A Complicated Love Story (Part 2)
Genre: Humor, Romance, Drama
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe cerita: Cerbung
Enjoy it~
"Ada apa hah?" tanya gue dengan nada sinis pada babon rakus nyebelin ini. Bukannya jawab pertanyaan gue, dia malah mesam-mesem gak jelas kayak anak perawan yang mau dilamar. "Jawab woy"
"A-anu" kata Mario gugup. Dia kenapa sih? "Anu lo kenapa?" Dia kembali mesam-mesem gak jelas, ditambah dengan menggaruk tengkuknya yang gue yakin sama sekali gak gatal. Dia kenapa sih? Aneh banget. Terakhir kali dia aneh kayak sekarang tuh pas dia nahan mules pada upacara dulu. "Kalo lu gak mau jawab, gue mau ke kantin aja. Buang-buang waktu gue aja lo!" Kata gue, dengan nada sinis.
Gue berbalik dan bersiap untuk pergi dari hadapan Mario stupid ini dengan wajah kesal. Dia itu bisa gak sih gak ganggu gue sehari aja? Buat apa juga dia narik tangan gue kayak tadi kalau pas gue tanya dia cuma mesam-mesem gak jelas kayak anak perawan yang mau dilamar gitu? Dia jatuh cinta sama gue? Oh, gue ini ngomong apa ya? Dia itu bukan Jenita dan gak mungkin jatuh cinta sama gue. Eh, itu bukan berarti gue berharap dia beneran jatuh cinta sama gue, ya. Sampe Selena Gomez mau goyang dumang pun gue gak akan rela makhluk nyebelin itu jatuh cinta sama gue. Apa kata temen-temen gue nanti kalau Mario jatuh cinta sama saudara kembarnya sendiri, yaitu gue? Terus kalau tante Monyong eh tante Mona -- tante-tante nyinyir yang suka gosipin orang di komplek perumahan gue--- maksud gue, sampe tau kalau Mario jatuh cinta sama gue, dia pasti bakal bikin gosip tentang gue dan Mario.
"Eh jeung, kalian tau Rio dan Mario si kembar anaknya jeung Anditya itu? Masa si Mario jatuh cinta sama saudara kembarnya sendiri, si Rio. Kasian ya, jeung. Cakep-cakep tapi homo."
GAK! sampe kapan pun gue gak mau itu jadi kenyataan! "Rio" panggil seseorang dari arah belakang. Itu pasti Mario. Yup, itu benar. Orang yang manggil gue barusan itu Mario. Aaaarrggghhh! "Ada apa lagi sih?" tanya gue.
"Gue minjem duit lo dong. Uang jajan gue kurang, tadi uang jajan gue sebagian ketinggalan di rumah." Gue berhenti, membalikkan badan hingga berhadapan dengan Mario stupid ini. Oh, jadi dia cuma mau minjem duit gue? "Nih, boleh lo pake buat apa aja, gue gak peduli. Asal jangan ikuti gue lagi, paham?" kata gue seraya memberikannya uang jajan gue yang sebenernya gak seberapa itu. Tapi, daripada Mario terus ngikutin gue, mendingan gue kasih aja, betul?
"Asyiiiikkkkk! Lu baik banget deh, kalau lu baik gini kan lu jadi tambah ganteng." katanya. Cih! Muji gue kalau pas ada maunya aja. "Minggir! Gue mau lewat!" Gue berbalik dan kembali jalan menuju kantin tempat biasa gue dan tiga sahabat gue nongkrong. Pasti mereka udah nunggu gue dari tadi. Ini semua gara-gara Mario! Dasar Mario stupid sialan!
Gue berjalan --lebih tepatnya sih lari-- menuju kantin. Sahabat-sahabat gue pasti udah nunggu lama di kantin. Mereka pasti marah karena gue pergi lama banget. Kalau mereka sudah marah, galaknya bisa melebihi ibu tiri. Walaupun mereka itu cowok, mulut mereka itu nyinyir banget. Apalagi kalau sedang marah seperti ini. Bahkan, lebih nyinyir dari mulutnya si tante Monyong eh tante Mona maksud gue. Huh! Gue benci tante nyinyir itu! Rasanya gue mau nendang tuh tante nyinyir ke pulau antah berantah terus jadi santapan suku kanibal di sana!
Oh, gak, suku kanibal itu pasti gak bakal doyan sama tante-tante yang mulutnya nyinyir itu. Gue mau buang dia ke laut aja terus jadi santapan para hiu, ah! Iya, hiu pasti doyan hahahaha.
Eh, kenapa gue malah bahas tante Monyong eh tante Mona sih? Okeh, lupakan! Lupakan, rio! Lupa..... eh gue udah sampe di kantin ternyata. Lihat itu, Revan, Alfan, dan Vladislav sedang duduk di salah satu meja yang terletak di bagian pojok kantin ini. Itu emang tempat favorit kami karena terletak di bagian paling pojok. Jadi, kalau kami lagi ngegosip tentang Melinda --cewek paling seksih di sekolah gue-- gak bakal ada yang denger. Huahahaha.
Ohiya, walaupun gue, Revan, Alfan, dan Vladislav itu cowok, kami suka banget ngegosip. Emang yang bisa ngegosip itu cuma ibu-ibu komplek yang kerjaannya cuma diem di rumah, nunggu suami, dan ngegosip di tukang sayur aja hah? Cowok-cowok tampan kayak kami juga bisa ngegosip. Ups! Gue terdengar kayak tante Monyong eh tante Mona sekarang! Okeh, itu menjijikan! Dasar tante nyinyir nyebelin!
"Hello tampan" sapa gue pada tiga sahabat gue. "Baru dateng?" cibir Vladislav. "Hehe iya." jawab gue. "Gue pikir lo lagi asyik dugem sama Sisca sampe lupa sama kita-kita." cibir Vladislav (lagi). "Lo pikir gue cowok apaan hah yang mau jalan sama pelacur kayak dia?" tanya gue kesal. Okeh, aku terdengar kejam sekarang!
"Lo kan gigolo taman lawang." jawab Revan. See? Mulut mereka itu jahanam banget! "Dasar banci gila!" cibir gue. Itu untuk Revan. Dia emang kadang keceplosan terus bertingkah kayak banci gila. Kapan tau itu dia pernah digigit semut terus nangis tujuh hari tujuh bulan. Eh, tujuh malam maksud gue. Cih! Cowok macam apa tuh? "Stop it, bitch! Kita ke sini tuh mau makan, bukan mau berantem kayak pelacur yang belum dijamah om-om hidung bolong." kata Alfan.
"Hidup belang" ralat Revan.
"Iya, itu maksud gue." lanjutnya. "Yaudah, gue mau pesen makanan dulu." kata gue. Gue bangkit untuk memesan makanan sama bu Juju --ibu kantin di sekolah gue--.
Asal kalian tau nih ya, masakan bu Juju itu enak bingitz pake binggo. Gue bisa nambah berkali-kali kalau udah makan di kantinnya bu Juju. Tapi, untung gue gak gendut. Jangan sampai deh.
"Bu, siomay satu porsi." ujar gue pada bu Juju. "Siap, nak Rio." balasnya. Gue emang cukup kenal deket dengan bu Juju. Jadi, gak usah heran kalau bu Juju manggil gue 'nak'.
"Bu, bakso satu mangkok." Itu bukan gue. Gue gak terlalu suka bak.... eh lihat itu! Bukan, bukan lihat si Jenita yang lagi duduk dengan gaya bancinya itu. Tapi, lihat siapa yang barusan pesen bakso sama bu ju.... ahhhhh! Demi mulut nyinyirnya tante Monyong eh tante Mona! Tuh cewek cakep banget! Aje gile bray! Lihat itu wajah cantiknya, rambut panjangnya yang dia biarkan terurai, senyum menawannya yang sangat mempesona, bibir merah meronanya. Ahhhh!
"Siap, neng Aalya." Oh, namanya Aalya. Gue harus bisa kenalan sama tuh cewek. Harus! "Ini siomay-nya, nak Rio." kata bu Juju. "E-eh iya bu, makasih." Gue mengambil pesanan gue dan kembali ke tiga sahabat gue. Gue berjalan menuju meja tempat sahabat gue makan. Gue berjalan agak terburu-buru karena gue pengen cerita sama mereka soal cewek cakep yang namanya Aalya tadi. Entah jaraknya yang emang deket atau guenya yang terlalu bersemangat, tau-tau gue udah ada di depan meja tempat tiga sahabat gue berada.
"Gile bray! Tadi ada cewek cakep banget!" kata gue. "WHATEVER!" seru tiga sahabat gue secara bersamaan dan pergi meninggalkan meja yang tadi mereka tempati. Yang sekarang gue tempati. Aaaaaaaarrrrrrrgggghhhh! Cowok-cowok sialan!
To be continued...
==========================
Gimana part 2-nya?
Komentar, kritik dan sarannya ditunggu ya. :)
Komentar kalian sangat berharga untukku. :)
Ok, see ya.
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe cerita: Cerbung
Enjoy it~
"Ada apa hah?" tanya gue dengan nada sinis pada babon rakus nyebelin ini. Bukannya jawab pertanyaan gue, dia malah mesam-mesem gak jelas kayak anak perawan yang mau dilamar. "Jawab woy"
"A-anu" kata Mario gugup. Dia kenapa sih? "Anu lo kenapa?" Dia kembali mesam-mesem gak jelas, ditambah dengan menggaruk tengkuknya yang gue yakin sama sekali gak gatal. Dia kenapa sih? Aneh banget. Terakhir kali dia aneh kayak sekarang tuh pas dia nahan mules pada upacara dulu. "Kalo lu gak mau jawab, gue mau ke kantin aja. Buang-buang waktu gue aja lo!" Kata gue, dengan nada sinis.
Gue berbalik dan bersiap untuk pergi dari hadapan Mario stupid ini dengan wajah kesal. Dia itu bisa gak sih gak ganggu gue sehari aja? Buat apa juga dia narik tangan gue kayak tadi kalau pas gue tanya dia cuma mesam-mesem gak jelas kayak anak perawan yang mau dilamar gitu? Dia jatuh cinta sama gue? Oh, gue ini ngomong apa ya? Dia itu bukan Jenita dan gak mungkin jatuh cinta sama gue. Eh, itu bukan berarti gue berharap dia beneran jatuh cinta sama gue, ya. Sampe Selena Gomez mau goyang dumang pun gue gak akan rela makhluk nyebelin itu jatuh cinta sama gue. Apa kata temen-temen gue nanti kalau Mario jatuh cinta sama saudara kembarnya sendiri, yaitu gue? Terus kalau tante Monyong eh tante Mona -- tante-tante nyinyir yang suka gosipin orang di komplek perumahan gue--- maksud gue, sampe tau kalau Mario jatuh cinta sama gue, dia pasti bakal bikin gosip tentang gue dan Mario.
"Eh jeung, kalian tau Rio dan Mario si kembar anaknya jeung Anditya itu? Masa si Mario jatuh cinta sama saudara kembarnya sendiri, si Rio. Kasian ya, jeung. Cakep-cakep tapi homo."
GAK! sampe kapan pun gue gak mau itu jadi kenyataan! "Rio" panggil seseorang dari arah belakang. Itu pasti Mario. Yup, itu benar. Orang yang manggil gue barusan itu Mario. Aaaarrggghhh! "Ada apa lagi sih?" tanya gue.
"Gue minjem duit lo dong. Uang jajan gue kurang, tadi uang jajan gue sebagian ketinggalan di rumah." Gue berhenti, membalikkan badan hingga berhadapan dengan Mario stupid ini. Oh, jadi dia cuma mau minjem duit gue? "Nih, boleh lo pake buat apa aja, gue gak peduli. Asal jangan ikuti gue lagi, paham?" kata gue seraya memberikannya uang jajan gue yang sebenernya gak seberapa itu. Tapi, daripada Mario terus ngikutin gue, mendingan gue kasih aja, betul?
"Asyiiiikkkkk! Lu baik banget deh, kalau lu baik gini kan lu jadi tambah ganteng." katanya. Cih! Muji gue kalau pas ada maunya aja. "Minggir! Gue mau lewat!" Gue berbalik dan kembali jalan menuju kantin tempat biasa gue dan tiga sahabat gue nongkrong. Pasti mereka udah nunggu gue dari tadi. Ini semua gara-gara Mario! Dasar Mario stupid sialan!
Gue berjalan --lebih tepatnya sih lari-- menuju kantin. Sahabat-sahabat gue pasti udah nunggu lama di kantin. Mereka pasti marah karena gue pergi lama banget. Kalau mereka sudah marah, galaknya bisa melebihi ibu tiri. Walaupun mereka itu cowok, mulut mereka itu nyinyir banget. Apalagi kalau sedang marah seperti ini. Bahkan, lebih nyinyir dari mulutnya si tante Monyong eh tante Mona maksud gue. Huh! Gue benci tante nyinyir itu! Rasanya gue mau nendang tuh tante nyinyir ke pulau antah berantah terus jadi santapan suku kanibal di sana!
Oh, gak, suku kanibal itu pasti gak bakal doyan sama tante-tante yang mulutnya nyinyir itu. Gue mau buang dia ke laut aja terus jadi santapan para hiu, ah! Iya, hiu pasti doyan hahahaha.
Eh, kenapa gue malah bahas tante Monyong eh tante Mona sih? Okeh, lupakan! Lupakan, rio! Lupa..... eh gue udah sampe di kantin ternyata. Lihat itu, Revan, Alfan, dan Vladislav sedang duduk di salah satu meja yang terletak di bagian pojok kantin ini. Itu emang tempat favorit kami karena terletak di bagian paling pojok. Jadi, kalau kami lagi ngegosip tentang Melinda --cewek paling seksih di sekolah gue-- gak bakal ada yang denger. Huahahaha.
Ohiya, walaupun gue, Revan, Alfan, dan Vladislav itu cowok, kami suka banget ngegosip. Emang yang bisa ngegosip itu cuma ibu-ibu komplek yang kerjaannya cuma diem di rumah, nunggu suami, dan ngegosip di tukang sayur aja hah? Cowok-cowok tampan kayak kami juga bisa ngegosip. Ups! Gue terdengar kayak tante Monyong eh tante Mona sekarang! Okeh, itu menjijikan! Dasar tante nyinyir nyebelin!
"Hello tampan" sapa gue pada tiga sahabat gue. "Baru dateng?" cibir Vladislav. "Hehe iya." jawab gue. "Gue pikir lo lagi asyik dugem sama Sisca sampe lupa sama kita-kita." cibir Vladislav (lagi). "Lo pikir gue cowok apaan hah yang mau jalan sama pelacur kayak dia?" tanya gue kesal. Okeh, aku terdengar kejam sekarang!
"Lo kan gigolo taman lawang." jawab Revan. See? Mulut mereka itu jahanam banget! "Dasar banci gila!" cibir gue. Itu untuk Revan. Dia emang kadang keceplosan terus bertingkah kayak banci gila. Kapan tau itu dia pernah digigit semut terus nangis tujuh hari tujuh bulan. Eh, tujuh malam maksud gue. Cih! Cowok macam apa tuh? "Stop it, bitch! Kita ke sini tuh mau makan, bukan mau berantem kayak pelacur yang belum dijamah om-om hidung bolong." kata Alfan.
"Hidup belang" ralat Revan.
"Iya, itu maksud gue." lanjutnya. "Yaudah, gue mau pesen makanan dulu." kata gue. Gue bangkit untuk memesan makanan sama bu Juju --ibu kantin di sekolah gue--.
Asal kalian tau nih ya, masakan bu Juju itu enak bingitz pake binggo. Gue bisa nambah berkali-kali kalau udah makan di kantinnya bu Juju. Tapi, untung gue gak gendut. Jangan sampai deh.
"Bu, siomay satu porsi." ujar gue pada bu Juju. "Siap, nak Rio." balasnya. Gue emang cukup kenal deket dengan bu Juju. Jadi, gak usah heran kalau bu Juju manggil gue 'nak'.
"Bu, bakso satu mangkok." Itu bukan gue. Gue gak terlalu suka bak.... eh lihat itu! Bukan, bukan lihat si Jenita yang lagi duduk dengan gaya bancinya itu. Tapi, lihat siapa yang barusan pesen bakso sama bu ju.... ahhhhh! Demi mulut nyinyirnya tante Monyong eh tante Mona! Tuh cewek cakep banget! Aje gile bray! Lihat itu wajah cantiknya, rambut panjangnya yang dia biarkan terurai, senyum menawannya yang sangat mempesona, bibir merah meronanya. Ahhhh!
"Siap, neng Aalya." Oh, namanya Aalya. Gue harus bisa kenalan sama tuh cewek. Harus! "Ini siomay-nya, nak Rio." kata bu Juju. "E-eh iya bu, makasih." Gue mengambil pesanan gue dan kembali ke tiga sahabat gue. Gue berjalan menuju meja tempat sahabat gue makan. Gue berjalan agak terburu-buru karena gue pengen cerita sama mereka soal cewek cakep yang namanya Aalya tadi. Entah jaraknya yang emang deket atau guenya yang terlalu bersemangat, tau-tau gue udah ada di depan meja tempat tiga sahabat gue berada.
"Gile bray! Tadi ada cewek cakep banget!" kata gue. "WHATEVER!" seru tiga sahabat gue secara bersamaan dan pergi meninggalkan meja yang tadi mereka tempati. Yang sekarang gue tempati. Aaaaaaaarrrrrrrgggghhhh! Cowok-cowok sialan!
To be continued...
==========================
Gimana part 2-nya?
Komentar, kritik dan sarannya ditunggu ya. :)
Komentar kalian sangat berharga untukku. :)
Ok, see ya.
Comments
Post a Comment