Negeri Penyihir

Genre: Fantasi
Penulis: Muhammad Rizaldi


BAB 1 ...


Di belahan Bumi lain, terdapat sebuah negeri yang dikelilingi oleh barisan pengunungan yang menjulang tinggi dan ditutupi oleh kabut yang dihuni oleh sekelompok manusia yang menamai diri mereka sebagai penyihir.

Negeri tersebut bernama Negeri Maddegoert.

Negeri tersebut berada di antara dua buah gunung yang menjulang tinggi dengan kabut yang selalu menutup langit dan sebagian wilayah negeri tersebut yang membuat negeri itu tampak terisolasi dari dunia luar. Negeri Maddegoert adalah sebuah negeri yang berada di tengah hutan belatara jika dilihat dari luar, tapi jika kalian masuk lebih dalam, kalian akan mendapati banyaknya bangunan-bangunan kuno khas Negeri Maddegoert, seperti kastil dengan gaya bangunan yang masih sangat kuno dan tampak seperti kastil penyihir hingga beberapa bangunan lain yang jika kalian datang untuk pertama kalinya ke negeri tersebut, kalian langsung bisa menebak bahwa itu adalah negeri dari para penyihir dengan kentalnya corak bangunan serta semua yang berkaitan dengan penyihir.

Dari sekian banyak penghuni Negeri Maddegoert, terdapat seorang penyihir laki-laki muda yang sangat terkenal di seantero negeri tersebut. Dia adalah Alan Conspiegaart. Dia adalah seorang penyihir laki-laki muda yang pemberani, tidak kenal takut, dan selalu berpikir bahwa tidak ada yang bisa mengalahkannya selain Ibunya. Penyihir muda yang berperawakan standar untuk anak seusianya dengan kulit kekuningan, bola mata berwarna biru bak sebuah batu safir, hidung mancung, telinga yang agak sedikit runcing dari telinga manusia biasa, serta rambut hitam yang bergaya Classic Undercut itu adalah suatu bakat yang terbentuk oleh rasa tidak kenal takut dan pemberaninya yang begitu kuat dari dalam diri seorang penyihir muda sepertinya.

Meskipun usianya masih terbilang muda, tapi dia telah memiliki bakat ilmu sihir yang sangat luar biasa. Tercatat dia telah beberapa kali melawan penjahat yang berusaha membunuhnya karena bakat luar biasanya itu dan dia selalu berhasil melumpuhkan mereka.

Alan adalah anak dari sepasang suami-istri yang juga merupakan salah satu penyihir hebat di Negeri Maddegoert. Dia dan kedua orangtuanya seringkali membantu memberantas semua sihir jahat yang berusaha menghancurkan negerinya.

Namun, Alan tetaplah seorang remaja laki-laki biasa yang tetap suka berkumpul dengan teman-teman seusianya. Sebut saja Luke Margieraanht serta William Schokelaart yang merupakan sahabat karibnya. Mereka bagai tiga serangkai yang seakan tak bisa dipisahkan dari satu sama lain, mereka selalu bersama.

Dan inilah mereka dan kisah mereka di Negeri Maddegoert.

"Alan, Will, tunggu aku!" seru Luke saat dia tertinggal ketika dua sahabatnya telah terbang terlebih dahulu.

Salah satu kegiatan favorit mereka di setiap paginya adalah terbang mengelilingi langit Negeri Maddegoert dengan menggunakan sapu terbang atau yang biasa disebut dengan Lukshan mereka masing-masing. Mereka sangat menyukai kegiatan itu. Terkadang mereka berlomba, terkadang pula mereka terbang dengan santai seraya bermain-main bersama burung-burung di langit.

"Kalian kenapa meninggalkanku seperti tadi sih? Kalian benar-benar tega!" gerutu Luke saat dia berhasil mengejar dua sahabatnya itu seraya menyejajarkan jarak dengan mereka.

"Kau yang terlalu lamban, Luke. Kami tidak mau sang fajar mendahului kami." remaja laki-laki berparas tampan dengan garis rahang kokoh, hidung yang mancung, telinga yang agak sedikit runcing, serta rambut pirang bergaya Caesar Haircut yang bernama William atau akrab dipanggil Will itu membalas.

"Will benar, Luke. Kau terlalu lamban," sahut Alan.

Luke hanya merengut sebal setelah mendengar ucapan kedua sahabatnya. Itu hanya gurauan, tentu saja. Dia takkan mungkin bisa marah pada kedua sahabat yang sangat disayanginya itu. Jika diibaratkan, dia jauh lebih baik kehilangan seluruh hartanya termasuk koleksi batu permata yang bernilai ratusan ribu koin emas daripada kehilangan sahabat-sahabatnya. Rasa kesetiaannya yang paling kuat di antara kedua sahabatnya.

Mereka lantas kembali melanjutkan kegiatan favorit mereka dengan semangatnya. Sesekali mereka melakukan gerakan menukik (dan Luke hingga hari ini selalu gagal ketika mencobanya), melakukan beberapa manuver andalan mereka sampai terbang dengan kecepatan tinggi dan menguji kelincahan mereka dalam menggunakan Lukshan mereka dengan meliuk-liuk di antara dua batang pohon yang sempit. Pada awal-awal percobaan, Luke selalu saja tidak bisa melakukannya dan menabrak pohon-pohon itu yang membuat kakinya sedikit terkilir. Begitu pun dengan Will dan Alan. Namun seiring berjalannya waktu, kini mereka telah andal melakukannya bak seorang yang sudah sangat profesional.

"Alan, Will, bagaimana kalau kita beristirahat sejenak di bawah pohon itu? Aku lelah," tawar Luke.

Alan dan Will bertukar pandangan terlebih dahulu yang seakan sedang bermusyawarah. "Baiklah!"

Mereka lantas terbang lebih rendah untuk mendarat kemudian melakukan gerakan menukik yang bisa dibilang cukup tajam, tapi mereka berhasil. Mereka berhasil mendarat dengan mulus. Mereka menaruh Lukshan mereka masing-masing di batang pohon Drievanolla atau pohon besar yang akan mereka jadikan sebagai tempat istirahat mereka setelah lelah terbang dalam waktu yang cukup lama.

"Sudah lama sekali kita tidak duduk santai di bawah pohon Drievanolla seperti ini. Terakhir kali kita melakukan hal seperti ini kapan, ya?" ujar Will, memulai obrolan.

Sekadar informasi, pohon Drievanolla adalah sebuah pohon besar yang tidak berbuah. Meskipun tidak berbuah, pohon tersebut menghasilkan sebuah daun emas berkilau. Konon katanya, daun itu bisa menyembuhkan segala penyakit. Entahlah, itu hanyalah sebuah klaim dari beberapa penyihir di luar sana yang belum terbukti kebenarannya. Pada dasarnya, penduduk Negeri Maddegoert tidak memercayai teknik pengobatan lain selain teknik pengobatan yang menggunakan sihir. Namun meskipun begitu, beberapa klaim tentang daun emas yang berasal dari pohon Drievanolla yang menyatakan bahwa daun itu memiliki kekuatan super dahsyat memiliki peluang untuk terbukti kebenarannya karena terdapat beberapa bukti yang cukup kuat untuk membuktikan kehebatan daun emas tersebut.

"Kalau tidak salah, sekitar 20 ribu tahun lalu." Luke menjawab.

"Benar, 'kan?" lanjut Luke.

Jika kalian merasa heran dengan jawaban 20 ribu tahun, tenang, itu bukanlah sebuah hal yang aneh di Negeri Maddegoert.

Di Negeri Maddegoert, perhitungan waktunya agak berbeda dengan perhitungan waktu di negeri-negeri atau planet-planet lain. 20 ribu tahun bukanlah waktu yang lama, mungkin jika dihitung dengan perhitungan waktu Bumi, hanya sekitar dua atau tiga tahun. Jadi, jangan heran dengan hal seperti itu. Semua yang dianggap aneh di Bumi adalah suatu hal yang wajar di Negeri Maddegoert.

"Ah, benar. Aku masih ingat betul saat itu. Kau menyatakan cinta untuk pertama kali pada Liana di sini. Haha aku takkan melupakan saat itu. Wajahmu terlihat sangat konyol saat mengatakannya." Alan seketika teringat dengan kejadian tak terlupakan yang dilakukan oleh salah satu sahabatnya 20 ribu tahun lalu.

Luke merengut sebal setelah mendengar ucapan Alan. Dia tidak suka jika seseorang kembali mengungkit masa lalu kelamnya itu. Memang, dia dulu pernah melakukannya. Namun, hasil yang dia terima tidak seperti apa yang dia bayangkan dan harapkan sebelumnya. Dia patah hati selama berminggu-minggu setelahnya dan dia benci itu. Hubungannya dengan Liana pun menjadi tidak baik setelah kejadian itu.

"Kau benar, Alan. Aku takkan pernah melupakan saat Luke ditolak oleh Liana. Ekspresinya benar-benar menggelikan. Hahaha ..." Will menyahut.

"Bisakah kalian tidak membahas itu?" Luke mulai tidak suka topik dan arah pembicaraan dua sahabatnya itu.

"Hahaha ...," tawa Alan dan Will secara bersamaan.

Luke selalu benci saat kedua sahabatnya itu tertawa karena apa yang dia tidak suka, tapi entah kenapa mereka selalu saja mengungkitnya dan membuatnya kesal. Namun meskipun acap kali dia sebal dengan mereka, dia selalu bisa memaafkan mereka.

"Alan!" seru Harry yang tengah terbang dengan Lukshan miliknya. Dia lalu mendaratkan Lukshannya tepat di depan Alan, Will, dan Luke yang sedang beristirahat di bawah pohon Drievanolla.

"Ada apa, Harry? Kenapa kau tampak panik begitu?" tanya Alan setelah menyadari wajah panik Harry.

"Gawat, ini benar-benar gawat!" racaunya.

"Apanya yang gawat?" Will bertanya.

"Kebun Siertnartha telah dirusak!"

****

Baiklah, sepertinya Harry tampak serius kali ini. Mereka sempat berharap bahwa Harry hanya menipu mereka seperti terakhir kali dia menipu mereka (lebih tepatnya, menipu Alan) dengan mengatakan bahwa kedua orangtuanya telah diculik oleh penyihir jahat dan dia meminta bantuan Alan untuk menyelamatkan kedua orangtuanya.

Namun saat mereka tiba di kebun Siertnartha, semuanya tampak kacau. Harry benar. Kebun itu tampak porak poranda, tanaman Siertnartha yang ditanam di sana telah rusak semua, dan bahkan beberapa di antaranya ada yang hangus terbakar. Beberapa penduduk yang biasa menjaga tanaman Siertnartha itu yang turut berada di kebun ini pun tampak kebingungan, tidak ada yang tahu siapa yang telah merusak semua tanaman di kebun ini. Terlebih lagi, tanaman Siertnartha adalah salah satu bahan untuk ramuan penangkal sihir jahat. Jika tanaman itu rusak dan tidak bisa dipanen, takkan ada obat lagi yang mampu mengobati mereka karena terpancar sihir jahat.

"Bagaimana ini semua bisa terjadi, Paman?" tanya Alan pada salah satu penduduk yang berada di tempat kejadian.

"Saya tidak tahu, semuanya terjadi begitu saja. Tidak ada yang tahu dan tidak yang melihat," jawab penduduk itu.

Aku tidak merespon. Aku hanya sedang memikirkan siapa sekiranya yang telah merusak kebun ini.

"Aarrgghh!"

Tiba-tiba saja terdengar sebuah jeritan yang berasal dari dalam kebun. Alan, Will, dan Luke pun lantas menghampiri sumber suara tersebut. Dan ketika mereka telah menemukan sumber suara tadi, mereka mendapati seorang wanita paruh baya tengah diam terpaku di depan sebuah ... bangkai rusa yang tampak mengenaskan.

"Kenapa rusa itu bisa seperti itu?" tanya Will seraya terus memandangi bangkai rusa di depannya.

"Aku tidak tahu, tapi saat aku pergi ke dalam kebun untuk mencari sumber masalah, aku menemukan rusa itu telah terbujur kaku seperti itu," jawab wanita paruh baya itu.

Tubuh rusa itu tampak baik-baik saja dan tidak ada bekas luka satu pun, tapi di beberapa bagian tubuhnya terlihat membiru dan memar-memar. Dan ... ada sedikit buih yang keluar dari mulut rusa tersebut. Jelas rusa ini mati bukan karena dibunuh atau terkena senjata tajam.

"Sepertinya aku tahu penyebab kematiannya," gumam Luke seraya tetap memandangi bangkai rusa mengenaskan di depannya dan sesekali menyentuh tubuhnya.

"Apa penyebabnya, Luke?" Alan bertanya.

Belum sempat pertanyaan Alan terjawab, tiba-tiba bangkai rusa itu melayang ke udara. Bangkai itu melayang dengan sesekali berputar. Alan, Will, Luke, dan wanita paruh baya itu mengikuti arah bangkai itu melayang, tapi ketika mereka sampai di depan sebuah pohon yang besar, bangkai itu berputar semakin cepat di udara kemudian ...

... berubah menjadi kepulan asap hitam yang sangat tebal. Kepulan asap hitam itu melebar hingga membentuk sebuah kalimat ...

Ini barulah sebuah permulaan ...

****

"Menurut kalian, apa maksud dan yang terjadi tadi?" tanya Luke pada kedua sahabatnya.

"Aku tidak tahu, tapi yang pasti, menurut pendapatku, ada penyihir jahat yang ikut menjadi penyebab dari ini semua," jawab Will yang lebih terdengar seperti dugaan.

"Kau benar, Will. Dengan melihat yang terjadi pada rusa tadi, jelas bukan makhluk dari kaum lain yang melakukannya." Alan menyahut meskipun dia tidak tahu pasti dengan apa yang baru saja terjadi.

"Lalu apa maksud dari kalimat yang kita lihat tadi?" Luke kembali bertanya.

"Menurut dugaanku, kalimat itu adalah senjata yang digunakan oleh penyihir jahat yang ingin mengambil alih kebun Siertnartha negeri ini sebagai alat untuk menakuti penduduk." Alan berpraduga.

"Terdengar masuk akal dengan melihat rusaknya kebun Siertnartha milik penduduk. Namun, untuk apa mereka ingin mengambil alih kebun Siertnartha di negeri ini? Bukankah tanaman itu tumbuh di setiap tempat, bahkan di negeri penyihir jahat sekalipun?" timpal Will.

Alan menyandarkan bahunya pada pohon Drievanolla di belakangnya. "Kau benar, Will. Kita tidak tahu pasti apa yang baru saja terjadi jika kita tidak menyelidikinya."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Alan?" Luke menopang kedua tangannya pada batang pohon Drievanolla.

"Tidak ada, tidak ada yang bisa kita lakukan sebelum kita mendapat satu petunjuk yang bisa membantu kita untuk menyelidiki masalah ini." Will menjawab.

"Will benar. Untuk sementara, kita hanya bisa menyerahkan masalah ini pada kementrian sihir. Mereka yang lebih berhak menangani masalah ini," sahut Alan.

Mereka terdiam. Tidak ada yang kembali merespon. Mereka berkutat dengan pikiran mereka masing-masing yang dilanda kebingungan oleh apa yang baru saja terjadi. Semuanya terjadi begitu saja dan terjadi begitu cepat tanpa meninggalkan satu petunjuk pun. Bahkan, Alan yang terhitung sudah cukup sering menangani masalah seperti ini pun dibuat bingung.

Mereka tidak tahu pasti dengan apa yang baru saja terjadi, mereka hanya mampu menduga-duga tanpa landasan bukti apa pun dan dibuat berdasarkan apa yang mereka lihat saja. Seperti dugaan Alan, bisa saja ini semua adalah ulah sekelompok penyihir jahat yang berusaha mengambil kebun Siertnartha milik penduduk negeri ini. Namun lagi-lagi, dugaan itu bisa saja salah dengan melihat tidak adanya bukti apa pun yang melandasi dugaan tersebut.

Seakan bertentangan dengan Alan, Will berpraduga bahwa ini semua adalah ulah Kroeky atau manusia kerdil yang hidup di kaki gunung Manlouissa serta dikenal sebagai sekelompok makhluk yang tidak menyukai kaum penyihir seperti Alan dan kawan-kawannya yang sengaja menebar teror agar dia dan kaumnya pergi meninggalkan Negeri Maddegoert dengan melihat fakta selama ini yang mengatakan bahwa bangsa Kroeky memang sudah lama mengincar Negeri Maddegoert ini.

Dugaan Will terdengar sama masuk akalnya dengan dugaan Alan, tapi itu bukan tolak ukur yang membuat kedua dugaan tanpa bukti itu menjadi bisa dibenarkan.

Dan Luke, dialah yang terlihat paling santai di antara kedua sahabatnya. Baginya, sebuah masalah tidaklah harus terlalu dipusingkan dan memecahkan sebuah masalah tidaklah harus dengan terlalu memaksa untuk memikirkannya. Pikiran yang jernih akan membantu untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi.

"Kawan-kawan," panggil Luke pada dua sahabatnya yang sedang duduk termenung di bawah pohon Drievanolla.

"Kawan-kawan!" ulangnya.

"Ada apa, Luke?" Will menyahut.

"Kita main Stookvierst, yuk?" ajak Luke.

Will terlihat bimbang. Di sisi lain, dia ingin bersenang-senang. Namun di sisi yang lain, dia tidak seharusnya bermain-main di saat seperti ini. Dia melirik ke arah Alan.

"Stookvierst?" Alan beranjak dari posisi duduknya.

Luke mengangguk antusias.

"Apa kau mau main, Will?" Alan bertanya pada Will.

"Jika kau bermain, maka aku juga akan ikut bermain," jawab Will.

Alan lantas mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, ayo kita lain!"

****

Stookvierst adalah sebuah permainan sejenis sepak bola yang dimainkan dengan cara memindahkan sebuah bola dari satu sisi ke sisi lain lapangan dengan menggunakan sihir dan setiap pemainnya diharuskan menggunakan Lukshan mereka masing-masing dalam memainkan permainan ini. Stookvierst biasa dimainkan oleh kaum muda, tapi tak jarang pula dimainkan oleh kalangan orangtua.

Stookvierst dimainkan dengan cara beregu dan satu regu terdiri atas dari empat sampai lima orang. Namun dalam hal ini, mereka hanya bertiga. Dan aturan beregu itu tidak mereka pakai; mereka bermain dengan cara saling merebut bola dari tangan lawan ke sebuah gawang.

Alan, Will, dan Luke bermain Stookvierst di kaki gunung Holodenraa, salah satu dari dua gunung yang menjulang tinggi serta mengelilingi Negeri Maddegoert ini. Mereka bermain dengan begitu antusias.

"Yeaaah! Rasakan itu!"

Begitulah sorakan antusias Luke saat dia berhasil memenangkan permainan melawan dua sahabatnya itu.

Setelah puas bermain, mereka lantas pulang ke rumah masing-masing. Tanpa terkecuali Alan. Dia masuk ke dalam rumahnya yang tampak seperti sebuah kastil besar dengan cat yang gelap dan interior abad pertengahan yang sangat kental dalam rumahnya membuat siapa pun akan langsung menebak bahwa ini adalah rumah seorang penyihir dengan keadaan tubuh yang terasa sangat lelah.

"Hei, Alan. Dari mana saja kau?" tanya Louissa, Ibu Alan, seraya menuruni tangga.

"Hanya bermain sebentar saja, Bu. Apa Ayah dan Max sudah pulang?" Alan menjawab pertanyaan sang Ibu dengan pertanyaan kembali.

Max atau Maxime adalah adik laki-laki Alan yang gemar bermain dengan Soelvant atau naga dan menungganginya. Sedangkan Rivinthola, Ayah Alan, adalah staf di Kementrian Sihir.

"Ayahmu belum pulang dan Max sedang bermain di bukit belakang," jawab sang Ibu.

"Bukit belakang?" ulang Alan.

"Ya, bermain dengan Soelvant-nya itu." Ibu terdengar jengkel ketika berbicara seperti itu. Bukan tanpa alasan, Max kerap menghabiskan waktu bermain dengan Soelvant-nya. Dan dia tidak suka itu. Dia ingin Max lebih mengasah kemampuan tongkatnya daripada bermain seharian dengan Soelvant bodoh itu.

"Oke, Bu." Alan bergegas pergi ke bukit belakang rumahnya untuk menemui sang Adik.

"Kau mau ke mana, Alan?" tanya Ibu saat Alan telah berada di depan pintu dan bersiap melenggang pergi ke luar.

"Menemui Max!" jawab Alan dengan sedikit berteriak.

Alan pun lenyap di balik pintu setelah menjawab pertanyaan sang Ibu. Dia mengambil Lukshan miliknya yang dia taruh di samping rumah kemudian menaikinya menuju bukit belakang.

Jarak bukit belakang dengan rumahnya tidak terlalu jauh dan dalam sekejap mata, dia telah tiba di tempat di mana Max sering menghabiskan waktu. Dia mendapati sang Adik sedang duduk di rerumputan hijau seraya mengelus punuk Soelvant kesayangannya. Dia menepuk pundak sang Adik yang sontak membuatnya terlonjat kaget.

"Apa kau tidak bisa lebih lembut sedikit pada adikmu ini?" gerutunya yang kesal karena dibuat terkejut oleh sang Kakak.

Alan duduk di samping sang Adik. "Hehe maaf, aku hanya bercanda."

Max memutar bola matanya.

"Apa kau tidak bosan?" tanya Alan.

"Kenapa aku harus bosan?" Max balik bertanya.

"Setiap hari kau datang ke sini dan menghabiskan waktu dengan Soelvant-mu ini. Kau hampir tidak pernah bersosialisasi. Apa kau tidak bosan? Apa kau punya teman, Max?"

"Kak, dengar. Jika kau datang ke sini hanya untuk menanyakan hal itu, lebih baik kau pulang saja. Biarkan aku sendiri." Max berdiri, menggiring Soelvant peliharaannya, dan bersiap untuk pergi. Namun dengan gerakan cepat, Alan menahan tangan Max.

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Max. Aku hanya ingin kau menjadi normal seperti orang lain, itu saja," ucap Alan.

"Apa yang kau tahu tentang menjadi normal? Kau tidak tahu apa-apa dan kau tidak mengerti apa-apa. Menjauhlah dariku." Max mengentakkan genggaman tangan Alan kemudian berbalik untuk pergi meninggalkan Kakaknya itu seraya tetap menggiring Soelvant-nya.

"Kenapa kau selalu bersikap seperti itu padaku, Max? Apa salahku padamu? Aku ini kakakmu." Alan kembali menahan tangan Max untuk pergi.

Max bergeming tanpa berbalik sedikitpun kemudian kembali mengentakkan tangan sang Kakak. Dia mempercepat langkahnya. Dengan sigap, Alan mengejar sang Adik.

"Max, tunggu," panggil Alan.

Max berjalan menuruni kaki bukit yang sedikit terjal dengan langkah cepat, Alan mengikutinya dari belakang. Jalannya yang terjal dan banyaknya pohon di sekitar membuatnya harus sedikit lebih hati-hati dalam melangkah. Namun jika dia tidak cepat, Alan akan bisa menyusulnya.

"Max, kumohon berhentilah," pinta Alan.

Max tidak mengindahkan perkataan Alan, dia tetap jalan menuruni kaki bukit. Dia sedikit berbelok untuk menghindari beberapa pohon dan dia hampir saja jatuh tergelincir jika dia tidak punya keseimbangan yang baik.

Alan sudah semakin dekat Max, dia mempercepat langkahnya untuk menyusul adiknya itu.

"Max, ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi seperti ini?" Alan menarik tangan Max agar dia berhenti.

Max berbalik. "Bukan urusanmu. Pergilah."

"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kau mau bicara padaku." Alan menahan sang adik untuk pergi.

"Menjauhlah dariku." Max mengentakkan tangan sang kakak lagi, tapi kali ini berhasil ditahan oleh Alan.

"Max, kumohon bicaralah padaku."

Max mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam saku celananya kemudian menjulurkannya ke depan. "Harvessa mardegothom."

Sebuah kilatan cahaya berwarna putih kontan terpancar keluar dari dalam tongkat sihir Max. Dan kilatan cahaya putih itu berhasil membuat Alan terpental cukup jauh.

Max menyimpan kembali tongkat sihirnya ke dalam saku celananya kemudian dia naik ke atas punggung Soelvant-nya. "Maafkan aku. Kau yang memaksaku untuk melakukan hal itu."

****

"Alan!"

Alan menggeliat karena merasakan tubuhnya seperti diguncang-guncangkan.

"Alan, bangun!"

"Uuhhh...," gumam Alan tidak jelas seraya tetap menggeliat di atas ranjang besarnya.

"Alan!"

"Arrggghh...," ringis Alan saat tubuhnya terjatuh dari atas ranjangnya. Dia membuka matanya perlahan, mengerjapkan matanya, dan sedikit menyipitkan matanya saat cahaya perlahan masuk ke dalamnya.

"Halo!"

Alan terkesiap. Tubuhnya yang baru setengah sadar pun terlonjat kaget akibat ulah Luke yang mengangetkannya dengan muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Dia lantas berdiri. Dan ternyata Luke tidak sendiri, melainkan bersama Will yang berdiri di belakangnya.

"Ada apa kalian datang ke rumahku pagi-pagi sekali?" tanya Alan.

Wajah Luke yang tadi terlihat ceria pun berubah menjadi murung. "Gawat, Alan."

"Apa yang gawat?" Alan bertanya seraya mengerutkan dahinya.

"Sungai Arkintha telah tercemar." Will menjawab.

"Apa?!" Alan tidak bisa memercayai apa yang baru saja didengarnya. "bagaimana bisa?"

Will berjalan menghampiri jendela. "Kami juga tidak tahu, tapi saat kami tiba di sana, sudah banyak penduduk yang berkumpul dan mengatakan bahwa sungai Arkintha telah tercemar. Awalnya kami pun tidak percaya, tapi saat kami melihatnya sendiri, ternyata apa yang mereka katakan benar."

"Will benar, Alan. Kemarin kebun Siertnartha, hari ini sungai Arkintha, lantas besok apa lagi yang akan rusak?" Luke menyahut.

"Ayo kita pergi ke sana," ajak Alan.

Will membalikkan tubuhnya. "Ayo."

Dia lantas menghampiri Alan, berdiri di samping kirinya. Luke melakukan hal yang sama: dia berdiri di samping kanan Alan.

"Kalian sudah siap?" tanya Alan.

Luke dan Will mengangguk secara bersamaan.

Mereka lalu berpegangan tangan dengan erat. Alan menghela nafas terlebih dahulu sebelum mengeluarkan tongkat sihirnya yang dia taruh di dalam saku celananya. "Teleporta Ingardium."

Seketika saja kepulan asap berwarna hijau menutupi tubuh mereka, pandangan mereka kabur. Dan kemudian ... tubuh mereka terasa seperti berputar. Putaran itu pelan dan semakin lama, putaran itu menjadi cepat dan sangat cepat kemudian ...


"Ayo kita periksa!" Alan memerintah saat dia dan dua sahabatnya telah tiba di sungai Arkintha.

Will benar, banyak penduduk yang berkumpul di sini. Mereka menerobos kumpulan penduduk untuk melihat keadaan sungai Arkintha.

Betapa terkejutnya mereka saat mendapati sungai yang selama ini mereka ketahui sangat bersih kini berubah ...


... menghitam dan mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat.



To be continued ...

Comments

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon