Negeri Penyihir
Genre: Fantasi
Penulis: Muhammad Rizaldi
BAB 2 ...
"Ini kasus yang rumit. Sungai Arkintha tidak pernah tercemar seperti ini sebelumnya. Jujur saja, aku bahkan tidak tahu kenapa air sungai Arkintha bisa tercemar seperti itu. Dan di buku ini pun tidak tertulis apa pun mengenai tercemarnya air sungai Arkintha," ujar Professor Goleth seraya membolak-balikkan halaman buku tebal dengan sampul berwarna coklat yang sudah tampak usang di tangannya.
"Kami juga tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, Prof," sahut Will.
"Seperti kata Anda, aku pun belum pernah melihat air sungai Arkintha tercemar dengan sangat parah seperti itu." Alan menimpal.
"Apa ada seseorang yang sengaja mencemari air sungai itu?" Luke berpraduga.
Alan, Will, dan Professor Goleth pun menoleh ke arah Luke secara bersamaan.
Will menghampiri Luke. "Mungkin saja, tapi siapa?"
"Para Screbbiest, mungkin?" Luke mengendikkan bahunya.
"Oh, aku benci mereka. Mereka selalu bertingkah seolah mereka bisa melakukan segala hal dan mereka juga selalu bertingkah seolah mereka lucu. Menjijikan," lanjut Luke.
Screbbiest adalah sebutan untuk makhluk sejenis kelinci hutan dengan tubuh yang cukup besar dan dapat mengubah diri mereka menjadi apa pun jika mereka menginginkannya. Jika mereka merasa terancam atau sedang menghadapi musuhnya, mereka akan berubah menjadi monster berbulu besar dengan kumpulan cakar tajam di kaki-kaki mereka.
Mungkin memang terdengar menyeramkan, tapi sifat asli mereka adalah senang memanipulasi. Maka dari itu, Luke sangat membenci mereka.
"Jangan konyol, Luke. Mereka tidak pernah terlibat konflik apa pun dengan kita dan mereka juga takkan berani melakukan itu." Alan membantah.
"Lalu siapa?" tanya Luke.
Di saat Alan, Will, dan Luke sedang berdebat, Professor Goleth menghampiri rak buku yang berukuran sangat besar. Beliau menaiki tangga untuk menggapai rak teratas. Beliau lalu mengambil sebuah buku tebal lainnya dengan sampul berwarna hitam dan juga tampak sudah usang.
Professor Goleth membuka halaman demi halaman hingga beliau sampai pada sebuah halaman yang menggugah perhatiannya.
"Apa kalian percaya jika yang melakukan semua ini adalah para penyihir jahat?" tanya Professor Goleth.
Alan, Will, dan Luke lantas menoleh setelah mendengar pertanyaan Professor Goleth kemudian menghampirinya.
"Penyihir jahat?" ulang Will.
"Ya ...," jawab Professor Goleth seraya mengangguk.
"Jika memang seandainya begitu, lantas kenapa mereka melakukan itu?" Will bertanya.
"Aku tidak tahu," Professor Goleth mengendikkan bahunya. "tapi dalam buku ramalan ini tertulis bahwa suatu saat nanti akan ada sekelompok penyihir jahat yang akan datang dan berniat jahat pada negeri kita."
Professor Goleth lalu menunjukkan salah satu halaman dari buku hitam tebal yang beliau pegang itu. Beliau menunjukkan halaman yang berisi gambar sebuah peta suatu wilayah yang di sebelah kanannya terdapat kumpulan titik putih dan di sebelah kirinya terdapat kumpulan titik hitam.
Alan, Will, dan Luke menatap ke arah buku tebal itu. Terdapat banyak sekali simbol-simbol asing di dalamnya, tapi mereka mengenal sebagiannya.
"Kita tidak bisa berspekulasi lebih jauh selama kita tidak punya info apa-apa. Anggap saja yang melakukan itu memanglah para penyihir jahat, tapi kita tidak bisa membenarkan spekulasi tanpa dasar bukti kita itu," ujar Alan.
"Kau benar, Alan. Aku akan meneliti lebih lanjut kasus ini. Kalian akan dapat jawabannya setelah aku selesai dengan pekerjaanku." Professor Goleth menyahut.
"Baik, Professor. Kalau begitu, kami pamit," kata Alan.
"Ya, silakan."
Alan, Will, dan Luke lantas keluar dari laboratorium Professor Goleth. Jangan salah sangka, laboratorium yang dimaksud adalah laboratorium sihir yang sering digunakan untuk meneliti setiap mantera sihir yang bermasalah. Bagaimana metode penelitiannya? tidak ada yang tahu. Semua itu hanya diketahui oleh Professor Goleth dan rekan-rekannya. Alasannya? tidak ada pula yang tahu.
****
"Ayo kejar aku jika kalian bisa!" tantang Luke.
"Jangan sombong dulu, Luke. Kau akan terkejut jika aku bisa mengalahkanmu hanya dalam sekejap," timpal Will.
"Kau akan bisa melakukannya jika kau cepat. Yuhuuuuu!!" Luke menambah kecepatan terbang Lukshannya dan meninggalkan dua sahabatnya di belakang.
Seakan tak mau kalah, Alan dan Will pun menyusul Luke yang telah terlampau jauh dari mereka.
Mereka terbang mengitari danau beku yang berada di pusat negeri ini. Kegiatan ini adalah kegiatan favorit mereka lainnya, mereka begitu bahagia ketika mereka sudah melakukan ini. Mereka bahkan lupa dengan masalah sungai Arkintha yang sempat membuat mereka pusing tadi.
Mereka bermain bagai anak kecil, mereka menikmati kebahagiaan yang mereka ciptakan sendiri.
"Yeah! Aku menang!" seru Luke saat dia tiba di Prokorieth atau jembatan gantung yang menghubungkan hutan utara dan timur.
"Kau curang!" tuduh Will.
Luke tidak terima dengan perkataan sahabatnya itu. "Hey, jangan pernah menyebutku curang!"
"Ada apa? Kau malu untuk mengakuinya?"
"Hey, jangan bicaramu, Will!" Luke mulai kesal dengan perkataan sahabatnya itu.
Alan lalu tiba di Prokorieth dan mendapati pemandangan yang tidak disukainya. "Will, Luke, hentikan! Kenapa kalian bertengkar seperti itu?"
"Luke yang memulainya," bual Will.
"Hey, itu tidak benar! Will yang memulainya lebih dulu, Alan!" sungut Luke.
Alan lantas melerai kedua sahabatnya itu. "Hentikan! Apa kalian tidak malu selalu bertengkar seperti itu? Kita adalah sahabat, kalian ingat itu?!"
"Luke yang memulainya." Will tetap menyalahkan Luke.
"Diam, Will. Sekarang tidak usah saling menyalahkan!" ujar Alan.
Luke menunduk. "Baik, Alan."
"Sekarang minta maaf," titah Alan.
"Tidak mau," tolak Will.
"Aku juga tidak mau!" Luke menimpali.
"Will, Luke," ulang Alan.
Bukan hal baru bagi Alan jika mendapati dua sahabatnya itu bertengkar. Dia bahkan tidak ingat sudah berapa kali mereka bertengkar.
"Baiklah, baiklah," kata Luke dan Will secara bersamaan.
Mereka lantas melanjutkan kalimat mereka secara bersamaan pula. "Kami minta maaf."
"Jabat tangan masing-masing," titah Alan lagi.
"Alan, kumohon." Will memelas.
"Will."
"Baiklah, baiklah." Will menyerah. Dia lalu menjabat tangan Luke meskipun rasanya berat untuk melakukannya.
Luke membalas jabatan tangan Will.
Alan tersenyum puas. "Bagus."
Mereka lantas menikmati keindahan danau beku dari atas Prokorieth ini. Dahulu kala, danau ini tidak beku. Danau ini adalah danau indah dengan air berwarna biru jernih yang bahkan bisa menampakkan keadaan di dalamnya. Namun karena serangan suatu wabah mengerikan yang sempat menimpa negeri ini, air danau ini membeku. Tidak ada yang tahu penyebab membekunya air danau ini hingga hari ini. Sudah banyak professor ahli sihir yang mencoba untuk memecahkannya, tapi hasilnya selalu: tidak ada.
Hipotesis yang paling populer adalah hipotesis yang mengatakan bahwa danau ini dulunya terkena mantera sihir tak dikenal yang membuatnya membeku. Tidak ada dasar bukti untuk hipotesis tersebut, tapi mantera sihir Krookienta sempat dicurigai sebagai penyebab membekunya air danau ini.
"Alan!" seru seseorang dari arah belakang. Alan, Will, dan Luke sontak menoleh kemudian mendapati Harry yang sedang berlari dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, Harry?" tanya Alan.
Harry mengatur napasnya terlebih dahulu. "Gawat, ini benar-benar gawat."
"Apa yang gawat?" Alan kembali bertanya.
"Pusat kota telah diserang!" jawab Harry.
Mereka kontan terkejut setelah mendengar jawaban Harry.
"Diserang oleh siapa?" Will bertanya.
"Aku tidak tahu, tapi mereka semua mengenakan jubah hitam yang menutupi wajah mereka," jawab Harry.
"Ayo kita ke sana!" ucap Alan.
****
Oh, ini buruk. Benar-benar buruk. Ini bahkan jauh lebih buruk dari serangan di kebun Siertnartha tempo hari dan tercemarnya sungai Arkintha. Ini sudah keterlaluan.
"Apa yang harus kita lakukan, Alan?" tanya Will seraya membantu beberapa penduduk yang terluka.
"Aku tidak tahu, kita kembali kehilangan jejak mereka yang melakukan ini. Kita belum bisa mengambil tindakan apa pun," jawab Alan.
Will berhenti melakukan aktivitasnya. "Apa kau gila? Apa kau tidak lihat mereka yang terluka? Pemukiman mereka juga telah porak poranda akibat serangan mereka dan kau dengan santainya berkata, 'Kita belum bisa mengambil tindakan apa pun'? Apa kau tega melihat mereka merintih kesakitan?"
"Aku tahu, Will. Aku tahu, tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak tahu siapa yang melakukan ini, kita juga tidak tahu siapa mereka. Kumohon jangan memperkeruh suasana." Alan tampak kesal.
"Tapi tak bisa—"
"Teman-teman."
Ucapan Will harus terpotong oleh ucapan Luke.
"Aku menemukan sesuatu," lanjut Luke.
Alan dan Will lantas menghampirinya. Dia berada tak jauh dari reruntuhan bangunan kota yang sudah rata dengan tanah, dia berjongkok dan tampak sedang mengais sesuatu.
"Apa yang kau temukan, Luke?" tanya Alan.
Luke memberi kial pada Alan untuk menunggu. "Sebentar, ini agak sedikit sulit dan—oh, aku dapat!"
Dia menarik keluar sebuah kotak berukuran kecil yang berbentuk seperti kotak harta karun yang dia temukan dari dalam reruntuhan bangunan ini. Dia meniup kotak itu untuk membersihkan debu di atasnya kemudian membukanya perlahan. Saat kotak itu telah terbuka sempurna, dia menemukan secarik kertas di dalamnya. Dia lantas mengambil kertas itu dan mulai membacanya.
"Sial, ini bahasa kuno." Luke mengumpat.
"Biar aku yang baca." Alan merebut kertas itu dari tangan Luke. Dia melihat tulisan yang tertulis di dalamnya. Tidak sulit.
Bienvantada Sorcettiest,
Qual solonas crieren este papera, los cuernos cuo di solonas vuertas, vosan vamigana, un deviero para vosas. Sono di duo mas quetto manquetta riviethanam vi cuo natha les carnares des mesoruo. No queno carras mas, sono di no va crarlon que me camas la catarda. Solo vuelan cuettas di cuo martedaras.
Vosan deviero vamigana.
"Apa yang tertulis di sana, Alan?" Will bertanya setelah Alan selesai membaca tulisan di dalam kertas itu.
Alan lantas mulai menerjemahkannya. "Untuk para penyihir,
Jika kalian telah menemukan surat ini, itu tandanya kalian telah melihat apa yang baru saja aku, kawan lama kalian, lakukan. Tenang saja, ini bukanlah suatu yang besar, tapi hanyalah permulaan saja. Aku akan melaksanakan apa yang sudah seharusnya aku lakukan.
Kawan tersayang kalian ..."
"Apa maksudnya itu?" Luke mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan isi surat itu.
"Mereka yang telah melakukannya," kata Alan.
"Siapa yang telah melakukan apa?" Will bertanya.
"Para penyihir jahat," jawab Alan.
"Apa?!" seru Will dan Luke secara bersamaan.
"Ayo ikut aku," Alan mengajak dua sahabatnya untuk pergi ke suatu tempat. "Tapi sebelumnya ... Goertathom Ivasafaro."
Alan menyihir surat itu agar tidak terlihat dan menyimpannya di suatu tempat yang aman.
****
"Professor, kami menemukan ini." Alan memberikan surat yang dia temukan tadi pada Professor Goleth.
Beliau lalu menerima surat itu. "Apa ini?"
"Sebuah surat yang kami temukan dalam kotak yang terkubur dalam reruntuhan bangunan kota, Professor." Will menjawab.
"Reruntuhan bangunan kota? Apa yang terjadi?" Professor Goleth terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Sesuatu yang buruk baru saja terjadi." Alan menjawab pertanyaan Professor Goleth.
"Sesuatu yang buruk apa, Alan?" Professor Goleth kembali bertanya.
"Kami tidak tahu, tapi surat ini sepertinya menjawab sedikit pertanyaan tentang apa yang baru saja terjadi."
Professor Goleth mulai membaca surat yang tadi diberikan Alan padanya. "Ini bahasa kuno dan yang pasti, siapa pun yang mengirim surat ini bukan berasal dari negeri ini."
Alan tampak tidak mengerti dengan penjelasan Professor Goleth. "Maksud Anda?"
"Ikuti aku," perintah Professor Goleth.
Alan pun mengikuti beliau dari belakang menuju salah satu deretan rak berisikan buku-buku tebal yang sudah tampak usang. Beliau mengambil salah satu buku yang terdapat di barisan rak pertama. Oh, tunggu. Itu buku yang tadi pagi beliau tunjukan pada Alan.
"Ramalan tentang penyihir jahat yang akan berniat jahat pada negeri kita dan tertulis di dalam buku ini ternyata benar. Tertulis pula di buku ini bahwa para penyihir jahat itu masih menggunakan bahasa kuno yang sudah tidak dipakai lagi oleh kita dan itu terbukti dengan ditemukannya kertas beserta kalimat dalam bahasa kuno itu," urai Professor Goleth.
"Itu artinya ..." Alan memberi jeda pada kalimatnya. "mereka telah mulai melakukannya?"
Professor Goleth menaruh buku itu kembali. "Kau benar, Alan. Namun, kita masih belum tahu apa tujuan mereka melakukan itu."
Alan tidak merespon, dia sedang berpikir tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Penyebab dari kekacauan di pusat kota telah diketahui, tapi alasan di balik kekacauan itu terjadi masih belum diketahui.
PRAAANG ...
Saat Alan sedang berpikir, tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca yang berasal dari luar. Dia lantas bergegas keluar untuk memeriksanya.
"Ada apa, Luke?" tanya Alan saat dia mendapati Luke yang sedang membungkuk dan tampak sedang meraih sesuatu.
Luke berdiri. "Burung hantumu datang dan memecahkan kaca. Dia membawa surat ini di kakinya."
"Apa ini?" Alan menerima surat yang disodorkan oleh Luke padanya.
"Aku tidak tahu." Luke mengendikkan bahunya kemudian membersihkan sisa pecahan kacanya. "Naveria."
Alan pun membuka surat itu. "Bahasa kuno lagi."
"Apa? Cepat bacakan," ucap Will.
Este sonos di es vi le estarte. Sono va requir monscette valuo que va me des coslent a me caneau rivitues mas. Sollas va eqcuerer di cuo quella mas vosan hagrievosa.
"Apa yang tertulis di sana, Alan?" tanya Will yang sudah semakin penasaran.
Alan lantas menerjemahkan isi surat itu. "Ini semua barulah sebuah permulaan. Aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku dan mengambil apa yang sudah seharusnya jadi milikku. Kalian akan lihat kehancuran negeri kalian."
"Apa maksudnya itu?" Luke bertanya.
"Ini artinya," Alan menatap ke arah luar jendela. "mereka sedang mengincar sesuatu yang ada di negeri kita, tapi kita tidak tahu apa itu."
"Ada apa ini?" Professor Goleth menyela.
Alan menoleh kemudian memberikan surat yang ada di tangannya kepada beliau. Beliau lalu mulai membacanya.
Professor Goleth tampak tidak memercayai apa yang baru saja dibacanya. "Tidak, ini tidak boleh terjadi."
****
"Bu, di mana Ayah dan Max?" tanya Alan setibanya di rumah.
"Ayahmu sedang berada di Kementrian Sihir untuk mengurus beberapa hal, sedangkan Max sedang berada di bukit belakang sepanjang pagi ini," jawab sang Ibu.
Alan menghela napasnya. "Aku benar-benar tidak mengerti padanya, Bu. Kenapa dia sama sekali tidak mau bersosialisasi?"
"Ibu juga tidak tahu, Nak. Ibu tidak pernah melihatnya memiliki teman, hanya Soelvant peliharaannya itulah yang selalu menemaninya. Bicaralah padanya sebagai kakak dan adik, dia butuh teman." Ibu mengelus pipi Alan lembut seraya tersenyum.
"Apa dia akan mendengarkanku?"
Ibu mengelus rambut Alan lembut. "Kau kakaknya, dia pasti akan mendengarkanmu. Percayalah pada Ibu."
Alan tersenyum kemudian mengangguk. "Aku akan menemuinya."
"Pergilah."
Alan lantas pergi menuju bukit belakang dengan menggunakan Lukshannya. Setibanya di sana, dia mendapati adiknya yang sedang terbang dengan menunggangi Soelvant peliharaannya berputar-putar di langit. Dia tampak sangat bahagia di atas sana.
Alan pun hanya menunggu adiknya itu selesai melakukan kegiatan favoritnya di dekat salah satu pohon berukuran sedang seraya memikirkan kalimat apa yang harus diucapkannya.
"Ada apa kau datang ke mari?" tanya Max setelah mendaratkan Soelvant-nya. Dia turun dari atas punggung peliharaannya dan berdiri tak jauh dari Alan.
"Tidak ada, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu," jawab Alan.
Max menatapnya tidak percaya. "Tidak usah berbohong padaku, aku tahu kau datang ke mari hanya untuk menanyakan hal yang sama. Kau selalu begitu."
"Mungkin kemarin aku memang begitu, tapi kini aku sudah lelah. Aku ingin bicara denganmu sebagai kakak dan adik, apa kau keberatan dengan itu?"
Max berbalik, dia tetap tidak bisa memercayai kakaknya itu.
"Baiklah jika kau tidak ingin bicara denganku, tapi apa aku bisa meminta sedikit waktumu? Aku mau kita selayaknya seorang kakak dan adiknya."
Max bergeming.
"Max, kumohon."
Max berbalik, dia sempat ragu akan pilihannya, tapi mungkin tidak ada salahnya untuk memberinya kesempatan.
"Baiklah," katanya kemudian.
Seulas senyum kontan terlukis di wajah Alan. Dia lalu duduk di atas rerumputan hijau dengan disuguhi pemandangan hamparan padang rumput segar di depannya yang menyejukkan mata. Dia menepuk rumput di sampingnya untuk memberi isyarat pada Max bahwa dia harus duduk di sampingnya.
Max menurut, dia duduk di samping Alan dan menatap lurus ke depan.
"Kau tahu, sekarang aku mengerti kenapa kau senang sekali berada di sini," ujar Alan, memulai obrolan dengan tetap memandangi hamparan padang rumput di depannya.
Max menoleh. "Rumput ini, udara segar ini, dan semua yang ada di sini membuatku nyaman. Kau mungkin bahagia jika bersama dua teman bodohmu itu, tapi tidak denganku."
"Kenapa kau menyebut teman-temanku bodoh?" Alan menoleh yang membuat mata mereka beradu pandang.
"Apa kau marah?"
"Ya ...," Alan mengendikkan bahunya. "tidak. Aku tidak marah, tapi kenapa kau menyebut mereka begitu?"
"Kak, dengar. Tidak ada orang yang bisa dipercayai di dunia ini, mereka sewaktu-waktu bisa berbuat jahat pada kita. Mereka adalah orang-orang bermuka dua."
"Apa maksudmu, Max?"
"Kau akan mengerti saat kau merasakannya sendiri, Kak."
Max berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Dan satu lagi, terima kasih karena sudah mau berbicara denganku. Aku harap kau bisa memahamiku, Kak."
Dia lantas menuntun Soelvant-nya untuk pergi meninggalkan sang Kakak yang masih duduk dengan kerutan di dahinya. Dia pergi tanpa menoleh sedikit pun.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Alan pada dirinya sendiri.
****
"Ayah, bukalah. Ini aku, Alan." Alan mengetuk sebuah pintu kayu besar di depannya. Dia mengetuknya beberapa kali hingga tak lama kemudian seorang pria setengah baya dengan rambut pirang dan wajah yang tampak masih muda membukakan pintunya. Dia adalah Rivinthola, Ayah Alan.
"Ada apa, Alan? Kenapa kau belum tidur?" tanya sang Ayah saat mendapati Alan yang tengah berdiri di depannya. Tinggi sang Ayah terpaut tak jauh berbeda dengan Alan, tapi akan tampak sangat jelas jika mereka berjalan berdampingan.
"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Ayah," jawab Alan.
Sang Ayah lantas melebarkan pintu kamarnya kemudian mempersilakan Alan masuk. "Bicaralah di dalam."
Kamar sang Ayah berukuran cukup besar untuk ukuran kamar yang ditempati oleh satu orang: desain abad pertengahan terasa sangat kental di dalam sini, sebuah ranjang besar yang dihiasi dengan tirai berwarna merah maroon, beberapa lukisan berpigura yang menampilkan seorang wanita tua yang mengenakan gaun merah besar dengan hiasan kepala yang tampak seperti mahkota (Jika Alan tidak salah mengingat, itu adalah lukisan nenek buyutnya.), sebuah meja yang terbuat dari kayu dan berukuran cukup besar yang diletakkan tak jauh dari lemari kayu besar di sudut sana.
Sebelumnya, dia tidak pernah masuk ke dalam kamar sang Ayah. Dan dia benar-benar terpesona dengan tampilan kamar Ayahnya itu meskipun tampilannya hanyalah sebatas tampilan abad pertengahan.
Sang Ayah duduk di kursi kerjanya. "Jadi, apa yang mau kau bicarakan, Alan?"
Alan tersadar dari kekagumannya setelah mendengar pertanyaan sang Ayah. Dia lalu duduk di kursi lain yang disediakan di meja kerja sang Ayah kemudian mengeluarlan dua buah surat yang dia dan teman-temannya temukan tadi siang. "Aku dan teman-temanku menemukan ini. Apa menurut Ayah ini sungguhan? Apa mereka akan benar-benar menghancurkan negeri kita?"
Sang Ayah menerima dua buah surat yang tadi diberikan Alan padanya kemudian mulai membacanya. Satu hal yang unik dari Rivinthola atau Ayah Alan adalah kemampuannya yang bisa memahami sesuatu dalam waktu yang sangat singkat. Misalnya sekarang, dia sudah selesai membaca dua buah surat yang diberikan Alan meskipun dia baru saja membalik-balikkan halamannya.
"Tenang, Nak, semua yang tertulis di surat ini takkan benar-benar terjadi," bual sang Ayah. Dia tidak mau mengatakan yang sejujurnya, tentu saja. Dia berusaha menutupi wajah paniknya dari Alan agar anaknya itu tidak ikut khawatir.
"Aku harap begitu, Yah. Namun, bagaimana jika itu terjadi? Apa kita tidak harus melakukan persiapan atau apa pun untuk berantisipasi?"
Sang Ayah mengenakan kacamatanya, mengambil sebuah kertas serta sebuah pena bulu yang kemudian dia celupkan ke dalam kotak tinta. Dia menuliskan sebuah kalimat; sebuah mantera.
Setelah selesai, sang Ayah memberikan kertas itu pada Alan. "Pegang ini. Ini adalah mantera pelindung yang akan selalu melindungimu selama kau menyimpannya."
"Baik, Ayah." Alan menerimanya kemudian menyimpannya di dalam sakunya.
"Kertas-kertas ini untuk sementara Ayah yang akan menyimpannya, kau tidak perlu khawatir. Tidurlah dan jangan pikirkan tentang masalah ini, Ayah yang akan membereskan semuanya."
Alan tersenyum kemudian beranjak dari kursi yang dia duduki tadi untuk pergi ke kamarnya. Namun ketika dia sudah berada di ambang pintu, sang Ayah kembali memanggilnya.
"Ada apa, Yah?"
"Tidak, tidak ada. Ayah hanya ingin mengucapkan selamat malam, Ayah sangat menyayangimu." Ayah pun tak lupa untuk mengecup kening Alan sebelum dia pergi.
Alan tersenyum untuk kesekian kalinya. "Selamat malam, Yah."
Dia membuka kenop pintunya kemudian keluar dari kamar sekaligus ruang kerja sang Ayah. Sepanjang dia berjalan menuju kamarnya, dia tidak bisa berhenti memikirkan surat-surat itu; berbagai skenario tentang hal yang mungkin saka terjadi pun memenuhi otaknya.
Bagaimana jika itu adalah sebuah ancaman?
Bagaimana jika itu adalah surat teror?
Bagaimana jika apa yang tertulis di surat itu akan benar-benar terjadi?
Bagaimana jika negeri ini akan benar-benar hancur?
Oh, tidak. Semuanya akan baik-baik saja. Berhenti memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, batin Alan.
Alan membuka kenop pintu kamarnya saat dia telah tiba di depannya kemudian masuk ke dalamnya. Kamar Alan tampak tidak jauh berbeda dengan kamar sang Ayah; ruangan yang didominasi warna cokelat dan sedikit warna hitam, gorden berwarna merah maroon, sebuah ranjang besar dengan tirai yang berwarna merah maroon pula, jendela-jendela besar, dan sebuah perapian di sudut sana.
"Nyaman sekali rasanya bisa berbaring setelah seharian beraktivitas," gumamnya pada dirinya sendiri.
Tubuhnya terasa begitu lelah, tak terkecuali otaknya yang pusing karena memikirkan berbagai hal. Dia memijit pelipisnya untuk membuatnya rileks dan tertidur. Namun saat dia sudah hampir tertidur, terdengar seperti suara siulan. Matanya kembali terbuka. Dia beranjak dari ranjangnya lalu mencari sumber suara tersebut.
"Siapa itu?"
"Ini aku, Will."
Suara itu terdengar tidak jauh darinya, tapi dia tidak bisa melihat siapa pun di sekelilingnya.
"Will, apa kau menggunakan jubah penghilang?" tanya Alan seraya tetap mengedar pandang.
"Tidak, aku di sini. Di perapianmu, cepatlah."
Dia melihat ke arah perapiannya dan mendapati sebuah percikan dari sana. Dia lalu menghampirinya untuk mengeceknya.
"Will, apa kau masih di sana?" tanya Alan, memastikan.
"Ya, aku masih di sini," jawabnya yang muncul dalam bentuk bara api yang menyala walaupun agak sedikit redup.
Alan mengelus dadanya dan dia bisa bernapas lega karena itu memang Will. "Ada apa, Will?"
Will tampak sedikit terbatuk sebentar. "Aku dan Luke menemukan sebuah potongan kain di gua Manhoertha. Kami menduga bahwa ini adalah potongan kain dari jubah yang dikenakan si peneror. Cepat datanglah ke mari."
"Dan pastikan tidak ada yang mengikutimu," lanjutnya.
Alan mengangguk paham. Namun saat dia hendak membalas, bara api yang menampilkan wajah Will hilang begitu saja. Dia berdiri, mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam saku celananya kemudian mengarahkannya ke atas kepalanya. "Teleporta ignadium."
Dengan secepat kilat, dia akhirnya tiba di tempat yang disebutkan oleh Will.
"Teman-teman," panggil Alan.
Will dan Luke berbalik secara bersamaan. Will memegang sebuah potongan seperti yang dia katakan tadi di tangan kanannya, sedangkan di tangan kiri Luke terdapat sebuah noda hitam.
"Inilah potongan kain yang kami temukan tadi." Will memberikan potongan kain itu pada Alan yang lantas diterima.
"Bagaimana kalian bisa menemukan ini di sini?" Alan bertanya seraya memeriksa potongan kain yang dipegangnya itu.
"Kami menemukannya secara tidak sengaja saat kami sedang berjalan-jalan di sekitar sini." Will menjawab.
"Will benar, Alan. Awalnya kami mengira itu hanyalah sebuah daun, tapi saat kami mendekat, ternyata itu bukan daun," sahut Luke.
Alan mengerutkan dahinya. "Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Apa yang kami lakukan di sini?" Will mengulang pertanyaan Alan karena dia tidak memperkirakan bahwa ini akan membuatnya curiga. "Kami ... kami hanya berusaha memecahkan misteri surat yang kita temukan tadi siang."
Alan tampak ragu setelah mendengar penjelasan Will.
"Ya, itu benar! Lagipula, itu sudah tidak penting lagi. Yang terpenting saat ini adalah potongan kain siapa itu," timpal Luke yang berusaha mengubah arah pembicaraannya.
"Kau benar, Luke. Kita harus mencari tahu siapa pemilik potongan kain ini, tapi apa yang harus kita ..." Alan menggantungkan kalimatnya saat dia mendapatkan sebuah. "tunggu. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam?"
"Apa? Apa kau sudah gila? Aku tidak mau masuk ke sana. Lagipula, ini sudah malam. Lebih baik kita pergi," tolak Will yang tidak setuju dengan rencana gila sahabatnya itu.
"Tapi mungkin saja kita bisa menemukan jawabannya di dalam sana." Alan meyakinkan.
Will menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mau masuk ke sana."
"Bagaimana denganmu, Luke? Apa kau setuju?" Alan beralih pada Luke.
"Aku?" ulang Luke.
Alan mengangguk. "Ya, kau."
"Hmm ... aku," Luke tampak berpikir. "setuju. Aku ikut denganmu."
Will tidak bisa memercayai apa yang baru saja didengarnya. "Oh, bagus. Pergilah dan beritahu aku saat kalian sudah berada di neraka."
"Will, dengar aku. Alan benar, kita mungkin saja bisa menemukan jawabannya di dalam sana. Lagipula, tidak ada salahnya 'kan kita masuk? Kita akan masuk bersama. Kita akan saling melindungi, bukankah kita sahabat?" Luke berusaha meyakinkan Will.
Alan merangkul bahu Luke kemudian menuntunnya masuk ke dalam gua. "Sudahlah, Luke, biarkan sajalah dia. Ayo kita masuk."
Luke hanya menurut saat Alan menuntunnya dan meninggalkan Will sendiri di luar gua.
Oh, bagus. Will benci saat dihadapkan dengan dua pilihan sulit dan saat itu juga dia harus memilih salah satunya.
"Baiklah, baiklah. Aku ikut. Hei, tunggu aku!" Will menyusul kedua sahabatnya yang sudah masuk lebih dulu.
To be continued ...
Penulis: Muhammad Rizaldi
BAB 2 ...
"Ini kasus yang rumit. Sungai Arkintha tidak pernah tercemar seperti ini sebelumnya. Jujur saja, aku bahkan tidak tahu kenapa air sungai Arkintha bisa tercemar seperti itu. Dan di buku ini pun tidak tertulis apa pun mengenai tercemarnya air sungai Arkintha," ujar Professor Goleth seraya membolak-balikkan halaman buku tebal dengan sampul berwarna coklat yang sudah tampak usang di tangannya.
"Kami juga tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, Prof," sahut Will.
"Seperti kata Anda, aku pun belum pernah melihat air sungai Arkintha tercemar dengan sangat parah seperti itu." Alan menimpal.
"Apa ada seseorang yang sengaja mencemari air sungai itu?" Luke berpraduga.
Alan, Will, dan Professor Goleth pun menoleh ke arah Luke secara bersamaan.
Will menghampiri Luke. "Mungkin saja, tapi siapa?"
"Para Screbbiest, mungkin?" Luke mengendikkan bahunya.
"Oh, aku benci mereka. Mereka selalu bertingkah seolah mereka bisa melakukan segala hal dan mereka juga selalu bertingkah seolah mereka lucu. Menjijikan," lanjut Luke.
Screbbiest adalah sebutan untuk makhluk sejenis kelinci hutan dengan tubuh yang cukup besar dan dapat mengubah diri mereka menjadi apa pun jika mereka menginginkannya. Jika mereka merasa terancam atau sedang menghadapi musuhnya, mereka akan berubah menjadi monster berbulu besar dengan kumpulan cakar tajam di kaki-kaki mereka.
Mungkin memang terdengar menyeramkan, tapi sifat asli mereka adalah senang memanipulasi. Maka dari itu, Luke sangat membenci mereka.
"Jangan konyol, Luke. Mereka tidak pernah terlibat konflik apa pun dengan kita dan mereka juga takkan berani melakukan itu." Alan membantah.
"Lalu siapa?" tanya Luke.
Di saat Alan, Will, dan Luke sedang berdebat, Professor Goleth menghampiri rak buku yang berukuran sangat besar. Beliau menaiki tangga untuk menggapai rak teratas. Beliau lalu mengambil sebuah buku tebal lainnya dengan sampul berwarna hitam dan juga tampak sudah usang.
Professor Goleth membuka halaman demi halaman hingga beliau sampai pada sebuah halaman yang menggugah perhatiannya.
"Apa kalian percaya jika yang melakukan semua ini adalah para penyihir jahat?" tanya Professor Goleth.
Alan, Will, dan Luke lantas menoleh setelah mendengar pertanyaan Professor Goleth kemudian menghampirinya.
"Penyihir jahat?" ulang Will.
"Ya ...," jawab Professor Goleth seraya mengangguk.
"Jika memang seandainya begitu, lantas kenapa mereka melakukan itu?" Will bertanya.
"Aku tidak tahu," Professor Goleth mengendikkan bahunya. "tapi dalam buku ramalan ini tertulis bahwa suatu saat nanti akan ada sekelompok penyihir jahat yang akan datang dan berniat jahat pada negeri kita."
Professor Goleth lalu menunjukkan salah satu halaman dari buku hitam tebal yang beliau pegang itu. Beliau menunjukkan halaman yang berisi gambar sebuah peta suatu wilayah yang di sebelah kanannya terdapat kumpulan titik putih dan di sebelah kirinya terdapat kumpulan titik hitam.
Alan, Will, dan Luke menatap ke arah buku tebal itu. Terdapat banyak sekali simbol-simbol asing di dalamnya, tapi mereka mengenal sebagiannya.
"Kita tidak bisa berspekulasi lebih jauh selama kita tidak punya info apa-apa. Anggap saja yang melakukan itu memanglah para penyihir jahat, tapi kita tidak bisa membenarkan spekulasi tanpa dasar bukti kita itu," ujar Alan.
"Kau benar, Alan. Aku akan meneliti lebih lanjut kasus ini. Kalian akan dapat jawabannya setelah aku selesai dengan pekerjaanku." Professor Goleth menyahut.
"Baik, Professor. Kalau begitu, kami pamit," kata Alan.
"Ya, silakan."
Alan, Will, dan Luke lantas keluar dari laboratorium Professor Goleth. Jangan salah sangka, laboratorium yang dimaksud adalah laboratorium sihir yang sering digunakan untuk meneliti setiap mantera sihir yang bermasalah. Bagaimana metode penelitiannya? tidak ada yang tahu. Semua itu hanya diketahui oleh Professor Goleth dan rekan-rekannya. Alasannya? tidak ada pula yang tahu.
****
"Ayo kejar aku jika kalian bisa!" tantang Luke.
"Jangan sombong dulu, Luke. Kau akan terkejut jika aku bisa mengalahkanmu hanya dalam sekejap," timpal Will.
"Kau akan bisa melakukannya jika kau cepat. Yuhuuuuu!!" Luke menambah kecepatan terbang Lukshannya dan meninggalkan dua sahabatnya di belakang.
Seakan tak mau kalah, Alan dan Will pun menyusul Luke yang telah terlampau jauh dari mereka.
Mereka terbang mengitari danau beku yang berada di pusat negeri ini. Kegiatan ini adalah kegiatan favorit mereka lainnya, mereka begitu bahagia ketika mereka sudah melakukan ini. Mereka bahkan lupa dengan masalah sungai Arkintha yang sempat membuat mereka pusing tadi.
Mereka bermain bagai anak kecil, mereka menikmati kebahagiaan yang mereka ciptakan sendiri.
"Yeah! Aku menang!" seru Luke saat dia tiba di Prokorieth atau jembatan gantung yang menghubungkan hutan utara dan timur.
"Kau curang!" tuduh Will.
Luke tidak terima dengan perkataan sahabatnya itu. "Hey, jangan pernah menyebutku curang!"
"Ada apa? Kau malu untuk mengakuinya?"
"Hey, jangan bicaramu, Will!" Luke mulai kesal dengan perkataan sahabatnya itu.
Alan lalu tiba di Prokorieth dan mendapati pemandangan yang tidak disukainya. "Will, Luke, hentikan! Kenapa kalian bertengkar seperti itu?"
"Luke yang memulainya," bual Will.
"Hey, itu tidak benar! Will yang memulainya lebih dulu, Alan!" sungut Luke.
Alan lantas melerai kedua sahabatnya itu. "Hentikan! Apa kalian tidak malu selalu bertengkar seperti itu? Kita adalah sahabat, kalian ingat itu?!"
"Luke yang memulainya." Will tetap menyalahkan Luke.
"Diam, Will. Sekarang tidak usah saling menyalahkan!" ujar Alan.
Luke menunduk. "Baik, Alan."
"Sekarang minta maaf," titah Alan.
"Tidak mau," tolak Will.
"Aku juga tidak mau!" Luke menimpali.
"Will, Luke," ulang Alan.
Bukan hal baru bagi Alan jika mendapati dua sahabatnya itu bertengkar. Dia bahkan tidak ingat sudah berapa kali mereka bertengkar.
"Baiklah, baiklah," kata Luke dan Will secara bersamaan.
Mereka lantas melanjutkan kalimat mereka secara bersamaan pula. "Kami minta maaf."
"Jabat tangan masing-masing," titah Alan lagi.
"Alan, kumohon." Will memelas.
"Will."
"Baiklah, baiklah." Will menyerah. Dia lalu menjabat tangan Luke meskipun rasanya berat untuk melakukannya.
Luke membalas jabatan tangan Will.
Alan tersenyum puas. "Bagus."
Mereka lantas menikmati keindahan danau beku dari atas Prokorieth ini. Dahulu kala, danau ini tidak beku. Danau ini adalah danau indah dengan air berwarna biru jernih yang bahkan bisa menampakkan keadaan di dalamnya. Namun karena serangan suatu wabah mengerikan yang sempat menimpa negeri ini, air danau ini membeku. Tidak ada yang tahu penyebab membekunya air danau ini hingga hari ini. Sudah banyak professor ahli sihir yang mencoba untuk memecahkannya, tapi hasilnya selalu: tidak ada.
Hipotesis yang paling populer adalah hipotesis yang mengatakan bahwa danau ini dulunya terkena mantera sihir tak dikenal yang membuatnya membeku. Tidak ada dasar bukti untuk hipotesis tersebut, tapi mantera sihir Krookienta sempat dicurigai sebagai penyebab membekunya air danau ini.
"Alan!" seru seseorang dari arah belakang. Alan, Will, dan Luke sontak menoleh kemudian mendapati Harry yang sedang berlari dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, Harry?" tanya Alan.
Harry mengatur napasnya terlebih dahulu. "Gawat, ini benar-benar gawat."
"Apa yang gawat?" Alan kembali bertanya.
"Pusat kota telah diserang!" jawab Harry.
Mereka kontan terkejut setelah mendengar jawaban Harry.
"Diserang oleh siapa?" Will bertanya.
"Aku tidak tahu, tapi mereka semua mengenakan jubah hitam yang menutupi wajah mereka," jawab Harry.
"Ayo kita ke sana!" ucap Alan.
****
Oh, ini buruk. Benar-benar buruk. Ini bahkan jauh lebih buruk dari serangan di kebun Siertnartha tempo hari dan tercemarnya sungai Arkintha. Ini sudah keterlaluan.
"Apa yang harus kita lakukan, Alan?" tanya Will seraya membantu beberapa penduduk yang terluka.
"Aku tidak tahu, kita kembali kehilangan jejak mereka yang melakukan ini. Kita belum bisa mengambil tindakan apa pun," jawab Alan.
Will berhenti melakukan aktivitasnya. "Apa kau gila? Apa kau tidak lihat mereka yang terluka? Pemukiman mereka juga telah porak poranda akibat serangan mereka dan kau dengan santainya berkata, 'Kita belum bisa mengambil tindakan apa pun'? Apa kau tega melihat mereka merintih kesakitan?"
"Aku tahu, Will. Aku tahu, tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak tahu siapa yang melakukan ini, kita juga tidak tahu siapa mereka. Kumohon jangan memperkeruh suasana." Alan tampak kesal.
"Tapi tak bisa—"
"Teman-teman."
Ucapan Will harus terpotong oleh ucapan Luke.
"Aku menemukan sesuatu," lanjut Luke.
Alan dan Will lantas menghampirinya. Dia berada tak jauh dari reruntuhan bangunan kota yang sudah rata dengan tanah, dia berjongkok dan tampak sedang mengais sesuatu.
"Apa yang kau temukan, Luke?" tanya Alan.
Luke memberi kial pada Alan untuk menunggu. "Sebentar, ini agak sedikit sulit dan—oh, aku dapat!"
Dia menarik keluar sebuah kotak berukuran kecil yang berbentuk seperti kotak harta karun yang dia temukan dari dalam reruntuhan bangunan ini. Dia meniup kotak itu untuk membersihkan debu di atasnya kemudian membukanya perlahan. Saat kotak itu telah terbuka sempurna, dia menemukan secarik kertas di dalamnya. Dia lantas mengambil kertas itu dan mulai membacanya.
"Sial, ini bahasa kuno." Luke mengumpat.
"Biar aku yang baca." Alan merebut kertas itu dari tangan Luke. Dia melihat tulisan yang tertulis di dalamnya. Tidak sulit.
Bienvantada Sorcettiest,
Qual solonas crieren este papera, los cuernos cuo di solonas vuertas, vosan vamigana, un deviero para vosas. Sono di duo mas quetto manquetta riviethanam vi cuo natha les carnares des mesoruo. No queno carras mas, sono di no va crarlon que me camas la catarda. Solo vuelan cuettas di cuo martedaras.
Vosan deviero vamigana.
"Apa yang tertulis di sana, Alan?" Will bertanya setelah Alan selesai membaca tulisan di dalam kertas itu.
Alan lantas mulai menerjemahkannya. "Untuk para penyihir,
Jika kalian telah menemukan surat ini, itu tandanya kalian telah melihat apa yang baru saja aku, kawan lama kalian, lakukan. Tenang saja, ini bukanlah suatu yang besar, tapi hanyalah permulaan saja. Aku akan melaksanakan apa yang sudah seharusnya aku lakukan.
Kawan tersayang kalian ..."
"Apa maksudnya itu?" Luke mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan isi surat itu.
"Mereka yang telah melakukannya," kata Alan.
"Siapa yang telah melakukan apa?" Will bertanya.
"Para penyihir jahat," jawab Alan.
"Apa?!" seru Will dan Luke secara bersamaan.
"Ayo ikut aku," Alan mengajak dua sahabatnya untuk pergi ke suatu tempat. "Tapi sebelumnya ... Goertathom Ivasafaro."
Alan menyihir surat itu agar tidak terlihat dan menyimpannya di suatu tempat yang aman.
****
"Professor, kami menemukan ini." Alan memberikan surat yang dia temukan tadi pada Professor Goleth.
Beliau lalu menerima surat itu. "Apa ini?"
"Sebuah surat yang kami temukan dalam kotak yang terkubur dalam reruntuhan bangunan kota, Professor." Will menjawab.
"Reruntuhan bangunan kota? Apa yang terjadi?" Professor Goleth terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Sesuatu yang buruk baru saja terjadi." Alan menjawab pertanyaan Professor Goleth.
"Sesuatu yang buruk apa, Alan?" Professor Goleth kembali bertanya.
"Kami tidak tahu, tapi surat ini sepertinya menjawab sedikit pertanyaan tentang apa yang baru saja terjadi."
Professor Goleth mulai membaca surat yang tadi diberikan Alan padanya. "Ini bahasa kuno dan yang pasti, siapa pun yang mengirim surat ini bukan berasal dari negeri ini."
Alan tampak tidak mengerti dengan penjelasan Professor Goleth. "Maksud Anda?"
"Ikuti aku," perintah Professor Goleth.
Alan pun mengikuti beliau dari belakang menuju salah satu deretan rak berisikan buku-buku tebal yang sudah tampak usang. Beliau mengambil salah satu buku yang terdapat di barisan rak pertama. Oh, tunggu. Itu buku yang tadi pagi beliau tunjukan pada Alan.
"Ramalan tentang penyihir jahat yang akan berniat jahat pada negeri kita dan tertulis di dalam buku ini ternyata benar. Tertulis pula di buku ini bahwa para penyihir jahat itu masih menggunakan bahasa kuno yang sudah tidak dipakai lagi oleh kita dan itu terbukti dengan ditemukannya kertas beserta kalimat dalam bahasa kuno itu," urai Professor Goleth.
"Itu artinya ..." Alan memberi jeda pada kalimatnya. "mereka telah mulai melakukannya?"
Professor Goleth menaruh buku itu kembali. "Kau benar, Alan. Namun, kita masih belum tahu apa tujuan mereka melakukan itu."
Alan tidak merespon, dia sedang berpikir tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Penyebab dari kekacauan di pusat kota telah diketahui, tapi alasan di balik kekacauan itu terjadi masih belum diketahui.
PRAAANG ...
Saat Alan sedang berpikir, tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca yang berasal dari luar. Dia lantas bergegas keluar untuk memeriksanya.
"Ada apa, Luke?" tanya Alan saat dia mendapati Luke yang sedang membungkuk dan tampak sedang meraih sesuatu.
Luke berdiri. "Burung hantumu datang dan memecahkan kaca. Dia membawa surat ini di kakinya."
"Apa ini?" Alan menerima surat yang disodorkan oleh Luke padanya.
"Aku tidak tahu." Luke mengendikkan bahunya kemudian membersihkan sisa pecahan kacanya. "Naveria."
Alan pun membuka surat itu. "Bahasa kuno lagi."
"Apa? Cepat bacakan," ucap Will.
Este sonos di es vi le estarte. Sono va requir monscette valuo que va me des coslent a me caneau rivitues mas. Sollas va eqcuerer di cuo quella mas vosan hagrievosa.
"Apa yang tertulis di sana, Alan?" tanya Will yang sudah semakin penasaran.
Alan lantas menerjemahkan isi surat itu. "Ini semua barulah sebuah permulaan. Aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku dan mengambil apa yang sudah seharusnya jadi milikku. Kalian akan lihat kehancuran negeri kalian."
"Apa maksudnya itu?" Luke bertanya.
"Ini artinya," Alan menatap ke arah luar jendela. "mereka sedang mengincar sesuatu yang ada di negeri kita, tapi kita tidak tahu apa itu."
"Ada apa ini?" Professor Goleth menyela.
Alan menoleh kemudian memberikan surat yang ada di tangannya kepada beliau. Beliau lalu mulai membacanya.
Professor Goleth tampak tidak memercayai apa yang baru saja dibacanya. "Tidak, ini tidak boleh terjadi."
****
"Bu, di mana Ayah dan Max?" tanya Alan setibanya di rumah.
"Ayahmu sedang berada di Kementrian Sihir untuk mengurus beberapa hal, sedangkan Max sedang berada di bukit belakang sepanjang pagi ini," jawab sang Ibu.
Alan menghela napasnya. "Aku benar-benar tidak mengerti padanya, Bu. Kenapa dia sama sekali tidak mau bersosialisasi?"
"Ibu juga tidak tahu, Nak. Ibu tidak pernah melihatnya memiliki teman, hanya Soelvant peliharaannya itulah yang selalu menemaninya. Bicaralah padanya sebagai kakak dan adik, dia butuh teman." Ibu mengelus pipi Alan lembut seraya tersenyum.
"Apa dia akan mendengarkanku?"
Ibu mengelus rambut Alan lembut. "Kau kakaknya, dia pasti akan mendengarkanmu. Percayalah pada Ibu."
Alan tersenyum kemudian mengangguk. "Aku akan menemuinya."
"Pergilah."
Alan lantas pergi menuju bukit belakang dengan menggunakan Lukshannya. Setibanya di sana, dia mendapati adiknya yang sedang terbang dengan menunggangi Soelvant peliharaannya berputar-putar di langit. Dia tampak sangat bahagia di atas sana.
Alan pun hanya menunggu adiknya itu selesai melakukan kegiatan favoritnya di dekat salah satu pohon berukuran sedang seraya memikirkan kalimat apa yang harus diucapkannya.
"Ada apa kau datang ke mari?" tanya Max setelah mendaratkan Soelvant-nya. Dia turun dari atas punggung peliharaannya dan berdiri tak jauh dari Alan.
"Tidak ada, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu," jawab Alan.
Max menatapnya tidak percaya. "Tidak usah berbohong padaku, aku tahu kau datang ke mari hanya untuk menanyakan hal yang sama. Kau selalu begitu."
"Mungkin kemarin aku memang begitu, tapi kini aku sudah lelah. Aku ingin bicara denganmu sebagai kakak dan adik, apa kau keberatan dengan itu?"
Max berbalik, dia tetap tidak bisa memercayai kakaknya itu.
"Baiklah jika kau tidak ingin bicara denganku, tapi apa aku bisa meminta sedikit waktumu? Aku mau kita selayaknya seorang kakak dan adiknya."
Max bergeming.
"Max, kumohon."
Max berbalik, dia sempat ragu akan pilihannya, tapi mungkin tidak ada salahnya untuk memberinya kesempatan.
"Baiklah," katanya kemudian.
Seulas senyum kontan terlukis di wajah Alan. Dia lalu duduk di atas rerumputan hijau dengan disuguhi pemandangan hamparan padang rumput segar di depannya yang menyejukkan mata. Dia menepuk rumput di sampingnya untuk memberi isyarat pada Max bahwa dia harus duduk di sampingnya.
Max menurut, dia duduk di samping Alan dan menatap lurus ke depan.
"Kau tahu, sekarang aku mengerti kenapa kau senang sekali berada di sini," ujar Alan, memulai obrolan dengan tetap memandangi hamparan padang rumput di depannya.
Max menoleh. "Rumput ini, udara segar ini, dan semua yang ada di sini membuatku nyaman. Kau mungkin bahagia jika bersama dua teman bodohmu itu, tapi tidak denganku."
"Kenapa kau menyebut teman-temanku bodoh?" Alan menoleh yang membuat mata mereka beradu pandang.
"Apa kau marah?"
"Ya ...," Alan mengendikkan bahunya. "tidak. Aku tidak marah, tapi kenapa kau menyebut mereka begitu?"
"Kak, dengar. Tidak ada orang yang bisa dipercayai di dunia ini, mereka sewaktu-waktu bisa berbuat jahat pada kita. Mereka adalah orang-orang bermuka dua."
"Apa maksudmu, Max?"
"Kau akan mengerti saat kau merasakannya sendiri, Kak."
Max berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Dan satu lagi, terima kasih karena sudah mau berbicara denganku. Aku harap kau bisa memahamiku, Kak."
Dia lantas menuntun Soelvant-nya untuk pergi meninggalkan sang Kakak yang masih duduk dengan kerutan di dahinya. Dia pergi tanpa menoleh sedikit pun.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Alan pada dirinya sendiri.
****
"Ayah, bukalah. Ini aku, Alan." Alan mengetuk sebuah pintu kayu besar di depannya. Dia mengetuknya beberapa kali hingga tak lama kemudian seorang pria setengah baya dengan rambut pirang dan wajah yang tampak masih muda membukakan pintunya. Dia adalah Rivinthola, Ayah Alan.
"Ada apa, Alan? Kenapa kau belum tidur?" tanya sang Ayah saat mendapati Alan yang tengah berdiri di depannya. Tinggi sang Ayah terpaut tak jauh berbeda dengan Alan, tapi akan tampak sangat jelas jika mereka berjalan berdampingan.
"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Ayah," jawab Alan.
Sang Ayah lantas melebarkan pintu kamarnya kemudian mempersilakan Alan masuk. "Bicaralah di dalam."
Kamar sang Ayah berukuran cukup besar untuk ukuran kamar yang ditempati oleh satu orang: desain abad pertengahan terasa sangat kental di dalam sini, sebuah ranjang besar yang dihiasi dengan tirai berwarna merah maroon, beberapa lukisan berpigura yang menampilkan seorang wanita tua yang mengenakan gaun merah besar dengan hiasan kepala yang tampak seperti mahkota (Jika Alan tidak salah mengingat, itu adalah lukisan nenek buyutnya.), sebuah meja yang terbuat dari kayu dan berukuran cukup besar yang diletakkan tak jauh dari lemari kayu besar di sudut sana.
Sebelumnya, dia tidak pernah masuk ke dalam kamar sang Ayah. Dan dia benar-benar terpesona dengan tampilan kamar Ayahnya itu meskipun tampilannya hanyalah sebatas tampilan abad pertengahan.
Sang Ayah duduk di kursi kerjanya. "Jadi, apa yang mau kau bicarakan, Alan?"
Alan tersadar dari kekagumannya setelah mendengar pertanyaan sang Ayah. Dia lalu duduk di kursi lain yang disediakan di meja kerja sang Ayah kemudian mengeluarlan dua buah surat yang dia dan teman-temannya temukan tadi siang. "Aku dan teman-temanku menemukan ini. Apa menurut Ayah ini sungguhan? Apa mereka akan benar-benar menghancurkan negeri kita?"
Sang Ayah menerima dua buah surat yang tadi diberikan Alan padanya kemudian mulai membacanya. Satu hal yang unik dari Rivinthola atau Ayah Alan adalah kemampuannya yang bisa memahami sesuatu dalam waktu yang sangat singkat. Misalnya sekarang, dia sudah selesai membaca dua buah surat yang diberikan Alan meskipun dia baru saja membalik-balikkan halamannya.
"Tenang, Nak, semua yang tertulis di surat ini takkan benar-benar terjadi," bual sang Ayah. Dia tidak mau mengatakan yang sejujurnya, tentu saja. Dia berusaha menutupi wajah paniknya dari Alan agar anaknya itu tidak ikut khawatir.
"Aku harap begitu, Yah. Namun, bagaimana jika itu terjadi? Apa kita tidak harus melakukan persiapan atau apa pun untuk berantisipasi?"
Sang Ayah mengenakan kacamatanya, mengambil sebuah kertas serta sebuah pena bulu yang kemudian dia celupkan ke dalam kotak tinta. Dia menuliskan sebuah kalimat; sebuah mantera.
Setelah selesai, sang Ayah memberikan kertas itu pada Alan. "Pegang ini. Ini adalah mantera pelindung yang akan selalu melindungimu selama kau menyimpannya."
"Baik, Ayah." Alan menerimanya kemudian menyimpannya di dalam sakunya.
"Kertas-kertas ini untuk sementara Ayah yang akan menyimpannya, kau tidak perlu khawatir. Tidurlah dan jangan pikirkan tentang masalah ini, Ayah yang akan membereskan semuanya."
Alan tersenyum kemudian beranjak dari kursi yang dia duduki tadi untuk pergi ke kamarnya. Namun ketika dia sudah berada di ambang pintu, sang Ayah kembali memanggilnya.
"Ada apa, Yah?"
"Tidak, tidak ada. Ayah hanya ingin mengucapkan selamat malam, Ayah sangat menyayangimu." Ayah pun tak lupa untuk mengecup kening Alan sebelum dia pergi.
Alan tersenyum untuk kesekian kalinya. "Selamat malam, Yah."
Dia membuka kenop pintunya kemudian keluar dari kamar sekaligus ruang kerja sang Ayah. Sepanjang dia berjalan menuju kamarnya, dia tidak bisa berhenti memikirkan surat-surat itu; berbagai skenario tentang hal yang mungkin saka terjadi pun memenuhi otaknya.
Bagaimana jika itu adalah sebuah ancaman?
Bagaimana jika itu adalah surat teror?
Bagaimana jika apa yang tertulis di surat itu akan benar-benar terjadi?
Bagaimana jika negeri ini akan benar-benar hancur?
Oh, tidak. Semuanya akan baik-baik saja. Berhenti memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, batin Alan.
Alan membuka kenop pintu kamarnya saat dia telah tiba di depannya kemudian masuk ke dalamnya. Kamar Alan tampak tidak jauh berbeda dengan kamar sang Ayah; ruangan yang didominasi warna cokelat dan sedikit warna hitam, gorden berwarna merah maroon, sebuah ranjang besar dengan tirai yang berwarna merah maroon pula, jendela-jendela besar, dan sebuah perapian di sudut sana.
"Nyaman sekali rasanya bisa berbaring setelah seharian beraktivitas," gumamnya pada dirinya sendiri.
Tubuhnya terasa begitu lelah, tak terkecuali otaknya yang pusing karena memikirkan berbagai hal. Dia memijit pelipisnya untuk membuatnya rileks dan tertidur. Namun saat dia sudah hampir tertidur, terdengar seperti suara siulan. Matanya kembali terbuka. Dia beranjak dari ranjangnya lalu mencari sumber suara tersebut.
"Siapa itu?"
"Ini aku, Will."
Suara itu terdengar tidak jauh darinya, tapi dia tidak bisa melihat siapa pun di sekelilingnya.
"Will, apa kau menggunakan jubah penghilang?" tanya Alan seraya tetap mengedar pandang.
"Tidak, aku di sini. Di perapianmu, cepatlah."
Dia melihat ke arah perapiannya dan mendapati sebuah percikan dari sana. Dia lalu menghampirinya untuk mengeceknya.
"Will, apa kau masih di sana?" tanya Alan, memastikan.
"Ya, aku masih di sini," jawabnya yang muncul dalam bentuk bara api yang menyala walaupun agak sedikit redup.
Alan mengelus dadanya dan dia bisa bernapas lega karena itu memang Will. "Ada apa, Will?"
Will tampak sedikit terbatuk sebentar. "Aku dan Luke menemukan sebuah potongan kain di gua Manhoertha. Kami menduga bahwa ini adalah potongan kain dari jubah yang dikenakan si peneror. Cepat datanglah ke mari."
"Dan pastikan tidak ada yang mengikutimu," lanjutnya.
Alan mengangguk paham. Namun saat dia hendak membalas, bara api yang menampilkan wajah Will hilang begitu saja. Dia berdiri, mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam saku celananya kemudian mengarahkannya ke atas kepalanya. "Teleporta ignadium."
Dengan secepat kilat, dia akhirnya tiba di tempat yang disebutkan oleh Will.
"Teman-teman," panggil Alan.
Will dan Luke berbalik secara bersamaan. Will memegang sebuah potongan seperti yang dia katakan tadi di tangan kanannya, sedangkan di tangan kiri Luke terdapat sebuah noda hitam.
"Inilah potongan kain yang kami temukan tadi." Will memberikan potongan kain itu pada Alan yang lantas diterima.
"Bagaimana kalian bisa menemukan ini di sini?" Alan bertanya seraya memeriksa potongan kain yang dipegangnya itu.
"Kami menemukannya secara tidak sengaja saat kami sedang berjalan-jalan di sekitar sini." Will menjawab.
"Will benar, Alan. Awalnya kami mengira itu hanyalah sebuah daun, tapi saat kami mendekat, ternyata itu bukan daun," sahut Luke.
Alan mengerutkan dahinya. "Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Apa yang kami lakukan di sini?" Will mengulang pertanyaan Alan karena dia tidak memperkirakan bahwa ini akan membuatnya curiga. "Kami ... kami hanya berusaha memecahkan misteri surat yang kita temukan tadi siang."
Alan tampak ragu setelah mendengar penjelasan Will.
"Ya, itu benar! Lagipula, itu sudah tidak penting lagi. Yang terpenting saat ini adalah potongan kain siapa itu," timpal Luke yang berusaha mengubah arah pembicaraannya.
"Kau benar, Luke. Kita harus mencari tahu siapa pemilik potongan kain ini, tapi apa yang harus kita ..." Alan menggantungkan kalimatnya saat dia mendapatkan sebuah. "tunggu. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam?"
"Apa? Apa kau sudah gila? Aku tidak mau masuk ke sana. Lagipula, ini sudah malam. Lebih baik kita pergi," tolak Will yang tidak setuju dengan rencana gila sahabatnya itu.
"Tapi mungkin saja kita bisa menemukan jawabannya di dalam sana." Alan meyakinkan.
Will menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mau masuk ke sana."
"Bagaimana denganmu, Luke? Apa kau setuju?" Alan beralih pada Luke.
"Aku?" ulang Luke.
Alan mengangguk. "Ya, kau."
"Hmm ... aku," Luke tampak berpikir. "setuju. Aku ikut denganmu."
Will tidak bisa memercayai apa yang baru saja didengarnya. "Oh, bagus. Pergilah dan beritahu aku saat kalian sudah berada di neraka."
"Will, dengar aku. Alan benar, kita mungkin saja bisa menemukan jawabannya di dalam sana. Lagipula, tidak ada salahnya 'kan kita masuk? Kita akan masuk bersama. Kita akan saling melindungi, bukankah kita sahabat?" Luke berusaha meyakinkan Will.
Alan merangkul bahu Luke kemudian menuntunnya masuk ke dalam gua. "Sudahlah, Luke, biarkan sajalah dia. Ayo kita masuk."
Luke hanya menurut saat Alan menuntunnya dan meninggalkan Will sendiri di luar gua.
Oh, bagus. Will benci saat dihadapkan dengan dua pilihan sulit dan saat itu juga dia harus memilih salah satunya.
"Baiklah, baiklah. Aku ikut. Hei, tunggu aku!" Will menyusul kedua sahabatnya yang sudah masuk lebih dulu.
To be continued ...
Comments
Post a Comment