Telepon
Penulis: Muhammad Rizaldi
Kategori: Cerbung
BAB 2 ...
"Kau tidak perlu menanyakannya lagi."
...
"Aku tahu kau mengenalku."
...
"Sayangnya ... bukan."
...
"Apa kau yakin ingin tahu siapa aku?"
...
"Bukan, aku bukan penjahat. Aku tidak akan menyakitimu sama sekali."
...
"Aku ... aku hanya ingin mendengar suaramu."
...
"Aku rasa aku tidak perlu mengatakan siapa aku sebenarnya karena kau mengenalku. Kita pernah bertemu."
...
"Aaarrrgggggh ...!"
Valerie terbangun dari tidurnya karena mengalami mimpi buruk yang terburuk dari yang pernah dia alami sebelumnya. Mimpi buruk ini jauh lebih buruk dari turunnya semua nilainya selama satu semester walaupun dia harap itu tidak akan pernah terjadi. Dia mengusap wajahnya untuk menghilangkan bayang-bayang mimpi yang tadi dia alami dari pikirannya kemudian mengatur napasnya kembali yang memburu dengan jantung yang berdegup kencang.
Valerie duduk termenung di atas ranjangnya. Dia menoleh ke kanan kemudian ke kiri. Jendela beserta gorden kamarnya masih tertutup rapat, dia juga bahkan tidak mendengar suara apa pun dari luar yang biasa dia dengar setiap paginya. Apa mungkin dia kesiangan?
Valerie lantas melihat jam di nakasnya yang kemudian menunjukkan pukul ...
... 03.07.
"Astaga, aku terbangun sepagi ini karena sebuah mimpi? Benar-benar keterlaluan!" gumam Valerie pada dirinya sendiri sedikit kesal.
****
Seperti biasa, hari berikutnya adalah hari sekolah yang selalu Valerie sukai. Bukan, bukan hanya karena dia sangat menggilai belajar, tapi karena dia bisa bertemu dengan teman-temannya di sekolah dan mengobrol dengan mereka. Dia selalu suka kegiatan itu walau di luar sana masih banyak siswa maupun siswi yang sangat membenci sekolah. Dia sempat berpikir, bagaimana seorang pelajar bisa sangat membenci sekolah? Padahal sekolah adalah tempat paling menyenangkan yang pernah ada. Baiklah, setidaknya, itulah yang dia rasakan ketika hari sekolah tiba. Bahkan jika sekolah diliburkan, dialah yang akan menjadi orang paling bersedih di dunia.
Namun, ada yang beda dengannya hari itu: wajahnya tampak pucat dan tidak bersemangat. Entah bencana apa yang sudah menimpa dirinya hingga membuatnya seperti itu, tapi tidak biasanya dia seperti itu. Dia tampak ... kacau. Bahkan, dia hampir saja terlambat lima belas menit sebelum gerbang sekolahnya ditutup.
Valerie berjalan dengan lunglai menuju kelasnya seraya terus menatap lantai di bawahnya. Koridor yang dia lewati sudah sangat sepi, tidak ada satu siswa atau siswi pun yang terlihat berjalan di sini, kecuali dirinya. Namun, dia tetap berjalan dengan santainya seolah dia tidak terlambat.
Ketika Valerie tiba di depan kelasnya, guru yang sedang mengajar saat itu langsung menghampirinya. "Kenapa kamu bisa terlambat?"
Valerie mendongak. "Saya kesiangan, Bu. Saya lupa menyalakan alarm."
Guru itu mendelik curiga pada Valerie seolah sedang menilai apakah jawabannya jujur atau tidak.
"Baiklah, kamu boleh masuk, tapi lain kali jangan terlambat lagi, ya?" kata guru itu akhirnya.
Valerie mengangguk kemudian masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangkunya yang berada berdekatan dengan bangku Anna. Dia mengeluarkan sebuah buku dan alat tulis yang kemudian dia letakkan di atas mejanya untuk mengikuti pelajaran yang sudah dimulai kembali setelah dia masuk. Wajahnya masih tampak sama: pucat dan tidak bergairah.
Anna yang duduk di sebelahnya bingung dengan perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu, tapi dia tidak menanyakannya karena dia ingin menanyakannya saat jam istirahat nanti.
Pelajaran berjalan dengan baik, tapi tidak dengan Valerie. Bahkan ketika jam istirahat telah tiba, dia belum menunjukkan wajah cerianya seperti biasa selain wajah pucatnya yang dia tunjukkan sedari tadi. Dia juga hanya berdiam diri di kelas dan tidak berminat untuk pergi beristirahat ke kantin bersama teman-temannya. Yang dia lakukan hanyalah: duduk termenung dengan wajah pucat—atau datar—dan menatap papan tulis dengan tatapan kosong hingga Anna datang kemudian duduk di sebelahnya.
"Val, apa kau baik-baik saja?"
Bahkan, Valerie tidak merespons saat Anna bertanya padanya.
"Val, apa kau baik-baik saja?" ulang Anna yang kini disertai dengan mencolek bahu Valerie agar dia sadar dari lamunannya.
Alih-alih menjawab, Valerie malah menatap Anna dengan tatapan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.
"Ada apa, Val? Apa kau sedang ada masalah?"
Valerie tetap masih dalam posisinya. Bergeming. Tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menjawab pertanyaan Anna.
Anna menyerah, dia tidak akan menanyakan banyak pertanyaan lagi padanya dan memilih untuk diam. Mungkin sahabatnya itu sedang tidak ingin diganggu walau tidak biasanya dia begitu mengingat dia adalah orang yang paling mengenal Valerie dan selalu menjadi tempat bagi sahabatnya itu untuk mencurahkan semua isi hatinya.
Namun ...
... Valerie tiba-tiba memeluk Anna dengan sangat erat. Anna terkejut dan bingung, tapi tidak menolaknya. Dia membiarkan sahabatnya itu untuk memeluknya selama beberapa saat hingga kemudian dia melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak menyedihkan. Maksudnya, Valerie tampak sedih.
"Ada apa, Val?" tanya Anna dengan raut wajah heran melihat Valerie yang seperti itu.
"Aku rasa aku sudah mulai gila," jawab Valerie yang semakin membuat Anna bingung.
"Apa maksudmu?"
Valerie bergeming.
"Val?"
"Tadi pagi aku mendapat mimpi buruk."
"Lalu?"
"Peneror itu datang ke dalam mimpiku."
Bukan hal baru bagi Anna ketika mendengar ada seseorang yang terus menerornya melalui telepon, tapi jika sampai datang ke dalam mimpi, itu adalah hal baru baginya. "Bagaimana bisa?"
"Aku tidak tahu, tapi malam sebelum aku dapat mimpi itu, peneror itu meneleponku lagi."
"Lebih baik kau melaporkannya pada guru BK atau orangtuamu."
Valerie mengalihkan pandangannya dari Anna. "Aku sudah memberitahu orangtuaku, tapi aku melarang mereka ketika mereka ingin melaporkan peneror itu ke polisi karena aku tidak punya informasi apa pun tentangnya. Dan aku juga tidak ingin melaporkannya pada guru BK."
"Tapi dia telah membuatmu jadi seperti ini. Aku tidak suka itu."
"Kita tidak boleh gegabah, Anna. Kita harus mengikuti setiap permainannya."
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
Ada jeda sebentar sebelum dia menjawab. "Aku akan mencari tahu siapa dia sebenarnya."
Anna mengerutkan alisnya. "Bagaimana caranya?"
Valerie menoleh kemudian tersenyum pada Anna, seratus persen berubah dari lima belas menit yang lalu. "Kau akan tahu setelah kau melihatnya."
Baiklah, inilah yang tidak disukai oleh Anna: sahabatnya sendiri merahasiakan sesuatu yang sebagian telah dia ketahui. Maksudnya, kenapa Valerie tidak memberitahunya saja? Kenapa harus dirahasiakan? Dia tidak pernah merahasiakan apa pun pada Valerie, dia selalu terbuka padanya. Tentang segala hal. Namun, kenapa dia merahasiakan hal yang satu itu padanya?
Ya ... mungkin sesekali Anna memang pernah merahasiakan sesuatu dari Valerie. Misalnya seperti saat nilai kimianya yang jelek karena dia terlalu asyik memandangi Ricky, pujaan hatinya, ketika sedang mengerjakan ulangannya. Valerie tidak tahu soal itu hingga hari ini, tapi seharusnya itu tidak termasuk ke dalam hitungan berapa kali dia merahasiakan sesuatu dari Valerie karena itu bukanlah sesuatu yang besar. Namun, apa yang Valerie rahasiakan darinya itu berbeda. Tidak bisa disamakan.
"Aku sudah merasa lebih baik," Valerie berdiri kemudian memamerkan kembali senyum yang sebenarnya selalu membuat Anna iri setiap kali melihatnya. "ayo kita keluar."
Tanpa basa-basi, Anna lantas berdiri kemudian mengikuti Valerie dari belakang untuk pergi ke luar kelas. Tidak, mereka takkan pergi ke kantin. Mereka hanya akan duduk di salah satu bangku panjang yang berada di depan kelas mereka.
Mereka duduk seraya mengobrol dengan membahas banyak hal, mulai dari Anna yang membahas gosip terbaru selebriti yang ditontonnya di televisi hingga Valerie yang entah kenapa tiba-tiba saja membahas salah satu berita di televisi tentang aksi teror yang dilakukan oleh beberapa orang pria.
Tidak, wajahnya tidak tampak murung kembali. Dia sudah tampak cerita seperti sedia kali, dia juga menyapa beberapa temannya yang berjalan melewati dirinya dengan senyum terlukis di wajahnya.
"Oh, sial. Aku lupa!" seru Anna panik ketika Valerie sedang menceritakan sesuatu padanya.
Valerie lantas menghentikan ceritanya dengan kerutan di dahinya. "Ada apa, Anna?"
"Aku lupa mengambil catatan fisikaku yang dipinjam oleh Sandra minggu lalu," Anna beranjak dari duduknya kemudian berlari menuju kelas temannya yang meminjam catatannya itu. Namun sebelum dia pergi, dia melanjutkan kalimatnya dengan sedikit terburu-buru. "dan hari ini ada pelajaran fisika!"
Dalam tiga detik, Anna telah hilang dari pandangan Valerie. Hanya tertinggal dia sendiri di sini dan dia mulai bosan.
Ah, benar. Aku akan mulai melaksanakan rencanaku, batin Valerie saat dia teringat akan rencananya itu.
Valerie mengambil ponselnya yang dia taruh di saku bajunya kemudian mulai menekan nomor tujuannya untuk dia telepon.
Valerie menunggu berapa detik untuk menyambungkannya dengan si peneror.
Tunggu.
Ada yang aneh.
Ketika sambungan ponselnya mulai terhubung dengan nomor yang Valerie hubungi, di saat yang bersamaan dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk, terdengar sebuah suara seperti suara telepon masuk dari salah satu ponsel siswa yang tengah berkumpul di dekat mading itu. Siswa yang ponselnya bunyi itu menoleh dan saat itu juga dia mendapati ...
"Rendra?"
****
Baiklah, mungkin hanya kebetulan saja ponselnya berbunyi di saat Valerie juga sedang mencoba untuk menghubungi si peneror. Tidak rasional rasanya jika dia mencurigai Rendra sebagai peneror yang selalu meneleponnya itu. Bayangkan saja, seorang pemuda yang baru kemarin dia kenal, menerornya dengan cara selalu meneleponnya. Tidak rasional, bukan?
Lagipula jika memang benar Rendralah peneror itu, dari mana dia mendapatkan nomor teleponnya? Atau jika pertanyaannya diubah, dari siapa dia mendapatkannya?
"Apa kau yakin dengan rencanamu itu?" tanya Anna yang kembali meyakinkan Valerie atas keputusan yang dia buat.
"Iya, Anna, aku yakin. Aku juga sudah menghubungi Pak Joko agar tidak menjemputku," jawab Valerie.
Anna menatap sahabatnya itu cukup lama sebelum mengangguk. "Baiklah, aku percaya padamu."
"Terima kasih, Anna."
Jadi setelah beberapa menit terheran-heran dengan apa yang dia dapati, Valerie benar-benar menghubungi si peneror itu yang beruntung sekali bisa dihubungi. Tidak ada obrolan basa-basi atau semacamnya, Valerie hanya menantang peneror itu untuk datang ke sebuah taman yang akan dia tentukan dan mengajaknya bertatap muka di sana.
Awalnya Valerie pikir si peneror itu takkan menyetujuinya, tapi tanpa disangka olehnya, peneror itu menyetujuinya dan mereka sepakat untuk bertemu setelah pulang sekolah.
Valerie memutuskan untuk bertatap muka dengan si peneror itu di taman dekat sekolahnya dan mengajak Anna juga bersamanya. Dia mengirimkan SMS pada si peneror itu lokasi yang harus dia datangi. Setelah bel pulang berbunyi, Valerie kontan menarik tangan Anna untuk segera pergi menuju taman yang sudah dia rencanakan. Ketika tiba di taman, dia duduk di salah satu bangku yang berada di taman tersebut dan menyuruh Anna untuk bersembunyi di balik sebuah pohon.
"Maaf, apa kau gadis yang bernama Valerie Anastasia?" tiba-tiba saja seorang pemuda yang tidak dikenalnya datang menghampirnya dengan membawa sebuah kotak berwarna merah muda di tangannya.
"Ya, benar. Kau siapa?"
"Namaku tidak penting, aku hanya ingin memberikan ini padamu." pemuda itu menyerahkan kotak merah muda itu pada Valerie.
Valerie menerima kotak merah muda itu seraya mengerutkam dahinya. "Apa ini?"
"Hadiah yang diberikan oleh seorang pemuda yang tidak ingin disebutkan namanya."
"Apa?"
"Baiklah, tugasku sudah selesai. Aku pergi dulu." pemuda itu lantas pergi meninggalkannya dengan sebuah kotak merah muda yang diberikan padanya.
Valerie membolak-balikkan kotak yang dipegangnya seolah sedang mengira-ngira apa isi dari kotak ini. Karena penasaran, dia lantas membukanya kemudian menemukan secarik kertas di dalamnya. Dia mengambilnya lalu mulai membacanya.
Hai, gadis cantikku.
Maaf aku tidak bisa memenuhi undanganmu karena belum waktunya kita bertemu, tapi aku mengirimkan hadiah ini untukmu sebagai pengganti diriku. Apa kau tidak keberatan dengan hadiah ini? Atau warna merah mudanya? Haha andai aku ada di sana.
Kau tahu, tadi kau hampir saja berhasil mengetahui siapa aku sebenarnya. Bukan, aku bukan siswa mana pun yang berada dekat denganmu tadi, tapi hampir saja semuanya terbongkar. Aku tahu kau mulai penasaran denganku, tapi aku akan menjaga kerahasiaan tentang diriku sampai waktunya tiba.
Maafkan aku, tapi memang inilah yang terbaik untuk kita. Lihatlah ke dalam kotak yang sedang kau pegang itu dan temukan hal lain selain surat ini yang juga kukirimkan untukmu.
Salamku,
Pengagum rahasiamu.
Dengan segera, Valerie memeriksa kembali kotak yang dipegangnya dan benar saja, dia menemukan setangkai bunga mawar merah di dalamnya.
"Hai," sapa Anna seraya menepuk bahunya yang sontak membuatnya terkejut dan menjatuhkan bunga mawar merah yang tadi dipegangnya.
"Kau mengagetkanku saja." Valerie menaruh kembali surat tadi ke dalam kotak tersebut lalu mengambil bunga mawar yang terjatuh tadi.
"Bagaimana? Kau su—oh, astaga! Dia yang memberikanmu bunga ini? Romantis sekali!" Anna merebut bunga mawar merah itu dari tangan Valerie.
Valerie menatap kotak yang dia letakkan di pangkuannya. "Ya, dia yang memberikan bunga itu. Namun, dia tidak datang. Bahkan, dia menitipkan hadiah ini pada pemuda lain untuk diberikan padaku."
"Benarkah? Kenapa begitu?"
"Entahlah, tapi yang pasti menurutnya, belum tiba waktunya untuk aku bertemu dengannya."
"Apa maksudnya?" tanya Anna yang perhatiannya kini sudah beralih pada cerita yang dilontarkan oleh Valerie.
"Aku juga tidak tahu dan tidak mengerti, tapi aku kecewa karena dia tidak datang."
"Sejak awal aku sudah menduga bahwa dia takkan datang. Maksudku, dia bahkan tidak mau memberitahu siapa dirinya di telepon, jadi dia juga pastinya tidak ingin datang dan bertatap muka denganmu."
"Kau benar, Anna. Seharusnya dari awal aku sudah menduga hal ini akan terjadi."
"Sudahlah, ini semua sudah terjadi. Tidak perlu kau sesali. Ayo kita pulang."
Valerie menatap Anna terlebih dulu seraya memamerkan senyumnya sebelum kemudian membereskan barang-barangnya; dia memasukkan kembali bunga mawar merah tadi ke dalam kotak lalu memasukkan kotak itu ke dalam tasnya. Dia beranjak dari duduknya yang kemudian disusul oleh Anna. Mereka lantas pergi meninggalkan taman ini.
"Apa kita akan pulang dengan berjalan kaki?" tanya Anna setelah mereka berada di luar area taman.
Valerie menoleh. "Kau benar. Sebentar, aku akan menelepon Pak Joko untuk menjemput kita."
Valerie lalu mengambil ponselnya dari dalam saku baju seragamnya untuk kemudian mulai menelepon supir pribadinya itu. Mereka menunggu di sebuah trotoar dengan dilatarbelakangi pemandangan hiruk-pikuk perkotaan ketika jam pulang kerja; padat, macet, dan bising. Namun, mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
"Halo, Pak?"
"Ada apa, Non?"
"Jemput saya di taman dekat sekolah, Pak."
"Lho tidak jadi acara bersama teman-temannya, Non?"
"Tidak, Pak. Cepat jemput saya ya, Pa—"
"Jambret!" pekik Anna ketika melihat salah satu dari dua jambret yang menaiki sebuah motor merampas ponsel yang dipegang Valerie dan pergi begitu saja. Dia kontan lari mengejar dua jambret itu dengan segenap tenaga yang dia miliki.
Valerie yang mendapati ponselnya dirampas oleh dua orang jambret pun syok, dia hanya mampu berdiri tepekur di trotoar. Namun kemudian, dia ikut lari mengejar jambret-jambret itu yang sudah lebih dulu dikejar oleh Anna.
Valerie berhenti di ujung jalan yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi karena napasnya yang sudah tidak kuat untuk mengejar jambret-jambret itu. Dia mengatur napasnya yang memburu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Keringat mengalir dari pelipisnya. Namun, dia tidak melihat Anna di mana pun.
Mungkinkah sahabatnya itu masih mengejar jambret-jambret tadi? Dia lantas berniat untuk menyusul Anna, tapi kemudian dia urungkan karena sudah kehilangan jejak sahabatnya itu. Benar-benar kehilangan.
Anna dan jambret-jambret itu menghilang di pertigaan jalan. Alhasil Valerie hanya bisa menunggu dengan gelisah dan tidak tahu harus melakukan apa. Dia masih agak sedikit syok, tapi dia berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Bagaimana jambret-jambret itu bisa merampas ponselnya? Apa dia melamun tadi? Melamun karena apa?
"Ini ponselmu."
Suara itu terdengar familier di telinga Valerie. Dia lantas menoleh dan mendapati Anna yang berdiri di sampingnya dengan napas yang memburu seraya menyodorkan ponselnya padanya. Dia mengambil ponselnya lalu menyimpannya kembali ke dalam saku baju seragamnya dan menanyakan keadaan Anna.
"Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Apa kau menghajar mereka? Apa kau terluka?" serang Valerie dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Tanyalah satu per satu. Aku bukan robot yang bisa menjawab semua pertanyaanmu."
"Baiklah. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
"Seorang pemuda datang untuk membantuku saat aku sudah mulai letih mengejarnya. Dia mengadang jambret-jambret itu, menghajar mereka, dan berhasil mengalahkan mereka." Anna mengalihkan pandangannya ke arah pertigaan jalan tempat dia menghilang tadi seraya menunjuk ke sana.
"Pemuda? Pemuda siapa maksudmu?" Valerie mengerutkan dahinya karena merasa tidak mengerti dengan penjelasan sahabatnya itu.
Anna kembali mengalihkan pandangannya ke arah Valerie. "Aku tidak tahu, aku tidak bisa melihat ataupun mengenali wajahnya."
"Bagaimana kau tidak bisa melihat wajahnya?" kerutan di dahi Valerie semakin dalam tatkala mendengar jawaban Anna.
"Dia mengenakan hoodie hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya dan dia juga mengenakan masker yang menutupi seluruh wajahnya."
"Apa kau sempat berkenalan dengannya? Apa dia memberitahu namanya padamu?"
"Dengar Val, aku tidak tahu apa-apa perihal pemuda itu. Dia pergi begitu saja setelah menyerahkan ponselmu padaku. Apa itu menjawab semua pertanyaan di kepalamu?" Anna memegang bahu Valerie seraya tersenyum yang sebenarnya adalah sebuah sindiran padanya karena terlalu banyak bertanya.
Valerie tidak merespons, dia hanya diam dengan raut wajah penuh tanda tanya. Dia masih memikirkan pemuda yang membantu sahabatnya itu. Bukan karena dia ingin berterimakasih atau apa, tapi karena dia curiga pada pemuda tersebut bahwa mungkin saja dia adalah si peneror yang dia cari selama ini. Memang, agak tidak masuk akal jika mencurigai seseorang yang bahkan belum pernah dia temui atau lihat wajahnya.
Namun, segala kemungkinan akan tetap ada dan berpotensi untuk terbukti benar meskipun persentase kebenarannya sangat kecil dengan mengingat dia yang tidak memiliki petunjuk apa pun tentang si peneror ini.
"Val?" Anna menepuk bahu Valerie yang sontak saja membuatnya kembali sadar dari lamunannya.
"I-iya, ada apa?" sahut Valerie dengan terbata-bata.
"Supirmu sudah datang menjemput." Anna menunjuk ke arah sebuah mobil sedan hitam yang berhenti tepat beberapa sentimeter di depannya.
"Oh, benar. Ayo kita pulang." Valerie tersenyum kemudian mengajak Anna masuk ke dalam mobilnya untuk pulang.
****
Rencananya hari ini boleh saja gagal, tapi lain kali, Valerie akan membuat rencana lain demi mencari tahu siapa peneror yang selalu meneleponnya. Entah kenapa dia merasa sangat bodoh dengan rencananya tadi. Maksudnya, orang yang berurusan dengannya adalah seorang peneror dan dia mengajaknya untuk bertemu di taman dekat sekolah.
Bukankah itu sudah sangat jelas bahwa itu adalah rencana yang sangat bodoh dengan berharap bahwa si peneror ini akan datang memenuhi ajakannya untuk bertemu dengannya dan say hello padanya bagai teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu?
Kenapa Valerie bisa sebodoh itu? Kenapa dia tidak memikirkan rencana lain saja? Namun meskipun dia sangat amat menyesali keputusannya mengambil rencana tersebut, setidaknya dia sudah mencoba untuk mencari tahu.
Sepulang sekolah, setelah dia mengantar Anna lebih dulu ke rumahnya, dia mengurung diri di kamarnya berjam-jam hanya untuk memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Oh, tidak. Dia sempat keluar untuk makan malam dan mengambil beberapa kudapan di kulkasnya, tapi kemudian kembali ke dalam kamarnya. Dia menghabiskan waktunya untuk berpikir, bahkan dia lupa dengan ponselnya yang tadi sore hampir saja hilang karena dirampas oleh jambret-jambret itu.
Krrriiing ...
Oh, tidak. Itu dia, batin Valerie.
Valerie beranjak dari ranjangnya untuk mengangkat teleponnya yang berdering. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Halo?"
"Hallo, bagaimana kabarmu?"
"Tidak usah basa-basi. Kenapa kau tidak datang?"
"Seperti yang kukatakan di surat itu, belum waktunya untuk kita bertemu. Aku belum siap. Aku ingin kau mengenaliku sebagai pengagum rahasiamu untuk sementara."
"Lalu kapan waktunya? Aku tidak tahan jika kau terus meneleponku dengan keadaan aku yang tidak tahu siapa dirimu sebenarnya."
"Bersabarlah, akan tiba waktunya untuk kita bertemu. Apa kau mau menunggu?"
"Tidak, aku tidak mau."
"Tapi kau harus melakukannya. Jika tidak, kau tidak akan pernah tahu siapa aku."
"Tolong jangan membuatku penasaran."
"Aku senang membuatmu penasaran hihi ..."
"Aku tidak bercanda."
Ada jeda sebentar sebelum dia kembali membalasnya.
"Baiklah. Jika kau memang penasaran, datanglah besok ke gudang belakang sekolah setelah pulang sekolah. Sendirian. Aku tidak mau ada orang lain yang datang bersamamu. Jika kau melanggarnya, maka rasa penasaranmu tidak akan pernah terhapuskan."
"Baik, aku setuju."
Tuuuuuttt ...
Valerie menatap lama telepon dalam genggamannya seraya berpikir, mungkinkah dia akan benar-benar menepati ucapannya dan menemuinya besok? Bagaimana jika dia tidak benar-benar menunjukkan dirinya yang sebenarnya besok? Namun, bagaimana jika serius dengan ucapannya tadi?
Sudahlah, lihat saja apa yang akan terjadi besok, batin Valerie.
Valerie lantas kembali ke ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
—To be continued—
Kategori: Cerbung
BAB 2 ...
"Kau tidak perlu menanyakannya lagi."
...
"Aku tahu kau mengenalku."
...
"Sayangnya ... bukan."
...
"Apa kau yakin ingin tahu siapa aku?"
...
"Bukan, aku bukan penjahat. Aku tidak akan menyakitimu sama sekali."
...
"Aku ... aku hanya ingin mendengar suaramu."
...
"Aku rasa aku tidak perlu mengatakan siapa aku sebenarnya karena kau mengenalku. Kita pernah bertemu."
...
"Aaarrrgggggh ...!"
Valerie terbangun dari tidurnya karena mengalami mimpi buruk yang terburuk dari yang pernah dia alami sebelumnya. Mimpi buruk ini jauh lebih buruk dari turunnya semua nilainya selama satu semester walaupun dia harap itu tidak akan pernah terjadi. Dia mengusap wajahnya untuk menghilangkan bayang-bayang mimpi yang tadi dia alami dari pikirannya kemudian mengatur napasnya kembali yang memburu dengan jantung yang berdegup kencang.
Valerie duduk termenung di atas ranjangnya. Dia menoleh ke kanan kemudian ke kiri. Jendela beserta gorden kamarnya masih tertutup rapat, dia juga bahkan tidak mendengar suara apa pun dari luar yang biasa dia dengar setiap paginya. Apa mungkin dia kesiangan?
Valerie lantas melihat jam di nakasnya yang kemudian menunjukkan pukul ...
... 03.07.
"Astaga, aku terbangun sepagi ini karena sebuah mimpi? Benar-benar keterlaluan!" gumam Valerie pada dirinya sendiri sedikit kesal.
****
Seperti biasa, hari berikutnya adalah hari sekolah yang selalu Valerie sukai. Bukan, bukan hanya karena dia sangat menggilai belajar, tapi karena dia bisa bertemu dengan teman-temannya di sekolah dan mengobrol dengan mereka. Dia selalu suka kegiatan itu walau di luar sana masih banyak siswa maupun siswi yang sangat membenci sekolah. Dia sempat berpikir, bagaimana seorang pelajar bisa sangat membenci sekolah? Padahal sekolah adalah tempat paling menyenangkan yang pernah ada. Baiklah, setidaknya, itulah yang dia rasakan ketika hari sekolah tiba. Bahkan jika sekolah diliburkan, dialah yang akan menjadi orang paling bersedih di dunia.
Namun, ada yang beda dengannya hari itu: wajahnya tampak pucat dan tidak bersemangat. Entah bencana apa yang sudah menimpa dirinya hingga membuatnya seperti itu, tapi tidak biasanya dia seperti itu. Dia tampak ... kacau. Bahkan, dia hampir saja terlambat lima belas menit sebelum gerbang sekolahnya ditutup.
Valerie berjalan dengan lunglai menuju kelasnya seraya terus menatap lantai di bawahnya. Koridor yang dia lewati sudah sangat sepi, tidak ada satu siswa atau siswi pun yang terlihat berjalan di sini, kecuali dirinya. Namun, dia tetap berjalan dengan santainya seolah dia tidak terlambat.
Ketika Valerie tiba di depan kelasnya, guru yang sedang mengajar saat itu langsung menghampirinya. "Kenapa kamu bisa terlambat?"
Valerie mendongak. "Saya kesiangan, Bu. Saya lupa menyalakan alarm."
Guru itu mendelik curiga pada Valerie seolah sedang menilai apakah jawabannya jujur atau tidak.
"Baiklah, kamu boleh masuk, tapi lain kali jangan terlambat lagi, ya?" kata guru itu akhirnya.
Valerie mengangguk kemudian masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangkunya yang berada berdekatan dengan bangku Anna. Dia mengeluarkan sebuah buku dan alat tulis yang kemudian dia letakkan di atas mejanya untuk mengikuti pelajaran yang sudah dimulai kembali setelah dia masuk. Wajahnya masih tampak sama: pucat dan tidak bergairah.
Anna yang duduk di sebelahnya bingung dengan perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu, tapi dia tidak menanyakannya karena dia ingin menanyakannya saat jam istirahat nanti.
Pelajaran berjalan dengan baik, tapi tidak dengan Valerie. Bahkan ketika jam istirahat telah tiba, dia belum menunjukkan wajah cerianya seperti biasa selain wajah pucatnya yang dia tunjukkan sedari tadi. Dia juga hanya berdiam diri di kelas dan tidak berminat untuk pergi beristirahat ke kantin bersama teman-temannya. Yang dia lakukan hanyalah: duduk termenung dengan wajah pucat—atau datar—dan menatap papan tulis dengan tatapan kosong hingga Anna datang kemudian duduk di sebelahnya.
"Val, apa kau baik-baik saja?"
Bahkan, Valerie tidak merespons saat Anna bertanya padanya.
"Val, apa kau baik-baik saja?" ulang Anna yang kini disertai dengan mencolek bahu Valerie agar dia sadar dari lamunannya.
Alih-alih menjawab, Valerie malah menatap Anna dengan tatapan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.
"Ada apa, Val? Apa kau sedang ada masalah?"
Valerie tetap masih dalam posisinya. Bergeming. Tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menjawab pertanyaan Anna.
Anna menyerah, dia tidak akan menanyakan banyak pertanyaan lagi padanya dan memilih untuk diam. Mungkin sahabatnya itu sedang tidak ingin diganggu walau tidak biasanya dia begitu mengingat dia adalah orang yang paling mengenal Valerie dan selalu menjadi tempat bagi sahabatnya itu untuk mencurahkan semua isi hatinya.
Namun ...
... Valerie tiba-tiba memeluk Anna dengan sangat erat. Anna terkejut dan bingung, tapi tidak menolaknya. Dia membiarkan sahabatnya itu untuk memeluknya selama beberapa saat hingga kemudian dia melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak menyedihkan. Maksudnya, Valerie tampak sedih.
"Ada apa, Val?" tanya Anna dengan raut wajah heran melihat Valerie yang seperti itu.
"Aku rasa aku sudah mulai gila," jawab Valerie yang semakin membuat Anna bingung.
"Apa maksudmu?"
Valerie bergeming.
"Val?"
"Tadi pagi aku mendapat mimpi buruk."
"Lalu?"
"Peneror itu datang ke dalam mimpiku."
Bukan hal baru bagi Anna ketika mendengar ada seseorang yang terus menerornya melalui telepon, tapi jika sampai datang ke dalam mimpi, itu adalah hal baru baginya. "Bagaimana bisa?"
"Aku tidak tahu, tapi malam sebelum aku dapat mimpi itu, peneror itu meneleponku lagi."
"Lebih baik kau melaporkannya pada guru BK atau orangtuamu."
Valerie mengalihkan pandangannya dari Anna. "Aku sudah memberitahu orangtuaku, tapi aku melarang mereka ketika mereka ingin melaporkan peneror itu ke polisi karena aku tidak punya informasi apa pun tentangnya. Dan aku juga tidak ingin melaporkannya pada guru BK."
"Tapi dia telah membuatmu jadi seperti ini. Aku tidak suka itu."
"Kita tidak boleh gegabah, Anna. Kita harus mengikuti setiap permainannya."
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
Ada jeda sebentar sebelum dia menjawab. "Aku akan mencari tahu siapa dia sebenarnya."
Anna mengerutkan alisnya. "Bagaimana caranya?"
Valerie menoleh kemudian tersenyum pada Anna, seratus persen berubah dari lima belas menit yang lalu. "Kau akan tahu setelah kau melihatnya."
Baiklah, inilah yang tidak disukai oleh Anna: sahabatnya sendiri merahasiakan sesuatu yang sebagian telah dia ketahui. Maksudnya, kenapa Valerie tidak memberitahunya saja? Kenapa harus dirahasiakan? Dia tidak pernah merahasiakan apa pun pada Valerie, dia selalu terbuka padanya. Tentang segala hal. Namun, kenapa dia merahasiakan hal yang satu itu padanya?
Ya ... mungkin sesekali Anna memang pernah merahasiakan sesuatu dari Valerie. Misalnya seperti saat nilai kimianya yang jelek karena dia terlalu asyik memandangi Ricky, pujaan hatinya, ketika sedang mengerjakan ulangannya. Valerie tidak tahu soal itu hingga hari ini, tapi seharusnya itu tidak termasuk ke dalam hitungan berapa kali dia merahasiakan sesuatu dari Valerie karena itu bukanlah sesuatu yang besar. Namun, apa yang Valerie rahasiakan darinya itu berbeda. Tidak bisa disamakan.
"Aku sudah merasa lebih baik," Valerie berdiri kemudian memamerkan kembali senyum yang sebenarnya selalu membuat Anna iri setiap kali melihatnya. "ayo kita keluar."
Tanpa basa-basi, Anna lantas berdiri kemudian mengikuti Valerie dari belakang untuk pergi ke luar kelas. Tidak, mereka takkan pergi ke kantin. Mereka hanya akan duduk di salah satu bangku panjang yang berada di depan kelas mereka.
Mereka duduk seraya mengobrol dengan membahas banyak hal, mulai dari Anna yang membahas gosip terbaru selebriti yang ditontonnya di televisi hingga Valerie yang entah kenapa tiba-tiba saja membahas salah satu berita di televisi tentang aksi teror yang dilakukan oleh beberapa orang pria.
Tidak, wajahnya tidak tampak murung kembali. Dia sudah tampak cerita seperti sedia kali, dia juga menyapa beberapa temannya yang berjalan melewati dirinya dengan senyum terlukis di wajahnya.
"Oh, sial. Aku lupa!" seru Anna panik ketika Valerie sedang menceritakan sesuatu padanya.
Valerie lantas menghentikan ceritanya dengan kerutan di dahinya. "Ada apa, Anna?"
"Aku lupa mengambil catatan fisikaku yang dipinjam oleh Sandra minggu lalu," Anna beranjak dari duduknya kemudian berlari menuju kelas temannya yang meminjam catatannya itu. Namun sebelum dia pergi, dia melanjutkan kalimatnya dengan sedikit terburu-buru. "dan hari ini ada pelajaran fisika!"
Dalam tiga detik, Anna telah hilang dari pandangan Valerie. Hanya tertinggal dia sendiri di sini dan dia mulai bosan.
Ah, benar. Aku akan mulai melaksanakan rencanaku, batin Valerie saat dia teringat akan rencananya itu.
Valerie mengambil ponselnya yang dia taruh di saku bajunya kemudian mulai menekan nomor tujuannya untuk dia telepon.
Valerie menunggu berapa detik untuk menyambungkannya dengan si peneror.
Tunggu.
Ada yang aneh.
Ketika sambungan ponselnya mulai terhubung dengan nomor yang Valerie hubungi, di saat yang bersamaan dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk, terdengar sebuah suara seperti suara telepon masuk dari salah satu ponsel siswa yang tengah berkumpul di dekat mading itu. Siswa yang ponselnya bunyi itu menoleh dan saat itu juga dia mendapati ...
"Rendra?"
****
Baiklah, mungkin hanya kebetulan saja ponselnya berbunyi di saat Valerie juga sedang mencoba untuk menghubungi si peneror. Tidak rasional rasanya jika dia mencurigai Rendra sebagai peneror yang selalu meneleponnya itu. Bayangkan saja, seorang pemuda yang baru kemarin dia kenal, menerornya dengan cara selalu meneleponnya. Tidak rasional, bukan?
Lagipula jika memang benar Rendralah peneror itu, dari mana dia mendapatkan nomor teleponnya? Atau jika pertanyaannya diubah, dari siapa dia mendapatkannya?
"Apa kau yakin dengan rencanamu itu?" tanya Anna yang kembali meyakinkan Valerie atas keputusan yang dia buat.
"Iya, Anna, aku yakin. Aku juga sudah menghubungi Pak Joko agar tidak menjemputku," jawab Valerie.
Anna menatap sahabatnya itu cukup lama sebelum mengangguk. "Baiklah, aku percaya padamu."
"Terima kasih, Anna."
Jadi setelah beberapa menit terheran-heran dengan apa yang dia dapati, Valerie benar-benar menghubungi si peneror itu yang beruntung sekali bisa dihubungi. Tidak ada obrolan basa-basi atau semacamnya, Valerie hanya menantang peneror itu untuk datang ke sebuah taman yang akan dia tentukan dan mengajaknya bertatap muka di sana.
Awalnya Valerie pikir si peneror itu takkan menyetujuinya, tapi tanpa disangka olehnya, peneror itu menyetujuinya dan mereka sepakat untuk bertemu setelah pulang sekolah.
Valerie memutuskan untuk bertatap muka dengan si peneror itu di taman dekat sekolahnya dan mengajak Anna juga bersamanya. Dia mengirimkan SMS pada si peneror itu lokasi yang harus dia datangi. Setelah bel pulang berbunyi, Valerie kontan menarik tangan Anna untuk segera pergi menuju taman yang sudah dia rencanakan. Ketika tiba di taman, dia duduk di salah satu bangku yang berada di taman tersebut dan menyuruh Anna untuk bersembunyi di balik sebuah pohon.
"Maaf, apa kau gadis yang bernama Valerie Anastasia?" tiba-tiba saja seorang pemuda yang tidak dikenalnya datang menghampirnya dengan membawa sebuah kotak berwarna merah muda di tangannya.
"Ya, benar. Kau siapa?"
"Namaku tidak penting, aku hanya ingin memberikan ini padamu." pemuda itu menyerahkan kotak merah muda itu pada Valerie.
Valerie menerima kotak merah muda itu seraya mengerutkam dahinya. "Apa ini?"
"Hadiah yang diberikan oleh seorang pemuda yang tidak ingin disebutkan namanya."
"Apa?"
"Baiklah, tugasku sudah selesai. Aku pergi dulu." pemuda itu lantas pergi meninggalkannya dengan sebuah kotak merah muda yang diberikan padanya.
Valerie membolak-balikkan kotak yang dipegangnya seolah sedang mengira-ngira apa isi dari kotak ini. Karena penasaran, dia lantas membukanya kemudian menemukan secarik kertas di dalamnya. Dia mengambilnya lalu mulai membacanya.
Hai, gadis cantikku.
Maaf aku tidak bisa memenuhi undanganmu karena belum waktunya kita bertemu, tapi aku mengirimkan hadiah ini untukmu sebagai pengganti diriku. Apa kau tidak keberatan dengan hadiah ini? Atau warna merah mudanya? Haha andai aku ada di sana.
Kau tahu, tadi kau hampir saja berhasil mengetahui siapa aku sebenarnya. Bukan, aku bukan siswa mana pun yang berada dekat denganmu tadi, tapi hampir saja semuanya terbongkar. Aku tahu kau mulai penasaran denganku, tapi aku akan menjaga kerahasiaan tentang diriku sampai waktunya tiba.
Maafkan aku, tapi memang inilah yang terbaik untuk kita. Lihatlah ke dalam kotak yang sedang kau pegang itu dan temukan hal lain selain surat ini yang juga kukirimkan untukmu.
Salamku,
Pengagum rahasiamu.
Dengan segera, Valerie memeriksa kembali kotak yang dipegangnya dan benar saja, dia menemukan setangkai bunga mawar merah di dalamnya.
"Hai," sapa Anna seraya menepuk bahunya yang sontak membuatnya terkejut dan menjatuhkan bunga mawar merah yang tadi dipegangnya.
"Kau mengagetkanku saja." Valerie menaruh kembali surat tadi ke dalam kotak tersebut lalu mengambil bunga mawar yang terjatuh tadi.
"Bagaimana? Kau su—oh, astaga! Dia yang memberikanmu bunga ini? Romantis sekali!" Anna merebut bunga mawar merah itu dari tangan Valerie.
Valerie menatap kotak yang dia letakkan di pangkuannya. "Ya, dia yang memberikan bunga itu. Namun, dia tidak datang. Bahkan, dia menitipkan hadiah ini pada pemuda lain untuk diberikan padaku."
"Benarkah? Kenapa begitu?"
"Entahlah, tapi yang pasti menurutnya, belum tiba waktunya untuk aku bertemu dengannya."
"Apa maksudnya?" tanya Anna yang perhatiannya kini sudah beralih pada cerita yang dilontarkan oleh Valerie.
"Aku juga tidak tahu dan tidak mengerti, tapi aku kecewa karena dia tidak datang."
"Sejak awal aku sudah menduga bahwa dia takkan datang. Maksudku, dia bahkan tidak mau memberitahu siapa dirinya di telepon, jadi dia juga pastinya tidak ingin datang dan bertatap muka denganmu."
"Kau benar, Anna. Seharusnya dari awal aku sudah menduga hal ini akan terjadi."
"Sudahlah, ini semua sudah terjadi. Tidak perlu kau sesali. Ayo kita pulang."
Valerie menatap Anna terlebih dulu seraya memamerkan senyumnya sebelum kemudian membereskan barang-barangnya; dia memasukkan kembali bunga mawar merah tadi ke dalam kotak lalu memasukkan kotak itu ke dalam tasnya. Dia beranjak dari duduknya yang kemudian disusul oleh Anna. Mereka lantas pergi meninggalkan taman ini.
"Apa kita akan pulang dengan berjalan kaki?" tanya Anna setelah mereka berada di luar area taman.
Valerie menoleh. "Kau benar. Sebentar, aku akan menelepon Pak Joko untuk menjemput kita."
Valerie lalu mengambil ponselnya dari dalam saku baju seragamnya untuk kemudian mulai menelepon supir pribadinya itu. Mereka menunggu di sebuah trotoar dengan dilatarbelakangi pemandangan hiruk-pikuk perkotaan ketika jam pulang kerja; padat, macet, dan bising. Namun, mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
"Halo, Pak?"
"Ada apa, Non?"
"Jemput saya di taman dekat sekolah, Pak."
"Lho tidak jadi acara bersama teman-temannya, Non?"
"Tidak, Pak. Cepat jemput saya ya, Pa—"
"Jambret!" pekik Anna ketika melihat salah satu dari dua jambret yang menaiki sebuah motor merampas ponsel yang dipegang Valerie dan pergi begitu saja. Dia kontan lari mengejar dua jambret itu dengan segenap tenaga yang dia miliki.
Valerie yang mendapati ponselnya dirampas oleh dua orang jambret pun syok, dia hanya mampu berdiri tepekur di trotoar. Namun kemudian, dia ikut lari mengejar jambret-jambret itu yang sudah lebih dulu dikejar oleh Anna.
Valerie berhenti di ujung jalan yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi karena napasnya yang sudah tidak kuat untuk mengejar jambret-jambret itu. Dia mengatur napasnya yang memburu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Keringat mengalir dari pelipisnya. Namun, dia tidak melihat Anna di mana pun.
Mungkinkah sahabatnya itu masih mengejar jambret-jambret tadi? Dia lantas berniat untuk menyusul Anna, tapi kemudian dia urungkan karena sudah kehilangan jejak sahabatnya itu. Benar-benar kehilangan.
Anna dan jambret-jambret itu menghilang di pertigaan jalan. Alhasil Valerie hanya bisa menunggu dengan gelisah dan tidak tahu harus melakukan apa. Dia masih agak sedikit syok, tapi dia berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Bagaimana jambret-jambret itu bisa merampas ponselnya? Apa dia melamun tadi? Melamun karena apa?
"Ini ponselmu."
Suara itu terdengar familier di telinga Valerie. Dia lantas menoleh dan mendapati Anna yang berdiri di sampingnya dengan napas yang memburu seraya menyodorkan ponselnya padanya. Dia mengambil ponselnya lalu menyimpannya kembali ke dalam saku baju seragamnya dan menanyakan keadaan Anna.
"Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Apa kau menghajar mereka? Apa kau terluka?" serang Valerie dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Tanyalah satu per satu. Aku bukan robot yang bisa menjawab semua pertanyaanmu."
"Baiklah. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
"Seorang pemuda datang untuk membantuku saat aku sudah mulai letih mengejarnya. Dia mengadang jambret-jambret itu, menghajar mereka, dan berhasil mengalahkan mereka." Anna mengalihkan pandangannya ke arah pertigaan jalan tempat dia menghilang tadi seraya menunjuk ke sana.
"Pemuda? Pemuda siapa maksudmu?" Valerie mengerutkan dahinya karena merasa tidak mengerti dengan penjelasan sahabatnya itu.
Anna kembali mengalihkan pandangannya ke arah Valerie. "Aku tidak tahu, aku tidak bisa melihat ataupun mengenali wajahnya."
"Bagaimana kau tidak bisa melihat wajahnya?" kerutan di dahi Valerie semakin dalam tatkala mendengar jawaban Anna.
"Dia mengenakan hoodie hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya dan dia juga mengenakan masker yang menutupi seluruh wajahnya."
"Apa kau sempat berkenalan dengannya? Apa dia memberitahu namanya padamu?"
"Dengar Val, aku tidak tahu apa-apa perihal pemuda itu. Dia pergi begitu saja setelah menyerahkan ponselmu padaku. Apa itu menjawab semua pertanyaan di kepalamu?" Anna memegang bahu Valerie seraya tersenyum yang sebenarnya adalah sebuah sindiran padanya karena terlalu banyak bertanya.
Valerie tidak merespons, dia hanya diam dengan raut wajah penuh tanda tanya. Dia masih memikirkan pemuda yang membantu sahabatnya itu. Bukan karena dia ingin berterimakasih atau apa, tapi karena dia curiga pada pemuda tersebut bahwa mungkin saja dia adalah si peneror yang dia cari selama ini. Memang, agak tidak masuk akal jika mencurigai seseorang yang bahkan belum pernah dia temui atau lihat wajahnya.
Namun, segala kemungkinan akan tetap ada dan berpotensi untuk terbukti benar meskipun persentase kebenarannya sangat kecil dengan mengingat dia yang tidak memiliki petunjuk apa pun tentang si peneror ini.
"Val?" Anna menepuk bahu Valerie yang sontak saja membuatnya kembali sadar dari lamunannya.
"I-iya, ada apa?" sahut Valerie dengan terbata-bata.
"Supirmu sudah datang menjemput." Anna menunjuk ke arah sebuah mobil sedan hitam yang berhenti tepat beberapa sentimeter di depannya.
"Oh, benar. Ayo kita pulang." Valerie tersenyum kemudian mengajak Anna masuk ke dalam mobilnya untuk pulang.
****
Rencananya hari ini boleh saja gagal, tapi lain kali, Valerie akan membuat rencana lain demi mencari tahu siapa peneror yang selalu meneleponnya. Entah kenapa dia merasa sangat bodoh dengan rencananya tadi. Maksudnya, orang yang berurusan dengannya adalah seorang peneror dan dia mengajaknya untuk bertemu di taman dekat sekolah.
Bukankah itu sudah sangat jelas bahwa itu adalah rencana yang sangat bodoh dengan berharap bahwa si peneror ini akan datang memenuhi ajakannya untuk bertemu dengannya dan say hello padanya bagai teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu?
Kenapa Valerie bisa sebodoh itu? Kenapa dia tidak memikirkan rencana lain saja? Namun meskipun dia sangat amat menyesali keputusannya mengambil rencana tersebut, setidaknya dia sudah mencoba untuk mencari tahu.
Sepulang sekolah, setelah dia mengantar Anna lebih dulu ke rumahnya, dia mengurung diri di kamarnya berjam-jam hanya untuk memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Oh, tidak. Dia sempat keluar untuk makan malam dan mengambil beberapa kudapan di kulkasnya, tapi kemudian kembali ke dalam kamarnya. Dia menghabiskan waktunya untuk berpikir, bahkan dia lupa dengan ponselnya yang tadi sore hampir saja hilang karena dirampas oleh jambret-jambret itu.
Krrriiing ...
Oh, tidak. Itu dia, batin Valerie.
Valerie beranjak dari ranjangnya untuk mengangkat teleponnya yang berdering. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Halo?"
"Hallo, bagaimana kabarmu?"
"Tidak usah basa-basi. Kenapa kau tidak datang?"
"Seperti yang kukatakan di surat itu, belum waktunya untuk kita bertemu. Aku belum siap. Aku ingin kau mengenaliku sebagai pengagum rahasiamu untuk sementara."
"Lalu kapan waktunya? Aku tidak tahan jika kau terus meneleponku dengan keadaan aku yang tidak tahu siapa dirimu sebenarnya."
"Bersabarlah, akan tiba waktunya untuk kita bertemu. Apa kau mau menunggu?"
"Tidak, aku tidak mau."
"Tapi kau harus melakukannya. Jika tidak, kau tidak akan pernah tahu siapa aku."
"Tolong jangan membuatku penasaran."
"Aku senang membuatmu penasaran hihi ..."
"Aku tidak bercanda."
Ada jeda sebentar sebelum dia kembali membalasnya.
"Baiklah. Jika kau memang penasaran, datanglah besok ke gudang belakang sekolah setelah pulang sekolah. Sendirian. Aku tidak mau ada orang lain yang datang bersamamu. Jika kau melanggarnya, maka rasa penasaranmu tidak akan pernah terhapuskan."
"Baik, aku setuju."
Tuuuuuttt ...
Valerie menatap lama telepon dalam genggamannya seraya berpikir, mungkinkah dia akan benar-benar menepati ucapannya dan menemuinya besok? Bagaimana jika dia tidak benar-benar menunjukkan dirinya yang sebenarnya besok? Namun, bagaimana jika serius dengan ucapannya tadi?
Sudahlah, lihat saja apa yang akan terjadi besok, batin Valerie.
Valerie lantas kembali ke ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
—To be continued—
Comments
Post a Comment