apa. Setelah gue berhasil melewati pak Hendra yang masih berdiri di depan pintu kelas gue sambil berdecak pinggang, gue lari ke meja gue.

"Hey, bitch." sapa Revan yang duduk di meja sebelah gue setelah gue menghempaskan pantat gue duduk di bangku gue. Dia itu bisa gak sih manggil gue dengan panggilan yang lebih manusiawi? "Apa?" tanya gue pada Revan yang sedang menghadap ke arah depan sambil memainkan pensil dengan tangannya. "Nanti sore lo harus ikut gue ke mall." jawabnya yang masih menghadap ke arah depan. Fix, itu gak sopan!
"Ta...."

"Gue gak mau denger kata 'gak' atau yang sejenisnya." potong Revan. Kalo Revan udah ngomong gitu, itu tandanya gue gak boleh nolak, bray. Sialan! Untung gue belum punya janji apa-apa sama orang lain. "Iya, gue ikut." kata gue. "Bagus." balasnya. Sialan!

BUUUUKKKK...

Itu bukan suara bedug ya, bray. Itu suara penghapus melayang. Bukan melayang karena makhluk alus atau yang sejenisnya, ya. Tapi melayang karena pak Hendra melemparkan penghapus itu ke arah Revan yang ketauan ngobrol sama gue. Pak Hendra menghampiri gue dan Revan. Pak Hendra menjewer kuping gue dan Revan sebagai hukuman karena mengobrol di jam pelajarannya. Gue dan Revan cuma bisa menunduk dan diam membisu. Fix, ini hari terburuk gue!

***

"So, what do you wanna talk about?" tanya gue dengan aksen British gue yang seksih itu pada Revan yang sedang asyik diam. Mungkin dia lagi nyusun kata-kata buat jawab pertanyaan dari gue. Alfan dan Vladislav saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung, sama kayak gue yang bingung dengan sikap Revan. Dia gak lagi kesambet arwah bencong bisu, 'kan?

Ohiya, gue, Alfan, Vladislav dan Revan lagi ada di kafe yang ada di salah satu mall, bray. Masih inget kan dengan ajakan Revan tadi di sekolah? Nah, tadi sepulang sekolah Revan langsung nyeret gue, Alfan, dan Vladislav ke kafe ini. Tapi, dari awal kami nyampe ke kafe ini, dia cuma diem kayak putri solo yang lagi dipingit.

"Well..." katanya, membuka obrolan. "Gue berhasil jadian sama Renita." lanjut Revan. Siapa lagi tuh Renita? "What the hell are you talking about?! Renita yang kemarin photo berdua sama lo dan photonya lo upload ke Facebook itu?" tanya Vladislav tiba-tiba yang sontak bikin gue, Alfan, dan Revan kaget. "Iya." jawabnya antusias. Oh, jadi nama cewek yang ada di photo itu tuh Renita. "Wah, selamat bro. Gue ikut seneng dengernya, apalagi lo kan udah lama naksir Renita." sahut Alfan. Oh, sekarang gue inget. Iya, Revan itu naksir berat sama seorang cewek tapi gue gak pernah siapa namanya. "Iya, bray. Gue juga ikut seneng karena akhirnya ada yang mau sama cowok mesum kayak lo." ejek gue. "Kurang ajar lo, Rio." hardik Revan. "Hahahaha." tawa gue penuh kemenangan.

"Nah, karena gue lagi bahagia, gue mau traktir lo semua. Lo boleh pesen apa aja." ujar Revan. "Serius nih bro apa aja?" tanya Vladislav. "Iya, serius." jawab Revan. "Asyiiiikkkkkk! Sering-sering aja ya bro lo kayak gini!" kata Vladislav. Revan hanya terkekeh melihatnya.

Gue, Alfan, dan Vladislav pun mulai pesen semua yang bisa dimakan yang ada di daftar menu kafe ini. Gue, Alfan dan Vladislav pesen sebanyak-banyaknya. Ini mukjizat, bray. Selama gue temenan sama Revan, baru kali ini dia traktir gue, Alfan, dan Vladislav. Biasanya tuh Revan pelit setengah hidup, bray. Minjem duit seribu aja kalo dia lagi pelit, kagak bakal dikasih, bray. Jadi, gue, Alfan dan Vladislav memanfaatkan keadaan ini dengan pesen sebanyak-banyaknya. Mungkin kalo mamah tau gue ditraktir makan di kafe mewah kayak gini sama Revan, mamah bakal nyuruh gue bungkusin makanan yang ada di kafe ini terus dibawa pulang ke rumah kayak terakhir kali gue kondangan bareng mamah. Malu-maluin aja, deh.

"Eh guys..." ujar gue, membuka obrolan pada tiga sahabat gue yang lagi asyik menyantap hidangan yang kami pesan tadi. "Kalian kenal Aalya yang anak IPS itu gak?" lanjut gue. "Aalya Putri Rahayu?" tanya Revan balik. "Iya, bray. Lo kenal?" tanya gue lagi. "Kenal lha. Dia kan salah satu cewek jalang di sekolah kita." jawab Revan.
Deg....
Jantung gue kayak berhenti berdetak seketika setelah mendengar jawaban Revan. Apa maksudnya, ya?

"Cewek jalang? Dia keliatan kayak cewek baik-baik kok." kata gue yang masih gak percaya sama apa yang Revan omongin barusan. "Hahahaha. Jangan gampang ketipu sama tampang, bro." Itu bukan Revan. Itu Alfan. "Iya, bro. Revan dan Alfan itu bener. Aalya itu cewek jalang. Kemarin aja dia baru putus dari cowoknya yang ke-19." sahut Vladislav. "Masa sih?" tanya gue yang masih tetep gak percaya. Gue gak yakin bray kalau Aalya itu cewek jalang. Dia keliatan kayak cewek baik-baik kok dan yang ngomong kalo Aalya itu cewek jalang adalah tiga cowok gila kayak mereka. Tambah gak percaya lagi lah gue, bray.

"Iya, bro." jawab Revan, Alfan dan Vladislav secara bersamaan. "Tapi dia gak keliatan kayak cewek jalang, bray." sela gue. "Jangan ketipu sama tampang, bro. Tampang boleh alim tapi hatinya kan gak ada yang tau." tutur Alfan. "Iya, bro. Dulu gue pernah kenalan sama seorang cewek di salah satu acara yang entah apa namanya, gue lupa. Cewek yang gue ajak kenalan itu wajahnya alim bak ukhti muslimah sholehah gitu tapi setelah gue kenal dia cukup lama, sekitar dua bulan lah. Ternyata dia itu maniak seks dan playgirl. Ih serem deh." sahut Vladislav. "Ahhh, gue pusing, bray. Udah ah jangan bahas itu lagi." kata gue. Gue beneran pusing, bray. Pusing harus percaya sama sahabat gue atau cewek yang baru gue kenal. "Yaudah, oke..." balas Revan. "Gue cuma mau pesen satu hal sama lo, lo jangan sampe mencintai orang yang salah." lanjut Revan. "Iya, bray. Gue akan inget nasihat lo." balas gue.

To be continued....
============================
Komentar, kritik dan sarannya ditunggu, ya. :)
Komentar kalian sangat berharga untukku. :)
Okeh, see ya. :)

Comments

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon