Negeri Penyihir

Genre: Fantasi
Penulis: Muhammad Rizaldi




BAB 9 ...



...

...

...

"Aarrggghh!"

...

...

...

"Tidak!"

...

...

...

"Lepaskan aku!"

...

...

...

Hancur. Semuanya telah hancur. Ke mana pun arah mata memandang, semuanya tampak sama. Seluruh bangunan yang ada telah melebur menjadi satu dengan tanah. Jeritan, rintihan, tangisan, erangan, dan teriakan telah menggema di mana-mana. Penduduk berlarian dengan panik, berusaha menyelamatkan diri dari serangan brutal yang dilakukan oleh seorang psikopat.

Si psikopat dan teman-temannya telah meluluhlantakkan seisi kota hingga tak tersisa apa pun. Tak ada lagi tawa menggema di seluruh penjuru kota, semuanya telah digantikan oleh tangisan pilu anak yang terpisah dari orang tuanya. Senyum polos di wajah mereka telah tersapu oleh air mata yang membanjiri pelupuk mata mereka. Kepulan asap hitam tebal telah memenuhi atmosfer kota yang mengganggu jarak pandang siapa pun.

Dengan napas tersengal-sengal, Will menceritakan apa yang dia lihat. "Bagian Barat telah porak poranda, tak menyisakan apa pun."

"Bagian Timur dan Selatan juga sama halnya dengan bagian Barat. Penduduk telah hilang, aku tidak bisa menemukan mereka di mana pun." Luke menyahut.

Alan terdiam. Dia tidak mampu mengatakan apa pun. Dia merasa gagal karena tak bisa menjaga apa yang sudah seharusnya dia jaga. Kini semuanya telah terlambat, benar-benar terlambat. Rasanya hanya dengan hitungan jari, seluruh kota akan hancur. Serangan bertubi-tubi tak hentinya dilayangkan oleh para penyihir jahat.

"Apa yang harus kita lakukan, Alan?" tanya Will.

Alan menoleh dengan mata yang sembap. "Tidak ada."

"Lucu sekali, Alan. Ayolah, jangan bergurau. Apa yang harus kita lakukan?"

"Aku serius. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, semuanya telah terlambat." suaranya bergetar.

"Tidak mungkin, kau pasti bergurau. Katakan padaku bahwa pasti masih ada yang bisa kita lakukan. Katakan padaku, Alan!"

"Hentikan, Will! Lihatlah sekelilingmu, adakah hal yang bisa kita lakukan menurutmu?!" Alan mendorong tubuh Will dengan kasar.

"Setidaknya, kita tidak diam saja seperti seorang pecundang!"

"Jaga ucapanmu, Will! Atau aku akan—"

"Akan apa? Kau mau memukulku?! Silakan, lakukan saja. Aku tidak menyangka seorang Alan Conspiegaart, yang selama ini kuanggap hebat dalam menaklukkan segala macam makhluk dalam hidupnya, bisa selemah ini!"

"Will, kau sudah keterlaluan!"

"Teman-teman, hentikan! Dinginkan kepala kalian, bukan saatnya kalian bertengkar dalam situasi seperti ini!" Luke melerai kedua sahabatnya yang sama-sama terbakar emosi.

Mereka saling memandang dengan menggertakan gigi mereka seraya mengepal kuat tangan mereka. Semua kekacauan ini membuat mereka tertekan.

"Aku tahu kalian tertekan, aku pun merasakannya. Namun, kita takkan berhasil mengalahkan ataupun mengembalikan semuanya pada keadaan semula jika kita seperti ini. Kita harus menyatukan kekuatan kita!" Luke berusaha meredam amarah dalam diri dua sahabatnya.

"Alan, kau hafal banyak mantera berguna. Will, kau ahli mengatur strategi. Kenapa kalian tidak menyatukan kekuatan kalian saja untuk sama-sama mengalahkan mereka?" sambung Luke.

Alan masih enggan merespons, pun begitu Will. Sifat egosentris mereka telah meracuni pikiran mereka saat ini.

Luke menyerah, dia tak lagi berusaha untuk mendamaikan mereka. Biar saja mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan, pikir Luke. Perlahan, langit pusat kota mulai dihujani oleh batu Armaakhan—sejenis batu berbentuk bulat yang dibakar. Beberapa kali mereka harus berusaha menghindar dari hujan batu Armaakhan tersebut, mereka bahkan hampir terkena serangan batu terkutuk itu jika saja mereka tidak cekatan.

"Alan ..."

Sebuah suara familier seketika menggema di tengah kepanikan. Namun saat Alan berusaha mencari sumber suara tersebut, dia tidak menemukan siapa pun di sekelilingnya.

"Siapa kau?!" Alan memutar tubuhnya.

"Siapa aku? Haha aku yakin kau sudah mengenalku ..."

"Katakan, siapa itu?!"

"Tidak perlu kasar seperti itu, aku bisa mendengarmu dengan sangat jelas dari sini."

Alan lagi-lagi memutar tubuhnya. "Di mana kau?!"

"Tepat di dekatmu ..."

Alan melirik ke arah Luke dan Will seakan meminta petunjuk. Namun, yang dia dapat hanyalah sebatas kedikan bahu.

"Jangan bercanda. Di mana kau?!"

"Di sini."

Alan berbalik lalu terkesiap ketika mendapati Matt berdiri di belakangnya dengan seringaian yang selalu dia benci.

"Matt?!"

Matt menyeringai. "Ya, benar. Itu namaku. Sudah lama kita tidak bertemu, bukan?"

"K-kenapa kau bisa ada di sini?! Apa kau pelaku dari semua kekacauan ini?"

Matt menjentikkan jarinya di depan wajah Alan. "Ya, benar. Akulah pelakunya. Menyenangkan bukan melihat semua ini?"

"Kenapa kau melakukannya?!"

"Kenapa aku melakukannya?" Matt menyeringai. "sederhana saja: kehancuran."

"Kenapa kau ingin menghancurkan negeri ini?"

"Wah, wah. Aku tidak menyangka kau bisa terlalu banyak bertanya seperti ini, tapi aku menyukainya. Sebenarnya, aku tidak memiliki jawabannya. Maukah kau mencarikannya untukku?" Matt memutari tubuh Alan.

"Kau memang benar-benar seorang psikopat!"

Alan nyaris kehilangan kendalinya, tapi Will dan Luke berhasil menahannya.

"Wow, tenang. Tidak perlu emosi begitu. Setidaknya, tunggulah sampai bagian terbaik dari semua ini hahaha ..."

Kemarahan Alan sudah tak bisa terbendung lagi, dia keluarkan tongkit sihir dari saku jubahnya, lalu mengarahkannya ke arah Matt dengan mengucapkan salah satu mantera.

Matt menangkis serangan itu. "Hahaha tidak perlu terburu-buru seperti itu, santai dan nikmatilah pertunjukannya selagi kau bisa."

Tangkisan Matt membuat tongkat sihir Alan terpental cukup jauh. Dia memungutnya untuk kembali bersiap menyerangnya.

"Kau gila, Matt! Kau tidak memikirkan dampak yang terjadi akibat semua kekacauan ini!" Luke menyahut.

"Memang. Aku memang gila. Dan orang gila ini akan menyebabkan kekacauan yang tak pernah kalian bayangkan sebelumnya terjadi pada negeri ini ..."

"Ankitodhom!" serang Alan tanpa basa-basi.

Tubuh Matt melayang, berputar-putar di udara, lalu terpental ke arah reruntuhan bangunan yang telah hancur. Dia bangkit, dengan seulas senyum mengembang di wajahnya.

"Kau boleh menyerangku sepuas hatimu sekarang, aku tidak akan membalasnya. Namun ketika saatnya tiba, kau akan menyesali semua perbuatan tidak menyenangkanmu itu padaku," tutur Matt.

Will dan Luke kini tak lagi menahan Alan. Mereka paham jika Alan bisa menjadi begitu tak kuasa menahan amarahnya mendengar semua ucapan psikopat itu. Mereka bahkan ikut terbakar api amarah karenanya.

"Jadi, tunggu apa lagi? Keluarkan semua amunisimu selagi kau punya kesempatan. Aku sangat menantikan seranganmu," tantang Matt.

Kau salah, Psikopat. Kau telah menantang orang yang salah, batin Alan.

Alan mengangkat kedua tangannya beserta tongkat sihirnya, memejamkan matanya, memusatkan pikirannya pada pergelangan tangannya, dan memutar tongkat sihirnya ke arah yang berlawanan dengan jarum jam. Masih dengan mantera yang sama, dia mengarahkan tongkat sihirnya pada Matt. Will dan Luke menutup telinga mereka dengan kuat saat suara ledakan besar terdengar setelah mantera itu terlepas ke udara dan kembali membuat tubuh Matt jatuh terhembalang.

Atmosfer di sekeliling mereka seketika berubah menjadi hitam pekat. Alan tidak tahu apakah itu suatu pertanda baik atau buruk baginya, tapi seketika kepalanya terasa pusing, napasnya sesak, perutnya mual, dan dia tidak bisa merasakan anggota tubuhnya sedikit pun. Ada apa ini?! pikirnya.

"Tidak ada apa-apa. Tenanglah," kata seseorang.

"Suara siapa itu?!" Alan terkejut. Dia berusaha mencari sosok pemilik suara itu walau dia tahu itu mustahil.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku, kenalilah suaraku dan kau akan mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu."

"Will, kaukah itu? Atau Luke?!"

Suara-tanpa-wujud itu terkekeh. "Aku tidak ingin membuatmu kecewa, tapi sayangnya, bukan."

Alan meraba-raba dalam kegelapan. "Jangan bercanda. Siapa itu?!"

"Biar kubantu. Aku adalah orang gila yang telah menyebabkan suatu kekacauan besar di kota tersayangmu."

"Matt!"

"Kau benar, Anak muda. Tak kusangka ternyata kau sepintar itu."

Alan memukul udara di sekelilingnya, berusaha mencari sesuatu yang bisa dia jadikan pegangan maupun tumpuan. "Di mana aku?!"

"Haruskah kumenjawab pertanyaanmu?"

"Aku serius. Di mana aku?!"

"Baiklah, baiklah. Tidak perlu memaksa seperti itu. Bersikaplah sedikit tenang."

Suara-tanpa-wujud itu seketika tak terdengar lagi, membuat Alan terheran-heran. Dia tidak berhasil menemukan dua sahabatnya di mana pun, mereka bagai menghilang ditelan Bumi. Entah kenapa, di saat seperti ini, dia merindukan mereka. Terutama Luke. Seperti ada sesuatu yang hilang jika mereka tidak ada di sisinya.

"Bukalah matamu," perintah seseorang-entah-siapa-itu.

"Apa? Siapa kau?!"

"Kau terlalu banyak bertanya. Buka sajalah matamu."

Alan menuruti perkataannya; perlahan, dia membuka matanya. Kepalanya agak sedikit pusing ketika matanya telah terbuka sempurna. Dia masih belum bisa menangkap objek apa pun di hadapannya. Atau mungkin, dia tidak bisa melihat apa-apa.

Jika kalian penasaran, Alan akan mencoba sedikit menggambarkan apa saja yang bisa dilihatnya. Baiklah, di sini gelap, gelap, dan ... gelap.

"Di mana aku?"

Suaranya bergema. Sebenarnya, di tempat seperti apa dia sedang berada sekarang?

"Siapa pun, adakah yang bisa memberitahuku tempat apa ini?"  tanya Alan yang sebenarnya sia-sia.

Tidak ada balasan. Hanya pantulan suaranyalah yang bisa didengarnya.

Seolah tak ingin hanya berdiam diri, Alan mencoba untuk melangkahkan kakinya dalam kegelapan. Dia melangkah dengan sangat hati-hati, tapi tidak peduli seberapa hati-hatinya dia, kegelapan tetap tak dapat membantunya melangkah dengan baik hingga kakinya terantuk sesuatu yang berbentuk seperti batu (setidaknya, itulah yang kakinya rasakan).

Tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan sebelum dia berhasil menyeimbangkannya kembali. Namun sesaat setelahnya, dia seperti mendengar suara benda terjatuh. Dan beruntungnya, benda itu berada dekat dengan kakinya. Dia mengambilnya lalu segera sadar bahwa itu adalah tongkat sihir miliknya. Seketika, dia teringat akan suatu hal yang bisa membantunya.

"Benar, seharusnya aku mengetahuinya sejak awal," ucap Alan pada dirinya sendiri.

Dalam sekejap, kegelapan di sekelilingnya sirna. Digantikan oleh sebuah pemandangan yang membuatnya terkejut bukan kepalang. Saat ini, dia sedang berada di dalam sebuah gunung. Lebih tepatnya, gunung Honokhrant. Dia ingat akan gunung ini. Sangat mengingatnya.

Sebenarnya, Honokhrant adalah sebuah gunung api vulkanik yang telah lama mati. Letusannya tercatat sekitar ribuan atau jutaan tahun lalu. Kini ia tak lagi menunjukkan aktivitas vulkanik apa pun di dalamnya. Meskipun begitu, Honokhrant menyimpan beribu misteri bagi rakyat Maddegoert. Ia bagai momok tersendiri yang begitu dihindari. Dan terperangkapnya Alan di dalam gunung api setinggi 2000 kaki ini adalah suatu peristiwa yang sudah pasti mencengangkan. Siapakah yang melakukannya?

Mungkinkah ... Matt yang melakukannya?

"Tenang, kau harus tenang. Dinginkan kepalamu. Kepala yang dingin akan dapat lebih membantumu berpikir." Alan mengatur napasnya dan berusaha memberi sugesti pada dirinya untuk tetap tenang.

Dia menyorotkan pancaran sinar dari tongkat sihirnya ke sekelilingnya. Dengan melakukan itu, dia berharap menemukan sesuatu atau seseorang. Namun tampaknya, itu hanya sebatas harapan konyol yang tak masuk akal. Dia sendirian, tanpa ditemani dua sahabatnya.

Baiklah, ini tidak lebih buruk dari kejadian terburuk yang pernah kualami. Aku harus mencari jalan keluar dan mencari Luke serta Will, batin Alan.

Dia berjalan di atas batuan beku dan lava yang sudah jutaan tahun mengering. Dia tidak tahu harus pergi ke mana, tapi setidaknya, dia tidak hanya berdiam diri dan menunggu keajaiban datang menghampirinya.

Meski Honokhrant telah lama mati, dia harus tetap berhati-hati akan setiap kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Entah letusan mendadak atau kemungkinan buruk lainnya, dia harus bergegas keluar dari dalam sini. Dengan cara apa pun.

Aku tidak sendirian.

Untuk sementara, pikirannya itulah yang saat ini menghiburnya. Dia tidak menampik bahwa dia sendirian di dalam sini, tapi setidaknya, dia tetap memiliki secercah harapan yang mengatakan hal sebaliknya.

Kau memang tidak sendirian.

Alan terkesiap. "Siapa itu?!"

Siapa aku? Kau bisa melihatku.

Entah apa yang sedang berbicara dengannya, tapi apa pun itu, dia tidak bisa menemukan keberadaannya di mana pun.

"Di mana kau?"

Tepat di atasmu.

Alan menengadah. Awalnya dia tidak bisa menemukan apa pun, tapi mungkinkah?

"Kau ..."

"Benar, akulah yang berbicara denganmu sedari tadi."

"Tapi kau ..."

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi perlahan kau akan bisa memercayainya."

Alan tidak bisa memercayai saat mendapati dirinya berbicara dengan seekor burung kecil berwarna ungu yang melayang tepat di atas kepalanya. Dia bisa memastikan dirinya tidak sedang berada di bawah pengaruh mantera apa pun, semua yang terjadi di depan matanya terlihat begitu tanya.

"Jadi, kau ini apa sebenarnya?" tanya Alan saat dia sudah bisa menenangkan dirinya.

"Namaku Alexith. Memang agak susah diucapkan, tapi kau harus berusaha mengucapkannya. Aku adalah bangsa Gorhawk," jawab Alexith.

"Apa itu bangsa Gorhawk?"

Alexith terbang mendekati Alan, tepat di depan wajahnya. "Kau tidak tahu itu?"

"Tidak, tidak sama sekali." Alan menggeleng.

"Baiklah, aku akan menjelaskannya untukmu."

Alexith terbang menjauh saat Alan tidak bergerak sedikit pun.

"Apa yang kau lakukan di sana? Ayo ikuti aku!"

"Ya, baiklah."

Alan jalan beriringan dengan Alexith. Dia berasumsi bahwa dirinya mungkin saja sudah gila karena berbicara dengan seekor burung. Dia memang sudah bertemu dengan banyak hewan menakjubkan, tapi berbicara dengan mereka bukanlah suatu hal yang ingin dia lakukan.

"Gorhawk adalah sebuah bangsa burung yang hidup di sebuah pedalaman hutan yang tidak pernah dijamah oleh manusia," mulai Alexith. "mereka hidup berkelompok dengan satu pemimpin yang memimpin kelompok. Masing-masing dari mereka memiliki tugas untuk menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan mereka serta mencegah semua ancaman terhadapnya. Dan aku adalah salah satu dari mereka."

Alan menoleh. "Pedalaman hutan? Tapi kenapa kau ada di dalam sini?"

"Itu adalah sebuah kecelakaan. Aku tidak ingin menceritakannya padamu."

Dahi Alan mengerut. Dia tidak bisa memahami apa yang burung kecil itu jelaskan padanya.

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin menceritakannya saja."

Alan mendesah. "Baiklah. Jika kau tidak ingin menceritakannya padaku, maka jangan lakukan."

Burung itu bergeming.

Alan berjalan lurus tanpa tahu ke mana arah tujuannya. Dengan hanya berbekal seekor burung kecil sebagai pemandu, mereka menelusuri gunung Honokhrant ini. Tidak ada yang bisa mereka lihat selain hamparan tanah mengering sangat luas yang membentuk lubang-lubang kecil serta dinding vertikal yang mengelilingi mereka.

"Alexith, apa kau tahu arah tujuanmu?" tanya Alan.

"Apa kau meragukanku?" dia bertanya balik.

"Tidak, aku tidak meragukanmu. Aku hanya ingin memastikan saja."

"Tentu saja aku tahu. Aku sudah ribuan tahun terjebak di dalam sini."

Alan berhenti. "Terjebak?"

Burung itu berbalik. "Tidak, lupakan saja."

Ada apa dengan burung ini? pikir Alan.

"Dan ngomong-ngomong, panggil saja aku Alex."

"Baiklah."

Alan tidak bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini; dia tidak sedih, tidak pula bahagia. Pun merasakan suatu perasaan lain. Di satu sisi hatinya dia sedih karena harus terjebak di dalam sebuah gunung mati dan tidak bisa menghentikan kekacauan di pusat kota maupun menemukan sahabat-sahabatnya, tapi di sisi lain, dia senang karena dia tidak sendirian di dalam sini.

Alan menggosok kedua telapak tangannya. Suhu di dalam sini semakin lama semakin menurun. Dia bahkan harus beberapa kali menghangatkan tubuhnya dengan mengembuskan napas pada celah di antara telapak tangannya. Namun anehnya, burung kecil bernama Alexith di sampingnya ini terlihat tidak terpengaruh sedikit pun oleh penurunan suhu di dalam sini.

"Hei, Alex," Alan menggaruk tengkuknya canggung. "apa kau bisa membantuku?"

Alex menghentikan kepakan sayapnya tanpa berbalik. "Membantu apa?"

"Membantuku untuk keluar dari dalam sini."

Burung itu berbalik seketika, seolah terkejut. "Keluar dari dalam sini?"

"Benar. Apa ada masalah?"

"Tidak ada jalan keluar di dalam sini."

"Apa?!"

"Tidak ada jalan keluar di dalam sini," Alex mengulang ucapannya. "kau seharusnya sudah tahu itu."

Alan menggeleng. "Tidak, pasti ada. Kau pasti menipuku."

"Untuk apa aku menipumu?" burung itu tampak tersinggung.

"Karena kau sendirian!"

"Lihatlah ke sekelilingmu," perintah Alex. "apa ada jalan keluar yang bisa terlihat olehmu?"

Alan mengedar pandang, menyapu setiap inci dari tempat di sekelilingnya. Namun, yang bisa terlihat oleh matanya hanyalah berupa tanah lapang luas yang seakan tak berujung. Dia menelan ludahnya. Ini tidak mungkin terjadi, pikirnya.

"J-jadi, maksudmu ...," kata Alan tergagap.

"Benar."

"Tidak, kau pasti bohong!"

Alan berputar, berlari ke sana kemari, dan menendang tanah yang dipijaknya dengan kesal. Ke mana pun dia mencari, hanya hamparan tanah lapang luas saja yang didapatinya. Dia benci mengakuinya, tapi Alex benar. Tidak ada jalan keluar. Dia telah benar-benar terperangkap di dalam sebuah gunung!

Panik melanda dirinya seketika. Mulutnya mengatup rapat dan jantung yang dipacu lebih cepat dari biasanya. Kilatan rasa cemas terpancar dari mata birunya serta tangan yang tak bisa henti bergerak gelisah.

"Tidak perlu cemas. Terjebak di dalam sini bukanlah akhir dari segalanya," ucap Alex santai.

Alan menatap burung ungu itu tidak percaya. "Bagaimana kau bisa bersikap setenang itu?! Apa kau tidak merasa cemas sedikit pun?!"

Alex tertegun. Pertanyaan Alan sedikit melukai hatinya. Terutama karena mengingatkan burung kecil itu pada penyebab kenapa dia berada di dalam sini.

"Kenapa kau diam? Setidaknya, tenangkanlah aku!"

Alex mengabaikan ucapan pemuda itu lalu terbang menjauh. Alan lantas mengejarnya dan meluapkan semua kekesalan serta kepanikannya pada burung itu. Namun tentu saja, Alex tidak mendengarkannya.

Sudah hampir setengah jam mereka berjalan. Suhu di dalam sini semakin menurun. Tubuh Alan menggigil dan lelah di saat yang bersamaan. Dia butuh istirahat.

"Apa kita bisa istirahat sebentar?" tanya Alan.

"Tidak," jawab Alex.

"Kenapa tidak?"

"Kita harus berhasil mencapai Ankharta sebelum hari mulai gelap."

Dahi Alan berkerut. "Apa itu Ankharta?"

Dengan tidak menoleh sedikit pun, Alex menjawab, "Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Sekarang jalan atau kau akan menyesal."

"Aku tidak mengerti."

Alex bergeming. Dengan berat hati, Alan akhirnya kembali melanjutkan langkahnya meskipun dingin seolah telah menyelimuti dirinya. Alex mengepakkan sayapnya dengan cepat hingga Alan hampir tidak bisa menyamakan jarak mereka. Burung itu terlihat sangat terburu-buru. Dia tidak mengerti, apa sebenarnya yang sedang burung kecil itu rencanakan? Dan apa itu Ankharta?

Sesekali Alan menoleh ke belakang untuk melihat sudah berapa jauh mereka berjalan. Dia terkejut saat melihat awan hitam perlahan mulai menutupi cahaya yang menyinari tempat ini. Dia berlari, berusaha menyamakan jaraknya dengan Alex untuk bertanya, tapi burung itu sudah semakin jauh. Entah kekuatan apa yang menghampirinya, tapi kecepatan larinya tidak menyiratkan kelelahan pada tubuhnya.

Awan itu semakin dekat, mengganti cahaya terang menjadi kegelapan. Alan telah kehilangan jejak Alex. Kegelapan telah mengepungnya. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam saku jubahnya. Dengan memegang tongkatnya, dia berjaga-jaga. Apa pun bisa menyerangnya dalam kegelapan seperti ini.

"Apa itu?!"

Sebuah bayangan tak dikenal melintas dengan cepat di hadapannya. Dari mata birunya, dia bisa melihat sekelebat cahaya yang dihasilkan bayangan itu.

"Tunjukan wujudmu!" tantang Alan.

Setelah kalimat itu terlontar dari mulutnya, saat itu pulalah dia menyesal. Suara geraman kontan menggema di sekelilingnya, tapi dia tidak bisa melihat sosoknya sedikit pun. Matanya memandang was-was.

"Siapa itu?!"

Alan tahu itu sia-sia, tapi tidak ada hasil jika tidak ada usaha. Tubuhnya berkeringat. Bukan karena panas yang mencekiknya, tapi karena rasa takut yang menguasainya.

Perlahan Alan melangkah maju dengan sangat hati-hati. Tidak ada apa-apa. Kegelapan ini benar-benar merenggut penglihatannya, tak satu pun benda yang bisa dilihatnya. Namun saat dia akan kembali melangkah, kakinya terantuk sesuatu. Besar dan keras. Mungkin batu. Dia lantas mengabaikannya untuk kembali berjalan, tapi sebuah kejadian mengejutkan terjadi seketika: gelap yang tadi menyelimuti kini telah digantikan oleh cahaya terang.

Alan menghela napas lega, tapi dia harus tetap berhati-hati. Tidak ada seseorang atau sesuatu pun di sekelilingnya. Dia mengerutkan keningnya. Lantas suara geraman dari mana tadi? pikir Alan.

"Aarrgh!!"

...

...

...

Alan meringis pelan seraya memegangi pinggangnya. Dia tidak tahu apa yang baru saja menyerangnya, tapi apa pun itu, sesuatu-entah-apa-itu telah membuat tubuhnya terpental dan menabrak batu di belakangnya dengan cukup keras.

Alan berusaha berdiri dengan menahan rasa nyeri di tubuhnya dengan bertumpu pada batu di belakangnya. Dia berjalan terhuyung-huyung dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Namun seolah alam tak ingin membiarkannya istirahat sejenak, seekor monster besar muncul dari balik batu besar tak jauh di depannya. Itu adalah monster sejenis kadal besar dengan empat kaki dan dua taring besar di depan mulutnya. Dan makhluk itu berjalan ke arahnya.

Dengan menodongkan tongkat sihirnya, Alan berusaha mengusir monster itu. Namun, makhluk itu tidak menggubrisnya. Dia malah berjalan semakin cepat, alih-alih menjauh. Alan mundur, tapi tubuhnya tertahan oleh dinding di belakangnya.

"Menjauhlah!"

Air liur mengalir dari mulut menjijikannya itu. Monster itu semakin dekat dan ...

"Ankithodom!"

Apa ini?!
Kenapa tongkat sihirnya tidak bekerja?!

"Ankithodom!"

Nihil. Tongkat sihirnya tetap tidak bekerja. Dia panik. Monster itu hanya tinggal berjarak beberapa senti darinya. Dia bahkan bisa mencium napas bau monster itu.

"Aarrgh!!"

TO BE CONTINUED ...


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon