Negeri Penyihir

Genre: Fantasi
Penulis: Muhammad Rizaldi



BAB 7 ...



"Aaarrgghh!"

"Lari! Selamatkan diri kalian!"

Kebakaran, runtuhnya beberapa bangunan, dan kepanikan terjadi di mana-mana. Alan tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi satu yang dia tahu: ini bukanlah sesuatu yang baik.

Alan, Luke, dan Will berjalan di tengah kepanikan massa. Berusaha menyelamatkan siapa pun yang membutuhkan bantuan mereka. Seisi kota telah porak poranda, semua infrastruktur telah hancur.

Seluruh penjuru kota tampak kacau dengan suasana yang tidak lagi kondusif. Apa yang mereka lihat saat ini tampak bagai akhir dari dunia. Namun, ada satu hal yang tidak mereka ketahui: siapa yang menyebabkan semua kekacauan ini?

Erangan, rintihan, jeritan, dan teriakan kepanikan menggema di seantero kota. Ini jelas bukanlah sekadar main-main atau simulasi belaka, ini sudah melampaui batas.

Alan, Luke, dan Will mengelilingi kota untuk mencari orang yang telah menyebabkan semua kekacauan ini dengan rahang yang mengeras. Rintihan para penduduk yang kesakitan sesekali mengganggu pencarian mereka, tapi mereka juga tidak akan bisa membiarkan seseorang yang tidak berdosa terkena imbas dari apa yang mereka tidak lakukan.

Sudah hampir satu jam mereka mencari, tapi ke mana pun mereka mencari, hasilnya selalu sama: nihil.

"Aaarrrgghh!" jerit seorang gadis dari kejauhan.

Awalnya mereka tidak terlalu memedulikan jeritan itu karena mereka sudah mendengar yang jauh lebih memilukan dari itu, tapi sesuatu yang mengikuti gadis itu memaksa mereka harus peduli. Sesuatu yang besar dan berbahaya.

Seekor Bulgarook.

"Kenapa makhluk bengis itu bisa menjadi sangat besar dan mampu mencapai kota?!" rahang Alan semakin mengeras tatkala melihat makhluk itu menyerang seluruh kota dengan senjata yang dimilikinya.

"Aku merasa ada sesuatu yang tak beres di balik semua kekacauan ini," ungkap Luke.

"Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, Luke," sahut Will, membenarkan ucapan Luke.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada negeri ini?" tanya Alan yang lebih tepat ditujukan pada dirinya sendiri.

Sekadar informasi, Bulgarook adalah sebutan untuk sejenis makhluk yang dikenal sangat bengis. Makhluk itu memiliki bentuk seperti layaknya seekor kuda jantan dewasa dengan kepala naga serta dihiasi dengan dua tanduk panjang yang tumbuh di dua sisi kepalanya dan dua buah gading panjang yang mirip dengan gajah.

Besar mereka tidak lebih dari besar seekor kuda jantan dewasa, tapi untuk yang satu ini, jauh melebihi kuda jantan dewasa. Alan, Luke, serta Will tidak tahu kenapa makhluk itu bisa berubah menjadi sebesar raksasa itu. Atau mungkin ...

... makhluk itu telah dimanterai?

Jika benar, siapa yang melakukannya?

Meskipun terkenal dengan kebengisannya, Bulgarook termasuk makhluk yang pemalu. Dia hanya menghabiskan waktunya di dalam sebuah gua lembap dengan sesekali keluar untuk mencari makan. Tidak pernah ada kasus yang menyatakan tentang kekacauan yang disebabkan oleh seekor Bulgarook, tapi apa yang tersaji di depan mereka saat ini telah mencatat sebuah sejarah baru.

"Alan, di belakangmu!" seru Will dengan tiba-tiba yang kontan membuat Alan terkejut dan menghindar dari serangan yang dilayangkan oleh Bulgarook raksasa itu.

Rupanya makhluk bengis itu telah menyadari keberadaan mereka. Dia menyemburkan api dari mulutnya, dia menyeruduk mereka dengan tanduk panjangnya, hingga berulang kali menguakkan mereka dengan dua sayap besar dan lebarnya (bahkan mereka baru tahu jika seekor Bulgarook memiliki sayap seperti itu).

Namun, mereka berhasil menghindari setiap serangan yang diberikan oleh makhluk besar itu. Mereka bersembunyi di balik sebuah pohon besar untuk menyiapkan penyerangan terhadapnya dan saat dia lengah, mereka langsung menyerangnya bertubi-tubi. Mereka mempersenjatai diri mereka hanya dengan tongkat sihir mereka. Namun, jangan dianggap remeh karena tongkat sihir mereka sumber kekuatan yang tidak bisa ditandingi.

Rupanya makhluk itu tidak sebodoh yang mereka kira karena dia berhasil menghindari setiap serangan yang mereka layangkan, bahkan dia berhasil membelokkan serangan mereka hingga hampir mengenai mereka balik.

"Kita harus sedikit memainkan strategi untuk bisa mengalahakannya," ujar Will saat makhluk itu tengah kelimpungan mencari keberadaan mereka yang bersembunyi di balik sebuah bangunan yang sudah setengah hancur.

"Strategi apa?" tanya Alan.

"Kita akan sedikit memainkan trik padanya. Luke, kau serang makhluk itu dari belakang. Alan, kau serang dari samping. Dan aku akan menyerangnya dari depan. Kita harus melakukannya secara bersamaan, jangan biarkan dia memiliki kesempatan untuk melawan atau menangkis serangan kita. Buat dia lemah," urai Will.

"Baiklah, aku mengerti," kata Luke seraya mengangguk paham.

Alan pun tak luput dari menganggukkan kepalanya sebagai kial bahwa dia paham dengan apa yang Will jelaskan tadi. "Aku juga mengerti."

"Baiklah, ayo kita lakukan."

Alan, Luke, serta Will keluar dari persembunyian mereka. Ketika mereka mendapati perhatian makhluk bengis itu tengah teralihkan oleh hal lain, mereka lantas memanfaatkan itu untuk membentuk formasi seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya.

Dengan sekali aba-aba yang Will berikan, mereka lalu mulai membombardir makhluk itu dengan serangan bertubi-tubi. Mereka menyerang dari segala sudut yang membuat makhluk itu tidak bisa berkutik sama sekali. Sesekali dia memberontak, tapi kemudian usahanya sia-sia karena kekuatan mereka telah mengepungnya. Dia mencoba untuk mengeluarkan jurus andalannya: menyemburkan api dari mulutnya. Namun, rupanya mereka jauh lebih pintar darinya karena mereka telah membentengi diri mereka dengan sebuah perisai tak kasat mata sebelumnya yang membuat mereka kebal terhadap serangan apa pun.

Dia mulai lemah. Dengan sekali serangan beruntun yang dahsyat, makhluk itu akhirnya tumbang. Mereka bersorak gembira dengan berhasilnya rencana mereka. Namun, kegembiraan mereka tak berlangsung lama karena saat mereka sedang merayakan keberhasilan mereka, makhluk itu kembali bangkit dan menyerang mereka yang sedang lengah.

Kontan saja tubuh mereka terpental beberapa meter dari tempat mereka berdiri tadi, tapi dengan segenap kekuatan yang tersisa, mereka kembali bangkit. Mereka tak pernah gentar untuk membasmi segala bentuk kejahatan.

Alanlah yang kini berdiri di barisan paling depan. Kobaran api semangat dalam hatinya untuk melawan makhluk itu yang membuatnya begitu berani. Dengan posisi Bulgarook yang berada tepat di hadapannya, dia mengangkat tongkat sihirnya kemudian mengucapkan, "Trevothotha Inkadium."

Keadaan di sekitar mereka kontan dipenuhi oleh cahaya putih terang menyala yang menyilaukan. Kepala mereka seketika terasa seperti sedang berputar. Namun saat cahaya putih itu perlahan menghilang ...

... Alan, Luke, serta Will mendapati tubuh Bulgarook itu telah kembali menyusut dan menghitam. Mereka berhasil mengalahkannya.

****

"Tenanglah, kami telah mengalahkan Bulgarook itu. Sekarang tidak akan ada lagi seseorang atau sesuatu yang bisa menghancurkan kota ini. Kami akan menangani semuanya," ujar Alan di tengah penduduk yang masih trauma pascapenyerangan brutal itu.

Tersirat secercah senyum penuh harap di wajah mereka. Rasanya begitu memilukan melihat kondisi mereka. Mereka berjanji bahwa mereka akan benar-benar menjamin keselamatan para penduduk kota agar tidak kecolongan lagi.

"Kami sudah memperbaiki beberapa infrastruktur agar kembali bisa digunakan. Kalian bisa kembali ke kota karena situasinya sudah menjadi kondusif kembali," tambah Alan.

Tanpa menunggu lama, para penduduk itu lalu mulai berkurang. Mereka kembali menuju kota setelah mereka mengungsi di sebuah desa terpencil yang terletak di salah satu kota. Desa ini terisolasi, jadi tidak ada siapa pun yang akan mengetahui keberadaan mereka.

Setelah merasa semuanya telah terselesaikan, Alan, Luke, serta Will lalu memutuskan untuk kembali ke kota yang tadi sempat terjadi pertempuran panas. Mereka ingin mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Maksud mereka, tidak ada satu hal pun yang bisa menjawab pertanyaan di benak mereka tentang penyerangan tiba-tiba ini.

Bayangkan saja, kau yang sedang berjalan santai seraya bersenda gurau bersama teman-temanmu tiba-tiba dihadapkan pada sebuah pemandangan tidak mengenakkan. Dan saat itu pulalah kau harus mengambil sebuah tindakan cepat. Bayangkan itu. Dengan rasa bingung yang memenuhi otak, mereka mengambil tindakan cepat atas keputusan cepat yang mereka putuskan sebelumnya. Mungkin saja sewaktu-waktu nyawa mereka bisa jadi taruhan atas keputusan yang mereka ambil, tapi jika mereka tidak melakukannya, semuanya akan berakhir.

Luke sempat berhipotesis, "Apakah mungkin ini adalah serangan yang dimaksud Matt tempo hari?"

Namun, Alan dan Will menyangkalnya. Hipotesis Luke terdengar tidak memiliki korelasi sama sekali terhadap fakta yang ada.

Karena rasa penasaran yang terus merongrong diri mereka itu pulalah, akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke laboratorium Professor Goleth untuk bertanya pada beliau.

Namun saat mereka tiba di depan laboratoriumnya, suasana luarnya tampak begitu sepi. Tidak seperti biasanya. Seakan tidak ingin menyerah, mereka lantas menuju rumah Paman Grigori untuk melakukan hal yang sama. Namun lagi-lagi, rumah beliau sepi.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi menuju rumah Alan. Setidaknya jika mereka ke sana, mereka bisa bertanya pads Paman Rivinthola, Ayah Alan, yang merupakan salah satu staf di Kementrian Sihir.

Bagai Dewi Fortuna tidak berpihak pada mereka, hasil yang mereka dapat pun sama: rumah Alan tampak sepi.

Namun ketika menilik ke halaman belakang, mereka menemukan Max yang sedang duduk di samping sebuah pohon seraya memeluk lututnya. Mereka menghampiri anak itu lalu menepuk pundaknya dari belakang yang kontan membuatnya terkesiap.

"K-kakak?" ucapnya terbata.

"Ya, ini aku."

Wajah Max tampak basah, matanya sembap, dan mereka sempat memergokinya tengah menyeka sesuatu di matanya sebelum berbalik. Apa dia menangis?

"A-ada apa, Kak?" tanya Max dengan tetap terbata.

"Ke mana perginya Ayah dan Ibu?"

Max bergeming.

"Max, apa kau mendengarku?" Alan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.

"Ayah dan Ibu?" bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca. Ada apa dengannya?

"Ya, di mana mereka?"

"M-mereka ... aku tidak bisa memberitahumu." bahunya berguncang, dia menutup mulutnya seraya berjalan melewati mereka untuk masuk ke dalam.

Alan terheran-heran. Kenapa Max bersikap seperti itu?

"Kenapa adikmu bersikap seperti itu, Alan?" tanya Luke yang juga heran melihat adegan yang baru saja dilihatnya.

Alan yang juga tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi pada adiknya itu pun hanya mengendikkan bahunya.

****

Faktanya, sesuatu yang buruk juga terjadi di tempat lain. Jauh bermil-mil jaraknya dari pusat kota, terjadi sebuah pencurian besar dari salah satu tempat penting Negeri Maddegoert. Awalnya mereka tidak terlalu peduli pada hal itu karena mereka mengira itu hanyalah sebuah kecelakaan kecil. Namun, sebuah fakta mengejutkan datang menghampiri seolah menampar mereka.

Petunjuk: batu merah dan menara mercusuar.

Jika kalian paham apa maksud dari petunjuk itu, maka sesungguhnya itulah yang terjadi. Sebuah kesalahan fatal yang mereka lakukan hingga mereka kecolongan. Tentu saja, mereka tidak tahu mengenai hal itu sebelumnya. Sebaliknya, mereka mengetahui hal tersebut setelah Ayah dan Ibu Alan kembali dari tempat kejadian itu terjadi. Apa mereka menunggu kedua orangtua Alan kembali?

Tidak, mereka pergi setelah Max tidak bersedia untuk memberitahu keberadaan Ayah serta Ibu Alan. Mereka kembali pergi ke pusat kota untuk mengevakuasi warga kota dan memantau ke beberapa kota untuk memastikan bahwa tidak ada kota lain yang menjadi target penyerangan makhluk bengis itu walaupun mereka telah berhasil memusnahkannya. Namun setelah mereka selesai dengan urusan mereka, mereka menemukan diri mereka mendapati kabar yang takkan pernah ingin mereka dengar untuk beberapa waktu ke depan.

"Apa Ayah berhasil menggagalkan usaha pencurian mereka?" tanya Alan dengan berusaha menahan emosinya saat sang Ayah sedang mengobrol dengan seseorang yang tidak dikenalnya.

"Kami terlambat, Nak. Kami gagal. Mereka telah berhasil mencuri batu itu," jawab Ayah yang kemudian kembali bicara pada seseorang-entah-siapa-itu.

"Bagaimana Ayah bisa gagal?! Apa Ayah tidak mencoba untuk mengambil kembali batu itu dari tangannya?!" emosi Alan hampir memuncak, dia kesal karena apa yang dia berusaha cegah selama ini bisa kecolongan seperti itu.

Luke dan Will berusaha menenangkan Alan.

"Ayah dan staf Kementrian Sihir lainnya akan mengambil kembali batu itu dari tangan mereka, Nak. Kau jangan khawatir," jelas Ayah.

Alan memalingkan pandangannya dari sang Ayah, rahangnya mengeras. Kepalanya seolah mendidih dengan emosi yang sudah hampir memuncak. Matanya menatap tajam lurus ke depan, seolah membayangkan Matt dan dua temannya berada di hadapannya.

Dia lalu melangkahkan kakinya ke luar rumah dengan emosi yang memuncak serta tangan yang mengepal kuat. Tentu saja, Luke dan Will kontan berlari untuk mencegah Alan melakukannya. Mereka menahan tubuhnya, menarik tangannya untuk berhenti maupun mengadangnya. Namun rupanya, emosi dalam kepalanya telah membuatnya tidak lagi bisa berpikir jernih.

"Alan, berhenti. Dengarkan aku!" Will mengadang Alan lalu mendorong tubuhnya.

"Jangan halangi aku, Will. Ini sudah melampaui batas, aku tidak bisa mendiamkannya saja!" katanya.

"Aku tahu itu, Alan. Sangat tahu. Namun, kau tidak bisa pergi dengan keadaan emosi seperti ini. Kau harus meredam emosimu itu!"

Alan berusaha berontak. "Apa kau bodoh? Mereka telah mencuri benda yang paling dijaga negeri ini dan kau membiarkannya saja? Kau benar-benar bodoh, Will!"

Ucapan Alan begitu menohok hati Will, tapi dia bisa memakluminya karena sahabatnya itu sedang dikuasai amarah.

"Alan, tenangkan dirimu!"

Entah kenapa, kekuatan Alan kini terasa bertambah dua kali lipat dari biasanya. Dia hampir kewalahan menahannya, bahkan meski sudah dibantu Luke sekalipun. Seberapa keras pun dia berusaha menahannya dengan Luke, kekuatannya tidak lebih kuat dari Alan. Dan pada akhirnya, Alan berhasil meloloskan diri dari mereka untuk kemudian benar-benar pergi.

Mereka tidak tahu ke mana hendaknya Alan pergi, tapi ke mana pun dia pergi, di sanalah tempat Matt dan teman-temannya berada.

****

"Lepaskan aku! Singkirkan tangan kotormu dari tubuhku!"

"Oh, kau kasar sekali. Sama seperti Kakakmu. Aku tidak akan menyakitimu, Anak manis. Aku hanya ingin sedikit bermain-main denganmu. Tenang saja, ini tidak akan terasa sakit jika kau rileks."

"Tidak, aku tidak mau! Lepaskan aku!"

"Iya, aku akan melepaskanmu, tapi setelah permainan kita selesai haha ..."

Max meronta-ronta, kedua tangannya terasa keram akibat tali yang melilit tangannya begitu kencang pada sebuah pohon besar di belakangnya. Keringat mengalir deras dari pelipisnya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya tentang dia yang akan menjadi tawanan para penyihir jahat seperti mereka, tapi semuanya telah terjadi. Begitu cepat.

Matt menyeringai dengan menampilkan barisan gigi bertaringnya yang tampak sangat mengerikan. Di sekelilingnya, terdapat banyak sekali penyihir dengan menggunakan jubah hitam seraya memakai tudung yang menutupi kepala mereka secara keseluruhan. Dia tidak tahu akan tempat yang sedang dipijaknya sekarang, tapi tempat ini dipenuhi oleh pepohonan tinggi berdaun lebat dengan dahan yang menyerupai tangan-tangan manusia, dedaunan kering yang berguguran, serta sebuah pohon tua yang berukuran sangat besar di hadapannya. Dia tidak tahu pohon apa itu, tapi tampaknya, pohon itu begitu dipuja oleh Matt dan yang lainnya.

Matt jalan menghampirinya dengan mengarahkan tongkat sihir miliknya tepat ke arahnya serta mulut yang berkomat-kamit. Oh, bukan. Itu bukanlah bagian yang paling membingungkan dari apa yang dia lakukan meskipun dahinya sudah mengerut. Hal yang paling membuatnya bingung adalah ... saat Matt mengelilingi tubuhnya seraya memutarkan tongkat sihirnya di atas kepalanya.

"Apa yang sedang kau lakukan?!" tanya Max.

"Tidak ada, aku hanya sedang memberkatimu," jawab Matt.

"Lepaskan aku!" Max kembali meronta.

"Baiklah, aku akan melepaskanmu."

Max tidak tahu apakah ini pertanda baik atau buruk. Pasalnya, tidak ada penyihir jahat yang bisa dipercayai di dunia ini.

Matt mengarahkan tongkatnya lurus ke depan, tepat ke arah tali yang melilit tangannya. "Gosothano Inkanda."

Ketika lilitan di tangannya telah benar-benar terlepas, tubuhnya jatuh ke tanah. Namun, dia bergegas bangkit dan berdiri berhadapan dengan Matt. Penyihir jahat itu menyeringai dengan mengerikan.

Max tidak bisa berkutik untuk kali ini karena tubuhnya telah dikepung, di belakang, depan, kanan, maupun kirinya. Dia memasang ancang-ancang untuk berjaga jika sewaktu-waktu Matt maupun yang lainnya menyerang.

"Ambil tongkat sihirmu," perintah Matt.

"Apa?"

"Siapkan tongkat sihirmu, kita akan berduel. Aku ingin melihat apakah kemampuanmu bisa sehebat Kakakmu."

Namun sebelum Max mengambilnya dari saku jubah yang dia kenakan, Matt sudah lebih dulu membuatnya melayang ke luar dari sana. Dengan gerakan cepat, Max menangkap tongkat sihirnya.

Entah apa yang akan Matt lakukan padanya, tapi sebelum dia sempat bersiap, Matt sudah lebih dulu memasang ancang-ancang.

"Advakandum!" Matt melayangkan sebuah mantera yang kontan membuat tubuh Max terpental cukup jauh.

Rasa pusing seketika melanda kepalanya. Dia tidak ingat mantera apa itu, tapi dia ingat betapa berbahayanya mantera itu. Dia cukup beruntung karena mantera itu tidak melukai tubuhnya lebih parah.

"Ayo lawan aku. Jangan lemah, tirulah Kakakmu itu haha ...," kata Matt seraya tertawa dengan nada yang tidak ingin dia dengar.

Entah kenapa di saat-saat seperti ini, bayangan akan Kakaknya melintas di benaknya. Andai saja sang Kakak ada di sini, andai saja dia bisa melawan Matt dengan kemampuannya.

"Apa kau takut untuk melawanku? Ayolah, jangan buat permainan ini jadi membosankan." Matt menghampirinya, dia mengelilingi tubuh Max.

Max dihadapkan pada dua pilihan yang tidak dia sukai; dia tidak mau melawan Matt, tapi di sisi lain dia juga tidak mau terus ditindas seperti itu.

"Kenapa kau hanya diam? Ayo lawan aku! Jangan jadi pecundang, jadilah seperti Kakakmu yang pemberani itu haha ..." Matt mengelus pipi Max dengan kukunya yang tajam. Bahkan, dia memberi penekanan pada kata "pemberani".

Max memejamkan matanya, rahangnya mengeras. Baiklah, dia sudah tidak tahan. Dia akan melawannya!

"Rivakkundum!" serang Max dengan sebuah mantera yang sukses membuat tubuh Matt melayang dan berakhir dengan menabrak sebuah batang pohon.

Alih-alih marah, Matt justru tersenyum mencurigakan pada Max.

Matt bertepuk tangan. "Bagus, inilah yang aku tunggu sedari tadi. Apa kau sudah siap menahan balasanku?"

Max menelan ludahnya, dia telah membuat keputusan yang salah. Dia mengedar pandangnya ke sekeliling, berharap ada celah baginya untuk kabur.

"Jangan, kumohon hentikan," pinta Max.

"Kenapa? Apa kau sudah mengaku kalah sebelum memainkan permainan yang sebenarnya?" Matt tersenyum simpul yang tampak mengerikan.

"Kumohon."

Max tahu bahwa memelas pada penyihir jahat seperti mereka adalah sia-sia karena mereka terkenal tidak punya rasa belas kasih. Namun dalam posisi tersudut seperti ini, hanya itu yang bisa dia lakukan.

"Apa aku harus mengampuninya?" Matt bertanya pada teman-teman di belakangnya. Mereka seketika mendongak dan menampilkan wajah mereka yang sebenarnya.

Mereka semua menggeleng seolah mengatakan, "TIDAK!"

Matt mengalihkan pandangannya kembali ke arah Max lalu tersenyum penuh arti. Dia perlahan jalan menghampiri Max.

"Jadi, kau sudah mengaku kalah dariku?" tanya Matt seraya menyeringai.

"Kenapa kau begitu ingin berduel denganku? Apa kau tidak ingat siapa yang dulu membantumu untuk bisa masuk ke negeri ini?"

"Oh, kau berusaha mengingatkanku akan jasamu. Begitu? Tenang, aku tidak lupa pada jasamu terhadapku dan teman-temanku, pun pengkhiatanmu terhadap Kakakmu. Aku hanya ingin sedikit bermain-main denganmu, hanya itu. Tidakkah kau bersedia? Aku memohon."

Max pernah belajar bahwa seorang penyihir jahat itu penuh dengan tipu daya dan dia menyaksikan hal itu sendiri hari ini. Dia mengutuk dirinya karena telah begitu bodoh serta ceroboh. Dia pengkhianat. Dia tidak pantas untuk dimaafkan atas segala kesalahannya.

"Max, ayolah. Jangan jadi pecundang. Kakakmu pasti tidak ingin adiknya jadi pecundang seperti itu. Ayo lawan aku, tunjukan kemampuanmu," tantang Matt.

Rahang Max kembali mengeras, kata-kata Matt berhasil membuat amarah dalam diri Max memuncak. Matanya menatap tajam ke arah Matt. Alih-alih takut, penyihir jahat itu malah tersenyum lebar.

Max memejamkan matanya, merentangkan kedua tangannya, lalu mengangkat tongkat sihirnya ke atas kepalanya. Tak butuh waktu lama untuknya membuka matanya lalu mengucapkan, "Invithodorandum!"

Sontak saja cahaya putih terang memancar dari ujung tongkat sihirnya. Keadaan sekelilingnya kontan menjadi sangat terang yang membuat jarak pandangnya mengurang, tapi ketika cahaya itu mulai meredup, dia bisa melihat Matt yang terpental jatuh ke tanah dengan tertindih sebuah pohon besar. Seulas senyum lantas mengembang di wajahnya saat dia berhasil mengalahkan musuhnya.

Namun senyum di wajahnya hanya harus bertahan sebentar karena saat dia lengah, Matt bangkit.

"Kini giliranku," Matt tersenyum mencurigakan lalu ... "Ekthadorosandum!"

...

...

...

"Arrrggh ...!"

...

...

...

"Max? Apa kau baik-baik saja?!"

...

...

...

"K-kakak? Apa itu kau?"

...

...

...

To be continued ... 


Comments

  1. thanks for updating! the story is awesome! i love it...

    ReplyDelete
  2. btw, cerita ini saduran atau asli karyamu? soalnya dari gaya bahasanya seperti gaya bahasa penulis luar. Dan nama2 negeri, nama tokoh2nya, nama2 mahluknya, jurus2 sihirnya... they are very foreign. terlepas dari saduran atau bukan, i m enjoying it 😁

    ReplyDelete
  3. Tentu saja asli karyaku.
    Thanks for reading. ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon