A Complicated Love Story (Part 18)
Genre: Humor, Romance, Drama
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe cerita: Cerbung
Enjoy it~
RIO POV...
Hallo, Bray.
Apa kabar nih?
Kalo gue sih gak usah ditanya lagi karena hari ini tuh gue bahagia banget. Ohiya, hari ini tuh hari kamis ya, Bray.
Kali aja lu lupa hari ini hari apa.
Nah, hari ini gue bahagia banget tuh karena: pertama, ulangan matematika yang harusnya dilaksanain hari ini tuh gak jadi alias dibatalin gara-gara gurunya mendadak ada acara. Gue bahagia banget karena semalem gue lupa belajar, kan gawat kalo ulangannya sampe jadi dilaksanain. Kedua, akhirnya sahabat-sahabat gue setuju sama hubungan gue dengan Aalya. Bahkan, Vladislav nyuruh gue buat langsung ngawinin Aalya karena menurut dia tuh gue cocok sama Aalya. Gak usah dengerin omongan Vladislav ya, Bray. Masa dia nyuruh gue buat ngawinin Aalya? Gue kan masih muda ya Bray, masih SMA pula. Gue masih harus nata masa depan gue dulu, gue masih harus kuliah dan kerja. Gue gak berani ngawinin anak orang sebelum gue mapan. Yaiyalah, kalau gue ngawinin anak orang di saat gue masih nganggur, anak orang mau gue kasih makan apa? Emang cinta bisa bikin perut kenyang? Kan malu kalau masih minta sama ortu.
Sekarang mah gue gak mau yang neko-neko lha Bray, yang nyata-nyata aja.
Malam ini, gue janjian lagi sama Aalya buat ketemuan, tapi kali ini gue jemput dia buat ketemuan di tempat yang udah kami sepakati dan musyawarahkan bersama. Dan, sekarang gue lagi dalam perjalanan menuju rumah Aalya buat jemput dia.
Rumah Aalya berada gak terlalu jauh dari rumah gue, cuma berjarak sekitar 4 atau 5 blok aja dari rumah gue.
Gak sampe 30 menit pun akhirnya gue sampe di depan pintu gerbang rumahnya Aalya. Gue pencet bel rumahnya Aalya dan nunggu si empunya rumah bukain pintu gerbangnya.
Gak ada balesan atau tanda-tanda orang yang bakalan bukain pintu gerbangnya buat gue. Gue pencet belnya sekali lagi.
"Iyaiya sebentar." suara Aalya terdengar dari dalem rumahnya. Akhirnya dia muncul juga.
Aalya membukakan pintu gerbang rumahnya dan melempar senyum ke arah gue ketika dia liat siapa yang dateng ke rumahnya. Aalya tampak cantik banget.
Gue bales senyumannya Aalya dan bertanya,
"Sudah siap?"
Aalya cuma ngangguk sebagai jawaban.
Gue mengulurkan tangan gue kemudian nyuruh Aalya untuk menyambut uluran tangan gue. Aalya tersenyum lagi seraya menyambut uluran tangan gue. Kami pun pergi dari depan rumahnya Aalya.
"Eits, sebelum kita pergi," gue berhenti melangkahkan kaki gue kemudian berdiri berhadapan dengan Aalya. "Mata lu harus gue tutup dulu."
"Lho kok pake ditutup segala? Kita mau ke mana sih sebenarnya?" protes Aalya.
"Nanti juga lu bakalan tau." gue memakaikan sebuah kain hitam yang gue ambil dari saku gue ke kedua mata Aalya tanpa minta persetujuannya lagi.
Gue genggam tangannya Aalya kemudian menuntunnya buat kembali jalan menuju tempat tujuan kami. Aalya nanti pasti bakalan kaget, gue udah nyiapin semuanya sesempurna mungkin. Gue mau bikin malem ini jadi malem yang gak akan bisa dilupakan, gue mau bikin malem ini jadi malem bersejarah.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya kami nyampe di tempat tujuan kami. Kami sampe di taman tempat kemaren kami ketemuan dan saling jujur soal perasaan masing-masing.
Gue lepasin ikatan kain yang tadi gue pakaikan ke kedua mata Aalya. Gue lepasin ikatannya secara perlahan, "Jangan buka nata lu sampe gue suruh, ya."
Aalya cuma ngangguk sebagai jawaban. Kini ikatan kainnya sudah terlepas dengan sempurna, tapi gue nyuruh Aalya buat tetep mejamin matanya sampe gue suruh untuk membukanya.
"Okeh, lu sekarang bisa buka mata lu." kata gue padanya.
Aalya pun membuka matanya secara perlahan, tapi pasti.
"Rio, apa ini?" seperti dugaan gue, Aalya keliatan kaget dengan apa yang dia liat di hadapannya.
"Iya, Aalya, ini semua buat lu. Ini adalah bukti cinta gue buat lu." gue tersenyum seraya menunjuk ke arah deretan lilin-lilin yang membentuk kalimat 'I Luv U'. Gue sengaja bikin ini semua sebagai bukti kalo gue bener-bener mencintai Aalya. Gelapnya malam, sunyinya taman ini, dan gugusan bintang di langit menambah kesan romantis pada malam ini. Ini akan jadi malam yang tak terlupakan.
Aalya masih keliatan kaget dengan semua yang dia liat di depannya, dia masih belum bisa berkata apapun.
Gue berdiri berhadapan dengannya, menggenggam tangannya, dan menatap matanya,
"Aalya Putri Rahayu, maukah kau menjadi kekasihku?"
Aalya masih speechless, tapi samar-samar dia mengangguk perlahan dan gue anggep itu adalah jawaban 'ya' darinya.
Gue peluk Aalya yang masih berdiri kaku tanpa bicara sepatah kata pun. Awalnya dia gak bales pelukan gue, tapi gak lama kemudian, dia bales pelukan gue. Kami pun berpelukan di bawah sinar rembulan yang menerangi gelapnya malam ini.
Malam ini, cinta kami telah bersatu. Cinta yang selama ini gue pikir gak akan pernah bersatu, cinta yang selama ini yang gue pikir gak akan pernah gue miliki, cinta yang selama ini ada dalam mimpi gue akhirnya bersatu pada malam ini. Malam ini adalah saksi bersatunya cinta kami berdua.
"Cieeee...."
Terdengar sebuah suara dari balik sebuah pohon yang bikin kami terkejut dan sontak melepaskan pelukan kami.
Di sana, Mario, Vladislav, dan seorang cewek yang gak gue kenal muncul dari balik pohon tempat suara tadi berasal.
Gue dan Aalya terkejut dengan kehadiran mereka. Gue yakin banget kalo tadi gue gak ngundang siapa-siapa ke sini, apalagi ngundang Vladislav dengan cewek yang keliatan lebih muda dari Vladislav itu.
Apa itu pacar barunya Vladislav, ya? Ah, tapi kayaknya gak mungkin karena dia itu cukup anti sama pacaran. Terakhir kali dia pacaran aja 3 tahun yang lalu, pas dia masih kelas 1 SMP. Atau, itu adiknya, ya? Ah, kayaknya iya deh kalo itu adeknya.
"Mario? Vladislav? Sejak kapan kalian ada di sana dan sedang apa kalian di sini?"
Mario, Vladislav, dan cewek itu tersenyum kemudian saling memandang, "Sejak kapan kami ada di balik pohon itu dan sedang apa kami di sini itu gak penting, kami dateng ke sini tuh buat ngerayain bersatunya cinta kalian."
Gue tau kalo apa yang Mario bilang tadi itu bohong karena gue inget banget kalo gue gak ada ngomong apa-apa soal rencana ini sama Mario ataupun Vladislav. Apalagi sama cewek yang gak gue kenal yang ikut sama Mario dan Vladislav itu, tapi gue gak akan bilang gitu sama Mario.
"Nah, kalian kan udah resmi jadi sepasang kekasih, traktirannya jangan sampe lupa, ya." kini giliran Vladislav yang ngomong. Mario dan cewek itu mengangguk setuju secara bersamaan.
"Siap, diatur aja itu mah." gue nanggepin omongan Vladislav seraya memeluk pinggul Aalya.
"Hahaha."
Suara tawa pun pecah setelahnya.
Malam ini adalah malam yang gak akan gue lupakan karena di malam ini, cinta gue dan Aalya bersatu setelah kami melewati masa-masa pahit jatuh cinta. Senyum tak kunjung hilang dari wajah kami, ini adalah malam yang bersejarah bagi kami karena di malam inilah cinta kami bersatu di bawah sinar rembulan dan ditambah dengan kumpulan lilin-lilin di depan kami yang menambah kesan romantis di malam ini. Mungkin itu emang terdengar agak lebay, tapi emang itulah yang gue rasakan malam ini dan mungkin Aalya juga merasakannya.
Satu hal yang bisa gue pelajari dari kejadian-kejadian yang selama ini gue alami adalah, cinta butuh perjuangan.
Terkadang, kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Begitupun dengan cinta, jika kau mencintai seseorang, tunjukkanlah rasa cintamu pada orang yang kau cintai dengan cara berjuang untuk mendapatkannya.
Satu hal lagi yang bisa gue pelajari dari semua yang selama ini gue alami adalah, mencintai dan dicintai memanglah sebuah anugerah dari Tuhan untuk setiap umatnya, tapi jangan sampai cinta membuat kita lupa akan sahabat kita karena sahabat adalah orang yang paling mengerti kita setelah orang tua kita, orang yang akan sedih jika kita sedih, orang yang akan bahagia jika kita bahagia, orang yang akan pertama kali mengulurkan tangannya di saat kita jatuh terpuruk, orang yang akan pertama kali memberi kita semangat di saat kita putus asa, orang yang akan senang jika kita sukses, dan orang yang akan sakit jika kita sakit.
Tuhan, terima kasih karena telah mempersatukanku dengan Aalya, gadis yang sangat kucintai.
TAMAT
AN:
Terima kasih untuk semua yang sudah membaca cerita ini,
Terima kasih untuk semua yang telah mendukung cerita ini,
Terima kasih untuk kalian semua.
Tanpa kalian, cerita ini bukanlah apa-apa.
Saya sebagai penulis dari cerita ini meminta maaf apabila ada kata-kata dalam cerita saya yang terdengar agak kasar ataupun yang menyinggung perasaan para pembaca.
Saya sebagai penulis dari cerita ini ingin mengucapkan kata perpisahan dari cerita ini.
Sekali lagi, terima kasih untuk kalian semua.
Sampai jumpa di cerita saya yang lainnya!
Regards,
Muhammad Rizaldi.
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe cerita: Cerbung
Enjoy it~
RIO POV...
Hallo, Bray.
Apa kabar nih?
Kalo gue sih gak usah ditanya lagi karena hari ini tuh gue bahagia banget. Ohiya, hari ini tuh hari kamis ya, Bray.
Kali aja lu lupa hari ini hari apa.
Nah, hari ini gue bahagia banget tuh karena: pertama, ulangan matematika yang harusnya dilaksanain hari ini tuh gak jadi alias dibatalin gara-gara gurunya mendadak ada acara. Gue bahagia banget karena semalem gue lupa belajar, kan gawat kalo ulangannya sampe jadi dilaksanain. Kedua, akhirnya sahabat-sahabat gue setuju sama hubungan gue dengan Aalya. Bahkan, Vladislav nyuruh gue buat langsung ngawinin Aalya karena menurut dia tuh gue cocok sama Aalya. Gak usah dengerin omongan Vladislav ya, Bray. Masa dia nyuruh gue buat ngawinin Aalya? Gue kan masih muda ya Bray, masih SMA pula. Gue masih harus nata masa depan gue dulu, gue masih harus kuliah dan kerja. Gue gak berani ngawinin anak orang sebelum gue mapan. Yaiyalah, kalau gue ngawinin anak orang di saat gue masih nganggur, anak orang mau gue kasih makan apa? Emang cinta bisa bikin perut kenyang? Kan malu kalau masih minta sama ortu.
Sekarang mah gue gak mau yang neko-neko lha Bray, yang nyata-nyata aja.
Malam ini, gue janjian lagi sama Aalya buat ketemuan, tapi kali ini gue jemput dia buat ketemuan di tempat yang udah kami sepakati dan musyawarahkan bersama. Dan, sekarang gue lagi dalam perjalanan menuju rumah Aalya buat jemput dia.
Rumah Aalya berada gak terlalu jauh dari rumah gue, cuma berjarak sekitar 4 atau 5 blok aja dari rumah gue.
Gak sampe 30 menit pun akhirnya gue sampe di depan pintu gerbang rumahnya Aalya. Gue pencet bel rumahnya Aalya dan nunggu si empunya rumah bukain pintu gerbangnya.
Gak ada balesan atau tanda-tanda orang yang bakalan bukain pintu gerbangnya buat gue. Gue pencet belnya sekali lagi.
"Iyaiya sebentar." suara Aalya terdengar dari dalem rumahnya. Akhirnya dia muncul juga.
Aalya membukakan pintu gerbang rumahnya dan melempar senyum ke arah gue ketika dia liat siapa yang dateng ke rumahnya. Aalya tampak cantik banget.
Gue bales senyumannya Aalya dan bertanya,
"Sudah siap?"
Aalya cuma ngangguk sebagai jawaban.
Gue mengulurkan tangan gue kemudian nyuruh Aalya untuk menyambut uluran tangan gue. Aalya tersenyum lagi seraya menyambut uluran tangan gue. Kami pun pergi dari depan rumahnya Aalya.
"Eits, sebelum kita pergi," gue berhenti melangkahkan kaki gue kemudian berdiri berhadapan dengan Aalya. "Mata lu harus gue tutup dulu."
"Lho kok pake ditutup segala? Kita mau ke mana sih sebenarnya?" protes Aalya.
"Nanti juga lu bakalan tau." gue memakaikan sebuah kain hitam yang gue ambil dari saku gue ke kedua mata Aalya tanpa minta persetujuannya lagi.
Gue genggam tangannya Aalya kemudian menuntunnya buat kembali jalan menuju tempat tujuan kami. Aalya nanti pasti bakalan kaget, gue udah nyiapin semuanya sesempurna mungkin. Gue mau bikin malem ini jadi malem yang gak akan bisa dilupakan, gue mau bikin malem ini jadi malem bersejarah.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya kami nyampe di tempat tujuan kami. Kami sampe di taman tempat kemaren kami ketemuan dan saling jujur soal perasaan masing-masing.
Gue lepasin ikatan kain yang tadi gue pakaikan ke kedua mata Aalya. Gue lepasin ikatannya secara perlahan, "Jangan buka nata lu sampe gue suruh, ya."
Aalya cuma ngangguk sebagai jawaban. Kini ikatan kainnya sudah terlepas dengan sempurna, tapi gue nyuruh Aalya buat tetep mejamin matanya sampe gue suruh untuk membukanya.
"Okeh, lu sekarang bisa buka mata lu." kata gue padanya.
Aalya pun membuka matanya secara perlahan, tapi pasti.
"Rio, apa ini?" seperti dugaan gue, Aalya keliatan kaget dengan apa yang dia liat di hadapannya.
"Iya, Aalya, ini semua buat lu. Ini adalah bukti cinta gue buat lu." gue tersenyum seraya menunjuk ke arah deretan lilin-lilin yang membentuk kalimat 'I Luv U'. Gue sengaja bikin ini semua sebagai bukti kalo gue bener-bener mencintai Aalya. Gelapnya malam, sunyinya taman ini, dan gugusan bintang di langit menambah kesan romantis pada malam ini. Ini akan jadi malam yang tak terlupakan.
Aalya masih keliatan kaget dengan semua yang dia liat di depannya, dia masih belum bisa berkata apapun.
Gue berdiri berhadapan dengannya, menggenggam tangannya, dan menatap matanya,
"Aalya Putri Rahayu, maukah kau menjadi kekasihku?"
Aalya masih speechless, tapi samar-samar dia mengangguk perlahan dan gue anggep itu adalah jawaban 'ya' darinya.
Gue peluk Aalya yang masih berdiri kaku tanpa bicara sepatah kata pun. Awalnya dia gak bales pelukan gue, tapi gak lama kemudian, dia bales pelukan gue. Kami pun berpelukan di bawah sinar rembulan yang menerangi gelapnya malam ini.
Malam ini, cinta kami telah bersatu. Cinta yang selama ini gue pikir gak akan pernah bersatu, cinta yang selama ini yang gue pikir gak akan pernah gue miliki, cinta yang selama ini ada dalam mimpi gue akhirnya bersatu pada malam ini. Malam ini adalah saksi bersatunya cinta kami berdua.
"Cieeee...."
Terdengar sebuah suara dari balik sebuah pohon yang bikin kami terkejut dan sontak melepaskan pelukan kami.
Di sana, Mario, Vladislav, dan seorang cewek yang gak gue kenal muncul dari balik pohon tempat suara tadi berasal.
Gue dan Aalya terkejut dengan kehadiran mereka. Gue yakin banget kalo tadi gue gak ngundang siapa-siapa ke sini, apalagi ngundang Vladislav dengan cewek yang keliatan lebih muda dari Vladislav itu.
Apa itu pacar barunya Vladislav, ya? Ah, tapi kayaknya gak mungkin karena dia itu cukup anti sama pacaran. Terakhir kali dia pacaran aja 3 tahun yang lalu, pas dia masih kelas 1 SMP. Atau, itu adiknya, ya? Ah, kayaknya iya deh kalo itu adeknya.
"Mario? Vladislav? Sejak kapan kalian ada di sana dan sedang apa kalian di sini?"
Mario, Vladislav, dan cewek itu tersenyum kemudian saling memandang, "Sejak kapan kami ada di balik pohon itu dan sedang apa kami di sini itu gak penting, kami dateng ke sini tuh buat ngerayain bersatunya cinta kalian."
Gue tau kalo apa yang Mario bilang tadi itu bohong karena gue inget banget kalo gue gak ada ngomong apa-apa soal rencana ini sama Mario ataupun Vladislav. Apalagi sama cewek yang gak gue kenal yang ikut sama Mario dan Vladislav itu, tapi gue gak akan bilang gitu sama Mario.
"Nah, kalian kan udah resmi jadi sepasang kekasih, traktirannya jangan sampe lupa, ya." kini giliran Vladislav yang ngomong. Mario dan cewek itu mengangguk setuju secara bersamaan.
"Siap, diatur aja itu mah." gue nanggepin omongan Vladislav seraya memeluk pinggul Aalya.
"Hahaha."
Suara tawa pun pecah setelahnya.
Malam ini adalah malam yang gak akan gue lupakan karena di malam ini, cinta gue dan Aalya bersatu setelah kami melewati masa-masa pahit jatuh cinta. Senyum tak kunjung hilang dari wajah kami, ini adalah malam yang bersejarah bagi kami karena di malam inilah cinta kami bersatu di bawah sinar rembulan dan ditambah dengan kumpulan lilin-lilin di depan kami yang menambah kesan romantis di malam ini. Mungkin itu emang terdengar agak lebay, tapi emang itulah yang gue rasakan malam ini dan mungkin Aalya juga merasakannya.
Satu hal yang bisa gue pelajari dari kejadian-kejadian yang selama ini gue alami adalah, cinta butuh perjuangan.
Terkadang, kita harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Begitupun dengan cinta, jika kau mencintai seseorang, tunjukkanlah rasa cintamu pada orang yang kau cintai dengan cara berjuang untuk mendapatkannya.
Satu hal lagi yang bisa gue pelajari dari semua yang selama ini gue alami adalah, mencintai dan dicintai memanglah sebuah anugerah dari Tuhan untuk setiap umatnya, tapi jangan sampai cinta membuat kita lupa akan sahabat kita karena sahabat adalah orang yang paling mengerti kita setelah orang tua kita, orang yang akan sedih jika kita sedih, orang yang akan bahagia jika kita bahagia, orang yang akan pertama kali mengulurkan tangannya di saat kita jatuh terpuruk, orang yang akan pertama kali memberi kita semangat di saat kita putus asa, orang yang akan senang jika kita sukses, dan orang yang akan sakit jika kita sakit.
Tuhan, terima kasih karena telah mempersatukanku dengan Aalya, gadis yang sangat kucintai.
TAMAT
AN:
Terima kasih untuk semua yang sudah membaca cerita ini,
Terima kasih untuk semua yang telah mendukung cerita ini,
Terima kasih untuk kalian semua.
Tanpa kalian, cerita ini bukanlah apa-apa.
Saya sebagai penulis dari cerita ini meminta maaf apabila ada kata-kata dalam cerita saya yang terdengar agak kasar ataupun yang menyinggung perasaan para pembaca.
Saya sebagai penulis dari cerita ini ingin mengucapkan kata perpisahan dari cerita ini.
Sekali lagi, terima kasih untuk kalian semua.
Sampai jumpa di cerita saya yang lainnya!
Regards,
Muhammad Rizaldi.
Comments
Post a Comment