A Complicated Love Story (Part 15)

Genre: Humor, Romance, Drama
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe cerita: Cerbung
Enjoy it~






ALFAN POV...

"Gue tau gue salah dan gue tau apa salah gue, tapi gue mau minta maaf sama lu. Tolong maafin gue. Tolong maafin gue, Alfan."

Kalimat itu terus saja berputar-putar di kepala gue. Gue tahu Rio serius ketika berkata seperti itu sama gue dan gue nggak tega lihat dia memohon seperti itu sama gue, rasanya gue mau memaafkan Rio dan kembali ketawa-tawa sama dia, tapi di sisi lain, gue masih kesal sama Rio karena dia lebih percaya sama omongan cewek jalang seperti Aalya daripada sama omongan gue, sahabatnya sendiri. Gue merasa nggak dihargai sebagai seorang sahabat karena sahabat gue sendiri lebih percaya sama omongan cewek jalang seperti Aalya daripada sama omongan gue, sahabatnya sendiri. Gue masih kesal sama Rio gara-gara itu, tapi di sisi lain, gue kangen sama Rio. Gue mau have fun lagi sama dia, ketawa-tawa sama dia, menggoda cewek-cewek di mall sama dia, tebar pesona lagi di sekolah sama dia, berbagi contekan sama dia. Gue kangen sama itu semua, tapi sisi egois gue bilang kalau dia nggak pantas untuk dimaafkan. Gue bingung. Gue nggak tahu apa yang harus gue lakukan. Aaarrggh!

Tiba-tiba, handphone gue bunyi. Gue ambil handphone gue dari saku celana gue, gue lihat siapa yang menelepon gue. Vladislav, ternyata dia yang nelpon gue.

"Hallo?" sapa gue pada remaja bule yang sedang nelpon gue ini.

"Hallo juga, my bro."

"Ada apa lu nelpon gue, bro?"

"Gua sama Revan mau ngajak lo keluar, bro."

"Ke mana?"

"Gua sama Revan mau ngajak lo makan siang di restoran Jepang. Lo mau ikut, kan? Mau, ya? Mau, dong?"

"Nggak, ah. Males."

"Tenang, Rio gak ikut kok."

"Oke, lu di mana?"

"Di depan rumah lo."

"Kalau lu ada di depan rumah gue, kenapa lu nggak langsung masuk aja?"

"Kan biar surprise, bro."

"Serah lu dah."

"Hehehe."

"Okeh, gue keluar sekarang."

"Sip."

Gue pun akhirnya menutup telepon dari Vladislav. Remaja bule yang satu itu memang agak dodol, bro.

Gue melangkahkan kaki menuju pintu kamar gue, gue membukanya kemudian berjalan keluar kamar. Rumah tampak sepi sekali. Gue akhirnya sampai di depan pintu rumah gue, gue membukanya dan mendapati Revan dan Vladislav yang sedang asyik mengobrol. Mereka menoleh ke arah gue sejurus kemudian. Mungkin mereka mendengar suara decitan pintu yang gue hasilkan saat gue membuka pintu tadi. Mereka berdiri dan tersenyum ke arah gue.

"Udah siap, bro?" tanya Revan saat gue sudah semakin dekat dengan mereka.

"Siap." jawab gue seraya tersenyum pada Revan.

"Ayo kita berangkat!" seru Vladislav.

Akhirnya gue, Revan, dan Vladislav masuk ke dalam mobilnya Revan. Gue dan Vladislav duduk di bangku penumpang, sedangkan Revan yang menyetir. Revan mulai menjalankan mobilnya pergi dari rumah gue untuk menuju tempat tujuan kami. Nggak ada banyak obrolan saat Revan sedang melajukan mobilnya menuju tempat tujuan kami. Nggak ada yang mau membuka obrolan terlebih dahulu. Kami diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Akhirnya, kami sampai di tempat tujuan kami. Gue, Revan, dan Vladislav pun turun dari mobil Revan kemudian masuk ke dalam restoran Jepang yang jadi tempat tujuan kami. Kami berjalan secara beriringan. Kami memilih tempat duduk yang agak sedikit memojok dan pribadi. Kami pun duduk di tempat yang telah kami pilih. Sebenarnya sih Revan dan Vladislav yang memilih untuk duduk di sini, gue cuma bisa ikut saja. Gue agak heran sih kenapa dua sahabat gue ini memilih tempat ini, mereka tampak mencurigakan. Revan pun akhirnya memesan makanan untuk kami bertiga, gue nggak tahu apa yang dia pesan. Setelah selesai memesan makanan, Revan dan Vladislav menatap gue dengan tatapan yang seakan-akan sedang mengintimidasi gue. Gue risih dong ditatap begitu.

"Apa?" tanya gue pada dua sahabat gue ini setelah risih karena ditatap dengan tatapan mengintimidasi terus menerus. Mereka nggak menjawab pertanyaan gue untuk beberapa saat. Gue makin risih, bro.

"Ada apa sih?" tanya gue lagi.

"Lo udah maafin Rio? Denger-denger, kemarin Rio udah minta maaf sama lo. Apa itu bener?"

Dan akhirnya pertanyaan yang nggak mau gue dengar pun terlontarkan juga.

Gue diam untuk beberapa saat.

"Hellow?" Vladislav mengibas-ngibaskan tangannya di depan  wajah gue guna menyadarkan gue dari lamunan gue.

"Iya, itu bener." gue menjawab pertanyaan dari remaja bule yang ada di hadapan gue ini. Vladislav pasang ekspresi wajah yang seakan-akan berkata 'tuhkan, udah gua duga kalo itu bener." setelah mendengar jawaban yang gue lontarkan.

"Nah, kata Rio, lo belum maafin dia, ya? Kenapa, bro?" remaja bule yang ada di hadapan gue ini kembali bertanya. Dia menatap gue dengan seksama yang seakan-akan dia sedang mencari kejujuran di mata gue. Revan juga menatap gue dengan seksama.

"Gue masih kesel aja sama dia, bro. Bayangin aja, dia lebih percaya sama omongannya Aalya si cewek jalang itu daripada sama omongan sahabatnya sendiri. Gue merasa nggak dihargai sama dia."

"Okeh kalo emang itu bikik lo kesel, tapi lo harus inget kalo Rio itu sahabat kita juga, bro. Walaupun dia emang agak tolol, tapi dia tetep sahabat kita, bro. Apa lo mau persahabatan kita hancur cuma gara-gara cewek? Kita itu sahabatan bukan satu atau dua hari, bro. Tapi, kita sahabatan udah tiga tahun, bro. Udah banyak kenangan yang terukir selama tiga tahun kita sahabatan. Suka dan duka kita lewati bersama, canda tawa yang kita buat, saat-saat kebersamaan kita, saat-saat kita saling dukung ketika salah satu di antara kita ada yang lagi susah dan nelangsa, saat-saat kita saling ejek, tapi justru itulah masa-masa terindah kita....."

"...... apa lo mau waktu tiga tahun itu hancue gitu aja cuma gara-gara cewek? Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar, bro. Udah terlalu banyak kenangan yang terukir selama tiga tahun itu. Tolong singkirin dulu sisi egois lo itu dan maafin Rio. Ini semua demi kita, demi persahabatan kita." kini giliran Revan yang bicara panjang lebar. Revan benar, nggak seharusnya gue lebih mementingkan sisi egois gue daripada memaafkan sahabat gue sendiri. Gue bodoh. Revan benar, gue nggak mau persahabatan gue sama Rio hancur gitu aja cuma gara-gara cewek.

"Iya, lu bener, Van. Gue akan maafin dia dan besok gue akan nyapa dia lagi." kata gue.

Nggak lama kemudian, makanan yang sudah kami pesan tadi akhirnya datang. Semua makanan yang Revan pesan tampak asing di mata gue, ini adalah pertama kalinya gue datang ke restoran Jepang.

"Lo mau maafin Rio bukan karena gue maksa lo buat maafin dia, 'kan?" Revan kembali bertanya pada gue, untuk memastikan.

"Iya." jawab gue dengan memberikan senyum paling manis yang gue punya pada Revan supaya dia percaya kalau gue mau memaafkan Rio bukan karena dia paksa, tapi karena keinginan gue sendiri.

Revan cuma tersenyum mendengar jawaban gue.

"Okeh, masalah udah selesai. Sekarang waktunya makan!" seru Vladislav dengan antusias.

Gue, Revan, dan Vladislav pun akhirnya mulai makan makanan yang telah Revan pesan tadi. Sensasi pertama yang gue rasakan setelah gue mencoba untuk makan makanan yang Revan pesan tadi adalah aneh. Lidah gue belum bisa beradaptasi dengan makanan Jepang yang Revan pesan tadi. Namun, gue nggak akan bilang itu sama dua sahabat gue yang sedang asyik menyantap makanan yang Revan pesan tadi dengan lahapnya. Jika gue bilang sama mereka kalau makanan yang Revan pesan itu rasanya aneh, mereka pasti akan menertawakan gue. Huh!


Kami selesai menyantap makanan Jepang yang rasanya agak aneh itu. Revan yang membayar semua makanan yang kami makan tadi, dia meneraktir gue dan Vladislav. Setelah membayar semua makanan yang kami makan tadi, kami beranjak dari kursi yang kami duduki tadi kemudian berjalan ke luar restoran Jepang ini. Kami masuk ke dalam mobil Revan, Revan pun mulai menjalankan mobilnya pergi meninggalkan restoran ini. Di sepanjang perjalanan, yang kami lakukan hanyalah diam. Biasanya, jika kami ada dalam suasana awkward seperti ini, Rio lah yang akan mencairkan suasana dengan segala tingkah konyolnya. Oh, Rio. Gue jadi kangen sama lo. Ternyata nggak bicara sama lo selama beberapa hari saja itu nggak enak, gue kangen lo. Gue kangen lo, Rio.


Mobil Revan sampai di depan rumah gue. Gue turun dari mobil Revan kemudian masuk ke dalam rumah gue setelah mobil Revan sudah pergi dari depan rumah gue. Rumah tampak sangat sepi ketika gue masuk ke dalam, Mamah dan Papah pasti belum pulang. Mereka memang sangat sibuk, gue sudah biasa ditinggal seperti ini. Gue nggak marah sama mereka karena gue tahu kalau semua yang mereka itu untuk gue, hanya untuk gue. Gue berjalan menuju kamar gue dengan langkah mantap. Oh, ternyata rumah nggak terlalu sepi karena ada Bi Maimunah dan Bi Kokom yang sedang beres-beres rumah. Gue menyapa mereka kemudian kembali berjalan menuju kamar. Gue sampai di depan pintu kamar gue, gue membuka pintu kamar gue kemudian masuk ke dalam kamar. Gue langsung menghempaskan tubuh gue ke atas kasur  ketika gue sudah berada di dalam kamar.


Omongan Revan dan Vladislav tadi di restoran kembali terngiang di kepala gue. Mereka benar, nggak seharusnya gue lebih mementingkan sisi egois gue daripada sahabat gue sendiri. Besok gue akan menemui Rio dan berkata padanya kalau gue sudah memaafkannya. Iya, gue harus melakukan itu besok. Dia pasti akan sangat senang ketika mendengar itu.



***


Hari ini adalah sebuah hari baru dan awal yang baru. Hari ini gue akan kembali bicara pada Rio, salah satu sahabat karib gue. Gue sudah sangat merindukannya.


Sekarang, gue sedang berjalan di lorong sekolah menuju kelas gue. Gue sudah nggak sabar untuk kembali bicara pada Rio. Gue sudah semakin dekat dengan kelas gue. Oh, itu dia. Kelas gue sudah mulai kelihatan. Gue mempercepat langkah gue hingga akhirnya gue sampai di kelas gue.


Seperti biasa, kelas gue tampak sangat ramai. Gue mengedarkan pandangan gue ke seluruh penjuru kelas untuk mencari keberadaan Rio, Vladislav, dan Revan. Gue nggak melihat keberadaan tiga sahabat gue di manapun. Oh, nggak. Mereka ada di meja paling belakang. Mereka terlihat sedang sangat asyik mengobrol, tertawa dengan riangnya. Gue kangen saat-saat seperti itu. Gue berjalan menghampiri tiga sahabat gue itu.


"Hello, guys." sapa gue pada tiga sahabat gue. Rio, Revan, dan Vladislav menoleh ke arah gue secara bersamaan. Gue tersenyum pada tiga sahabat gue itu. "Rio, gue mau ngomong sama lo."


"Okay." kata Rio seraya bangkit dari duduknya kemudian berjalan mengikuti gue ke luar kelas. Gue berhenti di depan pintu kelas gue, Rio juga ikut berhenti dan berdiri di hadapan gue.


"Rio, gue udah maafin lo. Sekarang, gue sadar kalo kemaren itu gue terlalu kekanak-kanakkan. Gue udah nggak marah lagi sama lo. Lo tetep sahabat gue, bro." ujar gue pada Rio. Wajah Rio berubah jadi sangat sumringah ketika mendengar omongan gue tadi, dia pasti sangat senang.


Rio memeluk gue setelah itu. Gue sempat agak terkejut dengan apa yang dia lakukan, tapi itu nggak lama dan gue membalas pelukannya. Kami berpelukan sebagai menyatunya kembali persahabatan kami, pelukan persahabatan yang gue rindukan beberapa hari ini. Gue rindu ini semua. "Makasih karena udah mau maafin gue, bray." bisik Rio di sela-sela pelukan kami.

Gue melepaskan pelukan kami dan tersenyum pada Rio. "Emang itu yang seharusnya gue lakukan, bro." kata gue. Rio tersenyum, senyum yang gue rindukan beberapa hari ini. Gue membalas senyumannya.


"Yaudah, kita masuk lagi yuk ke kelas. Revan dan Vladislav pasti udah nunggu kita." gue merangkul pundak Rio dan mengajaknya masuk ke dalam kelas. Dia hanya tersenyum dan mengangguk sebagai tanda persetujuan.



Kami masuk kembali ke dalam kelas dan menghampiri Revan dan Vladislav yang masih terlihat asyik mengobrol.



Hari ini, gue dan Rio sudah resmi berbaikan. Kami bisa berkumpul lagi seperti yang biasa kami lakukan, saling ejek dan tertawa bersama. Sekarang, gue sadar kalau persahabatan jauh lebih berharga dari segalanya. Sahabat, dialah orang yang selalu ada buat kita, orang yang senang ketika kita senang dan orang yang sedih ketika kita sedih, orang yang pertama kali menyemangati kita ketika kita merasa putus asa, orang yang pertama kali menadahkan tangan ketika kita jatuh terpuruk.



I Love My Bestfriends!






To be continued...


AN:
Selamat hari jumat semuanya!
Apa kabar kalian guys?
Pasti baik semua dung? Wkwkwk

Saya update lagi nih dengan part terbaru dari ACLS. Part kali ini agak lebih pendek dari part yang kemarin, ya?
Wkwk ini termasuk part spesial lho dari ACLS karena pake Alfan POV.

Okeh, komentar, kritik, dan sarannya ditunggu, ya.

See ya in the next part.

I love y'all!
XOXO!

Comments

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon