Telepon

Penulis: Muhammad Rizaldi 
Kategori: Cerbung



BAB 3 ...




Hari yang mendebarkan sekaligus ditunggu-tunggu pun tiba. Rasanya seperti akan bertemu dengan kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Bahkan, Valerie berangkat pagi sekali hanya karena teringat bahwa hari ini si peneror itu akan menunjukkan wujud aslinya di depan wajahnya dan membuatnya harus bergegas dalam menghabiskan sarapannya.

Valerie terlihat sangat bersemangat pagi ini dan Anna merasa lega karena sahabatnya itu akhirnya sudah tidak bersedih lagi.

"Apa?!" Anna tampak terkejut saat Valerie menceritakan percakapannya semalam dengan si peneror itu. "kau serius?"

Valerie mengangguk antusias. "Ya, dia yang menawakan rencana itu padaku. Itu membuatku sangat bersemangat dan tidak sabar menunggu jam pulang sekolah tiba."

Anna mengernyitkan alisnya setelah mendengar respons Valerie, tapi kemudian berubah menjadi senyuman mencurigakan. "Kenapa kau jadi begitu bersemangat seperti itu? Ada apa sebenarnya denganmu?"

"Apa maksudmu? Aku hanya senang karena akhirnya akan mengetahui siapa peneror itu sebenarnya."

"Kau yakin hanya itu? Kau yakin tidak ada perasaan terpendam lain untuknya?" goda Anna seraya menaikturunkan alisnya yang membuat Valerie kesal.

"Tidak, Anna! Jangan menggodaku seperti itu!" sungut Valerie.

"Benarkah? Bukankah dia begitu romantis padamu? Kau sendiri yang mengatakannya padaku." Anna terus saja menggoda Valerie.

Selain bisa menjadi sahabat yang baik, terkadang Anna bisa menjadi sahabat paling menjengkelkan bagi Valerie. Dia benci ketika Anna sudah menggodanya seperti itu. Dan wajahnya akan memerah jika Anna terus saja menggodanya meskipun apa yang dikatakan sahabatnya itu tidak benar.

"Anna, jika kau terus saja menggodaku seperti itu, aku tidak akan lagi membantumu untuk mengerjakan setiap pekerjaan rumah yang tidak kau mengerti," ancam Valerie.

"Oh, benarkah? Baiklah, aku akan meminta bantuan Sarah untuk membantuku."

Sarah adalah salah satu siswi di kelas mereka yang terkenal pintar. Dia hafal banyak rumus matematika hingga kimia, tak heran jika dia selalu menjadi peringkat dua di kelasnya. Namun seberapa pintarnya dia pun, dia takkan bisa mengalahkan Valerie yang selalu menjadi peringkat pertama di kelasnya.

"Anna!" Valerie mulai kesal. Dia bangkit dari posisi duduknya lalu pergi ke luar kelas seraya menggerutu.

Melihat hal itu, Anna lantas menyusul sahabatnya itu pergi ke luar kelas. Valerie semakin menambah kecepatan jalannya ketika mengetahui bahwa Anna mengikutinya.

"Val!" panggil Anna.

Alih-alih menjawab atau berbalik, dia malah semakin berlari menjauhinya. Namun meskipun begitu, Anna tidak bisa menghentikan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak walaupun tidak ada hal yang lucu sama sekali dengan tetap mengejar sahabatnya itu.

Ketika mereka tiba di depan mading, Anna berhasil menyusul Valerie lalu mengadangnya untuk kembali berlari.

"Ada apa denganmu?" tanya Anna.

"Aku kesal padamu."

Anna mengerutkan dahinya seolah tidak mengerti meskipun dialah yang melakukan semuanya. "Apa salahku?"

"Kau telah membuatku kesal dan kau tanya apa salahmu? Bagus sekali."

Anna tertawa untuk terakhir kalinya sebelum dia membujuk Valerie agar tidak marah padanya lagi. "Baiklah, baiklah. Aku mengaku salah. Apa kau mau memaafkanku?"

Valerie bergeming. Dia sudah telanjur kesal dengan Anna karena sudah merusak suasana hatinya yang sedang senang.

"Val?"

Valerie ingin memaafkan Anna, tapi egonya seakan menahan dirinya tiap kali dia ingin memaafkan sahabatnya itu.

"Ayolah, Val. Kau tidak mungkin benar-benar marah padaku, 'kan? Kau hanya bercanda, 'kan?" Anna menggoyang-goyangkan bahu Vakerie yang sedari tadi hanya diam.

Valerie menoleh, dia menatap Anna cukup lama. Dia tampak sedang berpikir akankah dia memaafkan sahabatnya itu atau tidak.

"Baiklah," Valerie tersenyum pada Anna. "aku memaafkanmu."

Mendengar hal itu, Anna kontan memeluk Valerie dengan sangat erat yang membuat dadanya sesak. Valerie mendorong tubuhnya agar tidak memeluknya terlalu erat dan bisa bernapas kembali.

"Aku sangat senang," gumam Anna.

Valerie tidak merespons, dia hanya tersenyum seraya mengangguk kecil. Anna lalu merangkul bahunya lalu menuntunnya kembali ke kelas.

****

Saat paling ditunggu-tunggu oleh Valerie hanya tersisa beberapa jam lagi dan dia menjadi semakin bersemangat. Dia hanya perlu bersabar dan tidak gegabah agar semuanya berjalan dengan lancar meskipun dia tahu bahwa dia sudah tidak sabar ingin menemui serta melihat siapa peneror itu sebenarnya.

Memang, si peneror itu tidak melakukan sesuatu yang jahat padanya, tapi dia telah membuat Valerie merasa sedikit risih karena dia sama sekali tidak mengetahui identitas dari dalang di balik semua ini. Dan ketika si peneror itu menawarkan sebuah rencana yang memang sudah dia ditunggu sejak awal, dia tidak bisa melewatkan kesempatan emas itu.

Dengan perasaan yang menggebu-gebu di jam istirahat, Valerie berjalan di koridor menuju kantin, tempatnya biasa menghabiskan waktu dan uang dengan Anna. Sesekali mereka bersenda gurau, sesekali Anna kembali menggoda Valerie hingga sesekali mereka yang menjaili beberapa teman yang mereka kenal.

Namun saat mereka sudah hampir mencapai kantin, seorang siswa menabrak mereka yang sontak membuat mereka terjatuh. Mereka bergegas bangkit dan bersikap normal seakan tidak ada yang terjadi.

"Rendra?" Valerie terkejut ketika mendapati siswa yang menabraknya adalah Rendra, siswa yang kemarin lusa tertangkap basah sedang memperhatikannya.

"V-valerie? Maafkan aku," ucap Rendra dengan terbata.

"Itu tidak masalah, tapi kenapa kau terburu-buru hingga tidak melihat kami seperti itu?" tanya Valerie.

"Aku ..." Rendra tampak sedang berpikir seolah mencari jawaban apa yang kiranya cocok untuk diberikan pada Valerie.

"Aku apa?"

"... harus mengerjakan pekerjaan rumahku. Aku lupa mengerjakannya!"

Bukannya Valerie tidak percaya pada jawaban Rendra atau apa, tapi wajahnya tampak gugup. Laki-laki itu juga bahkan tidak berani kontak mata dengannya. Ada apa dengannya?

"Yasudah, aku duluan. Dah!" sambung Rendra yang kemudian pergi meninggalkan Valerie dan Anna berdua.

Valerie bingung, kenapa Rendra selalu saja salah tingkah ketika bertemu atau mengobrol dengannya? Dia benar-benar tidak mengerti.

"Sudahlah Val, ayo kita ke kantin. Aku sudah sangat lapar," kata Anna yang sedari tadi hanya diam.

"Ya, baiklah."

Meskipun kakinya berjalan menuju kantin, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Ada banyak hal yang mencurigakan terjadi padanya. Misalnya saja, seperti saat Rendra menabraknya tadi. Jelas sekali tersirat di wajahnya bahwa dia gugup. Atau mungkin itu adalah raut wajah pucat seorang murid yang lupa mengerjakan tugas yang diberikan gurunya?

Bukannya sombong atau apa, tapi sepanjang sejarah hidupnya menjadi seorang pelajar, dia tidak pernah lupa mengerjakan setiap tugas yang diberikan guru padanya. Dia tidak pernah dihukum, jadi ketika melihat seseorang berwajah pucat—atau mungkin gugup, seperti dugaan awalnya—, itu adalah suatu hal yang belum pernah dilihat olehnya sebelumnya.

Rasanya Valerie ingin melupakannya, tapi pikirannya tidak bisa berhenti untuk memikirkan kejadian yang dialaminya tadi. Tidak, ini tidak seperti pertemuan dua anak manusia yang saling jatuh cinta seperti dalam FTV, tapi ini rasanya seperti ada suatu hal janggal yang tidak dia ketahui apa itu. Bahkan ketika mereka tiba di kantin, pikirannya masih tetap nemikirkannya.

"Ada apa, Val? Kenapa kau hanya melamun?" tanya Anna yang menyadari perubahaan pada diri Valerie.

"Tidak ada apa-apa," jawab Valerie datar.

"Jangan bohong padaku, Val. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu."

Valerie menatap Anna cukup lama seolah sedang menimbang apakah kiranya dia harus menceritakan kecurigaannya pada Anna atau tidak. Dia ragu, apa yang dipikirkannya saat ini hanyalah sebatas kecurigaan semata saja. Bagaimana jika kecurigaannya itu salah? Bagaimana jika bukan Rendralah orang yang selama ini dia cari?

Valerie mengutuk dirinya sendiri karena tidak memiliki satu petunjuk pun yang bisa membantunya mengungkap identitas si peneror itu. Andai saja dia memiliki satu petunjuk saja, itu akan sangat membantunya.

Oh, tunggu.

Valerie memiliki satu petunjuk.

Ya, benar.

Ketika si peneror itu meneleponnya, dia mendengar suara seorang pemuda. Dia ingat jelas bagaimana suara si peneror itu.

Benar, aku akan memakai petunjuk itu untuk membantuku mengungkap identitasnya, batin Valerie.

"Val? Apa kau baik-baik saja?" Anna mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Valerie.

Alih-alih menjawab, Valerie malah hanya tersenyum pada Anna.

"Kau membuatku khawatir, Val," kata Anna.

"Aku baik-baik saja, Anna. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu."

"Apa kau yakin?"

Valerie mengangguk. "Ya, sangat yakin."

"Baiklah, aku percaya padamu."

Valerie hanya (lagi-lagi) tersenyum sebagai respons dari ucapan Anna. Mereka lalu terdiam, tidak ada lagi obrolan. Mereka hanya menyesap minuman yang telah mereka pesan tadi seraya sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun, Anna nyatanya masih tidak percaya ketika Valerie berkata bahwa dia baik-baik saja.

Bukan karena apa-apa, tapi raut wajahnya terlalu mencurigakan. Bayangkan saja, raut wajah yang awalnya terlihat murung dan tidak bersemangat tiba-tiba saja berubah menjadi ceria. Bukankah itu mencurigakan?

Sudah dua hari Valerie menjadi seperti itu. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya atau pada mood-nya. Apa dia sudah mulai menjadi gila karena teror yang terus mengintainya? Entah kenapa dia merasa bahwa ada yang disembunyikan darinya, tapi dia tidak tahu apa itu.

"Anna, kita ke kelas, yuk? Aku bosan di sini," ajak Valerie yang kontan menyadarkan Anna dari lamunannya.

"Baiklah," Anna mengangguk sebagai tanda persetujuan atas ajakan Valerie kemudian bangkit. "ayo kita ke kelas."

Mereka lalu jalan bersisihan ke luar kantin dalam diam. Sesekali mereka menyapa teman-teman mereka yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Sesekali Anna memandangi Valerie dengan pandangan penuh curiga. Namun ketika Valerie mendapati dirinya sedang memandanginya dengan pandangan curiga, dia akan memalingkan pandangannya ke arah lain.

"Rendra? Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Valerie ketika memergoki Rendra sedang berdiri di samping sebuah pilar seraya melamun dan memandang ke arah kantin.

Rendra terkesiap, dia bahkan hampir kehilangan keseimbangannya. "A-aku? Aku sedang ..."

Ekspresi gugup jelas tersirat di wajahnya. Dia bahkan tidak berani melakukan kontak mata dengan Valerie yang membuat gadis itu semakin curiga.

"Sedang apa?" Valerie mendesak.

"... menunggu teman. Iya, itu!"

Valerie menyipitkan matanya. Jawaban laki-laki itu terdengar mencurigakan.

"Val, ayo. Kenapa kita berhenti?" kata Anna.

"Tidak, dia tidak mungkin pemuda yang selama ini selalu menerorku. Terlalu mustahil," gumam Valerie pada dirinya sendiri seraya menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan kecurigaannya pada Rendra.

"Apa? Apa katamu?" Anna menyahut.

"Tidak, tidak apa-apa. Ayo kita ke kelas!" Valerie lantas mendorong tubuh Anna menuju kelas mereka agar dia tidak banyak tanya lagi.

****

"Apa kau yakin dia tidak akan mengetahui rencanamu ini?" tanya Anna yang sedikit khawatir saat Valerie mengajaknya ke gudang belakang sekolah pada jam pulang sekolah.

"Aku yakin, Anna. Sangat yakin. Jadi, jangan banyak bertanya dan ikuti saja perintahku," jawab Valerie dengan nada santai.

"Tapi bagaimana jika dia mengetahuinya?"

Valerie berbalik. "Anna, dengar. Dia tidak akan mengetahui rencana kita dan tidak akan terjadi apa-apa. Jadi, tenanglah."

Anna menurut seraya menelan ludahnya dengan wajah khawatir.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Valerie bergegas menarik tangan Anna untuk menemaninya bertemu dengan pemuda yang selalu menerornya di telepon. Tidak, dia tidak melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati sebelumnya, tapi dia hanya berjaga-jaga dan membekali dirinya dengan seorang teman di sampingnya jika sewaktu-waktu pemuda misterius itu akan melakukan sesuatu yang jahat padanya.

Memang, terdengar konyol dengan melihat dua orang gadis yang ingin bertemu dengan seorang peneror tanpa persenjataan apa pun. Ya ... Valerie tidak tahu apakah pemuda misterius ini akan berniat jahat padanya dan sahabatnya atau tidak, tapi tidak ada salah baginya untuk memproteksi dirinya dengan seorang teman di sampingnya.

"Val, apa kau yakin di sini tempatnya?" tanya Anna ketika mereka tiba di gudang belakang sekolah yang tampak tidak terurus dengan sebuah tembok bata tinggi serta ditumbuhi alang-alang yang merambat ke seluruh tembok bata yang menjadi batas antara sekolahnya dengan jalan raya.

"Memang benar di sini tempatnya," jawab Valerie.

Anna mengernyitkan alisnya. "Tapi tidak ada siapa pun di sini."

"Tunggu sajalah, mungkin dia akan datang sebentar lagi."

"Apa? Menunggu di tempat seperti ini? Oh, tidak. Aku tidak mau." Anna tidak setuju dengan rencana bodoh Valerie.

"Tapi bagaimana jika dia datang setelah kita pergi?"

"Berapa lama kita harus menunggu di sini, Val? Sudahlah, ayo kita pulang."

Dengan sigap, Valerie menahan tangan Anna saat dia hendak berbalik dan pergi meninggalkannya. Dia memelas pada sahabatnya itu untuk menunggu sebentar lagi.

"Ya, baiklah." dengan terpaksa, Anna pun menuruti permintaan Valerie untuk menunggu di tempat ini sebentar lagi sampai pemuda misterius itu datang.

Seulas senyum kontan terlukis di wajah Valerie.

Mereka menunggu dengan tidak sabar. Si peneror itu mungkin hanya terlambat, tidak mungkin rasanya jika dia tidak datang karena dialah yang menawarkan kesempatan ini. Mungkin sebentar lagi dia akan datang, Valerie hanya harus menunggu dan bersabar.

Tidak masalah bagi Valerie untuk menunggu beberapa saat asalkan dia bisa mengetahui identasi pemuda yang selalu menerornya di telepon itu. Ini tidak akan lama meskipun ini sudah berjalan hampir tiga puluh menit dari waktu yang dia tentukan.

Dengan gelisah, Valerie tetap menunggu dan Anna yang sedari tadi mengumpat dalam hatinya karena sahabatnya yang terlalu keras kepala ingin menunggu dia yang sudah jelas tidak akan datang. Sekolah sudah sepi, bahkan mungkin gerbang depan pun sudah akan ditutup. Dan sekarang mereka harus mencari cara untuk keluar dari dalam sini jika gerbang sekolah memang sudah benar-benar ditutup.

"Tunggu, aku mendengar sesuatu," ucap Valerie tiba-tiba.

Anna menoleh dengan malas. "Apa yang kau dengar?"

"Aku tidak yakin, tapi itu terdengar seperti ... suara langkah kali seseorang."

Anna memutar bola matanya. "Itu tidak mungkin, hanya ada kita berdua di sini dan sekolah juga sudah sepi."

"Pelankan suaramu." Valerie menaruh jari telunjuknya di depan bibir Anna sebagai kial baginya untuk diam.

Anna tidak merespons, dia hanya mendelik dengan malas. Sementara Valerie, dia begitu yakin dengan apa yang didengarnya tadi.

"Dia semakin dekat!" seru Valerie.

"Siapa?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, tapi cepatlah kau bersembunyi di balik dinding itu!" Valerie mendorong tubuh Anna agar dia bergegas bersembunyi di tempat yang ditunjuk Valerie tadi.

Anna lantas menuruti apa yang Valerie perintahkan meskipun dia malas untuk melakukannya.

Saat Anna sudah menghilang di balik sebuah dinding, suara langkah seseorang itu terdengar semakin jelas serta semakin dekat sampai akhirnya ...

...

... sudah benar-benar dekat dan

...

... setiap kali dia merasakan suara langkah kaki itu, jantungnya berdetak sangat cepat ...

... dia hanya perlu menunggu beberapa waktu sebelum akhirnya si empunya langkah kaki yang suaranya dia dengar tadi menampakkan dirinya. Betapa terkejutnya dia saat mendapati ...

"Pak Tejo?" Valerie terheran-heran karena Pak Tejo, cleaning service di sekolahnya, yang dia dapati.

****

NRV •sedang aktif

Kmu mlanggar prjanjianny

Valerie Anastasia •sedang aktif

Apa mksudmu?

NRV •sedang aktif

Nggk usah berpura-pura, aku tau ko

Valerie Anastasia •sedang aktif

Sebenernya apa yang lagi km omongin? Aku nggak ngerti

NRV •sedang aktif

Aku kecewa sama kmu

Valerie Anastasia •sedang aktif

Jangan bikin aku bingung

NRV •sedang aktif

Sore tadi, gudang belakang sekolah. Kmu mlanggar perjanjianny

Ah, benar. Itulah yang dia maksud, seharusnya aku sudah paham, batin Valerie.

Tunggu.

Ada yang janggal.

Bagaimana dia bisa tahu?

Jika dia tahu tentang hal itu, berarti dia adalah ...

Valerie Anastasia •sedang aktif

Jadi km itu orang yg suka neror aku?

NRV •sedang aktif

Ya

Valerie menutup aplikasi Facebook-nya kemudian menyimpan ponselnya di nakas. Dia tidak habis pikir, pemuda ini benar-benar nekat untuk menerornya dengan melalui salah satu akun media sosialnya. Dari mana dia tahu nama akun Facebook-nya? Siapa yang memberitahunya?

Terkadang terlintas di pikirannya, begitu menarikkah dirinya hingga membuat seorang pemuda tergila-gila padanya dan menerornya tiada henti? Jika memang itu yang terjadi, dia rela berpura-pura untuk mencintainya agar dia berhenti menerornya setiap saat. Setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan, Valerie akan langsung memutuskan hubungan dengannya.

Valerie tahu itu adalah hal yang berisiko dan bisa menimbulkan hal buruk lain terjadi padanya, tapi dia sangat terganggu jika pemuda itu terus menerornya. Tidak peduli seberapa banyak kata-kata manis yang dia ucapkan, tapi hal itu tetaplah sangat mengganggu.

Terkadang pula Valerie merenungkan ucapan sang peneror beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa dia mengenal dan pernah bertemu dengannya, tapi siapakah dia? Dia bertemu dengan ribuan orang setiap harinya, mungkinkah dia adalah bagian dari ribuan orang yang ditemui olehnya setiap hari? Jika memang benar, lantas yang manakah dia?

Krrriing ...

Astaga, apa lagi ini? batin Valerie.

Valerie lalu menghampiri meja belajarnya untuk mengangkat teleponnya yang berdering.

"Halo?"

Tidak ada balasan.

"Halo?"

Tetap saja, tidak ada balasan.

"Halo?"

"Kau tahu, betapa gugupnya aku saat bertemu denganmu tadi di sekolahmu."

"Apa maksudmu? Kapan kita bertemu?"

"Aku yakin kau masih mengingatnya."

"Apa kau Rendra?"

"Aku tidak bisa menjawabnya, aku ingin tahu apa kau bisa mengenaliku saat kita bertemu lagi nanti."

"Jangan berkelit, aku serius. Apa kau Rendra?!"

"Baiklah jika kau memaksa, aku akan menjawabnya."

"Cepatlah."

"Kau ingin jawaban serius atau bercanda?"

"Itu tidak lucu. Cepat jawablah."

"Sebelum itu, aku ingin bertanya padamu terlebih dahulu."

"Baiklah, apa?"

"Siapa itu Rendra? Apa itu pacarmu?"

"Bukankah kau adalah Rendra? Jawab aku!"

"Bukan, aku bukan Rendra."

"Jangan berbohong."

"Kau memintaku untuk menjawab pertanyaanmu, tapi setelah kujawab, kau menuduhku berbohong."

"Aku tidak percaya pada ucapanmu."

"Oh, apa ucapanmu bisa dipercaya?"

"Apa maksudmu?"

"Tidak usah berpura-pura. Aku benar-benar kecewa padamu."

"Apa yang sedang kau bicarakan?"

"Kau ingin tahu?"

"Ya, tentu saja."

"Baiklah."

"Apa?"

"Kenapa kau melanggar perjanjian yang telah kita sepakati? Kenapa kau melanggarnya?"

"Soal itu, aku hanya-"

"Dan soal Rendra, aku akan mencarinya dan sedikit memberinya sebuah hadiah."

"Apa yang akan kau lakukan?!"

"Kita lihat saja nanti."

Tuuuuuuuuutt ...




-To be continued-


Comments

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon