Negeri Penyihir
Genre: Fantasi
Penulis: Muhammad Rizaldi
BAB 5 ...
Menyerah?
Oh, tidak ada kata menyerah dalam kamus seorang Alan Conspiegaart. Entah karena penulisnya lupa menambahkan kata menyerah dalam kamusnya atau terjadi kesalahan saat proses penulisan kamus tersebut yang menyebabkan hilangnya kata menyerah, tapi selama dia mampu melakukannya, dia akan terus berusaha untuk melakukannya. Dia bahkan berani membahayakan nyawanya untuk melakukan apa yang memang sudah seharusnya dia lakukan hingga dia benar-benar berhasil melakukannya.
Dan itu sama halnya dengan tumbangnya dia dalam duel sengit melawan Matt atau si penyihir jahat itu. Dia akan melawannya kembali dengan sisa kekuatannya yang kemarin telah habis dan kini telah kembali pulih. Dia mengajak pula Luke serta Will untuk membantunya meskipun mereka sempat menolak dan menyuruhnya berhenti.
Jadi pagi ini, Alan dan dua sahabatnya berencana ingin pergi ke kota Alevandria yang berada di wilayah selatan Negeri Maddegoert untuk mencari tahu apa yang sebenarnya para penyihir jahat itu rencanakan karena beredar kabar bahwa para penyihir jahat itu sedang berada di kota tersebut untuk menyusun rencana sebelum melancarkan aksi mereka. Namun sebelum mereka pergi ke kota tersebut, mereka akan menemui Professor Goleth terlebih dulu di laboratoriumnya untuk memastikan apakah kabar yang mereka dengar itu benar atau tidak.
"Jadi Professor, apakah kabar itu benar?" tanya Alan setelah Professor Goleth selesai menerawang melalui sebuah cangkir kecil yang di dalamnya terdapat seperti gumpalan asap hitam yang dikenal sebagai asap penerawang atau yang para professor ahli sihir sebut Irashkitkatha.
"Menurut yang tergambar di cangkir ini ... benar," jawab Professor Goleth sekaligus membenarkan kabar yang mereka dengar.
Luke, yang duduk di seberang Alan, sontak bangkit dari tempat duduknya seraya berseru, "Sudah kuduga, itu pasti benar!"
"Luke, tenanglah." Will memperingatkan sahabatnya itu.
"Baiklah, tuan disiplin," gerutu Luke dengan nada jengkel.
"Namun Alan, kau harus berhati-hati karena mereka terkenal sangat cerdik." Professor Goleth mewanti-wanti Alan beserta dua sahabatnya agar berhati-hati terhadap para penyihir jahat tersebut.
Alan berdiri, bersiap untuk berpamitan pada Professor Goleth. "Baiklah, terima kasih atas waktu dan informasinya, Professor."
Luke dan Will lantas ikut berdiri seperti yang Alan lakukan.
"Sama-sama, senang membantumu, Alan."
****
Ternyata, jarak antara kota mereka tinggal dengan kota Alevandria terbilang cukup jauh. Oh, tidak. Sangat jauh. Mereka harus menempuh jarak bermil-mil jauhnya hanya untuk mencapai kota tersebut dengan menggunakan Lukshan mereka. Dengan jarak sejauh itu, mereka harus beristirahat beberapa kali untuk menjaga kondisi tubuh mereka agar tetap fit ketika mereka akhirnya tiba di sana. Namun bagi Luke dan Will, waktu beristirahat mereka juga dimanfaatkan untuk bermain dan bersenang-senang.
Seperti saat mereka beristirahat di kota Lukdriega, tepatnya di tepi sungai Amrethav, mereka bermain dengan berlomba menangkap ikan sebanyak-banyaknya untuk kemudian mereka santap bersama. Dan sialnya, Will kalah. Hanya berselisih satu ikan saja yang membuatnya kalah dari Luke dan itu kontan membuatnya kesal. Alan yang tidak ikut berlomba pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua sahabatnya yang tidak pernah berubah itu.
Setelah mereka mendapat banyak ikan dari hasil perlombaan itu, semua ikan itu mereka bakar lalu memakannya. Rasanya lezat. Dan saat makan itu juga, Luke dan Will kembali berlomba memakan ikan sebanyak-banyaknya. Namun ketika di pertengahan lomba, Will menyerah yang membuat dirinya kembali kalah. Alhasil dia kembali kesal sampai akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Luke yang sudah mulai lelah dengan perjalanan panjang ini.
"Sepertinya belum," jawab Will.
Luke menghela napas berat. "Kapan kita akan sampai di kota Alevandria? Aku sudah sangat lelah."
"Tubuhku juga terasa sangat lelah." Will menyahut.
Hari sudah malam, tapi mereka tak kunjung sampai di kota Alevandria. Dengan kondisi tubuh yang sudah sangat lelah, mereka tetap memaksa untuk melanjutkan perjalanan mereka dan terbang melintasi langit Negeri Maddegoert yang gelap.
"Itu di sana! Kita sudah sampai!" seru Alan seraya menunjuk ke suatu tempat.
Tempat itu adalah sebuah hutan dengan barisan pepohonan rindang berdaun lebat dan beberapa bangunan yang menjulang di antara pepohonan tersebut. Itu adalah kota Alevandria. Alan sangat yakin bahwa itu adalah tempat yang mereka tuju meskipun dia ataupun Luke dan Will belum pernah pergi ke tempat ini sebelumnya.
Alan menurunkan Lukshannya yang kemudian disusul oleh Luke dan Will di belakangnya. Mereka mendarat di tanah yang dipenuhi oleh dedaunan kering serta dikelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi.
"Kenapa kita mendarat di sini?" tanya Luke.
"Hari sudah gelap, Luke. Kita tidak bisa pergi begitu saja ke pusat kota. Kita akan menginap di hutan ini untuk malam ini dan menyusun rencana," jawab Alan yang menyimpan kembali Lukshannya dengan memanterainya.
"Menginap di hutan belantara seperti ini? Kau gila, Alan!" Will tidak setuju dengan rencana Alan untuk menginap di hutan ini meskipun tubuhnya sudah sangat lelah.
Alan menoleh ke arah Will. "Kita akan mencari sungai dan kita akan mendirikan tenda di sepanjang hilir sungai itu."
"Jadi maksudmu, kita akan menyusuri hutan ini dalam keadaan gelap seperti ini? Tidak, aku tidak ikut. Kalian pergilah."
"Tapi Will, Alan benar. Itu lebih baik," sela Luke.
"Tidak, Luke. Jangan mencoba untuk memaksaku."
Alan merangkul bahu Luke seraya mengangguk kecil padanya sebagai kial untuk mengabaikan ucapan Will tadi kemudian berkata, "Ya, baiklah. Kau tinggallah di sini. Kami akan pergi mencari sungai. Semoga para Briethosort tidak memangsamu."
Briethosort adalah binatang khas negeri penyihir yang berwujud seperti layaknya seekor sapi dengan tanduk panjang yang ujungnya sangat runcing di kedua sisi kepalanya, dua taring besar tajam di mulutnya, dan mata merah yang akan menyala di dalam kegelapan. Briethosort bertubuh sedikit lebih besar dari seekor sapi biasa dan diketahui senang mencari makan pada malam hari. Makanan kesukaannya adalah tupai dan beberapa hewan kecil.
Will menelan ludahnya setelah mendengar ucapan Alan. Dia tidak ingat jika hewan mengerikan tersebut ada di dalam hutan ini. Sekadar informasi, Briethosort juga senang menyerang manusia yang terlihat mengancam bagi mereka meskipun tidak pernah terdengar kasus matinya seseorang yang disebabkan oleh seekor Briethosort. Namun tetap saja, hal itu membuatnya bergidik ngeri ketika membayangkannya.
"Baiklah, baiklah. Aku ikut. Alan, Luke, tunggu aku!" teriak Will ketika Alan dan Luke sudah berjalan lebih dulu seraya mengejar mereka.
Setelah berhasil mengejar dan menyamakan jarak dengan dua sahabatnya, Will berjalan bersisihan dengan mereka seraya mengedar pandang ke sekelilingnya untuk mencari sungai yang mereka cari. Dia juga menajamkan pendengarannya untuk mendengar suara air mengalir.
Dapat!
Ketika mereka sudah berjalan masuk ke dalam hutan, mereka mendengar suara gemuruh air yang terdengar seperti suara aliran sungai. Suara itu berasal dari arah barat daya. Mereka kontan berlari untuk menghampiri sumber suara tersebut.
"Kita menemukannya!" seru Luke saat dia dan dua sahabatnya berhasil menemukan sungai yang mereka cari seraya berlari kemudian meminum air sungai tersebut karena tenggorokannya yang sudah sangat kering.
Will menyusul Luke untuk minum dari sungai tersebut. "Segarnya air sungai ini."
"Teman-teman, ayo bantu aku," Alan menyusul kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu menghampiri sungai dengan aliran yang cukup deras itu dan minum dari aliran sungainya. "kita akan mendirikan tenda di dekat pohon besar di sana."
Luke dan Will mengikuti Alan berjalan menuju salah satu pohon berukuran cukup besar yang berada tidak jauh dari hulu sungai. Alan lalu mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengarahkannya pada telapak tangannya seraya berkata, "Inandium."
Dengan sekejap mata, muncullah sebuah biji yang entah berasal dari pohon jenis apa berwarna kecokelatan dan agak sedikit lonjong. Alan lalu melempar biji itu ke tanah kemudian menguburnya dengan tanah kembali.
"Bawakan aku sedikit air," perintah Alan.
Tanpa banyak membantah, Luke pun bergegas berlari ke arah sungai untuk mengambil sedikit air. Tak berapa lama, dia kembali datang dengan membawa sedikit air di tangannya yang dia letakkan di dalam sebuah tempurung kelapa kemudian menyerahkannya pada Alan. Air itu lalu disiramkan ke arah tempat biji tadi dikubur.
"Tunggu dan lihatlah," ucap Alan.
Mereka hanya perlu menunggu beberapa saat sebelum akhirnya sebuah tunas pohon mulai tumbuh dan menyeruak keluar dari dalam tanah. Tunas itu semakin bertambah besar hingga menjadi sebuah pohon yang berukuran sama dengan pohon di belakangnya dan seketika salah satu daun yang menggantung dari salah satu dahannya mengembang lalu mengeluarkan sebuah benda berupa ... tenda.
Ketika tenda itu jatuh ke tanah, tenda itu langsung mengembang dengan sendirinya. Alan, Luke, dan Will yang melihat hal itu pun masuk ke dalamnya untuk beristirahat.
"Wow." Luke berdecak kagum setelah melihat keadaan di dalam tenda.
Mungkin yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata tenda adalah sebuah tempat dengan ruang gerak yang kecil, tapi hal itu tidak berlaku pada tenda di negeri ini. Sekadar informasi, bahkan beberapa orang dewasa pun bisa tertampung di dalam tenda ini. Memang, dari luar tenda ini terlihat seperti tenda biasa, tapi di dalamnya, tersedia sebuah pemandangan layaknya sebuah kastil megah yang ditopang oleh pilar-pilar besar dengan langit-langit yang menyuguhkan pemandangan indah.
"Carilah posisi yang nyaman untuk kalian tidur. Kita akan melakukan sesuatu yang besar besok pagi," ujar Alan.
Luke tidak merespon, dia masih terpukau dengan kemegahan keadaan di dalam tenda ini. Bahkan, dia tidak bisa berhenti berdecak kagum meskipun hal seperti ini seharusnya adalah suatu hal yang biasa baginya, sedangkan Will sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya di salah satu sudut tenda yang telah tersedia sebuah ranjang nyaman untuknya tidur.
"Alan, apa menurutmu mereka tidak akan mengetahui keberadaan kita?" tanya Luke setelah akhirnya dia merebahkan tubuhnya di salah satu ranjang.
"Selama kita tidak membuat suatu kehebohan, mereka tidak akan tahu," jawab Alan.
"Apa kau yakin?" Luke memastikan.
"Ya, aku bisa menjamin hal itu."
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" timpal Will.
"Karena memang itulah yang seharusnya kita lakukan."
Luke dan Will saling beradu pandang. Dalam lubuk hati mereka, mereka tidak yakin dengan yang mereka lakukan ini. Namun entah dapat dorongan dari mana, mereka akhirnya mau melakukannya meskipun nyawa harus jadi taruhannya. Mereka tidak bisa membiarkan Alan berjuang sendiri, itulah yang sahabat lakukan untuk sahabatnya yang lain.
"Sudahlah, jangan terlalu mencemaskan hal itu. Tidurlah dan siapkan energi untuk besok," sambung Alan.
Luke dan Will saling memandang untuk terakhir kalinya yang terlihat seolah sedang meyakinkan diri mereka masing-masing bahwa tidak akan terjadi apa-apa selama mereka berada di sisi Alan sebelum akhirnya mereka tertidur.
****
Hari berikutnya adalah hari yang menegangkan bagi Luke dan Will, tapi tidak bagi Alan. Bahkan, dialah satu-satunya orang yang paling bersemangat dalam misi kali ini dengan bangun pagi-pagi sekali dan membangunkan mereka. Setelah selesai membersihkan tubuh mereka di sungai dan memakan beberapa makanan yang mereka dapatkan dari hutan, mereka akhirnya bergegas menuju pusat kota.
Mereka terbang di langit kota Alevandria yang didominasi oleh pemandangan atap-atap bangunan bergaya klasik dengan cat yang didominasi dengan warna cokelat dan bata sebagai bahan penopang bangunan-bangunan tersebut. Ketika mereka merasa sudah terbang ke pusat kota, mereka lantas mendaratkan Lukshan mereka di salah sudut jalan yang sepi agar tidak terlihat oleh siapa pun. Tidak masalah bagi mereka jika mereka tiba-tiba tertangkap basah oleh penduduk kota Alevandria, tapi masalah bagi mereka jika para penyihir jahat itu yang menangkap basah mereka sedang menguntit Matt dan penyihir jahat lainnya.
"Apa kau tahu di mana tempat mereka bersembunyi?" tanya Will ketika dia dan dua sahabatnya tengah berjalan di bahu jalan seraya menyamar untuk menghindari penyihir jahat incaran mereka.
"Aku tidak tahu."
"Lalu bagaimana kita akan mencari tahu rencana mereka?" tanya Will lagi.
"Aku ..." Alan menggantungkan kalimatnya. Benar juga, dia tidak punya informasi lain selain mereka yang sedang berada di kota ini untuk menyusun rencana penyerangan. Dia bahkan tidak tahu di mana tempat mereka berada sekarang.
"Kenapa kau diam, Alan?"
Alan menoleh ke arah Will. Jujur saja, tidak terpikirkan olehnya tentang hal yang satu ini. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin apa yang Will dan Luke katakan kemarin benar, mungkin tidak seharusnya mereka berada di sini.
"Bagaimana kalau kita menggunakan cermin penunjuk arah?" usul Luke yang sedari tadi diam.
"Cermin penunjuk arah?" ulang Alan.
"Bukankah cermin itu hanya bisa menunjukkan arah suatu tempat saja?" sela Will.
Luke mulai menjelaskan usulnya. "Ya, benar. Namun, kita bisa memanfaatkan mantera pendeteksi kekuatan jahat dengan cermin itu."
"Aku tidak mengerti. Bagaimana caranya?" Alan terlihat agak sedikit bingung dengan usul Luke.
"Biar kutunjukkan." Luke mengeluarkan tongkat sihirnya dari saku jubahnya kemudian mengayunkan sedikit tongkatnya di atas telapak tangannya yang kemudian muncullah sebuah cermin berukuran sedang dengan motif ukiran di pinggirnya.
Luke mengambil cermin itu lalu mengarahkannya tepat ke arah depan dan di saat yang bersamaan, dia berkata, "Dernossa Igrievandum."
Dia mengucapkan mantera tersebut bersamaan dengan diayunkannya tongkat sihir yang dipegangnya ke arah cermin di depannya hingga permukaan cermin tersebut tampak seperti membelah; sisi kiri berwarna putih yang berarti kekuatan baik dan sisi kanan berwarna hitam pekat yang berarti kekuatan jahat. Sisi kirilah yang saat ini mendominasi permukaan cermin yang dipegangnya tersebut.
"Ikuti aku," perintah Luke. Dia lalu kembali berjalan dengan cermin yang tetap dia pegang di tangannya.
Alan dan Will hanya mengikuti Luke dari belakang meskipun mereka masih agak sedikit tidak mengerti dengan apa yang Luke lakukan. Maksud mereka, bagaimana mungkin keberadaan seseorang dilacak hanya dengan menggunakan cermin?
Memang, mereka pernah mendengar kisah tentang cermin ajaib yang bisa membuat siapa pun mampu melakukan segala hal yang dia inginkan hanya dengan menggunakannya, tapi mungkinkah itu cermin ajaib yang melegenda itu?
"Apa mungkin cara ini akan berhasil?" tanya Will.
Alan mengendikkan bahunya. "Aku tidak tahu, tapi semoga saja berhasil."
Will hanya mengangguk paham dan kembali melanjutkan jalan.
Semakin lama, sisi kanan berwarna hitam pekat itu semakin melebar hingga hampir memenuhi setengah dari permukaan cermin tersebut. Dan permukaan cermin itu akhirnya benar-benar dipenuhi oleh warna hitam pekat yang berasal dari sisi kanan ketika mereka melewati sebuah bangunan tua dengan cat hitam dan sebuah pintu kayu. Mereka mundur untuk mengecek apakah benar permukaan cermin itu berubah menjadi hitam pekat ketika berada di depan bangunan tersebut. Voila!
Benar saja, bangunan yang terlihat seperti rumah bergaya arsitektur klasik—atau mungkin tua—itulah yang mereka cari!
"Pakai tudung kepala kalian, kita akan masuk ke dalam bangunan ini," perintah Luke lagi seraya menyimpan kembali cermin yang dipegangnya.
Alan dan Will hanya menurut. Mereka lantas perlahan membuka sebuah pintu kayu yang juga sudah tampak usang untuk masuk ke dalamnya. Ketika di dalam, mereka mendapati banyak sekali orang yang sedang berkumpul. Mereka semua berkumpul dengan mengelilingi sebuah meja kayu berbentuk persegi panjang seraya membahas sesuatu yang tidak Alan, Luke, maupun Will pahami. Dan yang lebih luar biasanya lagi adalah ... bangunan ini tampak lebih luas dari dalam daripada dari luar.
"Siapa mereka?" tanya Luke ketika dia dan dua sahabatnya sedang menguping dengan berdiri di dekat salah satu pot besar yang ditumbuhi sebuah tanaman yang tidak mereka kenali.
"Itu para penyihir jahat," jawab Alan.
Sekadar informasi, jubah yang mereka kenakan adalah jubah tembus pandang. Jadi meskipun mereka berdiri dari jarak yang sangat dekat dengan para penyihir jahat itu, mereka tidak akan bisa dilihat oleh siapa pun karena mereka telah mengenakan tudung kepala jubah mereka yang membuat tubuh mereka tembus pandang. Bahkan, suara mereka juga menjadi tembus pandang atau tidak bisa didengar orang lain selain mereka.
"Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka semua katakan, ayo kita mendekat," ujar Will.
"Kau benar, Will. Berhati-hatilah," sahut Alan yang setuju dengan ucapan Will tadi.
Mereka lalu mendekati meja yang dipakai para penyihir jahat
itu untuk bisa mendengar lebih jelas. Mereka berdiri tepat di belakang salah satu di antara mereka semua yang sedang berkumpul.
"Aku hampir berhasil mencuri benda itu jika saja tiga anak itu tidak datang. Mereka punya cukup banyak nyali untuk menghadangku."
"Aku masih tidak menyangka kau gagal hanya karena seorang anak kecil."
"Anak ini berbeda, dia punya kemampuan sihir yang sama dengan penyihir dewasa seperti kita. Anak ini jelas patut diperhitungkan."
"Tapi mau sehebat apa pun dia, dia tetaplah anak-anak."
"Benar, kau tidak boleh kalah melawannya."
"Ya, aku tidak akan membiarkan diriku kalah lagi melawan seorang anak kecil sepertinya. Dan ketika sudah tiba saatnya aku melancarkan aksiku, aku akan menghabisi anak itu."
"Kapan kau akan kembali melancarkan aksimu?"
"Besok malam, tepat pada pukul dua belas."
Rahang Alan seketika saja mengeras setelah mendengar percakapan mereka. Sebenarnya, dia tidak tahu siapa saja penyihir jahat yang berada di meja tersebut, tapi satu yang dia tahu: Matt ada di sana. Dan dia akan tetap berusaha untuk mencuri batu merah itu.
"Aku tidak mengerti dengan percakapan mereka, apa salah satu di antara kalian bisa menjelaskannya padaku?" Luke mengernyitkan alisnya. Dia tidak mengerti dengan apa yang para penyihir jahat itu bicarakan.
"Ayo kita keluar." Alan menjawab yang sebenarnya melenceng dari pertanyaan yang Luke lontarkan.
****
"Alan, apa yang terjadi padamu?! Kenapa tubuhmu penuh dengan luka seperti itu?!" seru Ibu panik saat mendapati Alan yang sedang dipapah oleh Luke berserta Will masuk ke dalam rumahnya.
Alan tersenyum meskipun wajahnya dipenuhi oleh darah. "Aku tidak apa-apa, Bu. Tidak usah khawatir."
"Bagaimana kau bisa baik-baik saja jika tubuhmu penuh dengan luka seperti itu?!" Ibu tidak bisa tenang ketika melihat kondisi sang anak yang terluka parah seperti itu.
Luke dan Will memapah Alan masuk ke dalam kamarnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aku baik-baik saja, Bu. Luka di wajahku ini hanyalah luka goresan biasa saja." Alan terus meyakinkan sang Ibu bahwa dia tidak apa-apa.
"Tidak, kau tidak baik-baik saja. Ibu akan memanggilkan Professor Goleth untuk menyembuhkanmu. Kau tenanglah di sini, jangan banyak bergerak."
Sebelum Alan sempat mencegah, sang Ibu pun sudah terlebih dahulu pergi ke luar kamarnya menuju laboratorium Professor Goleth untuk menyembuhkannya.
Jadi setelah Alan dan dua sahabatnya selesai menguping percakapan para penyihir jahat tersebut, mereka memutuskan untuk keluar dengan mengendap-endap agar para penyihir jahat itu tidak menyadari kehadiran mereka. Namun ketika mereka sudah hampir mencapai pintu keluar, Alan menabrak salah satu benda yang ada di sana dan sontak saja membuat kegaduhan yang membuat penyamaran mereka terbongkar dengan terbukanya jubah tembus pandang mereka.
Matt yang melihat Alan berada di hadapannya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; dia menyerang Alan dengan serangan bertubi-tubi. Luke dan Will berusaha untuk menangkis setiap serangan yang dia layangkan pada sahabat mereka, tapi mantera pertahanan yang mereka gunakan untuk menangkis serangannya justru berbalik pada mereka hingga membuat mereka terpental ke arah luar dan pingsan karena terbentur sesuatu yang tidak diketahui oleh mereka.
Alhasil Alan melawan Matt sendiri dengan kekuatan yang dia kuasai. Dia telah mengeluarkan semua mantera yang dia kuasai maupun sekadar asal menggunakan mantera apa pun yang terlintas di kepalanya saat itu. Duel sengit antara mereka pun tidak terelakkan lagi. Mereka mengeluarkan semua kemampuan yang mereka miliki untuk menjatuhkan satu sama lain. Amarah yang memenuhi diri Alan membuatnya semakin jadi dalam menyerang musuh mereka tersebut, mantera yang dikeluarkan pun akan menjadi senjata yang sangat kuat bagi mereka.
Pada akhir dari duel sengit mereka, Matt berhasil mengalahkan Alan yang sebelumnya memang sudah pernah dikalahkan olehnya. Alan lalu lagi-lagi dibawa ke rumahnya dalam keadaan terluka.
"Aku sudah berkata padamu bahwa usahamu melawan mereka itu sia-sia, tapi kau tidak mendengarkannya," ujar Max tiba-tiba seraya bersandar di kosen.
Semua orang yang berada di kamar Alan pun menoleh secara bersamaan.
"Apa maksudmu, Max?" tanya Alan.
Max melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sang Kakak. "Dengar Kak, sehebat apa pun dirimu, kau tetap tidak akan pernah bisa mengalahkan mereka."
"Bagaimana kau tahu?"
Max duduk di tepi ranjang sang Kakak. "Kau tidak perlu menanyakannya."
"Tapi aku ingin tahu."
"Tidak ada gunanya rasa keingintahuanmu itu." Max mengusap wajah sang Kakak seraya memejamkan matanya.
Alan bingung, dia tidak tahu apa yang sedang adiknya lakukan itu. Namun, dia tidak menolaknya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Max membuka matanya perlahan. "Rasakanlah wajahmu."
Alan tidak mengerti, tapi dia mengusap wajahnya dan merasakan luka goresan yang ada di wajahnya.
Tunggu.
Ini aneh.
Luka goresan yang tadi ada di wajahnya telah hilang dan rasa sakit yang dia rasakan tadi pun telah hilang.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Alan yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
"Kau tidak perlu tahu." Max bangkit dan bersiap untuk pergi.
"Dan jangan mencoba untuk melawan mereka lagi," sambung Max.
Alan tidak merespon hingga adiknya itu melangkahkan kakinya ke luar kamarnya. Namun saat adiknya berada di ambang pintu, dia kembali bertanya.
"Apa ada cara yang bisa kugunakan untuk mengalahkan mereka?"
Tanpa menoleh sedikit pun, Max menjawab, "Tidak ada dan lupakanlah ambisimu itu."
To be continued ...
Penulis: Muhammad Rizaldi
BAB 5 ...
Menyerah?
Oh, tidak ada kata menyerah dalam kamus seorang Alan Conspiegaart. Entah karena penulisnya lupa menambahkan kata menyerah dalam kamusnya atau terjadi kesalahan saat proses penulisan kamus tersebut yang menyebabkan hilangnya kata menyerah, tapi selama dia mampu melakukannya, dia akan terus berusaha untuk melakukannya. Dia bahkan berani membahayakan nyawanya untuk melakukan apa yang memang sudah seharusnya dia lakukan hingga dia benar-benar berhasil melakukannya.
Dan itu sama halnya dengan tumbangnya dia dalam duel sengit melawan Matt atau si penyihir jahat itu. Dia akan melawannya kembali dengan sisa kekuatannya yang kemarin telah habis dan kini telah kembali pulih. Dia mengajak pula Luke serta Will untuk membantunya meskipun mereka sempat menolak dan menyuruhnya berhenti.
Jadi pagi ini, Alan dan dua sahabatnya berencana ingin pergi ke kota Alevandria yang berada di wilayah selatan Negeri Maddegoert untuk mencari tahu apa yang sebenarnya para penyihir jahat itu rencanakan karena beredar kabar bahwa para penyihir jahat itu sedang berada di kota tersebut untuk menyusun rencana sebelum melancarkan aksi mereka. Namun sebelum mereka pergi ke kota tersebut, mereka akan menemui Professor Goleth terlebih dulu di laboratoriumnya untuk memastikan apakah kabar yang mereka dengar itu benar atau tidak.
"Jadi Professor, apakah kabar itu benar?" tanya Alan setelah Professor Goleth selesai menerawang melalui sebuah cangkir kecil yang di dalamnya terdapat seperti gumpalan asap hitam yang dikenal sebagai asap penerawang atau yang para professor ahli sihir sebut Irashkitkatha.
"Menurut yang tergambar di cangkir ini ... benar," jawab Professor Goleth sekaligus membenarkan kabar yang mereka dengar.
Luke, yang duduk di seberang Alan, sontak bangkit dari tempat duduknya seraya berseru, "Sudah kuduga, itu pasti benar!"
"Luke, tenanglah." Will memperingatkan sahabatnya itu.
"Baiklah, tuan disiplin," gerutu Luke dengan nada jengkel.
"Namun Alan, kau harus berhati-hati karena mereka terkenal sangat cerdik." Professor Goleth mewanti-wanti Alan beserta dua sahabatnya agar berhati-hati terhadap para penyihir jahat tersebut.
Alan berdiri, bersiap untuk berpamitan pada Professor Goleth. "Baiklah, terima kasih atas waktu dan informasinya, Professor."
Luke dan Will lantas ikut berdiri seperti yang Alan lakukan.
"Sama-sama, senang membantumu, Alan."
****
Ternyata, jarak antara kota mereka tinggal dengan kota Alevandria terbilang cukup jauh. Oh, tidak. Sangat jauh. Mereka harus menempuh jarak bermil-mil jauhnya hanya untuk mencapai kota tersebut dengan menggunakan Lukshan mereka. Dengan jarak sejauh itu, mereka harus beristirahat beberapa kali untuk menjaga kondisi tubuh mereka agar tetap fit ketika mereka akhirnya tiba di sana. Namun bagi Luke dan Will, waktu beristirahat mereka juga dimanfaatkan untuk bermain dan bersenang-senang.
Seperti saat mereka beristirahat di kota Lukdriega, tepatnya di tepi sungai Amrethav, mereka bermain dengan berlomba menangkap ikan sebanyak-banyaknya untuk kemudian mereka santap bersama. Dan sialnya, Will kalah. Hanya berselisih satu ikan saja yang membuatnya kalah dari Luke dan itu kontan membuatnya kesal. Alan yang tidak ikut berlomba pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua sahabatnya yang tidak pernah berubah itu.
Setelah mereka mendapat banyak ikan dari hasil perlombaan itu, semua ikan itu mereka bakar lalu memakannya. Rasanya lezat. Dan saat makan itu juga, Luke dan Will kembali berlomba memakan ikan sebanyak-banyaknya. Namun ketika di pertengahan lomba, Will menyerah yang membuat dirinya kembali kalah. Alhasil dia kembali kesal sampai akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Luke yang sudah mulai lelah dengan perjalanan panjang ini.
"Sepertinya belum," jawab Will.
Luke menghela napas berat. "Kapan kita akan sampai di kota Alevandria? Aku sudah sangat lelah."
"Tubuhku juga terasa sangat lelah." Will menyahut.
Hari sudah malam, tapi mereka tak kunjung sampai di kota Alevandria. Dengan kondisi tubuh yang sudah sangat lelah, mereka tetap memaksa untuk melanjutkan perjalanan mereka dan terbang melintasi langit Negeri Maddegoert yang gelap.
"Itu di sana! Kita sudah sampai!" seru Alan seraya menunjuk ke suatu tempat.
Tempat itu adalah sebuah hutan dengan barisan pepohonan rindang berdaun lebat dan beberapa bangunan yang menjulang di antara pepohonan tersebut. Itu adalah kota Alevandria. Alan sangat yakin bahwa itu adalah tempat yang mereka tuju meskipun dia ataupun Luke dan Will belum pernah pergi ke tempat ini sebelumnya.
Alan menurunkan Lukshannya yang kemudian disusul oleh Luke dan Will di belakangnya. Mereka mendarat di tanah yang dipenuhi oleh dedaunan kering serta dikelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi.
"Kenapa kita mendarat di sini?" tanya Luke.
"Hari sudah gelap, Luke. Kita tidak bisa pergi begitu saja ke pusat kota. Kita akan menginap di hutan ini untuk malam ini dan menyusun rencana," jawab Alan yang menyimpan kembali Lukshannya dengan memanterainya.
"Menginap di hutan belantara seperti ini? Kau gila, Alan!" Will tidak setuju dengan rencana Alan untuk menginap di hutan ini meskipun tubuhnya sudah sangat lelah.
Alan menoleh ke arah Will. "Kita akan mencari sungai dan kita akan mendirikan tenda di sepanjang hilir sungai itu."
"Jadi maksudmu, kita akan menyusuri hutan ini dalam keadaan gelap seperti ini? Tidak, aku tidak ikut. Kalian pergilah."
"Tapi Will, Alan benar. Itu lebih baik," sela Luke.
"Tidak, Luke. Jangan mencoba untuk memaksaku."
Alan merangkul bahu Luke seraya mengangguk kecil padanya sebagai kial untuk mengabaikan ucapan Will tadi kemudian berkata, "Ya, baiklah. Kau tinggallah di sini. Kami akan pergi mencari sungai. Semoga para Briethosort tidak memangsamu."
Briethosort adalah binatang khas negeri penyihir yang berwujud seperti layaknya seekor sapi dengan tanduk panjang yang ujungnya sangat runcing di kedua sisi kepalanya, dua taring besar tajam di mulutnya, dan mata merah yang akan menyala di dalam kegelapan. Briethosort bertubuh sedikit lebih besar dari seekor sapi biasa dan diketahui senang mencari makan pada malam hari. Makanan kesukaannya adalah tupai dan beberapa hewan kecil.
Will menelan ludahnya setelah mendengar ucapan Alan. Dia tidak ingat jika hewan mengerikan tersebut ada di dalam hutan ini. Sekadar informasi, Briethosort juga senang menyerang manusia yang terlihat mengancam bagi mereka meskipun tidak pernah terdengar kasus matinya seseorang yang disebabkan oleh seekor Briethosort. Namun tetap saja, hal itu membuatnya bergidik ngeri ketika membayangkannya.
"Baiklah, baiklah. Aku ikut. Alan, Luke, tunggu aku!" teriak Will ketika Alan dan Luke sudah berjalan lebih dulu seraya mengejar mereka.
Setelah berhasil mengejar dan menyamakan jarak dengan dua sahabatnya, Will berjalan bersisihan dengan mereka seraya mengedar pandang ke sekelilingnya untuk mencari sungai yang mereka cari. Dia juga menajamkan pendengarannya untuk mendengar suara air mengalir.
Dapat!
Ketika mereka sudah berjalan masuk ke dalam hutan, mereka mendengar suara gemuruh air yang terdengar seperti suara aliran sungai. Suara itu berasal dari arah barat daya. Mereka kontan berlari untuk menghampiri sumber suara tersebut.
"Kita menemukannya!" seru Luke saat dia dan dua sahabatnya berhasil menemukan sungai yang mereka cari seraya berlari kemudian meminum air sungai tersebut karena tenggorokannya yang sudah sangat kering.
Will menyusul Luke untuk minum dari sungai tersebut. "Segarnya air sungai ini."
"Teman-teman, ayo bantu aku," Alan menyusul kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu menghampiri sungai dengan aliran yang cukup deras itu dan minum dari aliran sungainya. "kita akan mendirikan tenda di dekat pohon besar di sana."
Luke dan Will mengikuti Alan berjalan menuju salah satu pohon berukuran cukup besar yang berada tidak jauh dari hulu sungai. Alan lalu mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengarahkannya pada telapak tangannya seraya berkata, "Inandium."
Dengan sekejap mata, muncullah sebuah biji yang entah berasal dari pohon jenis apa berwarna kecokelatan dan agak sedikit lonjong. Alan lalu melempar biji itu ke tanah kemudian menguburnya dengan tanah kembali.
"Bawakan aku sedikit air," perintah Alan.
Tanpa banyak membantah, Luke pun bergegas berlari ke arah sungai untuk mengambil sedikit air. Tak berapa lama, dia kembali datang dengan membawa sedikit air di tangannya yang dia letakkan di dalam sebuah tempurung kelapa kemudian menyerahkannya pada Alan. Air itu lalu disiramkan ke arah tempat biji tadi dikubur.
"Tunggu dan lihatlah," ucap Alan.
Mereka hanya perlu menunggu beberapa saat sebelum akhirnya sebuah tunas pohon mulai tumbuh dan menyeruak keluar dari dalam tanah. Tunas itu semakin bertambah besar hingga menjadi sebuah pohon yang berukuran sama dengan pohon di belakangnya dan seketika salah satu daun yang menggantung dari salah satu dahannya mengembang lalu mengeluarkan sebuah benda berupa ... tenda.
Ketika tenda itu jatuh ke tanah, tenda itu langsung mengembang dengan sendirinya. Alan, Luke, dan Will yang melihat hal itu pun masuk ke dalamnya untuk beristirahat.
"Wow." Luke berdecak kagum setelah melihat keadaan di dalam tenda.
Mungkin yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata tenda adalah sebuah tempat dengan ruang gerak yang kecil, tapi hal itu tidak berlaku pada tenda di negeri ini. Sekadar informasi, bahkan beberapa orang dewasa pun bisa tertampung di dalam tenda ini. Memang, dari luar tenda ini terlihat seperti tenda biasa, tapi di dalamnya, tersedia sebuah pemandangan layaknya sebuah kastil megah yang ditopang oleh pilar-pilar besar dengan langit-langit yang menyuguhkan pemandangan indah.
"Carilah posisi yang nyaman untuk kalian tidur. Kita akan melakukan sesuatu yang besar besok pagi," ujar Alan.
Luke tidak merespon, dia masih terpukau dengan kemegahan keadaan di dalam tenda ini. Bahkan, dia tidak bisa berhenti berdecak kagum meskipun hal seperti ini seharusnya adalah suatu hal yang biasa baginya, sedangkan Will sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya di salah satu sudut tenda yang telah tersedia sebuah ranjang nyaman untuknya tidur.
"Alan, apa menurutmu mereka tidak akan mengetahui keberadaan kita?" tanya Luke setelah akhirnya dia merebahkan tubuhnya di salah satu ranjang.
"Selama kita tidak membuat suatu kehebohan, mereka tidak akan tahu," jawab Alan.
"Apa kau yakin?" Luke memastikan.
"Ya, aku bisa menjamin hal itu."
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" timpal Will.
"Karena memang itulah yang seharusnya kita lakukan."
Luke dan Will saling beradu pandang. Dalam lubuk hati mereka, mereka tidak yakin dengan yang mereka lakukan ini. Namun entah dapat dorongan dari mana, mereka akhirnya mau melakukannya meskipun nyawa harus jadi taruhannya. Mereka tidak bisa membiarkan Alan berjuang sendiri, itulah yang sahabat lakukan untuk sahabatnya yang lain.
"Sudahlah, jangan terlalu mencemaskan hal itu. Tidurlah dan siapkan energi untuk besok," sambung Alan.
Luke dan Will saling memandang untuk terakhir kalinya yang terlihat seolah sedang meyakinkan diri mereka masing-masing bahwa tidak akan terjadi apa-apa selama mereka berada di sisi Alan sebelum akhirnya mereka tertidur.
****
Hari berikutnya adalah hari yang menegangkan bagi Luke dan Will, tapi tidak bagi Alan. Bahkan, dialah satu-satunya orang yang paling bersemangat dalam misi kali ini dengan bangun pagi-pagi sekali dan membangunkan mereka. Setelah selesai membersihkan tubuh mereka di sungai dan memakan beberapa makanan yang mereka dapatkan dari hutan, mereka akhirnya bergegas menuju pusat kota.
Mereka terbang di langit kota Alevandria yang didominasi oleh pemandangan atap-atap bangunan bergaya klasik dengan cat yang didominasi dengan warna cokelat dan bata sebagai bahan penopang bangunan-bangunan tersebut. Ketika mereka merasa sudah terbang ke pusat kota, mereka lantas mendaratkan Lukshan mereka di salah sudut jalan yang sepi agar tidak terlihat oleh siapa pun. Tidak masalah bagi mereka jika mereka tiba-tiba tertangkap basah oleh penduduk kota Alevandria, tapi masalah bagi mereka jika para penyihir jahat itu yang menangkap basah mereka sedang menguntit Matt dan penyihir jahat lainnya.
"Apa kau tahu di mana tempat mereka bersembunyi?" tanya Will ketika dia dan dua sahabatnya tengah berjalan di bahu jalan seraya menyamar untuk menghindari penyihir jahat incaran mereka.
"Aku tidak tahu."
"Lalu bagaimana kita akan mencari tahu rencana mereka?" tanya Will lagi.
"Aku ..." Alan menggantungkan kalimatnya. Benar juga, dia tidak punya informasi lain selain mereka yang sedang berada di kota ini untuk menyusun rencana penyerangan. Dia bahkan tidak tahu di mana tempat mereka berada sekarang.
"Kenapa kau diam, Alan?"
Alan menoleh ke arah Will. Jujur saja, tidak terpikirkan olehnya tentang hal yang satu ini. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin apa yang Will dan Luke katakan kemarin benar, mungkin tidak seharusnya mereka berada di sini.
"Bagaimana kalau kita menggunakan cermin penunjuk arah?" usul Luke yang sedari tadi diam.
"Cermin penunjuk arah?" ulang Alan.
"Bukankah cermin itu hanya bisa menunjukkan arah suatu tempat saja?" sela Will.
Luke mulai menjelaskan usulnya. "Ya, benar. Namun, kita bisa memanfaatkan mantera pendeteksi kekuatan jahat dengan cermin itu."
"Aku tidak mengerti. Bagaimana caranya?" Alan terlihat agak sedikit bingung dengan usul Luke.
"Biar kutunjukkan." Luke mengeluarkan tongkat sihirnya dari saku jubahnya kemudian mengayunkan sedikit tongkatnya di atas telapak tangannya yang kemudian muncullah sebuah cermin berukuran sedang dengan motif ukiran di pinggirnya.
Luke mengambil cermin itu lalu mengarahkannya tepat ke arah depan dan di saat yang bersamaan, dia berkata, "Dernossa Igrievandum."
Dia mengucapkan mantera tersebut bersamaan dengan diayunkannya tongkat sihir yang dipegangnya ke arah cermin di depannya hingga permukaan cermin tersebut tampak seperti membelah; sisi kiri berwarna putih yang berarti kekuatan baik dan sisi kanan berwarna hitam pekat yang berarti kekuatan jahat. Sisi kirilah yang saat ini mendominasi permukaan cermin yang dipegangnya tersebut.
"Ikuti aku," perintah Luke. Dia lalu kembali berjalan dengan cermin yang tetap dia pegang di tangannya.
Alan dan Will hanya mengikuti Luke dari belakang meskipun mereka masih agak sedikit tidak mengerti dengan apa yang Luke lakukan. Maksud mereka, bagaimana mungkin keberadaan seseorang dilacak hanya dengan menggunakan cermin?
Memang, mereka pernah mendengar kisah tentang cermin ajaib yang bisa membuat siapa pun mampu melakukan segala hal yang dia inginkan hanya dengan menggunakannya, tapi mungkinkah itu cermin ajaib yang melegenda itu?
"Apa mungkin cara ini akan berhasil?" tanya Will.
Alan mengendikkan bahunya. "Aku tidak tahu, tapi semoga saja berhasil."
Will hanya mengangguk paham dan kembali melanjutkan jalan.
Semakin lama, sisi kanan berwarna hitam pekat itu semakin melebar hingga hampir memenuhi setengah dari permukaan cermin tersebut. Dan permukaan cermin itu akhirnya benar-benar dipenuhi oleh warna hitam pekat yang berasal dari sisi kanan ketika mereka melewati sebuah bangunan tua dengan cat hitam dan sebuah pintu kayu. Mereka mundur untuk mengecek apakah benar permukaan cermin itu berubah menjadi hitam pekat ketika berada di depan bangunan tersebut. Voila!
Benar saja, bangunan yang terlihat seperti rumah bergaya arsitektur klasik—atau mungkin tua—itulah yang mereka cari!
"Pakai tudung kepala kalian, kita akan masuk ke dalam bangunan ini," perintah Luke lagi seraya menyimpan kembali cermin yang dipegangnya.
Alan dan Will hanya menurut. Mereka lantas perlahan membuka sebuah pintu kayu yang juga sudah tampak usang untuk masuk ke dalamnya. Ketika di dalam, mereka mendapati banyak sekali orang yang sedang berkumpul. Mereka semua berkumpul dengan mengelilingi sebuah meja kayu berbentuk persegi panjang seraya membahas sesuatu yang tidak Alan, Luke, maupun Will pahami. Dan yang lebih luar biasanya lagi adalah ... bangunan ini tampak lebih luas dari dalam daripada dari luar.
"Siapa mereka?" tanya Luke ketika dia dan dua sahabatnya sedang menguping dengan berdiri di dekat salah satu pot besar yang ditumbuhi sebuah tanaman yang tidak mereka kenali.
"Itu para penyihir jahat," jawab Alan.
Sekadar informasi, jubah yang mereka kenakan adalah jubah tembus pandang. Jadi meskipun mereka berdiri dari jarak yang sangat dekat dengan para penyihir jahat itu, mereka tidak akan bisa dilihat oleh siapa pun karena mereka telah mengenakan tudung kepala jubah mereka yang membuat tubuh mereka tembus pandang. Bahkan, suara mereka juga menjadi tembus pandang atau tidak bisa didengar orang lain selain mereka.
"Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka semua katakan, ayo kita mendekat," ujar Will.
"Kau benar, Will. Berhati-hatilah," sahut Alan yang setuju dengan ucapan Will tadi.
Mereka lalu mendekati meja yang dipakai para penyihir jahat
itu untuk bisa mendengar lebih jelas. Mereka berdiri tepat di belakang salah satu di antara mereka semua yang sedang berkumpul.
"Aku hampir berhasil mencuri benda itu jika saja tiga anak itu tidak datang. Mereka punya cukup banyak nyali untuk menghadangku."
"Aku masih tidak menyangka kau gagal hanya karena seorang anak kecil."
"Anak ini berbeda, dia punya kemampuan sihir yang sama dengan penyihir dewasa seperti kita. Anak ini jelas patut diperhitungkan."
"Tapi mau sehebat apa pun dia, dia tetaplah anak-anak."
"Benar, kau tidak boleh kalah melawannya."
"Ya, aku tidak akan membiarkan diriku kalah lagi melawan seorang anak kecil sepertinya. Dan ketika sudah tiba saatnya aku melancarkan aksiku, aku akan menghabisi anak itu."
"Kapan kau akan kembali melancarkan aksimu?"
"Besok malam, tepat pada pukul dua belas."
Rahang Alan seketika saja mengeras setelah mendengar percakapan mereka. Sebenarnya, dia tidak tahu siapa saja penyihir jahat yang berada di meja tersebut, tapi satu yang dia tahu: Matt ada di sana. Dan dia akan tetap berusaha untuk mencuri batu merah itu.
"Aku tidak mengerti dengan percakapan mereka, apa salah satu di antara kalian bisa menjelaskannya padaku?" Luke mengernyitkan alisnya. Dia tidak mengerti dengan apa yang para penyihir jahat itu bicarakan.
"Ayo kita keluar." Alan menjawab yang sebenarnya melenceng dari pertanyaan yang Luke lontarkan.
****
"Alan, apa yang terjadi padamu?! Kenapa tubuhmu penuh dengan luka seperti itu?!" seru Ibu panik saat mendapati Alan yang sedang dipapah oleh Luke berserta Will masuk ke dalam rumahnya.
Alan tersenyum meskipun wajahnya dipenuhi oleh darah. "Aku tidak apa-apa, Bu. Tidak usah khawatir."
"Bagaimana kau bisa baik-baik saja jika tubuhmu penuh dengan luka seperti itu?!" Ibu tidak bisa tenang ketika melihat kondisi sang anak yang terluka parah seperti itu.
Luke dan Will memapah Alan masuk ke dalam kamarnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aku baik-baik saja, Bu. Luka di wajahku ini hanyalah luka goresan biasa saja." Alan terus meyakinkan sang Ibu bahwa dia tidak apa-apa.
"Tidak, kau tidak baik-baik saja. Ibu akan memanggilkan Professor Goleth untuk menyembuhkanmu. Kau tenanglah di sini, jangan banyak bergerak."
Sebelum Alan sempat mencegah, sang Ibu pun sudah terlebih dahulu pergi ke luar kamarnya menuju laboratorium Professor Goleth untuk menyembuhkannya.
Jadi setelah Alan dan dua sahabatnya selesai menguping percakapan para penyihir jahat tersebut, mereka memutuskan untuk keluar dengan mengendap-endap agar para penyihir jahat itu tidak menyadari kehadiran mereka. Namun ketika mereka sudah hampir mencapai pintu keluar, Alan menabrak salah satu benda yang ada di sana dan sontak saja membuat kegaduhan yang membuat penyamaran mereka terbongkar dengan terbukanya jubah tembus pandang mereka.
Matt yang melihat Alan berada di hadapannya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; dia menyerang Alan dengan serangan bertubi-tubi. Luke dan Will berusaha untuk menangkis setiap serangan yang dia layangkan pada sahabat mereka, tapi mantera pertahanan yang mereka gunakan untuk menangkis serangannya justru berbalik pada mereka hingga membuat mereka terpental ke arah luar dan pingsan karena terbentur sesuatu yang tidak diketahui oleh mereka.
Alhasil Alan melawan Matt sendiri dengan kekuatan yang dia kuasai. Dia telah mengeluarkan semua mantera yang dia kuasai maupun sekadar asal menggunakan mantera apa pun yang terlintas di kepalanya saat itu. Duel sengit antara mereka pun tidak terelakkan lagi. Mereka mengeluarkan semua kemampuan yang mereka miliki untuk menjatuhkan satu sama lain. Amarah yang memenuhi diri Alan membuatnya semakin jadi dalam menyerang musuh mereka tersebut, mantera yang dikeluarkan pun akan menjadi senjata yang sangat kuat bagi mereka.
Pada akhir dari duel sengit mereka, Matt berhasil mengalahkan Alan yang sebelumnya memang sudah pernah dikalahkan olehnya. Alan lalu lagi-lagi dibawa ke rumahnya dalam keadaan terluka.
"Aku sudah berkata padamu bahwa usahamu melawan mereka itu sia-sia, tapi kau tidak mendengarkannya," ujar Max tiba-tiba seraya bersandar di kosen.
Semua orang yang berada di kamar Alan pun menoleh secara bersamaan.
"Apa maksudmu, Max?" tanya Alan.
Max melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sang Kakak. "Dengar Kak, sehebat apa pun dirimu, kau tetap tidak akan pernah bisa mengalahkan mereka."
"Bagaimana kau tahu?"
Max duduk di tepi ranjang sang Kakak. "Kau tidak perlu menanyakannya."
"Tapi aku ingin tahu."
"Tidak ada gunanya rasa keingintahuanmu itu." Max mengusap wajah sang Kakak seraya memejamkan matanya.
Alan bingung, dia tidak tahu apa yang sedang adiknya lakukan itu. Namun, dia tidak menolaknya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Max membuka matanya perlahan. "Rasakanlah wajahmu."
Alan tidak mengerti, tapi dia mengusap wajahnya dan merasakan luka goresan yang ada di wajahnya.
Tunggu.
Ini aneh.
Luka goresan yang tadi ada di wajahnya telah hilang dan rasa sakit yang dia rasakan tadi pun telah hilang.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Alan yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
"Kau tidak perlu tahu." Max bangkit dan bersiap untuk pergi.
"Dan jangan mencoba untuk melawan mereka lagi," sambung Max.
Alan tidak merespon hingga adiknya itu melangkahkan kakinya ke luar kamarnya. Namun saat adiknya berada di ambang pintu, dia kembali bertanya.
"Apa ada cara yang bisa kugunakan untuk mengalahkan mereka?"
Tanpa menoleh sedikit pun, Max menjawab, "Tidak ada dan lupakanlah ambisimu itu."
To be continued ...
Comments
Post a Comment