Negeri Penyihir
Genre: Fantasi
Penulis: Muhammad Rizaldi
BAB 3 ...
Sebenarnya, Alan sama sekali belum pernah masuk ke dalam gua Manhoertha ini atau gua mana pun—kecuali gua Tassatha. Dengan hanya modal sebuah penerangan dari tongkat sihirnya, dia dan dua sahabatnya nekat menelusuri gua ini untuk mencari petunjuk tentang potongan kain yang mereka temukan di luar gua. Keadaan di dalam sini begitu lembap, minimnya oksigen, gelap, dan langit-langit gua yang dipenuhi oleh kumpulan kelelawar yang berjumlah sangat banyak. Setiap kali dia memegang dinding gua, dia bisa merasakan tetesan air dari dalamnya.
Dan semakin dia masuk ke dalam, oksigen yang tersedia semakin menipis. Sudah hampir 20 menit mereka berjalan menyusuri gua ini, tapi tidak menemukan satu petunjuk pun.
"Sudah kubilang, lebih baik kita tidak masuk ke sini. Dan sekarang kita terjebak di dalam sini dengan oksigen yang menipis. Oh, bagus. Dadaku mulai terasa sesak," keluh Will.
"Makanlah ini dan jangan banyak mengeluh." Alan memberikan sebuah apel pada Will.
Dia lantas menerima apel yang diberikan Alan padanya. "Hei, dari mana kau mendapatkannya?"
Alan tidak merespon, dia hanya memberi kial pada dua sahabatnya untuk terus berjalan. Mereka berjalan dalam sunyi, bahkan mereka bisa mendengar suara langkah kaki mereka sendiri.
Setelah Will menggigit sedikit apel yang diberikan Alan tadi, dadanya perlahan sudah tidak terasa sesak lagi. Dan saat itu juga dia ingat bahwa itu adalah apel oksigen atau penduduk Negeri Maddegoert sering menyebutnya dengan Iskaarthie.
"Alan, apa kau mendengar suara langkah kaki?" tanya Luke yang seolah mendengar sesuatu.
"Ya, tentu saja. Itu suara langkah kaki kita. Sudahlah, ayo jalan!" Alan menjawab tanpa menoleh sedikit pun.
Luke menajamkan pendengarannya agar dia bisa mendengar sesuatu tersebut dengan lebih jelas. "Tidak, tidak. Ini suara langkah kaki lain; besar dan ... besar. Apa kau tidak merasakan guncangan juga?"
"Suara langkah kaki lain?" Alan berhenti kemudian menoleh ke arah Luke. "maksudmu, ada orang lain selain kita di dalam sini?"
"Ya, dan dia terdengar sudah semakin dekat," ucap Luke.
Alan, Will, dan Luke pun terdiam untuk memeriksa kebenaran tentang suara langkah kaki yang Luke dengar tadi.
"Alan, sepertinya Luke benar. Ayo kita pergi," ujar Will yang juga merasa mendengar suara langkah kaki itu.
"Tunggu sebentar," balas Alan.
Oh, tidak. Gua ini berguncang dan guncangannya terasa cukup besar. Ada apa ini?
Saat mereka tengah dibuat bingung oleh guncangan yang tiba-tiba saja terjadi, terlihat sebuah raksasa bertubuh gemuk dengan sebuah pohon di atas kepalanya dan tubuh yang berwarna cokelat. Mereka sontak terkejut melihat raksasa tersebut kemudian melarikan diri dengan paniknya.
Mereka berlari secepat mungkin agar raksasa tersebut tidak berhasil menangkap salah satu di antara mereka hingga mereka bertemu dengan sebuah pertigaan; Alan berlari ke jalan pertama, Will berlari ke jalan kedua, dan Luke berlari ke jalan ketiga. Mereka berpisah untuk mengelabui raksasa tersebut.
Saat Alan sudah merasa sedikit aman dengan raksasa tersebut yang sudah tidak mengejarnya lagi, dia menghela napas lega dan berniat untuk kembali menemui dua sahabatnya. Namun ketika dia hendak berbalik, dia melihat sebuah cahaya terang di depannya. Dia kontan tertarik untuk menghampiri sumber cahaya terang tersebut.
Dia lari dengan begitu semangat hingga akhirnya dia tiba di penghujung lorong gua yang membawanya ke luar dari gua, tepat di depan sebuah menara yang berbentuk seperti mercusuar. Dan di sini tampak sangat sepi.
Tempat apa ini? batin Alan.
Di sisi lain, Luke terjebak di dalam lorong gua yang salah dan tidak berujung. Dia tampak kebingungan dan tak henti-hentinya memanggil nama Alan untuk berharap dia bisa mendengar suaranya dan membantunya untuk keluar dari dalam lorong gua yang sangat gelap seperti ini.
Wajahnya panik dan pandangannya awas terhadap setiap pergerakan yang terjadi, bahkan dia memasang ancang-ancang dengan bersenjatakan tongkat sihirnya. "Alan, Will, kalian di mana?"
Seolah bernasib sama dengan Luke, Will tidak jauh lebih baik darinya. Dia juga terjebak di dalam lorong gua yang gelap dan terlihat tidak ada jalan untuk keluar dari dalamnya. Seakan menambah kacau suasana, tiba-tiba saja sekelompok ular kobra keluar dari salah satu dinding gua dan mendesis padanya. Dia panik, dia tidak tahu harus melakukan apa. Yang bisa dia lakukan hanyalah ... diam membeku di tempat.
Namun kemudian, Will teringat akan sebuah mantera yang pernah dipelajarinya dulu. Dia berharap mantera ini akan bekerja.
Will mengarahkan tongkat sihirnya pada sekelompok ular tersebut. "Digierosa Rivinosa."
Seketika saja cahaya biru yang sangat terang terpancar dari tongkat sihir Will dan menerangi lorong gua ini. Saat perlahan cahaya biru itu mulai meredup, dia bisa melihat sekelompok ular itu telah pergi dan kembali masuk ke dalam dinding gua.
"Syukurlah." Will menghela napas lega.
Di sisi lain, Alan tetap berada di depan menara dengan raut wajah penuh tanda tanya. Dia belum pernah melihat menara ini sebelumnya, dia bahkan tidak tahu bahwa ada sebuah menara di penghujung gua ini.
Dia berjalan mendekat dengan hati-hati karena kehadirannya diketahui oleh siapa pun. Saat dia sudah hampir mencapai pintu menara di depannya, tiba-tiba saja datang sekelompok penyihir berjubah hitam dengan tudung kepala yang menutupi seluruh wajah mereka dan terbang menurun. Mereka lalu masuk ke dalam menara tersebut saat pintu menara itu yang entah kenapa tiba-tiba saja terbuka dan seolah membiarkan mereka masuk. Dia lalu mengikuti mereka masuk ke dalam.
Ketika di dalam, dia mendapati sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan; bagian dalam menara ini dipenuhi oleh barang antik khas negeri para penyihir, mulai dari Lukshan, permadani, hingga berbagai macam tongkat sihir dengan bentuk yang berbeda-beda. Namun yang menarik perhatiannya adalah ... sebuah batu berwarna merah yang berbentuk seperti sebuah berlian. Dan ... batu itu dikelilingi oleh para penyihir berjubah hitam dan bertudung kepala yang dilihatnya tadi.
"Apa yang selama ini kita incar sudah berada di hadapan kita," ucap salah satu penyihir tersebut.
"Ya, kau benar. Dengan batu ini, kekuatan kita akan semakin bertambah," sahut yang lainnya.
Saat mereka sedang sibuk membicarakan batu tersebut, salah satu dari mereka tampak perlahan mulai membuka tudung kepalanya dan ...
****
"Aaarrgggghh!" Alan terbangun dari tidurnya.
Dia terbangun dengan keadaan napas yang memburu, wajah pucat, dan keringat yang mengalir deras dari pelipisnya. Dia mengusap wajahnya dan berusaha menyadarkan dirinya dari bayang-bayang mimpi buruknya.
Apa itu benar? Apa yang ada di dalamnya benar-benar akan terjadi?
Dia tidak pernah mendengar apa pun tentang batu di dalam menara itu sebelumnya, tapi dari percakapan mereka, dia bisa menyimpulkan bahwa batu yang ada di menara tersebut merupakan benda yang sangat penting dan punya pengaruh kuat bagi negerinya.
"Alan."
Dia terkesiap saat Luke menepuk bahunya. "Kau mengagetkanku saja. Ada apa?"
Luke beradu pandang dengan Will terlebih dahulu dengan raut wajah bingung sebelum menjawab. "Kami yang seharunya bertanya. Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat?"
"Aku ..." haruskah dia menceritakan mimpi buruknya pada dua sahabatnya itu? Bagaimana jika itu hanya sekadar bunga tidur yang tidak memiliki arti apa-apa?
"Alan?" Will mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Alan.
Baiklah, dia harus memberitahukannya walau bagaimanapun.
"Aku mendapat mimpi buruk dan aku terbangun karena itu," jawab Alan akhirnya.
Luke dan Will mengerutkan dahi mereka setelah mendengar jawaban Alan.
"Mimpi buruk apa?" Will bertanya.
"Sebelumnya, apa kalian akan percaya jika aku menceritakannya?" Alan memastikan.
"Tentu saja kami akan percaya," jawab Will yakin.
Alan menghela napas terlebih dahulu sebelum menceritakan mimpi buruknya. "Semalam aku bermimpi bahwa kita semua masuk ke dalam sebuah gua, di pertengahan jalan kita berpisah. Dan setelah kita berpisah, aku menemukan sebuah menara di penghujung lorong gua. Karena penasaran, aku pun mendekati menara itu. Ketika di dalam, aku melihat sekelompok orang—yang aku asumsikan sebagai penyihir—dengan mengenakan jubah hitam dan tudung hitam yang menutupi seluruh wajah mereka hendak mengambil sebuah batu berwarna merah yang berbetuk seperti berlian. Aku tidak tahu batu apa itu, tapi mereka berniat untuk mengambilnya."
"Menara? Menara apa?" Will tampak sedikit tidak mengerti dengan penjelasan Alan.
"Aku tidak tahu, tapi menara tersebut berbentuk seperti mercusuar," jawab Alan.
"Untuk apa mereka berniat ingin mengambil batu merah itu?" Luke menyahut dengan pertanyaan yang dia lontarkan.
"Aku tidak tahu dan itulah yang membuatku bingung. Maksudku, apakah yang ada dalam mimpiku itu akan benar-benar terjadi?"
"Sebaiknya kita tanyakan pada Paman Grigori. Dia adalah ahli tafsir mimpi, mungkin dia bisa membantu kita," usul Will.
"Baiklah," Alan beranjak dari ranjangnya. "ayo kita pergi ke sana."
"Alan." Luke memanggil.
"Ada apa, Luke?"
"Apa kau ingin pergi hanya dengan mengenakan piama seperti itu?"
Dia lantas melihat dirinya sendiri. "Hehe maaf. Yasudah, aku akan berganti pakaian lebih dulu."
****
"Jadi begitu, Paman," Alan mengakhiri ceritanya. "apa Paman bisa membantu kami?"
Paman Grigori mencelupkan tongkat sihirnya ke dalam sebuah kolam kecil di depannya. Warna air kolam itu putih dengan mengeluarkan cahaya putih terang dari dalamnya. Namun saat Paman Grigori mengaduknya, warna air kolam itu berubah menjadi hitam.
"Gawat, mimpimu itu pertanda sesuatu yang buruk," ujar Paman Grigori dengan wajah panik.
"Maksud, Paman?" tanya Alan.
"Menurut penafsiranku, mimpimu itu menyampaikan pesan padamu bahwa akan ada sekelompok penyihir jahat yang berniat untuk mencuri benda pusaka negeri ini," jelas Paman Grigori.
"Maksud Paman, batu merah yang tersimpan di dalam menara itu?" Alan memastikan.
Paman Grigori mengangguk.
Alan, Will, dan Luke saling beradu pandang yang seolah mengatakan, "Apa yang harus kita lakukan?"
"Dan ..." Paman Grigori menggantungkan kalimatnya.
"Dan apa, Paman?"
"Dan itu akan terjadi besok malam."
"Apa?!" tanya Alan, Will, dan Luke secara bersamaan dengan nada terkejut.
****
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Alan?" tanya Luke yang tengah mencabuti rerumputan di sekitar kakinya.
"Kita tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini, Alan," sahut Will yang tengah berdiam diri seraya bersandar pada batang sebuah pohon besar.
Alan bergeming, dia hanya terus melempari bebatuan kecil ke danau Silvoestha dengan tatapan kosong. Kini pikirannya sedang kacau, ada banyak sekali hal yang mengangguk pikirannya. Dia tidak bisa menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang dia hadapi saat ini.
Dan ... akankah dia memberitahu arti dari mimpi buruknya itu pada sang Ayah? Jika dia memberitahunya, bagaimana reaksinya?
Rivinthola atau Ayah Alan adalah salah satu penyihir yang masih percaya pada ramalan dan tafsir mimpi meskipun seni meramal telah lama ditinggalkan oleh masyarakat Negeri Maddegoert. Dia sangat memercayainya, bahkan Alan masih ingat betul ketika sang Ayah memercayai ramalan dari seorang peramal yang mengatakan bahwa keadaan ekonomi Negeri Maddegoert akan mengalami krisis dan ramalan itu tidak terbukti benar.
Namun, Alan telah melihatnya langsung walau hanya dalam mimpi. Bagaimana jika itu semua memang akan terjadi? Dia tidak tahu apa pengaruh dan akibat yang akan terjadi jika batu merah itu dicuri, tapi akibat apa pun itu, sudah pasti itu bukanlah sesuatu yang baik.
"Alan?" panggil Luke.
Alan bergeming.
"Alan, kau melamun?" panggilnya lagi yang kali ini disertai dengan tepukan di bahu Alan yang kontan membuatnya terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Tidak, aku hanya sedang berpikir apakah aku harus memberitahu Ayahku atau tidak," jawab Alan dengan wajah datar.
Luke memandang lurus ke arah danau Silvoestha, tepat ke arah Alan memandang. "Menurutku, lebih baik kau beritahu saja karena mungkin Ayahmu bisa membantu mencegah hal itu terjadi."
Will menghampiri Luke dan Alan. "Luke benar, Alan. Kita tidak mungkin mencegah atau melawan mereka sendirian, kita pasti akan membutuhkan bantuan."
"Kalian benar, tapi bagaimana jika itu hanya sebuah bunga tidur yang tidak berarti apa-apa? Kalian sudah tahu dan mengenal Ayahku, dia pasti akan menganggap hal ini serius meskipun kenyataannya tidak."
"Terkadang kenyataan berkata hal yang berlawanan dengan apa yang kita pikirkan, Alan," ucap Luke.
Will merangkul bahu Alan. "Sekarang beritahulah Ayahmu. Tidak usah ragu, lakukan saja. Ini semua demi kelangsungan negeri kita."
"Baiklah," Alan menoleh kemudian tersenyum pada Will. "aku akan melakukannya."
****
Alan melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumahnya dengan langkah yang berat. Perlahan dia membuka pintu rumahnya kemudian masuk. Ketika di dalam, dia sontak mencari keberadaan sang Ayah. Namun, dia tidak bisa menemukan keberadaannya di mana pun. Seolah tidak ingin menyerah, dia mencari sang Ayah di halaman belakang, lantai dua, dan tak luput juga di ruang kerjanya. Namun tetap saja, dia tidak menemukan siapa pun.
Ketika dia hendak pergi ke luar rumah, dia mendapati Max sedang menuruni tangga. Dia kontan menghampirinya untuk bertanya padanya.
"Max," panggil Alan.
"Apa?" sahut Max dengan wajah datar.
"Apa kau melihat Ayah?"
"Dia ada di Kementrian Sihir."
Alan kontan memeluk sang Adik setelah berhasil mengetahui di mana sang Ayah berada. "Terima kasih, Max."
"Lepaskan aku dan barulah berterimakasih padaku."
"Ah, baiklah," dia melepaskan pelukannya pada sang Adik kemudian bergegas pergi ke luar rumah untuk menuju Kementrian Sihir. Namun, dia berhenti dan berbalik. "apa kau mau ikut bersamaku?"
"Tidak, kau pergilah," tolak Max.
Alan mengangguk. "Baiklah."
Dia berbalik dan bersiap untuk pergi. Namun, dia takkan pergi dengan menggunakan Lukshan. Dia akan pergi menggunakan ...
Oh, aku selalu suka menggunakan trik ini, batin Alan.
Dia mengangkat tongkat sihirnya sejajar dengan kepalanya kemudian memutarnya seraya berkata, "Teleporta ignadium."
Dengan secepat kilat, dia akhirnya tiba di sebuah aula besar yang di setiap sudutnya terdapat Varnosha atau perapian yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju Negeri Maddegoert ini yang digunakan oleh para staf Kementrian Sihir. Dia berjalan di sepanjang aula dengan langkah cepat. Sebenarnya, dia sudah lupa di mana ruangan sang Ayah karena di sini banyak sekali ruangan. Seingatnya, dia hanya harus berjalan lurus hingga dia bertemu sebuah kolam dengan air mancur di atasnya dan belok kanan.
"Kolam di sini, berarti aku harus ke sana," gumam Alan seraya mengingat ke mana arah dia harus pergi dan menunjuk ke arah tersebut.
"Sudah mendapatkan jawaban?" tanya seseorang saat dia baru saja berbelok yang kontan membuatnya takut. Ketika dia menoleh, dia mendapati Will dan Luke yang tengah berjalan sejajar dengannya serta menatapnya.
"Kalian membuatku takut saja," gerutunya seraya mengelus dadanya.
"Tidak, aku baru saja ingin pergi ke ruangan Ayahku saat kalian tiba-tiba saja datang dan mengangetkanku," lanjutnya.
Luke tertawa kecil. "Kami datang ke sini karena kau meninggalkan kami begitu saja."
"Benarkah itu?"
"Ya, itu benar. Beruntung sekali Max memberitahu kami ke mana kau pergi sehingga kami bisa menyusulmu." Will menjawab.
"Baiklah, maafkan aku."
"Tidak apa-apa," balas Luke.
Alan tidak merespon dan tidak ada lagi yang bersuara, mereka berdiam seraya tetap berjalan di sepanjang aula ini dan melihat satu per satu ruangan yang mereka lewati untuk menemukan ruangan Ayah Alan. Namun, sudah hampir 12 ruangan mereka lewati dan mereka tetap tidak bisa menemukan ruangan Ayah Alan.
"Sebenarnya, kau tahu di mana ruangan Ayahmu atau tidak sih?" tanya Luke ketika dia dan dua sahabatnya berhenti di depan salah satu ruangan dengan pintu besi berwarna hitam dan papan nama berwarna emas yang bertuliskan Sn. Hastgrief.
Alan mengedar pandangan. "Aku sudah agak lupa, tapi aku yakin aku masih ingat."
"Sudah 12 kita lewati, tapi kita tak kunjung menemukan ruangan Ayahmu," keluh Luke.
"Sabarlah, Luke. Kita tidak boleh putus asa, kita harus terus mencari," kata Alan.
"Tapi sampai kapan?"
"Aku tidak tahu."
Saat Alan dan Luke sedang berdebat, Will secara tidak sengaja melihat dua orang pria yang berdiri sekitar 10 meter darinya seraya mengobrol. Dua pria itu mengenakan jubah berwarna hitam yang lebih mirip dengan jas dan dua kantung di sisi kanan maupun kirinya serta topi berbentuk kerucut yang sangat identik dengan penyihir.
Will tidak yakin, tapi salah satu dari dua pria di sana itu tampak seperti Rivinthola, Ayah Alan.
Will mencolek bahu Alan. "Apakah pria yang di sana itu adalah Ayahmu?"
Alan menoleh kemudian mengikuti arah tunjukan Will. "Benar, itu Ayahku!"
Sontak saja, Alan berlari menghampiri sang Ayah yang kemudian disusul oleh Luke dan Will. Dia sudah mencari sang Ayah seharian dan ketika dia melihatnya sedang mengobrol tak jauh dari tempat dia dan kedua sahabatnya berada, dia tidak bisa melewatkan kesempatan itu begitu saja.
"Ayah!" seru Alan meskipun jaraknya dengan sang Ayah masih beberapa meter lagi.
Sang Ayah melirik ke arah Alan saat dia mendengar anaknya itu baru saja memanggilnya dengan kerutan di dahinya.
"Sedang apa kau di sini, Alan? Kau tidak seharusnya berada di sini." tanya sang Ayah ketika Alan sudah berada di hadapannya.
Alan membungkukkan tubuhnya kemudian mengatur napasnya terlebih dulu. "Aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Beritahu apa?" Ayah beradu pandang ke arah teman di sampingnya dengan ekspresi wajah bingung.
Alan menarik napasnya dalam-dalam agar membuatnya rileks dan bisa menceritakan semuanya dengan lancar pada sang Ayah. "Semalam aku bermimpi buruk tentang sekelompok penyihir jahat yang datang ke negeri ini untuk mengambil batu merah yang berada di sebuah menara. Dan saat aku meminta bantuan Paman Grigori untuk menafsirkan apa arti dari mimpiku itu, beliau membenarkan apa yang mimpi itu katakan. Beliau juga menambahkan bahwa itu akan terjadi besok malam."
Ayah menatap Alan lama sebelum dia tertawa setelah mendengar penjelasannya. Teman yang berdiri di sampingnya pun ikut tertawa bersamanya.
Alan bingung, dia memandang dua sahabatnya secara bergantian seolah meminta bantuan mereka untuk menjelaskan kenapa Ayahnya tertawa seperti itu. Namun, mereka tampak sama bingungnya dengan dirinya.
"Itu hanya mimpi, Nak. Kau tidak perlu cemas." Ayah mengelus rambut Alan lembut seraya tersenyum.
"Tidak, Ayah. Itu benar, kau harus percaya."
"Jangan cemas, Nak. Tidak akan terjadi apa-apa, tenanglah."
"Ayah, dengarkan aku. Aku tahu mimpiku itu terdengar konyol, tapi bagaimana jika itu akan benar-benar terjadi?"
"Nak," seorang pria lain yang berdiri di samping Ayah mengelus pipi Alan seolah dia sudah mengenalnya cukup lama. "Ayahmu benar, tidak akan terjadi apa-apa. Jika memang itu akan terjadi, Kementrian Sihir tidak akan tinggal diam."
"Tapi, Yah—"
"Sudahlah, Nak, Ayah masih punya banyak pekerjaan. Kau pergilah bermain bersama teman-temanmu."
Ayah dan temannya lantas pergi meninggal Alan sendiri bersama dua sahabatnya. Seharusnya dia tahu bahwa ini akan sia-sia dan seharusnya juga dia tahu bahwa Ayahnya tidak akan pergi.
"Ayo kita pergi, Alan," ucap Will seraya merangkul bahu Alan dan menuntunnya untuk pergi dari sini.
****
"Yeah! Aku dapat satu!" seru Luke saat dia berhasil menjatuhkan sebuah apel.
"Jangan senang dulu, aku bisa mendapatkan lebih banyak darimu." Will menyombongkan diri.
"Buktikanlah jika memang kau bisa melakukannya," tantang Luke.
"Oh, kau menantangku? Baiklah. Lihat ini." Will mengedar pandangannya untuk mencari pohon apel di sekelilingnya yang memiliki banyak buah. Dan saat dia sudah menemukan pohon incarannya, dia mengarahkan tongkat sihirnya ke arah pohon tersebut kemudian berkata, "Reverendum."
Tanpa disangka, beberapa apel jatuh dari atas pohon tersebut. Dia tidak tahu berapa jumlah pasti apel yang jatuh, tapi jumlah jauh lebih banyak dari apel yang bisa Luke jatuhkan. Dia lalu mengambil salah satu apel berwarna merah yang jatuh itu kemudian memakannya.
"Lihatlah itu, Luke," ujar Will dengan nada sombong.
"Hei, kau curang. Jika kau memang tidak bisa melakukannya, tidak usah memaksakan diri," balas Luke.
Will mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu? Aku tidak melakukannya dengan curang."
"Kau memakai mantera yang berbeda denganku. Maka dari itu, kau bisa mendapatkan banyak apel."
"Hei, itu bukanlah suatu pelanggaran. Jika memang kau kalah, akui sajalah itu."
Luke tampak tidak terima dengan ucapan Will. "Hei! Aku tidak kalah!"
Will tertawa mengejek. "Kau kalah."
Saat Will dan Luke tengah sibuk berdebat, terlihat Alan yang duduk termenung di bawah sebuah pohon besar yang menghadap ke arah danau Silvoestha. Ketakutannya akan mimpi buruknya masih menghantui pikirannya. Berbagai skenario buruk pun tercipta karenanya. Dia ingin mencegah hal itu sendiri, tapi dia tidak akan mampu jika hanya dengan mengajak dua sahabatnya itu.
Namun jika dia tidak cepat bertindak, dia khawatir bahwa apa pun yang buruk akan segera terjadi. Dia dihadapkan pada dua pilihan yang sulit.
"Alan?" Luke mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan wajah Alan untuk membuatnya saat, tapi tidak bekerja sama sekali.
"Alan?" panggilnya lagi seraya menyentuh bahunya. Ajaib, dia sadar dari lamunannya.
"Ada apa?" tanya Alan.
"Kenapa kau melamun seperti itu? Apa kau masih ada masalah?" Luke bertanya balik pada Alan.
"Iya, kau tidak seperti biasanya," sahut Will.
"Tidak, aku hanya sedang memikirkan bagaimana cara untuk mencegah para penyihir jahat itu mencuri batu merah di menara itu."
Luke menyandarkan tubuhnya di pohon yang juga dipakai Alan untuk duduk, tepat di sampingnya. Will pun melakukan hal yang sama di sisi sebelah kanan Alan.
"Kami siap membantumu jika kau memang benar-benar ingin melakukannya. Bukan begitu, Will?" Luke melirik ke arah Will.
Will mengangguk sebagai tanda bahwa dia setuju dengan apa yang Luke katakan.
Alan menatapnya ragu. "Apa kita bisa melakukannya?"
Luke memegang bahu Alan dan menatapnya intens seraya tersenyum. "Kau sudah pernah melawan yang jauh lebih berbahaya dari ini, jadi kenapa kau masih berpikir bahwa kau tidak bisa melakukannya untuk yang satu ini? Aku dan Will memang tidak berpengalaman soal ini, tapi kami belajar banyak darimu."
Alan tidak percaya karena untuk pertama kalinya dia melihat Luke berkata sesuatu yang serius. Maksudnya, Luke tidak pernah berkata sesuatu yang serius sebelumnya dan ketika dia melakukannya, sulit dipercaya rasanya.
"Kita pasti bisa melawan mereka jika kita bersama, menyatukan kekuatan kita. Tidak peduli sehebat dan sekuat apa pun lawan yang akan kita hadapi, kita harus tetap bersama," timpal Will.
Alan menatap Luke dan Will secara bergantian, dia bisa melihat dari tatapan mereka bahwa mereka serius dengan apa yang baru saja mereka katakan. Dia tersenyum karena terharu melihat dua sahabatnya yang begitu semangat untuk menyemangatinya.
"Baiklah, kita akan melakukannya." Alan tersenyum.
To be continued ...
Penulis: Muhammad Rizaldi
BAB 3 ...
Sebenarnya, Alan sama sekali belum pernah masuk ke dalam gua Manhoertha ini atau gua mana pun—kecuali gua Tassatha. Dengan hanya modal sebuah penerangan dari tongkat sihirnya, dia dan dua sahabatnya nekat menelusuri gua ini untuk mencari petunjuk tentang potongan kain yang mereka temukan di luar gua. Keadaan di dalam sini begitu lembap, minimnya oksigen, gelap, dan langit-langit gua yang dipenuhi oleh kumpulan kelelawar yang berjumlah sangat banyak. Setiap kali dia memegang dinding gua, dia bisa merasakan tetesan air dari dalamnya.
Dan semakin dia masuk ke dalam, oksigen yang tersedia semakin menipis. Sudah hampir 20 menit mereka berjalan menyusuri gua ini, tapi tidak menemukan satu petunjuk pun.
"Sudah kubilang, lebih baik kita tidak masuk ke sini. Dan sekarang kita terjebak di dalam sini dengan oksigen yang menipis. Oh, bagus. Dadaku mulai terasa sesak," keluh Will.
"Makanlah ini dan jangan banyak mengeluh." Alan memberikan sebuah apel pada Will.
Dia lantas menerima apel yang diberikan Alan padanya. "Hei, dari mana kau mendapatkannya?"
Alan tidak merespon, dia hanya memberi kial pada dua sahabatnya untuk terus berjalan. Mereka berjalan dalam sunyi, bahkan mereka bisa mendengar suara langkah kaki mereka sendiri.
Setelah Will menggigit sedikit apel yang diberikan Alan tadi, dadanya perlahan sudah tidak terasa sesak lagi. Dan saat itu juga dia ingat bahwa itu adalah apel oksigen atau penduduk Negeri Maddegoert sering menyebutnya dengan Iskaarthie.
"Alan, apa kau mendengar suara langkah kaki?" tanya Luke yang seolah mendengar sesuatu.
"Ya, tentu saja. Itu suara langkah kaki kita. Sudahlah, ayo jalan!" Alan menjawab tanpa menoleh sedikit pun.
Luke menajamkan pendengarannya agar dia bisa mendengar sesuatu tersebut dengan lebih jelas. "Tidak, tidak. Ini suara langkah kaki lain; besar dan ... besar. Apa kau tidak merasakan guncangan juga?"
"Suara langkah kaki lain?" Alan berhenti kemudian menoleh ke arah Luke. "maksudmu, ada orang lain selain kita di dalam sini?"
"Ya, dan dia terdengar sudah semakin dekat," ucap Luke.
Alan, Will, dan Luke pun terdiam untuk memeriksa kebenaran tentang suara langkah kaki yang Luke dengar tadi.
"Alan, sepertinya Luke benar. Ayo kita pergi," ujar Will yang juga merasa mendengar suara langkah kaki itu.
"Tunggu sebentar," balas Alan.
Oh, tidak. Gua ini berguncang dan guncangannya terasa cukup besar. Ada apa ini?
Saat mereka tengah dibuat bingung oleh guncangan yang tiba-tiba saja terjadi, terlihat sebuah raksasa bertubuh gemuk dengan sebuah pohon di atas kepalanya dan tubuh yang berwarna cokelat. Mereka sontak terkejut melihat raksasa tersebut kemudian melarikan diri dengan paniknya.
Mereka berlari secepat mungkin agar raksasa tersebut tidak berhasil menangkap salah satu di antara mereka hingga mereka bertemu dengan sebuah pertigaan; Alan berlari ke jalan pertama, Will berlari ke jalan kedua, dan Luke berlari ke jalan ketiga. Mereka berpisah untuk mengelabui raksasa tersebut.
Saat Alan sudah merasa sedikit aman dengan raksasa tersebut yang sudah tidak mengejarnya lagi, dia menghela napas lega dan berniat untuk kembali menemui dua sahabatnya. Namun ketika dia hendak berbalik, dia melihat sebuah cahaya terang di depannya. Dia kontan tertarik untuk menghampiri sumber cahaya terang tersebut.
Dia lari dengan begitu semangat hingga akhirnya dia tiba di penghujung lorong gua yang membawanya ke luar dari gua, tepat di depan sebuah menara yang berbentuk seperti mercusuar. Dan di sini tampak sangat sepi.
Tempat apa ini? batin Alan.
Di sisi lain, Luke terjebak di dalam lorong gua yang salah dan tidak berujung. Dia tampak kebingungan dan tak henti-hentinya memanggil nama Alan untuk berharap dia bisa mendengar suaranya dan membantunya untuk keluar dari dalam lorong gua yang sangat gelap seperti ini.
Wajahnya panik dan pandangannya awas terhadap setiap pergerakan yang terjadi, bahkan dia memasang ancang-ancang dengan bersenjatakan tongkat sihirnya. "Alan, Will, kalian di mana?"
Seolah bernasib sama dengan Luke, Will tidak jauh lebih baik darinya. Dia juga terjebak di dalam lorong gua yang gelap dan terlihat tidak ada jalan untuk keluar dari dalamnya. Seakan menambah kacau suasana, tiba-tiba saja sekelompok ular kobra keluar dari salah satu dinding gua dan mendesis padanya. Dia panik, dia tidak tahu harus melakukan apa. Yang bisa dia lakukan hanyalah ... diam membeku di tempat.
Namun kemudian, Will teringat akan sebuah mantera yang pernah dipelajarinya dulu. Dia berharap mantera ini akan bekerja.
Will mengarahkan tongkat sihirnya pada sekelompok ular tersebut. "Digierosa Rivinosa."
Seketika saja cahaya biru yang sangat terang terpancar dari tongkat sihir Will dan menerangi lorong gua ini. Saat perlahan cahaya biru itu mulai meredup, dia bisa melihat sekelompok ular itu telah pergi dan kembali masuk ke dalam dinding gua.
"Syukurlah." Will menghela napas lega.
Di sisi lain, Alan tetap berada di depan menara dengan raut wajah penuh tanda tanya. Dia belum pernah melihat menara ini sebelumnya, dia bahkan tidak tahu bahwa ada sebuah menara di penghujung gua ini.
Dia berjalan mendekat dengan hati-hati karena kehadirannya diketahui oleh siapa pun. Saat dia sudah hampir mencapai pintu menara di depannya, tiba-tiba saja datang sekelompok penyihir berjubah hitam dengan tudung kepala yang menutupi seluruh wajah mereka dan terbang menurun. Mereka lalu masuk ke dalam menara tersebut saat pintu menara itu yang entah kenapa tiba-tiba saja terbuka dan seolah membiarkan mereka masuk. Dia lalu mengikuti mereka masuk ke dalam.
Ketika di dalam, dia mendapati sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan; bagian dalam menara ini dipenuhi oleh barang antik khas negeri para penyihir, mulai dari Lukshan, permadani, hingga berbagai macam tongkat sihir dengan bentuk yang berbeda-beda. Namun yang menarik perhatiannya adalah ... sebuah batu berwarna merah yang berbentuk seperti sebuah berlian. Dan ... batu itu dikelilingi oleh para penyihir berjubah hitam dan bertudung kepala yang dilihatnya tadi.
"Apa yang selama ini kita incar sudah berada di hadapan kita," ucap salah satu penyihir tersebut.
"Ya, kau benar. Dengan batu ini, kekuatan kita akan semakin bertambah," sahut yang lainnya.
Saat mereka sedang sibuk membicarakan batu tersebut, salah satu dari mereka tampak perlahan mulai membuka tudung kepalanya dan ...
****
"Aaarrgggghh!" Alan terbangun dari tidurnya.
Dia terbangun dengan keadaan napas yang memburu, wajah pucat, dan keringat yang mengalir deras dari pelipisnya. Dia mengusap wajahnya dan berusaha menyadarkan dirinya dari bayang-bayang mimpi buruknya.
Apa itu benar? Apa yang ada di dalamnya benar-benar akan terjadi?
Dia tidak pernah mendengar apa pun tentang batu di dalam menara itu sebelumnya, tapi dari percakapan mereka, dia bisa menyimpulkan bahwa batu yang ada di menara tersebut merupakan benda yang sangat penting dan punya pengaruh kuat bagi negerinya.
"Alan."
Dia terkesiap saat Luke menepuk bahunya. "Kau mengagetkanku saja. Ada apa?"
Luke beradu pandang dengan Will terlebih dahulu dengan raut wajah bingung sebelum menjawab. "Kami yang seharunya bertanya. Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat?"
"Aku ..." haruskah dia menceritakan mimpi buruknya pada dua sahabatnya itu? Bagaimana jika itu hanya sekadar bunga tidur yang tidak memiliki arti apa-apa?
"Alan?" Will mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Alan.
Baiklah, dia harus memberitahukannya walau bagaimanapun.
"Aku mendapat mimpi buruk dan aku terbangun karena itu," jawab Alan akhirnya.
Luke dan Will mengerutkan dahi mereka setelah mendengar jawaban Alan.
"Mimpi buruk apa?" Will bertanya.
"Sebelumnya, apa kalian akan percaya jika aku menceritakannya?" Alan memastikan.
"Tentu saja kami akan percaya," jawab Will yakin.
Alan menghela napas terlebih dahulu sebelum menceritakan mimpi buruknya. "Semalam aku bermimpi bahwa kita semua masuk ke dalam sebuah gua, di pertengahan jalan kita berpisah. Dan setelah kita berpisah, aku menemukan sebuah menara di penghujung lorong gua. Karena penasaran, aku pun mendekati menara itu. Ketika di dalam, aku melihat sekelompok orang—yang aku asumsikan sebagai penyihir—dengan mengenakan jubah hitam dan tudung hitam yang menutupi seluruh wajah mereka hendak mengambil sebuah batu berwarna merah yang berbetuk seperti berlian. Aku tidak tahu batu apa itu, tapi mereka berniat untuk mengambilnya."
"Menara? Menara apa?" Will tampak sedikit tidak mengerti dengan penjelasan Alan.
"Aku tidak tahu, tapi menara tersebut berbentuk seperti mercusuar," jawab Alan.
"Untuk apa mereka berniat ingin mengambil batu merah itu?" Luke menyahut dengan pertanyaan yang dia lontarkan.
"Aku tidak tahu dan itulah yang membuatku bingung. Maksudku, apakah yang ada dalam mimpiku itu akan benar-benar terjadi?"
"Sebaiknya kita tanyakan pada Paman Grigori. Dia adalah ahli tafsir mimpi, mungkin dia bisa membantu kita," usul Will.
"Baiklah," Alan beranjak dari ranjangnya. "ayo kita pergi ke sana."
"Alan." Luke memanggil.
"Ada apa, Luke?"
"Apa kau ingin pergi hanya dengan mengenakan piama seperti itu?"
Dia lantas melihat dirinya sendiri. "Hehe maaf. Yasudah, aku akan berganti pakaian lebih dulu."
****
"Jadi begitu, Paman," Alan mengakhiri ceritanya. "apa Paman bisa membantu kami?"
Paman Grigori mencelupkan tongkat sihirnya ke dalam sebuah kolam kecil di depannya. Warna air kolam itu putih dengan mengeluarkan cahaya putih terang dari dalamnya. Namun saat Paman Grigori mengaduknya, warna air kolam itu berubah menjadi hitam.
"Gawat, mimpimu itu pertanda sesuatu yang buruk," ujar Paman Grigori dengan wajah panik.
"Maksud, Paman?" tanya Alan.
"Menurut penafsiranku, mimpimu itu menyampaikan pesan padamu bahwa akan ada sekelompok penyihir jahat yang berniat untuk mencuri benda pusaka negeri ini," jelas Paman Grigori.
"Maksud Paman, batu merah yang tersimpan di dalam menara itu?" Alan memastikan.
Paman Grigori mengangguk.
Alan, Will, dan Luke saling beradu pandang yang seolah mengatakan, "Apa yang harus kita lakukan?"
"Dan ..." Paman Grigori menggantungkan kalimatnya.
"Dan apa, Paman?"
"Dan itu akan terjadi besok malam."
"Apa?!" tanya Alan, Will, dan Luke secara bersamaan dengan nada terkejut.
****
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Alan?" tanya Luke yang tengah mencabuti rerumputan di sekitar kakinya.
"Kita tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini, Alan," sahut Will yang tengah berdiam diri seraya bersandar pada batang sebuah pohon besar.
Alan bergeming, dia hanya terus melempari bebatuan kecil ke danau Silvoestha dengan tatapan kosong. Kini pikirannya sedang kacau, ada banyak sekali hal yang mengangguk pikirannya. Dia tidak bisa menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang dia hadapi saat ini.
Dan ... akankah dia memberitahu arti dari mimpi buruknya itu pada sang Ayah? Jika dia memberitahunya, bagaimana reaksinya?
Rivinthola atau Ayah Alan adalah salah satu penyihir yang masih percaya pada ramalan dan tafsir mimpi meskipun seni meramal telah lama ditinggalkan oleh masyarakat Negeri Maddegoert. Dia sangat memercayainya, bahkan Alan masih ingat betul ketika sang Ayah memercayai ramalan dari seorang peramal yang mengatakan bahwa keadaan ekonomi Negeri Maddegoert akan mengalami krisis dan ramalan itu tidak terbukti benar.
Namun, Alan telah melihatnya langsung walau hanya dalam mimpi. Bagaimana jika itu semua memang akan terjadi? Dia tidak tahu apa pengaruh dan akibat yang akan terjadi jika batu merah itu dicuri, tapi akibat apa pun itu, sudah pasti itu bukanlah sesuatu yang baik.
"Alan?" panggil Luke.
Alan bergeming.
"Alan, kau melamun?" panggilnya lagi yang kali ini disertai dengan tepukan di bahu Alan yang kontan membuatnya terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Tidak, aku hanya sedang berpikir apakah aku harus memberitahu Ayahku atau tidak," jawab Alan dengan wajah datar.
Luke memandang lurus ke arah danau Silvoestha, tepat ke arah Alan memandang. "Menurutku, lebih baik kau beritahu saja karena mungkin Ayahmu bisa membantu mencegah hal itu terjadi."
Will menghampiri Luke dan Alan. "Luke benar, Alan. Kita tidak mungkin mencegah atau melawan mereka sendirian, kita pasti akan membutuhkan bantuan."
"Kalian benar, tapi bagaimana jika itu hanya sebuah bunga tidur yang tidak berarti apa-apa? Kalian sudah tahu dan mengenal Ayahku, dia pasti akan menganggap hal ini serius meskipun kenyataannya tidak."
"Terkadang kenyataan berkata hal yang berlawanan dengan apa yang kita pikirkan, Alan," ucap Luke.
Will merangkul bahu Alan. "Sekarang beritahulah Ayahmu. Tidak usah ragu, lakukan saja. Ini semua demi kelangsungan negeri kita."
"Baiklah," Alan menoleh kemudian tersenyum pada Will. "aku akan melakukannya."
****
Alan melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumahnya dengan langkah yang berat. Perlahan dia membuka pintu rumahnya kemudian masuk. Ketika di dalam, dia sontak mencari keberadaan sang Ayah. Namun, dia tidak bisa menemukan keberadaannya di mana pun. Seolah tidak ingin menyerah, dia mencari sang Ayah di halaman belakang, lantai dua, dan tak luput juga di ruang kerjanya. Namun tetap saja, dia tidak menemukan siapa pun.
Ketika dia hendak pergi ke luar rumah, dia mendapati Max sedang menuruni tangga. Dia kontan menghampirinya untuk bertanya padanya.
"Max," panggil Alan.
"Apa?" sahut Max dengan wajah datar.
"Apa kau melihat Ayah?"
"Dia ada di Kementrian Sihir."
Alan kontan memeluk sang Adik setelah berhasil mengetahui di mana sang Ayah berada. "Terima kasih, Max."
"Lepaskan aku dan barulah berterimakasih padaku."
"Ah, baiklah," dia melepaskan pelukannya pada sang Adik kemudian bergegas pergi ke luar rumah untuk menuju Kementrian Sihir. Namun, dia berhenti dan berbalik. "apa kau mau ikut bersamaku?"
"Tidak, kau pergilah," tolak Max.
Alan mengangguk. "Baiklah."
Dia berbalik dan bersiap untuk pergi. Namun, dia takkan pergi dengan menggunakan Lukshan. Dia akan pergi menggunakan ...
Oh, aku selalu suka menggunakan trik ini, batin Alan.
Dia mengangkat tongkat sihirnya sejajar dengan kepalanya kemudian memutarnya seraya berkata, "Teleporta ignadium."
Dengan secepat kilat, dia akhirnya tiba di sebuah aula besar yang di setiap sudutnya terdapat Varnosha atau perapian yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju Negeri Maddegoert ini yang digunakan oleh para staf Kementrian Sihir. Dia berjalan di sepanjang aula dengan langkah cepat. Sebenarnya, dia sudah lupa di mana ruangan sang Ayah karena di sini banyak sekali ruangan. Seingatnya, dia hanya harus berjalan lurus hingga dia bertemu sebuah kolam dengan air mancur di atasnya dan belok kanan.
"Kolam di sini, berarti aku harus ke sana," gumam Alan seraya mengingat ke mana arah dia harus pergi dan menunjuk ke arah tersebut.
"Sudah mendapatkan jawaban?" tanya seseorang saat dia baru saja berbelok yang kontan membuatnya takut. Ketika dia menoleh, dia mendapati Will dan Luke yang tengah berjalan sejajar dengannya serta menatapnya.
"Kalian membuatku takut saja," gerutunya seraya mengelus dadanya.
"Tidak, aku baru saja ingin pergi ke ruangan Ayahku saat kalian tiba-tiba saja datang dan mengangetkanku," lanjutnya.
Luke tertawa kecil. "Kami datang ke sini karena kau meninggalkan kami begitu saja."
"Benarkah itu?"
"Ya, itu benar. Beruntung sekali Max memberitahu kami ke mana kau pergi sehingga kami bisa menyusulmu." Will menjawab.
"Baiklah, maafkan aku."
"Tidak apa-apa," balas Luke.
Alan tidak merespon dan tidak ada lagi yang bersuara, mereka berdiam seraya tetap berjalan di sepanjang aula ini dan melihat satu per satu ruangan yang mereka lewati untuk menemukan ruangan Ayah Alan. Namun, sudah hampir 12 ruangan mereka lewati dan mereka tetap tidak bisa menemukan ruangan Ayah Alan.
"Sebenarnya, kau tahu di mana ruangan Ayahmu atau tidak sih?" tanya Luke ketika dia dan dua sahabatnya berhenti di depan salah satu ruangan dengan pintu besi berwarna hitam dan papan nama berwarna emas yang bertuliskan Sn. Hastgrief.
Alan mengedar pandangan. "Aku sudah agak lupa, tapi aku yakin aku masih ingat."
"Sudah 12 kita lewati, tapi kita tak kunjung menemukan ruangan Ayahmu," keluh Luke.
"Sabarlah, Luke. Kita tidak boleh putus asa, kita harus terus mencari," kata Alan.
"Tapi sampai kapan?"
"Aku tidak tahu."
Saat Alan dan Luke sedang berdebat, Will secara tidak sengaja melihat dua orang pria yang berdiri sekitar 10 meter darinya seraya mengobrol. Dua pria itu mengenakan jubah berwarna hitam yang lebih mirip dengan jas dan dua kantung di sisi kanan maupun kirinya serta topi berbentuk kerucut yang sangat identik dengan penyihir.
Will tidak yakin, tapi salah satu dari dua pria di sana itu tampak seperti Rivinthola, Ayah Alan.
Will mencolek bahu Alan. "Apakah pria yang di sana itu adalah Ayahmu?"
Alan menoleh kemudian mengikuti arah tunjukan Will. "Benar, itu Ayahku!"
Sontak saja, Alan berlari menghampiri sang Ayah yang kemudian disusul oleh Luke dan Will. Dia sudah mencari sang Ayah seharian dan ketika dia melihatnya sedang mengobrol tak jauh dari tempat dia dan kedua sahabatnya berada, dia tidak bisa melewatkan kesempatan itu begitu saja.
"Ayah!" seru Alan meskipun jaraknya dengan sang Ayah masih beberapa meter lagi.
Sang Ayah melirik ke arah Alan saat dia mendengar anaknya itu baru saja memanggilnya dengan kerutan di dahinya.
"Sedang apa kau di sini, Alan? Kau tidak seharusnya berada di sini." tanya sang Ayah ketika Alan sudah berada di hadapannya.
Alan membungkukkan tubuhnya kemudian mengatur napasnya terlebih dulu. "Aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Beritahu apa?" Ayah beradu pandang ke arah teman di sampingnya dengan ekspresi wajah bingung.
Alan menarik napasnya dalam-dalam agar membuatnya rileks dan bisa menceritakan semuanya dengan lancar pada sang Ayah. "Semalam aku bermimpi buruk tentang sekelompok penyihir jahat yang datang ke negeri ini untuk mengambil batu merah yang berada di sebuah menara. Dan saat aku meminta bantuan Paman Grigori untuk menafsirkan apa arti dari mimpiku itu, beliau membenarkan apa yang mimpi itu katakan. Beliau juga menambahkan bahwa itu akan terjadi besok malam."
Ayah menatap Alan lama sebelum dia tertawa setelah mendengar penjelasannya. Teman yang berdiri di sampingnya pun ikut tertawa bersamanya.
Alan bingung, dia memandang dua sahabatnya secara bergantian seolah meminta bantuan mereka untuk menjelaskan kenapa Ayahnya tertawa seperti itu. Namun, mereka tampak sama bingungnya dengan dirinya.
"Itu hanya mimpi, Nak. Kau tidak perlu cemas." Ayah mengelus rambut Alan lembut seraya tersenyum.
"Tidak, Ayah. Itu benar, kau harus percaya."
"Jangan cemas, Nak. Tidak akan terjadi apa-apa, tenanglah."
"Ayah, dengarkan aku. Aku tahu mimpiku itu terdengar konyol, tapi bagaimana jika itu akan benar-benar terjadi?"
"Nak," seorang pria lain yang berdiri di samping Ayah mengelus pipi Alan seolah dia sudah mengenalnya cukup lama. "Ayahmu benar, tidak akan terjadi apa-apa. Jika memang itu akan terjadi, Kementrian Sihir tidak akan tinggal diam."
"Tapi, Yah—"
"Sudahlah, Nak, Ayah masih punya banyak pekerjaan. Kau pergilah bermain bersama teman-temanmu."
Ayah dan temannya lantas pergi meninggal Alan sendiri bersama dua sahabatnya. Seharusnya dia tahu bahwa ini akan sia-sia dan seharusnya juga dia tahu bahwa Ayahnya tidak akan pergi.
"Ayo kita pergi, Alan," ucap Will seraya merangkul bahu Alan dan menuntunnya untuk pergi dari sini.
****
"Yeah! Aku dapat satu!" seru Luke saat dia berhasil menjatuhkan sebuah apel.
"Jangan senang dulu, aku bisa mendapatkan lebih banyak darimu." Will menyombongkan diri.
"Buktikanlah jika memang kau bisa melakukannya," tantang Luke.
"Oh, kau menantangku? Baiklah. Lihat ini." Will mengedar pandangannya untuk mencari pohon apel di sekelilingnya yang memiliki banyak buah. Dan saat dia sudah menemukan pohon incarannya, dia mengarahkan tongkat sihirnya ke arah pohon tersebut kemudian berkata, "Reverendum."
Tanpa disangka, beberapa apel jatuh dari atas pohon tersebut. Dia tidak tahu berapa jumlah pasti apel yang jatuh, tapi jumlah jauh lebih banyak dari apel yang bisa Luke jatuhkan. Dia lalu mengambil salah satu apel berwarna merah yang jatuh itu kemudian memakannya.
"Lihatlah itu, Luke," ujar Will dengan nada sombong.
"Hei, kau curang. Jika kau memang tidak bisa melakukannya, tidak usah memaksakan diri," balas Luke.
Will mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu? Aku tidak melakukannya dengan curang."
"Kau memakai mantera yang berbeda denganku. Maka dari itu, kau bisa mendapatkan banyak apel."
"Hei, itu bukanlah suatu pelanggaran. Jika memang kau kalah, akui sajalah itu."
Luke tampak tidak terima dengan ucapan Will. "Hei! Aku tidak kalah!"
Will tertawa mengejek. "Kau kalah."
Saat Will dan Luke tengah sibuk berdebat, terlihat Alan yang duduk termenung di bawah sebuah pohon besar yang menghadap ke arah danau Silvoestha. Ketakutannya akan mimpi buruknya masih menghantui pikirannya. Berbagai skenario buruk pun tercipta karenanya. Dia ingin mencegah hal itu sendiri, tapi dia tidak akan mampu jika hanya dengan mengajak dua sahabatnya itu.
Namun jika dia tidak cepat bertindak, dia khawatir bahwa apa pun yang buruk akan segera terjadi. Dia dihadapkan pada dua pilihan yang sulit.
"Alan?" Luke mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan wajah Alan untuk membuatnya saat, tapi tidak bekerja sama sekali.
"Alan?" panggilnya lagi seraya menyentuh bahunya. Ajaib, dia sadar dari lamunannya.
"Ada apa?" tanya Alan.
"Kenapa kau melamun seperti itu? Apa kau masih ada masalah?" Luke bertanya balik pada Alan.
"Iya, kau tidak seperti biasanya," sahut Will.
"Tidak, aku hanya sedang memikirkan bagaimana cara untuk mencegah para penyihir jahat itu mencuri batu merah di menara itu."
Luke menyandarkan tubuhnya di pohon yang juga dipakai Alan untuk duduk, tepat di sampingnya. Will pun melakukan hal yang sama di sisi sebelah kanan Alan.
"Kami siap membantumu jika kau memang benar-benar ingin melakukannya. Bukan begitu, Will?" Luke melirik ke arah Will.
Will mengangguk sebagai tanda bahwa dia setuju dengan apa yang Luke katakan.
Alan menatapnya ragu. "Apa kita bisa melakukannya?"
Luke memegang bahu Alan dan menatapnya intens seraya tersenyum. "Kau sudah pernah melawan yang jauh lebih berbahaya dari ini, jadi kenapa kau masih berpikir bahwa kau tidak bisa melakukannya untuk yang satu ini? Aku dan Will memang tidak berpengalaman soal ini, tapi kami belajar banyak darimu."
Alan tidak percaya karena untuk pertama kalinya dia melihat Luke berkata sesuatu yang serius. Maksudnya, Luke tidak pernah berkata sesuatu yang serius sebelumnya dan ketika dia melakukannya, sulit dipercaya rasanya.
"Kita pasti bisa melawan mereka jika kita bersama, menyatukan kekuatan kita. Tidak peduli sehebat dan sekuat apa pun lawan yang akan kita hadapi, kita harus tetap bersama," timpal Will.
Alan menatap Luke dan Will secara bergantian, dia bisa melihat dari tatapan mereka bahwa mereka serius dengan apa yang baru saja mereka katakan. Dia tersenyum karena terharu melihat dua sahabatnya yang begitu semangat untuk menyemangatinya.
"Baiklah, kita akan melakukannya." Alan tersenyum.
To be continued ...
Comments
Post a Comment