Negeri Penyihir

Genre: Fantasi
Penulis: Muhammad Rizaldi



BAB 8 ...



"Kak, aku takut!"

"Tenang, kau sudah aman sekarang. Kau bisa membuka matamu, Max."

Max lantas membuka matanya perlahan. Di hadapannya, dia mendapati sang Kakak yang sedang tersenyum manis menyambutnya. Dia lalu memeluk Kakaknya dengan sangat erat.

"Apa aku sudah bebas? Apa mereka masih mengejarku?"

Alan melepas pelukan Max. "Tidak, mereka semua sudah pergi. Kau aman sekarang."

"Bagaimana bisa?"

"Kau tidak perlu tahu itu, Adikku." Alan mengacak-acak rambut Max seraya tersenyum. Anehnya, Max tidak marah sama sekali. Dia justru tersenyum lebar.

"Di mana Ayah dan Ibu?"

"Mereka sedang mengurus beberapa hal penting. Mereka memercayakanku untuk menjagamu."

"Hey, aku sudah besar!" Max menggerutu seraya memanyunkan bibirnya.

"Benarkah? Lantas bagaimana dengan-"

"Baiklah, baiklah. Jangan ungkit masalah itu lagi!" potong Max.

Alan tergelak. "Hahaha ..."

Max yang kesal pun hanya merengut sebal melihat Kakaknya tertawa.

Jadi setelah Alan pergi untuk mencari Max di seluruh pelosok Negeri Maddegoert, dia menemukan adiknya sedang dikepung oleh para penyihir jahat di hutan Sitgoerth yang merupakan hutan dengan letak geografis paling pinggir dari negeri ini. Namun saat dia menghampiri Max untuk menolongnya, para penyihir jahat itu pergi dan menghilang seketika. Dia sempat bingung ke mana perginya mereka karena dia ingin melampiaskan dendamnya pada mereka, tapi kemudian dia urungkan. Yang terpenting baginya saat itu adalah keselamatan Max, adiknya.

Alan tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya saat dia berhasil menemukan adiknya. Pun Max tampak sangat senang karena akhirnya bisa lepas dari para penyihir jahat yang mempermainkannya tadi. Mereka kembali ke rumah setelahnya dengan diikuti oleh Luke berserta Will yang ternyata juga mengikuti Alan.

Sesampainya di rumah, Alan bergegas memberitahu sang Ayah di mana dia menemukan adiknya dengan para penyihir itu agar Ayahnya bisa mencari kembali jejak mereka. Tanpa disangka, Ibu juga ingin ikut serta mencari jejak mereka. Hanya Alan, Max, Luke, serta Will yang kini tersisa di rumah. Mereka tidak berminat untuk ikut mencari karena tubuh mereka yang lelah.

"Apa saja yang mereka lakukan padamu, Max? Apa mereka melukaimu?" tanya Alan, penuh perhatian layaknya seorang kakak.

"Mereka, terutama Matt, mengajakku berduel. Aku menolaknya, tapi dia memaksaku. Dia menyerangku dengan mantera yang tak bisa kutangkis," jawab Max.

"Tapi apa kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja. Kau datang di saat yang tepat."

"Kau tahu, jika saja aku menuruti perkataan dua sahabatku yang melarang untuk mencarimu, mungkin kau sudah mati tak berdaya sekarang," sindir Alan dengan ekor mata yang mendelik ke arah Luke serta Will.

"Baiklah, kami meminta maaf," sahut Will. "bukan begitu, Luke?"

"Ya, baiklah," timpal Luke.

Kontan saja hal itu membuat Max maupun Alan tergelak mendengarnya. Luke dan Will yang tidak mengerti hanya mampu mengerutkan dahi mereka.

"Ohya, apa kau berhasil mengalahkan mereka? Mantera apa yang kau gunakan untuk mengalahkan mereka, Max?" tanya Luke.

Alan, Max, dan Will yang mendengar pertanyaan Luke pun menoleh ke arah pemuda itu.

"Aku tidak berhasil mengalahkannya," jawab Max.

Luke memanggut-manggut. "Ooohh ..."

"Tapi apa kau berhasil membuatnya terpental atau yang semacamnya?" lanjut Luke.

Entah Luke yang memang tidak menyimak ucapan Max atau bagaimana, tapi pertanyaannya benar-benar tidak perlu dijawab.

"Hey, kenapa kalian diam? Aku bertanya pada kalian. Max?"

"Simpanlah pertanyaanmu itu di kepalamu saja." Will menjitak Luke.

"Aw, sakit! Lepaskan!" gerutu Luke.

"Hahaha ..."

****

"Ayo Max, arahkan tongkatmu dengan benar!" perintah Alan.

"Seperti ini, Kak?" Max menoleh ke arah Alan untuk menunjukkan apa yang Kakaknya arahkan itu.

"Ya, seperti itu. Lakukan dengan benar dan ulangi!"

"Ah, sial!"

"Jangan menyerah, teruslah mencoba. Aku tahu kau bisa, aku tahu adikku pasti bisa melakukannya lebih baik dariku!"

Mendengar ucapan itu, api semangat dalam diri Max seolah kembali membara. Semakin lama, dia semakin mencintai Kakaknya itu. Entahlah, perasaannya masih sering tidak menentu.

"Apa kau tidak merasa terlalu keras mengajarinya, Alan?"

"Tidak, Will. Aku ingin dia berlatih dengan bersungguh-sungguh, aku ingin dia punya perlindungan atas dirinya sendiri."

"Apa kau yakin dia akan bisa melakukannya dengan sempurna?"

Alan menoleh. "Pasti, Will. Aku bisa menjaminnya."

"Aku harap kau benar, Alan."

"Terima kasih, Will." Alan tersenyum pada Will.

"Kak, aku berhasil!"

"Ya, benar. Seperti itu! Itulah adikku! Luke, aku ingin kau jadi lawan Max. Bantulah dia!"

"Apa, aku?! Tidak, terima kasih. Kau gila, Alan," protes Luke.

"Luke, bukan tanpa alasan aku memilihmu. Dengar, aku tahu kau punya kekuatan yang menakjubkan. Apa kau tega membiarkan adikku belajar sendirian tanpa ada ahli yang menemaninya?"

Satu hal yang perlu kalian ketahui tentang Luke: dia sangat senang dipuji. Ya, itu benar. Bahkan walau pujian itu hanyalah sekadar bualan saja.

"Kau memang tahu bagaimana cara untuk membujukku. Max, kemarilah dan lawan aku!"

Alan dan Will lantas saling beradu pandang lalu tersenyum geli melihat Luke yang begitu luluh akan pujian.

Jadi selama Ayah dan Ibu Alan pergi untuk mencari jejak Matt beserta teman-temannya, Alan, Luke, Will, dan Max memanfaatkan waktu untuk melatih Max bagaimana cara menangkis kekuatan jahat di sebuah padang rumput yang luas. Alan mengajarkan beberapa trik menangkis yang dia kuasai, seperti trik menangkis dengan sebelah tangan hingga trik menangkis dengan gerakan cepat. Memang, itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Namun jika selalu diasah, maka yang membutuhkan waktu lama perlahan akan membutuhkan waktu sebentar.

Sebenarnya, Max sudah menguasai beberapa trik pertahanan diri yang dia pelajari secara otodidak. Namun karena jarang dilatih, trik-trik yang sudah dia kuasai itu perlahan mengendur dan dia lupa bagaimana cara menggunakannya.

"Tidak, Max, bukan seperti itu. Kau harus tenang, fokuskan pikiranmu dan arahkan tatapanmu lurus ke depan. Bayangkan hal yang paling kau takuti berada di depanmu hingga membuatmu gemas untuk memusnahkannya. Lupakan semua rasa takut dalam dirimu, jadilah bagai singa. Kau adalah rasa takut itu dan biarkan musuhmu takut kepadamu," jelas Luke.

Max mengangguk. Dia paham betul apa yang Luke jelaskan tadi. Dengan segenap keberanian, dia mengucapkan, "Expentando!"

Gagal, serangannya meleset. Max berdecak kesal.

"Tidak apa-apa, anggap saja itu adalah pemanasan. Sekarang lakukanlah sekali lagi. Ingat, kau harus fokus." Luke memberi semangat.

Max mengangguk mantap dan bersiap untuk mencoba untuk kedua kalinya. Dengan sekali bidikan, dia mulai mengucapkan manteranya, "Expentando!"

Berhasil, dia sukses melakukannya dengan sempurna hingga membuat Luke terpental cukup jauh. Dari kejauhan, Alan tersenyum bangga melihat keberhasilan sang adik.

"Hebat, kau benar-benar hebat, Max!" ujar Luke seraya berjalan menghampiri Max.

"Terima kasih. Ini semua berkat dukungan dan sokongan semangat darimu, Kak."

Luke menggeleng. "Tidak, Max. Ini semua berkat kerja kerasmu. Aku, Alan, dan Will sangat bangga padamu."

Max tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia dari wajahnya. Menyenangkan rasanya jika seseorang memujimu atas apa yang kau lakukan dengan usahamu sendiri.

"Luke benar, Max. Kaulah yang hebat dalam hal ini. Aku bangga padamu," timpal Alan yang entah sejak kapan sudah berada di samping Max berbarengan dengan Will.

"Terima kasih, Kak."

"Baiklah, sudah cukup latihannya. Sekarang ayo kita istirahat." Will turut angkat bicara.

Alan, Luke, serta Max lantas mengangguk sebagai tanggapan atas ucapan Will tadi. Mereka beristirahat dengan bersantai di bawah salah satu pohon rindang berdaun lebat yang terletak di tengah-tengah padang rumput ini. Sebenarnya, letak pohon ini cukup terbilang aneh. Bayangkan saja, di padang rumput seluas ini, hanya berdiri satu pohon besar nan kokoh di tengah-tengahnya. Memang, banyak sekali rerumputan hijau yang tumbuh di padang ini. Namun, aneh rasanya mendapati jarangnya pohon yang tumbuh di padang rumput sehijau ini.

"Ohya Max, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Luke setelah sekian lama mereka diam.

"Tanyakan sajalah," balas Max.

"Bagaimana Matt dan teman-temannya bisa menawanmu?"

Mata Max membelalak kaget setelah mendengar pertanyaan Luke. Dia masih agak sedikit trauma pascatragedi penawanan itu. Namun akhirnya, dia bisa menenangkan dirinya.

"Aku tidak tahu, semuanya terjadi begitu saja. Begitu cepat. Aku bahkan tak ingat kenapa aku dan Matt bisa saling bertemu yang berujung dengan penawanan," jelas Max.

"Apa kau tidak ingat sama sekali?"

"Tidak. Yang kuingat hanyalah saat itu aku sedang berjalan sendirian di sebuah pedalaman hutan dan tiba-tiba aku sadar setelah aku berada di hutan yang lain."

"Apa yang kau lakukan di pedalaman hutan tersebut?"

"Aku tak bisa memberitahumu."

Luke mengernyitkan alisnya. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin memberitahumu."

Luke tidak merespons, wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu. Entah apa itu.

"Alan, menurutmu, apa yang akan terjadi selanjutnya?" gumam Will.

Alan menoleh lalu mengalihkan kembali pandangannya lurus ke depan. "Aku tidak tahu, terlalu misterius untuk diterka."

"Menurutmu, apa dampak bagi negeri ini setelah batu merah itu dicuri?"

Alan menghela napas berat. Sebenarnya, dia tidak ingin membahas maupun menyinggung perihal masalah itu. Namun, kedua sahabatnya berhak tahu akan hal itu. Dia tidak bisa terus menyembunyikannya.

"Menurut sejarah yang pernah kudengar, batu merah itu menyimpan sebuah inti sari yang di dalamnya terdapat sebuah kekuatan mahadahsyat yang mampu melenyapkan peradaban sihir mana pun. Batu merah itu sudah lama tersimpan di menara itu dan tak ada yang berani menyentuhnya, tapi jika batu merah itu sampai berhasil dicuri, keseimbangan negeri ini akan goyah ...."

"... tidak akan ada lagi sihir di seluruh penjuru negeri ini, sihir akan lenyap untuk selama-lamanya. Kita adalah bangsa sihir yang takkan mampu hidup tanpanya. Jikalau batu merah itu jatuh ke tangan yang salah, peradaban kita akan musnah. Negeri ini akan menjadi negeri tandus yang gersang, kehidupan enggan berkembang di dalamnya. Kita akan musnah."

Mata Will membelalak kaget, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Mungkinkah sedahsyat itu?"

"Ya, aku bahkan berani bertaruh perlahan negeri ini akan kehilangan keseimbangannya dan menjadi seperti apa yang kujelaskan tadi."

Will bergeming. Dia tidak bisa membayangkan betapa ngerinya dampak yang akan dihasilkan apabila batu merah itu hilang dari tempatnya. Sekarang dia mengerti kenapa Alan begitu bersemangat untuk menggagalkan usaha pencurian itu.

"Kak," panggil Max pelan.

"Ada apa, Max?" Alan menoleh.

"Maafkan aku."

"Untuk apa?"

Max menundukkan kepalanya. "Maafkan aku untuk semua kekacauan yang kutimbulkan. Akulah yang membantu mereka untuk masuk ke negeri ini, aku yang membantu mereka melancarkan aksi mereka. Namun, aku tidak tahu bahwa dampak yang akan terjadi atas perbuatanku bisa sedahsyat itu. Jika aku tahu, aku takkan melakukannya. Aku benar-benar menyesal."

Alan mengangkat dagu Max, dia menatap mata adiknya itu intens. "Tidak apa-apa, Max. Tidak ada gunanya bagimu sekarang untuk mengeluh, semuanya telah terjadi. Tidak ada yang harus disalahkan atau disesalkan."

Max menggeleng kuat. "Tidak, Kak. Ini semua salahku. Aku memang bodoh! Aku tidak memikirkan dampak yang akan terjadi selanjutnya. Aku benar-benar bodoh!"

"Max, dengar aku," Alan tersenyum penuh perhatian. "aku memang marah atas semua perbuatanmu, tapi apa kemarahanku itu bisa menyelesaikan masalah? tidak. Itu semua tidak ada gunanya. Yang kita butuhkan saat ini adalah rasa saling mendukung untuk sama-sama mengembalikan keadaan seperti sedia kala."

Max tetap bersikeras pada penyesalannya. "Tapi jika aku tidak membantu mereka sejak awal, ini semua tidak akan terjadi, Kak! Kau tidak mengerti itu. Akulah penyebab semua kekacauan ini. Ini semua ulahku!"

"Max, kumohon. Jangan terus-menerus menyalahkan dirimu."

"Tapi ini semua memang salahku, Kak! Kenapa kau tidak bisa mengerti itu?! Aku yang salah, akulah penyebab semua kekacauan ini!"

"Max, cukup! Aku sudah tidak tahan pada sikap pecundangmu itu! Baiklah, kau memang penyebab semua kekacauan ini. Semua ini salahmu, kau memang pengacau! Kau telah membuat negeri ini berhadapan pada masa kehancurannya!"

Mata Max membelalak. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap sang kakak tidak percaya.

"Bahkan kau juga marah padaku," gumam Max pelan.

"Ya, aku marah. Kau tahu kenapa aku marah? Karena aku tidak suka dengan sifatmu itu! Aku marah pada sifat senang menyalahkan diri sendiri itu, kau tidak bisa bertahan dengan sifat seperti itu selamanya. Kau harus ingat itu!"

Luke dan Will kontan menahan bahu Alan yang sekarang sudah dikuasai oleh amarah itu. Pertengkaran antara Kakak dan Adik terkadang memang tampak menyeramkan.

Max terdiam, dia tidak tahu harus merespons apa lagi. Dia menundukkan kepalanya dan perlahan air mata mulai menetes dari ujung matanya. Namun dengan sigap, dia menyeka air matanya itu karena dia tidak ingin menjadi orang yang lemah. Dia tidak ingin Alan menganggapnya sebagai Adik yang tidak bisa diandalkan serta lemah. Dia harus kuat meskipun dia tahu hatinya sedang berkecamuk.

"Max," panggil Alan setelah dia sudah lebih tenang.

Max mendongakkan kepalanya, tapi tidak menanggapi panggilan Alan.

"Max, maafkan aku. Aku tidak seharusnya berbicara seperti itu. Aku menyesal," sesal Alan.

Max bergeming. Sebenarnya, dia tidak sakit hati pada ucapan sang Kakak, tapi entah kenapa perasaannya menjadi begitu sensitif.

"Max, katakan sesuatu. Kumohon, jangan diamkan aku seperti itu."

Dari tatapan matanya, terlihat dengan jelas bahwa Alan memanglah serius akan ucapannya.

"Kak," Max berdiri seraya menatap mata Alan. "kau tidak perlu meminta maaf padaku, semua yang katakan itu benar. Tidak ada yang harus dimaafkan."

Setelah berkata seperti itu, Max bergegas melenggang pergi meninggalkan Alan bersama dua sahabatnya. Dia pergi tanpa menoleh sedikit pun. Dari belakang, sesekali terlihat bahunya berguncang. Langkahnya seolah menyiratkan bahwa ada suatu ikatan emosional yang terpendam dalam hatinya, tapi dia berusaha menahan serta memendamnya sekuat mungkin. Alan hendak menyusul Adiknya itu, tapi Luke dan Will menahannya.

Dengan menggeleng, Will berkata, "Biarkan dia sendiri. Terkadang ada masanya kau tidak harus ikut campur dalam sebuah masalah. Biarkan adikmu menenangkan dirinya."

Luke bahkan mengangguk mantap yang seakan menyetujui perkataan Will. Alan tidak sepenuhnya bisa menerima hal itu, tapi di sisi lain dia merasa bahwa apa yang dikatakan Will memang benar adanya. Jadi dengan berat hati, dia tetap diam di tempat untuk membiarkan Max menenangkan dirinya.

...

...

...

...

"Alan, gawat!" teriak seseorang dari arah belakang ketika Alan, Luke, serta Will sedang saling terdiam.

Itu Harry.

Kontan saja mereka menoleh dan berdiri dengan sigap. Mereka menghampiri Harry yang berlari dengan napas tersengal-sengal.

"Ada apa, Harry?" tanya Alan.

"Ayahmu berhasil menemukan jejak Matt dan teman-temannya!" jawab Harry.

"Apa? Apa kau serius?!"

"Aku serius, Alan."

"Bukankah itu kabar bagus? Tapi kenapa kau terlihat panik?" Alan mengerutkan dahinya. Dia bahkan beradu pandang terlebih dulu ke arah Luke dan Will seakan meminta jawaban.

"Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, tapi ini benar-benar gawat. Ini tentang Ayahmu, beliau sedang berduel dengan Matt!"

Betapa terkejutnya Alan setelah mendengar penuturan Harry. Tanpa pikir panjang, dia bergegas pergi menyusul Ayahnya meskipun dia tidak tahu di mana sang Ayah berada. Meninggalkan kedua sahabatnya dengan Harry.

"Harry, apa kau serius dengan ucapanmu?" Luke menyikut bahu Harry pelan.

"Aku serius, aku bahkan melihatnya sendiri."

"Aku harap kau tidak berbohong," timpal Will.

Harry dan Will saling beradu pandang. Keduanya seolah mengirimkan kial pada satu sama lain melalui pandangan mereka.

"Aku heran, kenapa kau selalu ada di mana masalah berada?" gumam Luke.

****

"Ayah? Bangun, Yah!" Alan menepuk pipi Ayah pelan.

Tidak ada respons.

"Ayah, tolong bangunlah!"

Alan menatap Ibu yang berada di sampingnya dengan tatapan nanar.

"Kenapa Ayah bisa sampai seperti ini, Bu? Apa yang mereka lakukan pada kalian?!"

Ibu bergeming, enggan menjawab pertanyaan Alan sama sekali.

"Kenapa Ibu diam? Ada apa sebenarnya?! Tolong jawab pertanyaanku, Bu!"

"Ayahmu ...," lirih Ibu, menggantungkan kalimatnya.

"Ayah kenapa, Bu?!"

"Lebih baik kau melihatnya sendiri." Ibu menjentikkan jarinya ke udara yang kontan membuat sebuah pemandangan tak menyenangkan tersaji di depan Alan maupun Ibu.

Pemandangan itu menampilkan adegan di mana sang Ayah berduel dengan Matt beserta teman-temannya. Mereka mengeroyok serta membombardir Ayahnya dengan serangan bertubi-tubi. Sesekali Ibu berusaha membantu, tapi kekuatannya tidak cukup kuat untuk menandingi kekuatan para penyihir jahat itu. Berkali-kali serangan mereka berhasil mengenai Ayah, berkali-kali pula beliau jatuh dengan beberapa luka di wajahnya.

Mereka menyerang secara membabi buta, tapi semangat untuk mengalahkan mereka dalam diri Ayah membuatnya tidak kenal ampun. Saat mendapat peluang, beliau memanfaatkannya untuk menyerang mereka. Sesekali memang berhasil, tapi harga yang harus dibayar beliau adalah dengan serangan balik yang tiada henti. Pertarungan mereka berlangsung sengit hingga Ayah akhirnya tumbang dan saat itulah Matt melayangkan serangan terakhir yang membuatnya menjadi seperti sekarang.

"Jadi, Ayah terkena radiasi sihir Apokaano?!" Alan menyimpulkan.

Ibu tidak mampu berkata apa-apa lagi, beliau hanya mampu mengangguk lemah sebagai jawaban atas kesimpulan yang Alan buat.

Setelah menyaksikan pembenaran dari Ibunya, kontan saja rahang Alan mengeras, tangannya mengepal kuat. Ini sudah keterlaluan, mereka telah melakukan hal yang di luar batas. Dia tidak bisa berdiam diri lagi. Terlebih lagi saat dia melihat Ibunya menangis dengan matanya sendiri, itu menghancurkan hatinya.

Alan lalu membopong Ayahnya untuk kemudian dibawa ke suatu tempat yang bisa membantu penyembuhan sang Ayah meskipun mungkin akan sedikit sulit. Tak lupa, dia turut mengajak Ibunya. Tak ada Lukshan maupun apa pun yang membantu mereka, yang mereka gunakan untuk pergi ke tempat yang Alan maksud hanyalah menggunakan mantera yang sejenis dengan teleportasi.

Dengan secepat kilat, mereka telah tiba di tempat yang mereka tuju. Mereka bergegas membawa tubuh Ayah yang tak sadarkan diri masuk ke dalam dan menceritakan semua yang terjadi pada orang yang bisa membantu mereka.

Professor Goleth. Hanya dialah yang mampu menangkal segala radiasi sihir jahat, dia adalah ahli dalam hal seperti ini.

"Bagaimana Ayahmu bisa jadi seperti ini, Alan?" tanya Professor Goleth seraya memeriksa kelopak mata sang Ayah.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena saat itu aku tidak ada di sana, tapi dari penuturan Ibu, aku tahu bahwa Matt beserta teman-temannya telah memanterai Ayah dengan sihir Apokaano," jawab Alan.

Professor Goleth memandang Alan dan Ibu secara bergantian. Beliau lalu mengambil tongkat sihirnya serta beberapa alat yang tidak Alan kenal.

"Ini adalah kain Arkatith, khasiatnya adalah untuk mengurangi efek radiasi yang menyebar dalam tubuh Ayahmu. Ini adalah daun Sletharnook, khasiatnya adalah untuk meredam rasa sakit yang radiasi itu timbulkan," jelas Professor Goleth seolah baru saja membaca pikiran Alan.

Professor Goleth meletakkan kain itu di atas perut Ayah lalu meminumkan sari daun Sletharnook ke mulutnya. Di saat yang bersamaan, Alan tidak bisa henti bergerak dengan gelisah. Dia bersumpah bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Ayahnya, dia akan membalaskan dendam sang Ayah dengan sesuatu yang tidak bisa mereka bayangkan.

"Bagaimana keadaan suamiku, Professor? Apa efek radiasi dalam tubuhnya sudah hilang?" tanya Ibu yang tak kalah cemas.

"Aku tidak yakin apakah efek radiasinya bisa hilang atau tidak karena efeknya sudah menjalar ke seluruh tubuh suamimu," jawab Professor Goleth.

"Apa tidak ada cara lain, Professor?"

"Aku belum pernah mendengar cara pengobatan lain selain yang kulakukan ini."

Ibu tidak merespons. Beliau sama cemasnya dengan Alan.

"Kau tidak perlu khawatir, aku akan berusaha menghilangkan efek radiasinya. Kau harus tetap yakin padaku," kata Professor Goleth yang sedikit menghidupkan kembali harapan dalam diri Ibu.

Di sisi lain, Alan tidak bisa henti mengepal tangannya kuat dengan rahang yang mengeras. Jika saat ini Matt beserta teman-temannya berada di hadapannya, maka dia akan melayangkan satu pukulan keras ke arah wajahnya untuk membalas apa yang sudah dia lakukan pada sang Ayah.

"Alan, gawat!" seru seseorang.

Alan, Ibu, serta Professor Goleth lantas menoleh. Mereka lalu mendapati Luke dan Will yang datang dengan napas tersengal-sengal.

"Ada apa, Will?" tanya Alan seraya menghampiri Will.

Dengan tetap berusaha mengatur napasnya, Will menjawab, "Matt dan teman-temannya kembali menyerang pusat kota!"


"Apa?!"



To be continued ...


Comments

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon