Negeri Penyihir
Genre: Fantasi
Penulis: Muhammad Rizaldi
BAB 4 ...
Sebelum malam hari tiba, Alan dan dua sahabatnya menyempatkan diri untuk berlatih di pusat pelatihan melawan sihir jahat yang berada di salah satu kastil utama yang berukuran sangat besar serta luas dan berada di pusat kota. Mereka belajar serta berlatih beberapa trik baru, seperti trik menangkis sihir jahat, trik menghilang, dan beberapa trik lainnya. Selain belajar beberapa trik baru, mereka juga mengasah trik lama yang sudah mereka kuasai. Dengan berlatih seperti ini, mereka sudah siap untuk melawan sekelompok penyihir jahat yang diramalkan akan datang ke negeri ini untuk mencuri sebuah batu merah dari dalam sebuah menara malam ini.
"Hei, di mana kotak makan siang yang diberikan Ibuku?!" seru Luke panik saat dia mendapati kotak makan siang yang diberikan sang Ibu padanya ketika mereka sedang beristirahat setelah berlatih hampir selama satu jam.
Satu fakta baru tentang Luke: dia sangat menyayangi Ibunya. Dia sangat menuruti setiap apa yang Ibunya katakan atau perintahkan padanya, dia bahkan rela melakukan apa pun demi sang Ibu. Dia juga terkenal sebagai orang yang sensitif dan agak temperamental jika sudah membahas Ibu. Pernah suatu ketika ada sebuah mantera sihir jahat yang menimpa sang Ibu hingga sakit yang membuatnya hanya bisa terbaring lemas di ranjang dan bahkan untuk makan saja pun tidak bisa. Ketika dia mengetahui siapa yang melakukan itu pada Ibunya, dia menjadi sangat marah dan tidak terlihat seperti Luke yang selalu ceria. Sejak saat itulah dia terkadang menjadi sangat protektif pada sang Ibu meskipun Ibunya selalu berkata bahwa beliau bisa menjaga dirinya sendiri tanpa dilindungi olehnya.
"Di mana terakhir kali kau meletakkan kotak makan siangmu?" Will bertanya.
"Aku meletakkannya di sini," jawab Luke seraya menunjuk ke arah kursi kayu yang tadi dia duduki.
"Lalu kenapa sekarang tidak ada?"
"Aku juga tidak tahu, Will."
Luke panik, dia bergerak dengan gelisah seraya menggigiti jarinya dan berpikir ke mana kiranya kotak makan siangnya menghilang. Dia mengedar pandang ke sekelilingnya yang menyuguhkan pemandangan banyaknya penyihir muda yang sedang berlatih, seperti sepasang penyihir muda yang sedang berlatih anggar atau seorang penyihir muda yang sedang berlatih menggunakan trik sihir menghilangkan pantulan bayangan di dalam cermin. Namun ke mana pun dia memandang, dia tidak bisa menemukan kotak makan siangnya. Dia hampir putus asa saat sekelompok penyihir muda yang beranggotakan tiga orang dengan satu pemuda berkulit kekuningan, bertubuh tinggi dan agak kurus serta berambut pirang yang berdiri di tengah antara dua temannya yang bertubuh tambun.
Luke mengenal pemuda di tengah itu dan dia berjalan ke arahnya!
"Halo, Luke," sapa pemuda berambut pirang itu seraya memasang ekspresi angkuh.
"Jacob, sedang apa kau di sini?" tanya Luke.
"Oh, rupanya kau masih mengenalku. Sedang apa aku di sini? Sama sepertimu dan penyihir muda lainnya." pemuda yang ternyata bernama Jacob itu berjalan memutari tubuh Luke seraya menatapnya dari atas hingga ke bawah seakan sedang menilai penampilannya.
"Oh, aku tidak menyangka kau mau berlatih juga. Aku kira kau hanya bisa berlindung di bawah ketiak Ayahmu saja," sarkas Luke seraya mendelik penuh kebencian padanya.
Jacob berniat untuk memukul Luke atas apa yang dia baru saja ucapkan, tapi kemudian dia urungkan. Dia mengelus pipi Luke seraya berkata, "Dan aku juga menyangka kau mampu berlatih di sini. Aku kira kau juga hanya bisa berlindung di bawah ketiak Ibumu saja."
Amarah Luke seketika saja memuncak saat Jacob membawa-bawa Ibunya. Dia tidak suka jika seseorang melibatkan Ibunya atas apa yang dia perbuat. Dia sudah di luar kendali dan akan memukul wajah Jacob yang kontan dicegah oleh Alan dan Will yang bergerak dengan sigap. Mereka menahan Luke agar dia tidak lepas kendali.
"Oh, lihatlah. Ada yang membela Ibunya hahaha ...," ejek Jacob yang kemudian disusul oleh gelak tawa dua temannya yang bertubuh tambun. Sontak saja itu membuat amarah Luke kembali memuncak.
Luke kembali berniat untuk memukul wajah tampan Jacob dengan satu pukulan kerasnya, tapi Alan dan Will lagi-lagi mencegah kemudian menahannya.
"Jacob, kau pergilah. Jangan ganggu kami," ujar Alan yang berusaha memisahkan Luke dengan Jacob agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.
"Apa urusanmu mengusir kami? Kau tidak berhak mengusir kami." Jacob tidak mengindahkan ucapan Alan.
"Jacob, pergilah atau aku akan membuatmu menyesal karena telah mengganggu kami," ancam Will.
Jacob mendelik tajam pada Will. "Baiklah, aku pergi. Aku tidak mau membuang waktuku bersama penyihir kasar seperti kalian."
Dia memberi kial pada dua teman bertubuh tambunnya untuk pergi dari tempat Alan, Luke, dan Will berada.
"Kali ini kau selamat, Jacob. Aku akan menghajarmu lain kali!" teriak Luke saat Jacob sudah agak jauh darinya.
Jacob menoleh, tapi kemudian Will memelotot padanya yang membuatnya takut dan kembali berbalik lalu benar-benar pergi meninggalkan mereka.
"Tenangkan dirimu, Luke," ucap Alan yang berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Luke hanya mengangguk kemudian kembali duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu dan kebetulan dia duduki tadi. Dia bahkan juga melupakan kotak makan siangnya yang hilang.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Alan.
"Ya." Luke mengangguk.
"Baiklah."
Sekadar informasi, Jacob atau yang memiliki nama lengkap Jacob Kiertlavaant itu adalah salah satu teman Luke yang entah bagaimana mereka bisa saling mengenal. Hubungan mereka tercatat tidak pernah akur, mereka selalu saja bertengkar setiap ada kesempatan. Luke sangat membenci Jacob, begitu pun sebaliknya. Itulah sebabnya kenapa mereka selalu saja bertengkar, bahkan jika hanya disebabkan oleh masalah yang bisa dibilang sepele.
Tidak ada yang tahu penyebab kenapa mereka bisa saling membenci, tapi Jacob adalah orang yang begitu menyebalkan dan menjengkelkan bagi Luke. Begitu pun sebaliknya. Memang, agak tidak rasional rasanya menyebut mereka sebagai teman jika melihat fakta yang ada.
Alan berdiri dari posisi duduknya. "Ayo kita lanjut latihan lagi."
Luke dan Will mendongak secara bersamaan kemudian beranjak dari kursi yang mereka duduki setelah mendengar ajakan Alan.
****
Alan, Luke, dan Will sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi malam ini. Mereka mengenakan jubah hitam panjang dengan topi berbentuk kerucut yang juga berwarna hitam khas para penyihir dan bersiap untuk pergi menggunakan Lukshan mereka masing-masing. Mereka memulainya dari rumah Alan. Louisa, Ibu Alan, sempat mencegah mereka untuk pergi karena dia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Namun setelah mereka berhasil menjelaskan dan meyakinkannya, akhirnya dia mengizinkan anak dan dua temannya pergi malam ini.
"Jaga dirimu, Nak. Jangan buat Ibumu khawatir, Ibu akan selalu menunggumu dan berharap yang terbaik untukmu," tambah Ibu sebelum mereka pergi.
"Baik, Ibu. Aku janji akan kembali setelah semua urusanku selesai," balas Alan seraya memeluk Ibunya erat sebelum dia benar-benar pergi.
Mereka terbang dengan Lukshan mereka masing-masing di langit malam yang gelap ini dan hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang tampak sangat besar dari atas sini. Mereka berjaga di atas langit Negeri Maddegoert seraya mengawasi setiap pergerakan yang mungkin saja terjadi dan membentengi diri mereka sendiri dengan menggenggam erat tongkat mereka masing-masing di tangan mereka.
Satu jam mereka menunggu ...
Dua jam mereka menunggu ...
Tiga jam mereka menunggu hingga Luke mulai bosan ...
"Tidak ada apa pun yang terjadi. Kita pulang saja, yuk?" ajak Luke yang sudah mulai dilanda rasa bosan.
Will menguap. "Benar, aku juga sudah mulai mengantuk."
"Tunggulah sebentar lagi, Teman-teman. Aku yakin mereka akan muncul takkan lama lagi," cegah Alan.
Luke membelokkan Lukshannya dan bersiap untuk pergi. "Baiklah, kalian menunggu saja di sini. Aku mau pulang. Beritahu aku jika kalian berhasil menggagalkan rencana mereka."
"Jangan pergi, Luke. Tinggallah beberapa saat lagi."
"Aku sudah bosan, Alan. Tidak ada gunanya kita menunggu di atas sini."
"Luke, kumohon. Tinggallah sebentar. Bukankah kita sahabat?" pelas Alan.
Sementara Luke dan Alan sedang berdebat, Will tampak galau menyaksikan perdebatan antara dua sahabatnya itu. Di satu sisi dia setuju dengan Luke karena dia sendiri pun sudah mulai mengantuk, tapi di sisi lain dia tidak bisa meninggalkan Alan begitu saja. Sendirian. Dia tidak tahu harus membela siapa, dia juga tidak tahu harus mendukung siapa.
Luke bergeming. Dia tetap dipenuhi oleh egonya.
"Luke." Alan kembali memelas.
Oh, Luke benci jika Alan sudah memelas seperti itu. Dia selalu tahu bagaimana cara meluluhkan egonya.
"Baiklah, baiklah. Aku tinggal," kata Luke akhirnya.
Seulas senyum kontan mengembang di wajah Alan dan mereka pun kembali melanjutkan aktivitas mereka: berjaga sekaligus mengawasi setiap pergerakan yang mungkin saja terjadi dari atas sini.
...
...
...
Sudah hampir satu jam mereka menunggu, tapi tidak ada satu pun pergerakan signifikan yang berhasil mereka tangkap. Hari sudah semakin larut, angin pun berembus semakin kencang.
"Alan, mungkinkah Paman Grigori membohongi kita?" gumam Luke di tengah kesunyian malam.
Alan menoleh. "Aku rasa Paman Grigori tidak mungkin melakukan itu."
"Tapi tidak ada pergerakan apa pun yang terlihat sedari tadi, Alan. Apakah ramalan Paman Grigori meleset?" timpal Will.
"Aku memang tidak terlalu paham dengan hal ramalan seperti itu, tapi aku tahu Paman Grigori tidak mungkin membohongi kita." Alan tetap meragukan semua yang sahabat-sahabatnya katakan. Bukannya dia menjadi sahabat durhaka karena tidak memercayai perkataan perkataan sahabatnya sendiri, tapi kecil kemungkinannya untuk perkataan mereka terbukti benar.
Mereka semua bergeming, tidak ada lagi yang melanjutkan obrolan. Suara burung gagak yang terdengar saling bersahutan pun mulai terdengar di tengah kesunyian malam.
Apakah Paman Grigori memang membohongi kami? batin Alan.
Pada saat tengah malam, tiba-tiba saja Alan melihat secercah cahaya putih dari dalam hutan. Dia lalu bergegas bergerak menuju hutan tersebut; dia terbang menurun dan melakukan gerakan menukik tajam.
Luke dan Will yang melihat hal tersebut pun sontak menyusul sahabat mereka itu.
"Kalian tertangkap. Berhenti di tempat atau aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada kalian!" Alan menodongkan tingkat sihirnya pada tiga orang penyihir yang mengenakan jubah hitam dengan tudung kepala yang menutupi seluruh wajah mereka di depannya itu. Dia lalu perlahan melangkah maju.
Salah satu penyihir yang berdiri di tengah itu pun perlahan melepaskan tudung kepalanya yang menampilkan wajah seorang pria dewasa yang diperkirakan berumur sekitar 30 tahun dengan berewok tipis yang menghiasi wajahnya. Sorot matanya tajam yang seakan siap menikam siapa pun hanya dengan menatapnya dan sebuah seringaian menyeramkan terlukis di wajahnya. Dia perlahan melangkahkan kakinya maju mendekati Alan.
Dengan refleks, Alan lalu melangkah mundur.
"Apa yang akan kau lakukan pada kami, Anak muda? Menyihir kami? Silakan saja. Lakukanlah, kami ingin melihat seberapa hebat kemampuan sihirmu." pria itu menggoreskan salah satu kuku tajamnya pada pipi Alan dan berjalan memutari tubuhnya.
Luke dan Will yang berada tidak jauh dari Alan pun hanya bisa diam terpaku dengan wajah pucat serta tidak tahu harus melakukan apa.
"Siapa sebenarnya kalian dan apa yang kalian inginkan dari negeri kami?!" hardik Alan.
"Siapa kami? Perkenalkan, namaku Matt. Dua orang di sana itu Jake dan Alvis. Apa yang kami inginkan dari negeri ini? Sederhana saja: batu merah di dalam menara itu." pria yang ternyata bernama Matt itu menunjuk ke arah menara dengan tetap menyeringai.
"Kenapa kalian ingin mencuri batu merah itu?!"
"Oh, mencuri itu terlalu kasar. Kami hanya ingin meminjam batu merah itu sebentar saja. Setelah kami mendapatkan apa yang sudah menjadi tujuan kami, kami akan segera mengembalikannya."
"Apa kalian juga yang merusak kebun Siernartha dan mencemari sungai Arkintha?!"
"Kau terlalu banyak tanya, tapi kami senang karena kau cukup pintar untuk menyadari hal itu." Matt kembali menggoreskan salah satu kuku tajamnya pada pipi Alan.
"Apa?!"
"Tidak usah terkejut seperti itu karena itu bukanlah hal terbaik yang pernah kami lakukan. Jadi, kau, dua temanmu di sana, dan seluruh penduduk negeri ini beruntung karena kami tidak melakukan yang jauh lebih buruk dari itu semua." Matt menyeringai.
Alan sudah tidak tahan lagi, amarah sudah memenuhi dirinya. Dia memejamkan matanya kemudian mengucapkan salah satu mantera yang sudah dia pelajari, "Karneithalo Rivikatha."
Matt terpental cukup jauh hingga mengenai Jake dan Alvis yang berdiri di belakangnya. Namun kemudian, dia bangkit, menepuk-nepuk bokongnya terlebih dulu, merapikan rambutnya yang menutupi sebelah matanya, lalu berjalan mendekati Alan.
"Lumayan juga kemampuanmu. Mau berduel?" tantang Matt yang kini sudah mengambil ancang-ancang.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan." Alan menerima tantangan Matt.
Duel sengit antara Alan dan Matt pun tak terelakkan lagi. Mereka memamerkan kemampuan sihir mereka masing-masing hingga membuat terhubungnya koneksi yang tercipta dari tongkat sihir mereka yang sangat kuat. Cahaya yang terpancar dari koneksi sihir yang mereka ciptakan benar-benar terang, bahkan mungkin bisa terlihat dari jarak beberapa ratus kilometer dari tempat mereka berdiri.
Kuatnya kekuatan koneksi yang tercipta dari tongkat sihir mereka membuat mereka hampir saja kewalahan dalam menahannya, tapi mereka tetap menjaga agar koneksi tersebut tetap terhubung. Walau memang, Alan berharap Matt menyerah dan tidak bisa menahannya lagi.
Bagaimana dengan Luke dan Will?
Mereka tetap pada posisi mereka: diam terpaku seraya menyaksikan duel sengit antara sahabat mereka dengan seorang penyihir jahat yang berniat ingi. mencuri serta mengawasi Jake dan Alvis yang gerak-geriknya sedari tadi tampak mencurigakan. Mereka sudah siap jika tiba-tiba dua penyihir jahat pencuri lainnya itu menyerang mereka atau membantu teman mereka yang kini tengah berduel dengan Alan.
Duel sengit antara Alan dan Matt ternyata tidak berlangsung lama karena setelah beberapa menit mereka saling menyerang, kekuatan Alan mulai melemah dengan Matt yang terus menyerangnya tiada henti. Ketika mengetahui bahwa Alan sudah mulai kehilangan keseimbangannya, Matt kembali menyeringai mengerikan. Mungkin memang terlalu berlebihan jika disebut mengerikan, tapi jika kalian melihat seringaian yang menampilkan barisan gigi putih dengan senyuman yang mengintimidasi itu, kalian pasti akan setuju dengan kalimat tadi.
Luke dan Will pun sudah mulai berjaga jika sewaktu-waktu Alan tumbang. Dan oh, tidak perlu waktu lama lagi karena ... dengan sekali entakkan, tubuh Alan terpental cukup jauh hingga tubuhnya terbentur pohon di belakangnya. Kontan saja kesadarannya perlahan menghilang, pandangannya mengabur, kepalanya pusing, dan napas yang tidak teratur. Samar-samar dia bisa melihat bayangan sosok Luke, Will, dan sang Ayah tengah berdiri di depannya. Namun ...
"Alan, kau baik-baik saja?"
"Apa kau baik-baik saja, Nak? Sadarlah, Ayah di sini."
"Alan?"
...
...
...
... semuanya berubah menjadi gelap.
****
"Ennnngghh...," lenguh Alan seraya mencoba untuk membuka matanya perlahan. Dia mengerjapkan matanya untuk membiasakan matanya terhadap cahaya yang mencoba masuk ke dalamnya.
Dia memang belum sadar secara utuh, tapi dia bisa lihat ada beberapa orang yang berkumpul di kamarnya, seperti Luke, Will, Ayah, dan Ibunya dengan wajah cemas. Dia tidak melihat Max di mana pun.
"Akhirnya kau sadar juga," gumam Luke setelah sadar bahwa Alan sudah sadar.
Sang Ibu langsung menghampirinya, duduk di tepi ranjangnya, dan mengelus rambutnya lembut. "Kami semua mencemaskanmu, Nak."
"Aku baik-baik saja, Bu, Yah, Semuanya," jelas Alan.
"Iya, Nak. Ibu sangat bersyukur kau baik-baik saja." Alan bisa melihat kekhawatiran dari tatapan sang Ibu.
Alan tersenyum untuk meyakinkan Ibunya bahwa dia memang baik-baik saja meskipun kepalanya masih agak sedikit pusing.
"Kenapa kau membahayakan nyawamu dengan melawan mereka, Nak?" tanya Ayah.
Alan mengalihkan pandangannya ke arah sang Ayah. "Mereka ingin mencuri sesuatu dari negeri ini, Yah. Aku tidak bisa membiarkan mereka melakukannya."
"Tapi kau bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya, Nak."
"Aku sudah melakukannya, Yah; aku sudah memberitahumu tentang masalah itu, tapi Ayah tidak memercayaiku."
Jadi setelah Alan terpental, Rivinthola, Ayah Alan, dan beberapa orang dari Kementrian Sihir datang untuk membantunya mengalahkan Matt beserta dua temannya yang berniat ingin mencuri sesuatu dari negeri ini. Namun ketika mereka tiba, para penyihir jahat itu sudah lenyap. Pun mereka kehilangan jejak para penyihir jahat tersebut.
Siapa yang memberitahu mereka? Will.
Dia memberitahu mereka, terutama Ayah Alan, melalui sebuah surat yang dikirimkan oleh burung hantu peliharaannya secara diam-diam saat dia melihat serangan Alan mulai melemah dan tampak akan kehilangan keseimbangannya.
Mereka membawa Alan kembali ke rumah dan diberi beberapa obat untuk mengembalikan kesadarannya maupun mengurangi pengaruh sihir jahat yang mungkin saja dipancarkan oleh para penyihir jahat tersebut. Sebelum mereka pergi, beberapa orang dari Kementrian Sihir juga tidak lupa untuk menetralkan keadaan sekitar tempat duel sengit antara Alan dan Matt terjadi.
"Maafkan Ayah, Nak. Jika saja Ayah percaya padamu, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi," sesal Ayah.
Alan tersenyum untuk membuat sang Ayah tidak menyesali apa yang sudah terjadi padanya. "Tidak apa-apa, Yah. Mungkin memang sudah seharusnya ini semua terjadi."
Ayah tidak merespon, dia hanya tersenyum kecil pada Alan.
"Kami sangat senang kau sudah kembali sadar. Kami sempat khawatir ketika melihatmu berduel dengan mereka dan kekhawatiran kami ternyata benar. Kau beruntung, Alan," ujar Will.
Alan mengalihkan pandangannya ke arah dua sahabatnya yang berdiri di samping sang Ayah. Wajah mereka tidak kalah khawatirnya dengan kedua orangtuanya. "Terima kasih karena kalian telah mengkhawatirkanku."
"Apa kau bercanda? Pastinya kami akan mengkhawatirkanmu karena kami adalah sahabatmu. Apa mereka membuat ingatanmu melemah dan melupakan persahabatan kita?" celetuk Luke.
Alan sedikit tergelak mendengar ucapan salah satu sahabatnya itu. "Aku tidak mungkin melupakan sahabat sebaik kalian."
Luke dan Will hanya tersenyum lebar mendengar jawaban Alan. Mereka sangat senang. Pun Ayah dan Ibu tertawa melihat kedekatan anaknya dengan dua sahabatnya.
"Ohya, Max di mana, Bu?" tanya Alan ketika dia kembali teringat bahwa hanya adiknya itulah yang tidak ada di dalam kamarnya.
"Seperti biasa, dia ada di bukit belakang, Nak," jawab Ibu.
"Bukit belakang?" ulang Alan.
****
Alan berjalan dengan sedikit tertatih-tatih menyusuri rerumputan hijau di antara pepohonan rindang yang menjulang tinggi di sekitarnya. Keadaannya tidak memungkinkan dirinya untuk menggunakan Lukshan miliknya. Jika dia memaksa, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi pada kakinya.
Setelah berjalan melewati beberapa pohon rindang, dia menemukan Max sedang duduk di tepi sebuah jurang yang di depannya terhampar pemandangan Negeri Maddegoert secara utuh yang bisa dilihat dari bukit belakang rumahnya ini. Dia lantas menghampirinya.
"Aku dengar kau baru saja melawan salah seorang penyihir jahat yang berniat untuk mencuri sebuah benda dari negeri ini. Apa itu benar?" serang Max yang entah bagaimana caranya bisa mengetahui kehadirannya meskipun dia sudah berjalan sepelan mungkin dan berusaha tidak menimbulkan suara sekecil pun.
Alan lalu duduk di sebelah sang Adik. "Ya, itu benar."
"Kenapa kau bodoh sekali? Untuk apa kau melakukan itu? Biarkan saja mereka mengambilnya."
Alan menoleh, dia tidak percaya dengan pertanyaan adiknya yang baru saja dilontarkannya. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambilnya, Max. Benda itu sangat berharga bagi negeri kita. Apa kau tahu itu?"
"Apa pentingnya benda itu bagimu, Kak? Itu hanya sebuah benda."
"Kau tidak mengerti dengan alasanku melawan mereka, Max. Kau tidak mengerti."
"Apa yang tidak kumengerti dari yang kau mengerti?"
"Semuanya."
Max berdiri. "Ya, baiklah. Aku kesepian, aku tidak punya teman, aku tidak mengerti apa pun. Sedangkan kau? Kau punya banyak teman, kau cerdik, kau mengerti banyak hal. Hidupmu sempurna. Bahkan, jauh lebih sempurna dari hidup adikmu yang menyedihkan ini."
"Max, tunggu," Alan menahan tangan Max agar dia tidak bisa pergi ke mana pun. "bukan begitu maksudku. Kau salah paham dengan kata-kataku. Maksudku adalah—"
Max mengentakkan tangan sang Kakak dan memotong ucapannya yang membuat Alan terkejut dengan apa yang baru saja adiknya lakukan. "Sudahlah, tidak perlu bersikap seperti itu. Kau pergilah dan berkumpul bersama teman-temanmu itu."
Bahkan, Max memberi penekanan pada kata 'teman-teman' yang dia ucapkan.
Dia berlalu, menghampiri Soelvant peliharaannya kemudiak menungganginya, dan mengisyaratkan padanya untuk pergi.
Dengan sigap, Alan bergegas mengejar adiknya itu. Tidak, dia tidak akan menggunakan Lukshan miliknya karena dia meninggalkannya di rumah. Dia memeriksa sekitarnya untuk mencari apakah ada benda yang bisa dia gunakan untuk mengejar sang Adik. Dia menemukannya; sebuah ranting pohon yang berukuran cukup panjang serta tebal dan terlihat seperti Lukshan miliknya. Dia lalu mengarahkan tongkat sihirnya pada ranting itu kemudian mengucapkan sebuah mantera yang membuat ranting itu dengan seketika bisa melayang di udara. Dia bersyukur karena dia telah mempelajari mantera menghidupkan—atau setidaknya, membuatnya melayang—sebuah benda mati sebelumnya.
Max tidak mengetahui bahwa sang Kakak mengejarnya pada awalnya, tapi saat Alan memanggil namanya dan menyuruh berhenti, seketika saja dia sadar bahwa dia sedang diikuti. Dia juga bahkan menambah kecepatan terbang Soelvant yang dia tunggangi agar Kakaknya tidak berhasil mengejarnya atau mencapainya.
Namun, tentu saja, Alan tidak akan membiarkan Max pergk begitu saja. Dia bermanuver dengan sangat kencang, meliuk-liuk di antara celah pohon yang dia lewati, terbang rendah kemudian kembali tinggi saat dia melewati lembah, dan sedikit mengurangi kecepatan kendaraan yang dia gunakan ketika ada sekelompok burung yang terbang untuk bermigrasi atau pergi ke tempat yang lebih lembap saat tempat asal mereka dilanda musim dingin.
"Max, kumohon berhentilah. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu!" teriak Alan yang tentu saja sia-sia karena Max tidak bisa mendengar teriakannya.
Mereka sudah terbang sangat jauh dari rumah mereka, tapi Alan tidak peduli. Dia hanya ingin Max tidak salah paham dengan kata-katanya tadi saja, dia ingin menjelaskannya agar dia tidak salah paham.
Setelah terbang sangat jauh, Max akhirnya berhenti saat dia sadar bahwa dia terbang ke salah satu gunung terlarang dari jajaran pegunungan yang menutupi negeri mereka dan tidak seharusnya dia datangi. Dia ingin memutar balik untuk kembali terbang menjauh, tapi terlambat, Alan sudah berjarak cukup dekat dengan dirinya yang membuatnya refleks terbang memasuki kawasan gunung terlarang tersebut. Entah karena tingginya pepohonan yang berada di kaki gunung ini atau apa, tapi tiba-tiba saja Lukshannya kehilangan keseimbangan dan membuatnya jatuh tergelincir ke sebuah jurang curam.
"Aaaarrrrggghh!" teriak Max saat tubuhnya jatuh terperosok bersama Soelvantnya.
Jurang ini benar-benar curam dengan medan yang tidak pernah dibayangkan oleh Max sebelumnya. Warna pakaian yang dikenakannya telah berubah menjadi tampak menyatu dengan tanah di sekelilingnya karena jatuhnya dia ke jurang tersebut. Dia tidak bisa melakukan apa pun selain teriak dan pasrah bahwa dia akan segera mati.
Jika ini adalah akhir dari hidupku, maka aku tidak akan menyesalinya, batin Max.
Dia menutup matanya dengan tetap merasakan tubuhnya jatuh lebih dalam dan ...
...
...
Apa dia sudah mati?
...
...
Apa dia sudah tidak bernyawa?
...
...
"Max?"
"..."
"Max?"
"..."
"Max, ini aku! Buka matamu!"
Max menuruti suara bisikan yang dia asumsikan sebagai suara bisikan kematian dirinya itu meskipun dia merasa seperti mengenal suara tersebut. Ketika dia sudah membuka matanya sempurna, dia mendapati Alan sedang berdiri di hadapannya dengan wajah panik. Apa yang terjadi?
"Ennggh," lenguh Max seraya berusaha bangkit.
Alan kontan membantu adiknya itu untuk bangkit. Kini dia bisa bernapas lega karena ternyata adiknya tidak apa-apa dan tidak terkuka sedikit pun. Dia tidak tahu bagaimana jadinya jika dia kehilangan adiknya itu, dia tidak bisa membayangkannya sama sekali. Terlalu mengerikan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Alan.
"Aku baik-baik saja. Apa kau yang menyelamatkanku?"
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun."
Max berdiri yang kemudian disusul oleh Alan. "Kenapa kau menyelamatkanku?"
"Apa? Apa kau bercanda?" Alan yakin telinganya tidak mengalami masalah apa pun, tapi apa yang baru saja didengarnya benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Jawab aku," tuntut Max dengan raut wajah serius.
"Karena kau adalah adikku."
Max diam, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Datar. Alan tidak tahu apa yang terjadi pada adiknya itu, tapi dia menunggu adiknya untuk kembali merespon.
"Kau tidak seharusnya melakukan itu." Max berlalu, berjalan ke dalam hutan meninggalkan sang Kakak sendiri yang masih berdiri di tepi jurang tempat jatuhnya tadi. Dia lalu menghilang di balik sebuah pohon besar.
Max, kenapa kau jadi seperti ini? batin Alan.
To be continued ...
Penulis: Muhammad Rizaldi
BAB 4 ...
Sebelum malam hari tiba, Alan dan dua sahabatnya menyempatkan diri untuk berlatih di pusat pelatihan melawan sihir jahat yang berada di salah satu kastil utama yang berukuran sangat besar serta luas dan berada di pusat kota. Mereka belajar serta berlatih beberapa trik baru, seperti trik menangkis sihir jahat, trik menghilang, dan beberapa trik lainnya. Selain belajar beberapa trik baru, mereka juga mengasah trik lama yang sudah mereka kuasai. Dengan berlatih seperti ini, mereka sudah siap untuk melawan sekelompok penyihir jahat yang diramalkan akan datang ke negeri ini untuk mencuri sebuah batu merah dari dalam sebuah menara malam ini.
"Hei, di mana kotak makan siang yang diberikan Ibuku?!" seru Luke panik saat dia mendapati kotak makan siang yang diberikan sang Ibu padanya ketika mereka sedang beristirahat setelah berlatih hampir selama satu jam.
Satu fakta baru tentang Luke: dia sangat menyayangi Ibunya. Dia sangat menuruti setiap apa yang Ibunya katakan atau perintahkan padanya, dia bahkan rela melakukan apa pun demi sang Ibu. Dia juga terkenal sebagai orang yang sensitif dan agak temperamental jika sudah membahas Ibu. Pernah suatu ketika ada sebuah mantera sihir jahat yang menimpa sang Ibu hingga sakit yang membuatnya hanya bisa terbaring lemas di ranjang dan bahkan untuk makan saja pun tidak bisa. Ketika dia mengetahui siapa yang melakukan itu pada Ibunya, dia menjadi sangat marah dan tidak terlihat seperti Luke yang selalu ceria. Sejak saat itulah dia terkadang menjadi sangat protektif pada sang Ibu meskipun Ibunya selalu berkata bahwa beliau bisa menjaga dirinya sendiri tanpa dilindungi olehnya.
"Di mana terakhir kali kau meletakkan kotak makan siangmu?" Will bertanya.
"Aku meletakkannya di sini," jawab Luke seraya menunjuk ke arah kursi kayu yang tadi dia duduki.
"Lalu kenapa sekarang tidak ada?"
"Aku juga tidak tahu, Will."
Luke panik, dia bergerak dengan gelisah seraya menggigiti jarinya dan berpikir ke mana kiranya kotak makan siangnya menghilang. Dia mengedar pandang ke sekelilingnya yang menyuguhkan pemandangan banyaknya penyihir muda yang sedang berlatih, seperti sepasang penyihir muda yang sedang berlatih anggar atau seorang penyihir muda yang sedang berlatih menggunakan trik sihir menghilangkan pantulan bayangan di dalam cermin. Namun ke mana pun dia memandang, dia tidak bisa menemukan kotak makan siangnya. Dia hampir putus asa saat sekelompok penyihir muda yang beranggotakan tiga orang dengan satu pemuda berkulit kekuningan, bertubuh tinggi dan agak kurus serta berambut pirang yang berdiri di tengah antara dua temannya yang bertubuh tambun.
Luke mengenal pemuda di tengah itu dan dia berjalan ke arahnya!
"Halo, Luke," sapa pemuda berambut pirang itu seraya memasang ekspresi angkuh.
"Jacob, sedang apa kau di sini?" tanya Luke.
"Oh, rupanya kau masih mengenalku. Sedang apa aku di sini? Sama sepertimu dan penyihir muda lainnya." pemuda yang ternyata bernama Jacob itu berjalan memutari tubuh Luke seraya menatapnya dari atas hingga ke bawah seakan sedang menilai penampilannya.
"Oh, aku tidak menyangka kau mau berlatih juga. Aku kira kau hanya bisa berlindung di bawah ketiak Ayahmu saja," sarkas Luke seraya mendelik penuh kebencian padanya.
Jacob berniat untuk memukul Luke atas apa yang dia baru saja ucapkan, tapi kemudian dia urungkan. Dia mengelus pipi Luke seraya berkata, "Dan aku juga menyangka kau mampu berlatih di sini. Aku kira kau juga hanya bisa berlindung di bawah ketiak Ibumu saja."
Amarah Luke seketika saja memuncak saat Jacob membawa-bawa Ibunya. Dia tidak suka jika seseorang melibatkan Ibunya atas apa yang dia perbuat. Dia sudah di luar kendali dan akan memukul wajah Jacob yang kontan dicegah oleh Alan dan Will yang bergerak dengan sigap. Mereka menahan Luke agar dia tidak lepas kendali.
"Oh, lihatlah. Ada yang membela Ibunya hahaha ...," ejek Jacob yang kemudian disusul oleh gelak tawa dua temannya yang bertubuh tambun. Sontak saja itu membuat amarah Luke kembali memuncak.
Luke kembali berniat untuk memukul wajah tampan Jacob dengan satu pukulan kerasnya, tapi Alan dan Will lagi-lagi mencegah kemudian menahannya.
"Jacob, kau pergilah. Jangan ganggu kami," ujar Alan yang berusaha memisahkan Luke dengan Jacob agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.
"Apa urusanmu mengusir kami? Kau tidak berhak mengusir kami." Jacob tidak mengindahkan ucapan Alan.
"Jacob, pergilah atau aku akan membuatmu menyesal karena telah mengganggu kami," ancam Will.
Jacob mendelik tajam pada Will. "Baiklah, aku pergi. Aku tidak mau membuang waktuku bersama penyihir kasar seperti kalian."
Dia memberi kial pada dua teman bertubuh tambunnya untuk pergi dari tempat Alan, Luke, dan Will berada.
"Kali ini kau selamat, Jacob. Aku akan menghajarmu lain kali!" teriak Luke saat Jacob sudah agak jauh darinya.
Jacob menoleh, tapi kemudian Will memelotot padanya yang membuatnya takut dan kembali berbalik lalu benar-benar pergi meninggalkan mereka.
"Tenangkan dirimu, Luke," ucap Alan yang berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Luke hanya mengangguk kemudian kembali duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu dan kebetulan dia duduki tadi. Dia bahkan juga melupakan kotak makan siangnya yang hilang.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Alan.
"Ya." Luke mengangguk.
"Baiklah."
Sekadar informasi, Jacob atau yang memiliki nama lengkap Jacob Kiertlavaant itu adalah salah satu teman Luke yang entah bagaimana mereka bisa saling mengenal. Hubungan mereka tercatat tidak pernah akur, mereka selalu saja bertengkar setiap ada kesempatan. Luke sangat membenci Jacob, begitu pun sebaliknya. Itulah sebabnya kenapa mereka selalu saja bertengkar, bahkan jika hanya disebabkan oleh masalah yang bisa dibilang sepele.
Tidak ada yang tahu penyebab kenapa mereka bisa saling membenci, tapi Jacob adalah orang yang begitu menyebalkan dan menjengkelkan bagi Luke. Begitu pun sebaliknya. Memang, agak tidak rasional rasanya menyebut mereka sebagai teman jika melihat fakta yang ada.
Alan berdiri dari posisi duduknya. "Ayo kita lanjut latihan lagi."
Luke dan Will mendongak secara bersamaan kemudian beranjak dari kursi yang mereka duduki setelah mendengar ajakan Alan.
****
Alan, Luke, dan Will sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi malam ini. Mereka mengenakan jubah hitam panjang dengan topi berbentuk kerucut yang juga berwarna hitam khas para penyihir dan bersiap untuk pergi menggunakan Lukshan mereka masing-masing. Mereka memulainya dari rumah Alan. Louisa, Ibu Alan, sempat mencegah mereka untuk pergi karena dia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Namun setelah mereka berhasil menjelaskan dan meyakinkannya, akhirnya dia mengizinkan anak dan dua temannya pergi malam ini.
"Jaga dirimu, Nak. Jangan buat Ibumu khawatir, Ibu akan selalu menunggumu dan berharap yang terbaik untukmu," tambah Ibu sebelum mereka pergi.
"Baik, Ibu. Aku janji akan kembali setelah semua urusanku selesai," balas Alan seraya memeluk Ibunya erat sebelum dia benar-benar pergi.
Mereka terbang dengan Lukshan mereka masing-masing di langit malam yang gelap ini dan hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang tampak sangat besar dari atas sini. Mereka berjaga di atas langit Negeri Maddegoert seraya mengawasi setiap pergerakan yang mungkin saja terjadi dan membentengi diri mereka sendiri dengan menggenggam erat tongkat mereka masing-masing di tangan mereka.
Satu jam mereka menunggu ...
Dua jam mereka menunggu ...
Tiga jam mereka menunggu hingga Luke mulai bosan ...
"Tidak ada apa pun yang terjadi. Kita pulang saja, yuk?" ajak Luke yang sudah mulai dilanda rasa bosan.
Will menguap. "Benar, aku juga sudah mulai mengantuk."
"Tunggulah sebentar lagi, Teman-teman. Aku yakin mereka akan muncul takkan lama lagi," cegah Alan.
Luke membelokkan Lukshannya dan bersiap untuk pergi. "Baiklah, kalian menunggu saja di sini. Aku mau pulang. Beritahu aku jika kalian berhasil menggagalkan rencana mereka."
"Jangan pergi, Luke. Tinggallah beberapa saat lagi."
"Aku sudah bosan, Alan. Tidak ada gunanya kita menunggu di atas sini."
"Luke, kumohon. Tinggallah sebentar. Bukankah kita sahabat?" pelas Alan.
Sementara Luke dan Alan sedang berdebat, Will tampak galau menyaksikan perdebatan antara dua sahabatnya itu. Di satu sisi dia setuju dengan Luke karena dia sendiri pun sudah mulai mengantuk, tapi di sisi lain dia tidak bisa meninggalkan Alan begitu saja. Sendirian. Dia tidak tahu harus membela siapa, dia juga tidak tahu harus mendukung siapa.
Luke bergeming. Dia tetap dipenuhi oleh egonya.
"Luke." Alan kembali memelas.
Oh, Luke benci jika Alan sudah memelas seperti itu. Dia selalu tahu bagaimana cara meluluhkan egonya.
"Baiklah, baiklah. Aku tinggal," kata Luke akhirnya.
Seulas senyum kontan mengembang di wajah Alan dan mereka pun kembali melanjutkan aktivitas mereka: berjaga sekaligus mengawasi setiap pergerakan yang mungkin saja terjadi dari atas sini.
...
...
...
Sudah hampir satu jam mereka menunggu, tapi tidak ada satu pun pergerakan signifikan yang berhasil mereka tangkap. Hari sudah semakin larut, angin pun berembus semakin kencang.
"Alan, mungkinkah Paman Grigori membohongi kita?" gumam Luke di tengah kesunyian malam.
Alan menoleh. "Aku rasa Paman Grigori tidak mungkin melakukan itu."
"Tapi tidak ada pergerakan apa pun yang terlihat sedari tadi, Alan. Apakah ramalan Paman Grigori meleset?" timpal Will.
"Aku memang tidak terlalu paham dengan hal ramalan seperti itu, tapi aku tahu Paman Grigori tidak mungkin membohongi kita." Alan tetap meragukan semua yang sahabat-sahabatnya katakan. Bukannya dia menjadi sahabat durhaka karena tidak memercayai perkataan perkataan sahabatnya sendiri, tapi kecil kemungkinannya untuk perkataan mereka terbukti benar.
Mereka semua bergeming, tidak ada lagi yang melanjutkan obrolan. Suara burung gagak yang terdengar saling bersahutan pun mulai terdengar di tengah kesunyian malam.
Apakah Paman Grigori memang membohongi kami? batin Alan.
Pada saat tengah malam, tiba-tiba saja Alan melihat secercah cahaya putih dari dalam hutan. Dia lalu bergegas bergerak menuju hutan tersebut; dia terbang menurun dan melakukan gerakan menukik tajam.
Luke dan Will yang melihat hal tersebut pun sontak menyusul sahabat mereka itu.
"Kalian tertangkap. Berhenti di tempat atau aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada kalian!" Alan menodongkan tingkat sihirnya pada tiga orang penyihir yang mengenakan jubah hitam dengan tudung kepala yang menutupi seluruh wajah mereka di depannya itu. Dia lalu perlahan melangkah maju.
Salah satu penyihir yang berdiri di tengah itu pun perlahan melepaskan tudung kepalanya yang menampilkan wajah seorang pria dewasa yang diperkirakan berumur sekitar 30 tahun dengan berewok tipis yang menghiasi wajahnya. Sorot matanya tajam yang seakan siap menikam siapa pun hanya dengan menatapnya dan sebuah seringaian menyeramkan terlukis di wajahnya. Dia perlahan melangkahkan kakinya maju mendekati Alan.
Dengan refleks, Alan lalu melangkah mundur.
"Apa yang akan kau lakukan pada kami, Anak muda? Menyihir kami? Silakan saja. Lakukanlah, kami ingin melihat seberapa hebat kemampuan sihirmu." pria itu menggoreskan salah satu kuku tajamnya pada pipi Alan dan berjalan memutari tubuhnya.
Luke dan Will yang berada tidak jauh dari Alan pun hanya bisa diam terpaku dengan wajah pucat serta tidak tahu harus melakukan apa.
"Siapa sebenarnya kalian dan apa yang kalian inginkan dari negeri kami?!" hardik Alan.
"Siapa kami? Perkenalkan, namaku Matt. Dua orang di sana itu Jake dan Alvis. Apa yang kami inginkan dari negeri ini? Sederhana saja: batu merah di dalam menara itu." pria yang ternyata bernama Matt itu menunjuk ke arah menara dengan tetap menyeringai.
"Kenapa kalian ingin mencuri batu merah itu?!"
"Oh, mencuri itu terlalu kasar. Kami hanya ingin meminjam batu merah itu sebentar saja. Setelah kami mendapatkan apa yang sudah menjadi tujuan kami, kami akan segera mengembalikannya."
"Apa kalian juga yang merusak kebun Siernartha dan mencemari sungai Arkintha?!"
"Kau terlalu banyak tanya, tapi kami senang karena kau cukup pintar untuk menyadari hal itu." Matt kembali menggoreskan salah satu kuku tajamnya pada pipi Alan.
"Apa?!"
"Tidak usah terkejut seperti itu karena itu bukanlah hal terbaik yang pernah kami lakukan. Jadi, kau, dua temanmu di sana, dan seluruh penduduk negeri ini beruntung karena kami tidak melakukan yang jauh lebih buruk dari itu semua." Matt menyeringai.
Alan sudah tidak tahan lagi, amarah sudah memenuhi dirinya. Dia memejamkan matanya kemudian mengucapkan salah satu mantera yang sudah dia pelajari, "Karneithalo Rivikatha."
Matt terpental cukup jauh hingga mengenai Jake dan Alvis yang berdiri di belakangnya. Namun kemudian, dia bangkit, menepuk-nepuk bokongnya terlebih dulu, merapikan rambutnya yang menutupi sebelah matanya, lalu berjalan mendekati Alan.
"Lumayan juga kemampuanmu. Mau berduel?" tantang Matt yang kini sudah mengambil ancang-ancang.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan." Alan menerima tantangan Matt.
Duel sengit antara Alan dan Matt pun tak terelakkan lagi. Mereka memamerkan kemampuan sihir mereka masing-masing hingga membuat terhubungnya koneksi yang tercipta dari tongkat sihir mereka yang sangat kuat. Cahaya yang terpancar dari koneksi sihir yang mereka ciptakan benar-benar terang, bahkan mungkin bisa terlihat dari jarak beberapa ratus kilometer dari tempat mereka berdiri.
Kuatnya kekuatan koneksi yang tercipta dari tongkat sihir mereka membuat mereka hampir saja kewalahan dalam menahannya, tapi mereka tetap menjaga agar koneksi tersebut tetap terhubung. Walau memang, Alan berharap Matt menyerah dan tidak bisa menahannya lagi.
Bagaimana dengan Luke dan Will?
Mereka tetap pada posisi mereka: diam terpaku seraya menyaksikan duel sengit antara sahabat mereka dengan seorang penyihir jahat yang berniat ingi. mencuri serta mengawasi Jake dan Alvis yang gerak-geriknya sedari tadi tampak mencurigakan. Mereka sudah siap jika tiba-tiba dua penyihir jahat pencuri lainnya itu menyerang mereka atau membantu teman mereka yang kini tengah berduel dengan Alan.
Duel sengit antara Alan dan Matt ternyata tidak berlangsung lama karena setelah beberapa menit mereka saling menyerang, kekuatan Alan mulai melemah dengan Matt yang terus menyerangnya tiada henti. Ketika mengetahui bahwa Alan sudah mulai kehilangan keseimbangannya, Matt kembali menyeringai mengerikan. Mungkin memang terlalu berlebihan jika disebut mengerikan, tapi jika kalian melihat seringaian yang menampilkan barisan gigi putih dengan senyuman yang mengintimidasi itu, kalian pasti akan setuju dengan kalimat tadi.
Luke dan Will pun sudah mulai berjaga jika sewaktu-waktu Alan tumbang. Dan oh, tidak perlu waktu lama lagi karena ... dengan sekali entakkan, tubuh Alan terpental cukup jauh hingga tubuhnya terbentur pohon di belakangnya. Kontan saja kesadarannya perlahan menghilang, pandangannya mengabur, kepalanya pusing, dan napas yang tidak teratur. Samar-samar dia bisa melihat bayangan sosok Luke, Will, dan sang Ayah tengah berdiri di depannya. Namun ...
"Alan, kau baik-baik saja?"
"Apa kau baik-baik saja, Nak? Sadarlah, Ayah di sini."
"Alan?"
...
...
...
... semuanya berubah menjadi gelap.
****
"Ennnngghh...," lenguh Alan seraya mencoba untuk membuka matanya perlahan. Dia mengerjapkan matanya untuk membiasakan matanya terhadap cahaya yang mencoba masuk ke dalamnya.
Dia memang belum sadar secara utuh, tapi dia bisa lihat ada beberapa orang yang berkumpul di kamarnya, seperti Luke, Will, Ayah, dan Ibunya dengan wajah cemas. Dia tidak melihat Max di mana pun.
"Akhirnya kau sadar juga," gumam Luke setelah sadar bahwa Alan sudah sadar.
Sang Ibu langsung menghampirinya, duduk di tepi ranjangnya, dan mengelus rambutnya lembut. "Kami semua mencemaskanmu, Nak."
"Aku baik-baik saja, Bu, Yah, Semuanya," jelas Alan.
"Iya, Nak. Ibu sangat bersyukur kau baik-baik saja." Alan bisa melihat kekhawatiran dari tatapan sang Ibu.
Alan tersenyum untuk meyakinkan Ibunya bahwa dia memang baik-baik saja meskipun kepalanya masih agak sedikit pusing.
"Kenapa kau membahayakan nyawamu dengan melawan mereka, Nak?" tanya Ayah.
Alan mengalihkan pandangannya ke arah sang Ayah. "Mereka ingin mencuri sesuatu dari negeri ini, Yah. Aku tidak bisa membiarkan mereka melakukannya."
"Tapi kau bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya, Nak."
"Aku sudah melakukannya, Yah; aku sudah memberitahumu tentang masalah itu, tapi Ayah tidak memercayaiku."
Jadi setelah Alan terpental, Rivinthola, Ayah Alan, dan beberapa orang dari Kementrian Sihir datang untuk membantunya mengalahkan Matt beserta dua temannya yang berniat ingin mencuri sesuatu dari negeri ini. Namun ketika mereka tiba, para penyihir jahat itu sudah lenyap. Pun mereka kehilangan jejak para penyihir jahat tersebut.
Siapa yang memberitahu mereka? Will.
Dia memberitahu mereka, terutama Ayah Alan, melalui sebuah surat yang dikirimkan oleh burung hantu peliharaannya secara diam-diam saat dia melihat serangan Alan mulai melemah dan tampak akan kehilangan keseimbangannya.
Mereka membawa Alan kembali ke rumah dan diberi beberapa obat untuk mengembalikan kesadarannya maupun mengurangi pengaruh sihir jahat yang mungkin saja dipancarkan oleh para penyihir jahat tersebut. Sebelum mereka pergi, beberapa orang dari Kementrian Sihir juga tidak lupa untuk menetralkan keadaan sekitar tempat duel sengit antara Alan dan Matt terjadi.
"Maafkan Ayah, Nak. Jika saja Ayah percaya padamu, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi," sesal Ayah.
Alan tersenyum untuk membuat sang Ayah tidak menyesali apa yang sudah terjadi padanya. "Tidak apa-apa, Yah. Mungkin memang sudah seharusnya ini semua terjadi."
Ayah tidak merespon, dia hanya tersenyum kecil pada Alan.
"Kami sangat senang kau sudah kembali sadar. Kami sempat khawatir ketika melihatmu berduel dengan mereka dan kekhawatiran kami ternyata benar. Kau beruntung, Alan," ujar Will.
Alan mengalihkan pandangannya ke arah dua sahabatnya yang berdiri di samping sang Ayah. Wajah mereka tidak kalah khawatirnya dengan kedua orangtuanya. "Terima kasih karena kalian telah mengkhawatirkanku."
"Apa kau bercanda? Pastinya kami akan mengkhawatirkanmu karena kami adalah sahabatmu. Apa mereka membuat ingatanmu melemah dan melupakan persahabatan kita?" celetuk Luke.
Alan sedikit tergelak mendengar ucapan salah satu sahabatnya itu. "Aku tidak mungkin melupakan sahabat sebaik kalian."
Luke dan Will hanya tersenyum lebar mendengar jawaban Alan. Mereka sangat senang. Pun Ayah dan Ibu tertawa melihat kedekatan anaknya dengan dua sahabatnya.
"Ohya, Max di mana, Bu?" tanya Alan ketika dia kembali teringat bahwa hanya adiknya itulah yang tidak ada di dalam kamarnya.
"Seperti biasa, dia ada di bukit belakang, Nak," jawab Ibu.
"Bukit belakang?" ulang Alan.
****
Alan berjalan dengan sedikit tertatih-tatih menyusuri rerumputan hijau di antara pepohonan rindang yang menjulang tinggi di sekitarnya. Keadaannya tidak memungkinkan dirinya untuk menggunakan Lukshan miliknya. Jika dia memaksa, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi pada kakinya.
Setelah berjalan melewati beberapa pohon rindang, dia menemukan Max sedang duduk di tepi sebuah jurang yang di depannya terhampar pemandangan Negeri Maddegoert secara utuh yang bisa dilihat dari bukit belakang rumahnya ini. Dia lantas menghampirinya.
"Aku dengar kau baru saja melawan salah seorang penyihir jahat yang berniat untuk mencuri sebuah benda dari negeri ini. Apa itu benar?" serang Max yang entah bagaimana caranya bisa mengetahui kehadirannya meskipun dia sudah berjalan sepelan mungkin dan berusaha tidak menimbulkan suara sekecil pun.
Alan lalu duduk di sebelah sang Adik. "Ya, itu benar."
"Kenapa kau bodoh sekali? Untuk apa kau melakukan itu? Biarkan saja mereka mengambilnya."
Alan menoleh, dia tidak percaya dengan pertanyaan adiknya yang baru saja dilontarkannya. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambilnya, Max. Benda itu sangat berharga bagi negeri kita. Apa kau tahu itu?"
"Apa pentingnya benda itu bagimu, Kak? Itu hanya sebuah benda."
"Kau tidak mengerti dengan alasanku melawan mereka, Max. Kau tidak mengerti."
"Apa yang tidak kumengerti dari yang kau mengerti?"
"Semuanya."
Max berdiri. "Ya, baiklah. Aku kesepian, aku tidak punya teman, aku tidak mengerti apa pun. Sedangkan kau? Kau punya banyak teman, kau cerdik, kau mengerti banyak hal. Hidupmu sempurna. Bahkan, jauh lebih sempurna dari hidup adikmu yang menyedihkan ini."
"Max, tunggu," Alan menahan tangan Max agar dia tidak bisa pergi ke mana pun. "bukan begitu maksudku. Kau salah paham dengan kata-kataku. Maksudku adalah—"
Max mengentakkan tangan sang Kakak dan memotong ucapannya yang membuat Alan terkejut dengan apa yang baru saja adiknya lakukan. "Sudahlah, tidak perlu bersikap seperti itu. Kau pergilah dan berkumpul bersama teman-temanmu itu."
Bahkan, Max memberi penekanan pada kata 'teman-teman' yang dia ucapkan.
Dia berlalu, menghampiri Soelvant peliharaannya kemudiak menungganginya, dan mengisyaratkan padanya untuk pergi.
Dengan sigap, Alan bergegas mengejar adiknya itu. Tidak, dia tidak akan menggunakan Lukshan miliknya karena dia meninggalkannya di rumah. Dia memeriksa sekitarnya untuk mencari apakah ada benda yang bisa dia gunakan untuk mengejar sang Adik. Dia menemukannya; sebuah ranting pohon yang berukuran cukup panjang serta tebal dan terlihat seperti Lukshan miliknya. Dia lalu mengarahkan tongkat sihirnya pada ranting itu kemudian mengucapkan sebuah mantera yang membuat ranting itu dengan seketika bisa melayang di udara. Dia bersyukur karena dia telah mempelajari mantera menghidupkan—atau setidaknya, membuatnya melayang—sebuah benda mati sebelumnya.
Max tidak mengetahui bahwa sang Kakak mengejarnya pada awalnya, tapi saat Alan memanggil namanya dan menyuruh berhenti, seketika saja dia sadar bahwa dia sedang diikuti. Dia juga bahkan menambah kecepatan terbang Soelvant yang dia tunggangi agar Kakaknya tidak berhasil mengejarnya atau mencapainya.
Namun, tentu saja, Alan tidak akan membiarkan Max pergk begitu saja. Dia bermanuver dengan sangat kencang, meliuk-liuk di antara celah pohon yang dia lewati, terbang rendah kemudian kembali tinggi saat dia melewati lembah, dan sedikit mengurangi kecepatan kendaraan yang dia gunakan ketika ada sekelompok burung yang terbang untuk bermigrasi atau pergi ke tempat yang lebih lembap saat tempat asal mereka dilanda musim dingin.
"Max, kumohon berhentilah. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu!" teriak Alan yang tentu saja sia-sia karena Max tidak bisa mendengar teriakannya.
Mereka sudah terbang sangat jauh dari rumah mereka, tapi Alan tidak peduli. Dia hanya ingin Max tidak salah paham dengan kata-katanya tadi saja, dia ingin menjelaskannya agar dia tidak salah paham.
Setelah terbang sangat jauh, Max akhirnya berhenti saat dia sadar bahwa dia terbang ke salah satu gunung terlarang dari jajaran pegunungan yang menutupi negeri mereka dan tidak seharusnya dia datangi. Dia ingin memutar balik untuk kembali terbang menjauh, tapi terlambat, Alan sudah berjarak cukup dekat dengan dirinya yang membuatnya refleks terbang memasuki kawasan gunung terlarang tersebut. Entah karena tingginya pepohonan yang berada di kaki gunung ini atau apa, tapi tiba-tiba saja Lukshannya kehilangan keseimbangan dan membuatnya jatuh tergelincir ke sebuah jurang curam.
"Aaaarrrrggghh!" teriak Max saat tubuhnya jatuh terperosok bersama Soelvantnya.
Jurang ini benar-benar curam dengan medan yang tidak pernah dibayangkan oleh Max sebelumnya. Warna pakaian yang dikenakannya telah berubah menjadi tampak menyatu dengan tanah di sekelilingnya karena jatuhnya dia ke jurang tersebut. Dia tidak bisa melakukan apa pun selain teriak dan pasrah bahwa dia akan segera mati.
Jika ini adalah akhir dari hidupku, maka aku tidak akan menyesalinya, batin Max.
Dia menutup matanya dengan tetap merasakan tubuhnya jatuh lebih dalam dan ...
...
...
Apa dia sudah mati?
...
...
Apa dia sudah tidak bernyawa?
...
...
"Max?"
"..."
"Max?"
"..."
"Max, ini aku! Buka matamu!"
Max menuruti suara bisikan yang dia asumsikan sebagai suara bisikan kematian dirinya itu meskipun dia merasa seperti mengenal suara tersebut. Ketika dia sudah membuka matanya sempurna, dia mendapati Alan sedang berdiri di hadapannya dengan wajah panik. Apa yang terjadi?
"Ennggh," lenguh Max seraya berusaha bangkit.
Alan kontan membantu adiknya itu untuk bangkit. Kini dia bisa bernapas lega karena ternyata adiknya tidak apa-apa dan tidak terkuka sedikit pun. Dia tidak tahu bagaimana jadinya jika dia kehilangan adiknya itu, dia tidak bisa membayangkannya sama sekali. Terlalu mengerikan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Alan.
"Aku baik-baik saja. Apa kau yang menyelamatkanku?"
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun."
Max berdiri yang kemudian disusul oleh Alan. "Kenapa kau menyelamatkanku?"
"Apa? Apa kau bercanda?" Alan yakin telinganya tidak mengalami masalah apa pun, tapi apa yang baru saja didengarnya benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Jawab aku," tuntut Max dengan raut wajah serius.
"Karena kau adalah adikku."
Max diam, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Datar. Alan tidak tahu apa yang terjadi pada adiknya itu, tapi dia menunggu adiknya untuk kembali merespon.
"Kau tidak seharusnya melakukan itu." Max berlalu, berjalan ke dalam hutan meninggalkan sang Kakak sendiri yang masih berdiri di tepi jurang tempat jatuhnya tadi. Dia lalu menghilang di balik sebuah pohon besar.
Max, kenapa kau jadi seperti ini? batin Alan.
To be continued ...
Comments
Post a Comment