Negeri Penyihir

Genre: Fantasi
Penulis: Muhammad Rizaldi



BAB 6 ...



Sepanjang hari kemarin, Alan tidak bisa mengalihkan pikirannya dari ucapan sang adik. Entah kenapa dia merasa bahwa adiknya itu menyembunyikan sesuatu darinya, dia bisa melihat itu dari ekspresi wajah datarnya yang mencurigakan. Memang, adiknya itu bukanlah seseorang yang ekspresif dan selalu menunjukkan ekspresi datar pada siapa pun, tapi kali ini dia merasakan sesuatu yang beda. Dia menjadi tidak tenang, gelisah. Bahkan saat Ibunya kembali dengan benar-benar membawa Professor Goleth untuk menyembuhkannya dan melontarkan beberapa pertanyaan, dia hanya menjawab sekenanya saja.

Seperti saat Professor Goleth bertanya, "Apa ada bagian tubuhmu yang terasa sakit?"

Dia hanya menjawab, "Tidak ada."

Jelas, hal itu membuat Ibunya semakin khawatir dengan keadaannya. Luke dan Will yang tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Alan hanya diam ketika Ibunya bertanya pada mereka atas perintahnya.

Bukan, itu bukanlah bagian terbaik yang terjadi padanya kemarin, tapi bagian terbaiknya adalah: dia tidak melihat Max di mana pun pada malam harinya. Dia bahkan juga sudah mengecek kamarnya dan setiap ruangan dalam rumahnya, tapi dia tetap tidak bisa menemukan keberadaan adiknya itu. Yang bisa dia temukan hanyalah Soelvant peliharaan setia adiknya itu sedang mendekam dalam sebuah kandang. Dia juga tidak bisa menemukan keberadaan adiknya di bukit belakang dan tidak biasanya dia menghilang seperti itu. Tentu saja, dia cemas bukan main. Dia bagai kehilangan arah.

Ketika Alan bertanya pada Luke dan Will tentang keberadaan sang adik keesokan harinya, mereka hanya menjawab, "Kami tidak tahu, Alan. Kami belum melihat Max di mana pun hari ini."

Kontan saja itu membuatnya semakin cemas. Baiklah, dia mungkin cemas bukan hanya karena adiknya menghilang entah ke mana, tapi ada satu hal yang ingin dia tanyakan pada adiknya itu.

Namun saat Alan sedang menghabiskan waktu bersama dua sahabatnya karena ingin sejenak menghirup udara segar, dia teringat akan suatu tempat yang kemungkinan adiknya itu datangi. Setelah teringat akan tempat itu dan kebetulan dia masih ingat di mana tempat itu berada, dia bergegas menuju ke sana. Meninggalkan dua sahabatnya yang kebingungan dengan dia yang tiba-tiba saja pergi tanpa mengatakan apa pun.

Tempat yang Alan maksud adalah sebuah jembatan panjang yang menggantung di antara dua tebing curam. Jembatan itu hanya terbuat dari kayu, tapi ajaibnya, belum ada apa pun yang bisa meruntuhkan jembatan itu. Karena terlampau mengerikan, alhasil jembatan ini menjadi sangat sepi. Tidak ada siapa pun yang berani datang atau melewati jembatan ini karena curamnya medan yang harus ditempuh meskipun dari atas sini terhampar dengan sangat jelas pemandangan Negeri Maddegoert secara keseluruhan dengan pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Ini adalah tempat yang sangat cocok bagi pecinta ketenangan walaupun medan yang harus ditempuh sangatlah curam.

"Aku tahu kau pasti akan datang ke sini." Alan perlahan berjalan melewati jembatan ini ketika mendapati sang adik tengah berada di tengah jembatan yang kini sedang dia pijak.

Max menoleh lalu terkejut saat mendapati sang Kakak. "Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"

"Kau tidak perlu mengetahuinya dan aku yang akan bertanya padamu; sedang apa kau di sini?" Alan bertanya balik.

Max memalingkan wajahnya kembali dari sang Kakak. "Aku hanya sedang menghirup udara segar di sini."

"Benarkah?" Alan menghampiri Max kemudian berdiri di sampingnya seraya berpegangan pada tali penyangga jembatan ini. "bagaimana rasanya?"

Max menoleh. "Mau mencobanya?"

"Tentu. Bagaimana caranya?" Alan mengangguk seraya tersenyum.

Perlahan, Max merentangkan kedua tangannya, memejamkan matanya, dan mengambil napas dalam. Dia juga merasakan angin yang menggelitiki wajahnya dengan penuh nikmat hingga membuat darahnya berdesir. Alan lantas mengikuti apa yang adiknya lakukan itu.

Max membuka matanya. "Bagaimana rasanya?"

"Menyenangkan, begitu menenangkan." Alan enggan mengakhiri kenikmatan yang dia rasakan saat ini.

Max tersenyum. "Itulah alasan kenapa aku senang berada di sini."

Alan membuka matanya kemudian menoleh ke arah sang adik. "Tidak heran jika kau menyukai tempat ini atau tempat-tempat seperti ini."

"Ya," Max mengangguk pelan. "aku sangat suka tempat-tempat seperti ini. Aku merasa damai jika berada di tempat-tempat seperti ini."

"Tapi apa kau tidak bosan selalu berada di tempat seperti ini sendirian? Apa kau tidak ingin bersosialiasi?"

Max mengalihkan pandangannya dari sang Kakak. "Tidak, Kak. Aku tidak bisa percaya pada siapa pun, aku hanya bisa percaya pada diriku sendiri. Maka dari itu, aku lebih senang menyendiri. Berada dalam duniaku."

Alan menghadapkan tubuhnya ke arah sang Adik. "Kau tidak bisa terus seperti ini, Max. Suatu saat nanti kau harus bisa bersosialiasi. Kau hidup tidak sendirian. Apa kau tidak ingin memiliki teman?"

"Bagiku, sudah cukup dengan Rietraahnt menjadi temanku."

Alan mengerutkan dahinya. "Siapa itu Rietraahnt?"

"Soelvant peliharaanku."

Bahkan, Alan tidak tahu perihal pemberian nama pada hewan peliharaan adiknya itu.

Alan memegang kedua bahu Max kemudian menghadapkan tubuh adiknya itu berhadapan dengan tubuhnya. Mata mereka saling beradu pandang. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Namun jika kau butuh teman, aku siap menjadi temanmu."

Max tidak merespon, dia hanya mengangguk pelan kemudian kembali berbalik. Mereka lalu terdiam.

"Max," pangil Alan.

"Ya?"

"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"

"Tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?"

Alan terdiam, dia ragu untuk menanyakannya. Namun jika dia tidak menanyakannya, dia tidak akan pernah tahu apa yang adiknya sembunyikan itu.

Dengan ragu, Alan pun menjawab, "Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

Max menoleh dengan kerutan di dahinya. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Entahlah, aku merasa ada yang kau sembunyikan dariku. Apa itu benar?"

Max bergeming. Dia bahkan juga tidak berani menatap mata sang Kakak.

"Kenapa kau diam?"

Max menoleh dan menatap Alan lama. "Benar, aku menyembunyikan sesuatu darimu."

Alan lalu menghela napas lega karena dugaannya benar.

"Apa yang kau sembunyikan dariku?"

Max lagi-lagi bergeming. Wajahnya tampak pucat. Ada apa dengannya?

"Max? Jawab aku," desak Alan.

Alan bisa melihat bahwa sang Adik menelan ludahnya dengan wajah pucat.

"Max? Apa kau baik-baik saja?"

Max menggeleng. "Tidak, aku tidak bisa memberitahumu."

Max lalu beralih pergi meninggalkannya setelah menjawab seperti itu. Dia naik ke atas punggung Rietraahnt yang entah sejak kapan berada di ujung jembatan kemudian pergi dengan menungganginya.

Alan yang melihat hal itu hanya bisa diam di tempat dengan kerutan di dahinya. Semakin hari, adiknya itu semakin terlihat misterius. Max adalah adiknya, tapi dia seperti tidak mengenal adiknya sendiri.

****

"Will, kembalikan tongkat sihirku!" seru Luke dengan nada marah seraya mengejar Will.

"Tidak mau. Kau harus bisa menangkapku jika kau menginginkannya!" Will terus berlari untuk menghindar dari Luke yang sedari dari mengejarnya seraya mengangkat tongkat sihirnya tepat ke atas kepalanya.

"Will, cepat kembalikan!"

"Tidak mau!" Will menjulurkan lidah pada Luke yang sontak membuat sahabatnya itu kesal.

Aksi saling mengejar pun tak terelakkan lagi. Mereka saling mengejar dengan Luke yang terus berteriak agar Will mengembalikan tongkat sihirnya.

Luke mulai kesal. Dia tidak suka jika Will atau siapa pun mempermainkannya seperti ini. "Will, aku tidak bercanda. Cepat kembalikan!"

"Tidak mau!" Will bersikeras untuk tidak mengembalikan tongkat sihir milik Luke meskipun sahabatnya itu sudah memohon padanya berulang kali. Dia berjalan mundur dengan terus menggoda Luke.

Saat Will sedang berjalan mundur, tiba-tiba tubuhnya seperti menabrak sesuatu yang membuat tubuhnya terjatuh. Ketika dia menoleh, dia mendapati Alan yang sedang jatuh terduduk. Dia bangkit kemudian menghampiri Alan. Bahkan, dia menjatuhkan tongkat sihir yang dia pegang sedari tadi dan itu dimanfaatkan oleh Luke untuk mengambilnya lalu turut menghampiri Alan.

"Apa kau baik-baik saja, Alan?" tanya Will seraya membantu Alan untuk kembali berdiri.

Alan mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja."

Will lalu memandangi wajah Alan seolah sedang menerawang sesuatu. "Apa kau yakin?"

"Ya, aku yakin." bahkan, Alan menambahkan senyum di wajahnya untuk meyakinkan Will.

"Tapi wajahmu tidak menunjukkan bahwa kau baik-baik saja, Alan," sahut Luke.

Alan dan Will lantas menoleh ke arah Luke secara bersamaan. "Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir seperti itu."

Alan lalu menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon besar di belakangnya yang kemudian disusul oleh kedua sahabatnya itu. Mereka memandang lurus ke depan.

"Alan, kumohon jangan sembunyikan sesuatu dari kami. Bukankah kita sahabat? Seorang sahabat tidak sepatutnya menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya," kata Will.

"Benar, Alan. Kami tidak suka jika kau bersikap seperti ini." Luke menimpal.

Alan menoleh, menatap Luke dan Will secara bergantian kemudian mengangguk dengan seulas senyum terlukis di wajahnya. "Baiklah, aku akan menceritakan yang sebenarnya pada kalian."

Luke dan Will lantas saling memandang seraya tersenyum senang. Mereka lalu bersiap untuk mendengarkan cerita Alan.

"Kalian ingat saat kemarin Max datang ke kamarku dan menyuruhku untuk berhenti melawan para penyihir jahat itu?"

Luke dan Will mengangguk.

"Nah sejak kemarin dia berkata seperti itu, aku mulai curiga ada yang disembunyikan olehnya dariku. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku sangat yakin bahwa dia menyembunyikan sesuatu dariku," urai Alan.

"Dan tadi pagi aku menemuinya untuk membicarakan hal itu dengannya, tapi dia tidak mau memberitahunya. Aku jadi tidak tenang jika belum mengetahui apa yang kucurigai darinya," sambung Alan.

"Menurutmu, apa yang dia sembunyikan darimu?" balas Will.

"Aku tidak tahu, tapi aku akan berusaha mencari tahunya."

"Bagaimana kalau kita meminta bantuan Professor Goleth atau Paman Grigori untuk mengetahui apa yang Max sembunyikan darimu?" usul Luke.

Alan menggeleng. "Tidak, Luke. Itu tidak akan membantu."

"Bagaimana kau bisa tahu itu tidak akan membantu jika belum mencobanya?"

"Jangan konyol, Luke. Bagaimana cara mereka untuk membantu kita mencari tahu sesuatu yang tidak kita ketahui?"

"Ya ...," Luke tampak menerawang. Dia mengerling dengan wajah bingung. Sebenarnya, dia juga tidak tahu bagaimana caranya. "aku tidak tahu. Tapi kita bisa mencobanya!"

Alan kembali menggeleng. "Tidak, Luke. Aku ingin mencari tahu dengan usahaku sendiri."

"Alan benar, Luke. Usulmu benar-benar tidak membantu," sindir Will.

Luke memelotot pada Will. "Ya, baiklah. Maafkan aku."

Jadi setelah Max pergi meninggalkannya begitu saja, Alan pergi dari jembatan itu dengan perasaan yang mengganjal. Dia tidak tahu ingin pergi ke mana, tapi kemudian dia teringat akan sebuah tempat yang bisa membuatnya tenang ketika berada di sana: padang rumput Goertharth. Dan kebetulan, Luke serta Will juga sedang berada di sana seraya saling mengejar.

Memang, padang rumput Goertharth ini adalah tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu. Tempatnya yang luas, dipenuhi oleh rerumputan hijau yang segar dan asri, udara yang sangat segar, dan dikelilingi oleh beberapa bukit kecil di sekelilingnya membuat siapa pun akan betah berada di sini. Belum banyak yang tahu tentang tempat ini, jadi wajar jika tempat ini sangat sepi dan masih sangat terjaga keindahannya.

"Kami siap membantumu jika kau benar-benar ingin mencari tahunya," kata Will mengajukan diri.

"Will benar, Alan. Kami siap membantumu." Luke menimpal.

Alan menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin melibatkan kalian dalam urusan yang satu ini."

"Kenapa? Apa kami tidak punya kemampuan yang mumpuni untuk membantumu?" tanya Will.

Alan menoleh ke arah Luke dan Will. "Bukan, bukan itu maksudku."

"Lalu apa?"

"Aku sudah melibatkan kalian dalam hal yang bisa membahayakan nyawa kalian kemarin dan aku tidak ingin itu terulang lagi."

Will memegang kedua bahu Alan dengan seulas senyuman di wajahnya seraya menggeleng pelan. "Tidak, tidak masalah bagi kami untuk melakukan itu semua. Akan jadi masalah bagi kami apabila kau melakukannya sendirian."

"Kami mungkin memang tidak hafal banyak mantera-mantera hebat sepertimu, tapi setidaknya, kami senantiasa berada di sisimu sebagai pelindungmu." Luke bahkan mengucapkan kalimat yang tidak pernah dia ucapkan selama Alan bersahabat dengannya.

Alan menatap kedua sahabatnya ragu. Dia bimbang antara pilihan harus kembali melibatkan dua sahabatnya atau tidak. Jika dia melibatkan mereka, dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Lagipula, dia tidak tahu ada apa dengan Max dan apa yang sebenarnya disembunyikan olehnya. Bagaimana jika kecurigaannya tidak terbukti benar? Bagaimana jika kecurigaannya hanyalah sebuah imbas dari ketidaktahuannya akan sang adik? Bagaimana jika masalah yang terjadi pada Max adalah sebuah hal yang personal?

Semua kemungkinan memiliki kesempatan untuk terbukti benar walau hanya sedikit persentasenya.

Dengan satu tarikan napas, Alan pun akhirnya memutuskan, "Tidak, aku tidak akan melibatkan kalian untuk yang satu ini. Maafkan aku."

Luke dan Will saling memandang, tapi kemudian pandangan mereka kembali dialihkan pada Alan.

"Tidak apa-apa, itu keputusanmu. Kami tidak keberatan. Apa pun keputusanmu, kau tetaplah sahabat kami." Will merangkul pundak Alan.

"Baiklah, sudah cukup bermelodramanya. Sekarang waktunya kita bersenang-senang. Bagaimana kalau kita main Stookvierst?" sela Luke.

Will mendekap Luke seraya menjitaknya. "Dasar kau."

Luke berusaha melepaskan dekapan Will darinya lalu memanyunkan bibirnya. "Kasar sekali kau."

Alan dan Will tergelak melihat Luke yang tampak tidak suka diperlakukan seperti itu. Memang dialah yang terkenal sebagai orang yang mampu mengundang gelak tawa di antara mereka bertiga.

Tanpa menunggu lama lagi, mereka lantas mulai bermain Stookvierst untuk menghabiskan waktu. Tidak, mereka tidak bermain dengan serius. Justru permainan mereka didominasi oleh tawa dan Luke yang tidak bisa berhenti menggerutu saat Alan maupun Will mencoba untuk mencuranginya.

Mereka tidak bermain secara beregu, melainkan secara individu. Mereka saling berusaha untuk menjadi pemenangnya walau pada akhirnya Alanlah yang memenangkan permainannya. Luke kesal, dia menyalahkan Will atas kekalahannya meskipun mereka tidak berada dalam tim atau regu. Will yang tidak terima pun menyalahkan Luke kembali karena yang dia lakukan hanyalah menggerutu selama permainan berlangsung.

Seperti biasa, mereka kembali bertengkar. Alan yang bosan melihatnya pun tidak bergairah untuk memisahkan mereka dan hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua sahabatnya.

****

Setelah puas bermain, Alan pun kembali pulang ke rumahnya. Namun, ada yang aneh ketika dia hendak masuk ke dalam rumahnya: ada suara keributan dari dalam. Dia lantas bergegas masuk untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam.

"Apa kau tahu apa akibat dari semua ulahmu itu, hah?! Jawab Ayah, Max! Jangan diam saja!" hardik Ayah.

"Ayah, sudahlah. Maafkan Max, belum tentu dia yang melakukannya." Ibu berusaha meredam emosi Ayah.

"Tidak, Bu. Anakmu ini sudah benar-benar keterlaluan. Dia harus diberi hukuman!"

"Ayah, hentikan!" cegah Alan saat Ayahnya akan menampar Max yang hanya mampu menundukkan kepalanya itu.

"Ada apa ini?" tanya Alan.

Hening. Tidak ada yang menjawab.

"Kenapa kalian diam? Bu, ada apa ini? Max, ada apa?"

"Max, kau pergilah ke kamar. Kami ingin berbicara terlebih dahulu." Ibu yang tadi diam akhirnya angkat bicara seraya menyuruh Max untuk masuk ke kamarnya agar dia bisa menenangkan diri.

Dengan mengerutkan dahinya, Alan menghampiri sang Ibu untuk bertanya. "Ada apa, Bu? Kenapa Ayah bisa sangat marah seperti itu?"

Ibu memandang ke arah Ayah yang kemudian disusul oleh Alan. Bisa dia lihat rahang sang Ayah mengeras yang menandakan bahwa beliau sedang sangat marah.

"Max, adikmu ..." Ibu menggantungkan kalimatnya.

"Ada apa dengan Max, Bu?" tanya Alan penasaran.

Ibu menghela napas terlebih dulu sebelum menjawab. "Max, dialah yang sudah membantu para penyihir jahat itu untuk masuk ke negeri ini."

"Apa?!" Alan terkejut. "bagaimana bisa?!"

"Ibu tidak tahu cerita lengkapnya. Tanyakanlah pada Ayahmu." Ibu lalu beranjak pergi meninggalkan Alan berdua dengan sang Ayah.

Ayah masih dalam posisi marahnya dengan rahang yang mengeras serta tatapan yang tidak pernah Alan lihat sebelumnya, entah kenapa dia jadi takut untuk menanyakannya pada beliau. Namun jika dia tidak menanyakannya, rasa penasaran dalam dirinya tidak akan terhapuskan. Jadi dengan segenap keberanian, dia menghampiri Ayahnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Yah?" tanya Alan hati-hati.

Setahu Alan, orang yang sedang dilanda emosi atau dikuasai oleh amarah akan bisa dengan mudah tersulut emosinya. Jadi, dia mewanti-wanti dirinya sendiri agar tidak salah bicara atau bersikap yang mampu menyulut emosi sang Ayah lebih besar jika dia tidak ingin dirinya ikut menjadi target kemarahan Ayahnya.

"Ayah tidak tahu bagaimana adikmu melakukannya, tapi Ayah benar-benar kecewa dengannya. Ayah tidak menyangka adikmu itu bisa melakukan hal di luar batas seperti itu," jawab Ayah.

Alan mengerutkan dahinya. "Maksud Ayah? Apa yang Max lakukan?"

Ayah menoleh. "Tanyakan saja pada adikmu itu."

Dan pada akhirnya, beliau turut pergi meninggalkan Alan setelah menggantungkan kalimatnya.

Karena tidak ada pilihan lain, Alan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar Max. Kamar adiknya itu berada di koridor yang sama dengan ruang kerja sekaligus kamar sang Ayah. Jadi, dia mau tidak mau juga melewatinya. Dia sempat tergoda untuk mengintip ke dalam kamar Ayahnya, tapi dia tidak ingin mengambil risiko dengan melakukannya. Dan ketika dia tiba di depan pintu kamar adiknya, dia langsung membukanya lalu masuk ke dalamnya.

Ketika di dalam, dia mendapati Max yang sedang berbaring di ranjangnya dengan posisi miring dan menghadap langsung ke jendela yang menampilkan pemandangan di luar rumahnya. Dia menghampiri ranjang adiknya itu kemudian duduk di tepi ranjangnya.

"Max," panggil Alan pelan.

Max membalikkan tubuhnya kemudian menyeka air matanya ketika menyadari keberadaan Alan. Dia menangis.

"Ada apa sebenarnya? Kenapa Ayah bisa sangat marah padamu?" tanya Alan.

Max bangun dan menatap Alan dalam posisi duduk, tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab pertanyaan Kakaknya itu.

"Max, jawab aku," desak Alan.

Alih-alih menjawab, matanya justru kembali berkaca-kaca. Alan tidak tahu kenapa adiknya itu mendadak jadi melankolis seperti itu, tapi dia tidak tega melihat kondisinya. Dia tidak bisa melihat seseorang menangis di hadapannya, itu membuat hatinya tergerak dan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan dia-yang-menangis-di-hadapannya itu.

"Kenapa kau di—"

Max memeluknya. Dengan sangat erat seolah tidak ingin melepaskan pelukannya. Bisa Alan rasakan bahunya terguncang, dia terisak dalam pelukannya. Isakannya membuat Alan iba, ikatan batin yang terjalin antara mereka membuat Alan ikut merasakan kesedihan yang Max rasakan meskipun dia tidak tahu kesedihan apa yang sedang melanda diri adiknya itu.

"Luapkan semua emosimu, lepaskan semuanya." Alan membiarkan Max untuk meluapkan semua kesedihan yang terpendam dalam hatinya di bahunya untuk sesaat.

...

...

...

Max melepaskan pelukannya. Tak lupa dia menyeka air mata yang membanjiri wajahnya.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Alan.

Max mengangguk lemah.

"Mau cerita padaku?"

Max bergeming. Tatapannya kosong. Matanya bengkak.

"Baiklah, tidak apa-apa jika kau tidak ingin menceritakannya padaku. Kau bisa cerita lain kali. Tenangkanlah dirimu." Alan menyerah. Dia merasa tidak sepantasnya dia memaksa adiknya itu bercerita padanya dalam kondisi seperti itu.

Dia bangun lalu bersiap untuk keluar dari kamar adiknya. Namun saat dia berada di ambang pintu, Max memanggilnya. Dia menoleh.

"Ada apa?"

"Aku akan menceritakan yang sebenarnya padamu."

Alan menggeleng seraya tersenyum lembut. "Tidak, tidak perlu. Kau bisa cerita lain kali. Tidurlah."

"Tidak, aku serius. Kumohon."

Alan diam. Namun kemudian kembali membalas, "Baiklah jika kau memaksa."

Alan lantas kembali duduk di tepi ranjang yang berhadapan dengan adiknya itu.

Max menghela napas terlebih dulu sebelum memulai cerita. "Apa yang Ibu katakan tadi itu benar, aku yang melakukannya."

"Apa yang kau lakukan?"

Max menguatkan dirinya untuk menjawab pertanyaan Kakaknya itu karena memang dialah yang salah. "Aku membuka pintu masuk negeri ini dan melemahkan penjagaan."

"Apa?!" Alan terkejut.

"Tenang, Kak. Aku tahu kau terkejut, sama seperti reaksi Ayah dan Ibu tadi. Namun, aku benar-benar menyesali perbuatanku itu." Max bisa menerima reaksi Kakaknya itu. Tidak berlebihan bagi Alan untuk terkejut mendengar apa yang adiknya baru saja katakan itu.

"Kenapa kau bisa melakukan hal itu?"

"Aku tidak tahu, Kak."

"Bagaimana kau bisa tidak tahu? Apa kau berada di bawah pengaruh mantera sihir pada saat itu?"

"Tidak, aku sadar saat itu. Benar-benar sadar."

Alan berdiri. "Lantas kenapa kau bisa melakukannya?!"

Bahkan, dia meninggikan intonasi suaranya.

Max menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Aku tidak mau menjawabnya, tapi pada intinya, aku yang membuat mereka bisa masuk ke negeri ini. Ini semua salahku. Aku memang bodoh."

Rahang Alan mengeras, tangannya mengepal dengan kuat. Sekarang dia tahu kenapa Ayah bisa sangat marah pada Max karena dia merasakannya juga. Maksudnya, dia berjuang mati-matian untuk mengalahkan para penyihir jahat itu, tapi ternyata dalang di balik semua ini adalah adiknya sendiri. Dia merasa bodoh sekali. Pantas saja kemarin adiknya itu menyuruhnya untuk melupakan ambisi untuk mengalahkan mereka karena ternyata dia ingin benda paling berharga dari negeri ini berhasil dicuri oleh mereka.

"Aku tahu kau marah, aku pantas menerimanya. Namun kumohon, maafkan aku. Aku menyesali apa yang sudah kuperbuat, benar-benar menyesal. Tolong maafkan aku," kata Max dengan tetap menundukkan kepalanya.

Alan bergeming. Kini dirinya sudah dikuasai oleh amarah. Dia tidak ingin berbuat kasar pada adiknya, dia berusaha menahannya dengan keras. Jadi tanpa berbicara atau menoleh sedikit pun, dia berlalu dari kamar sang adik.

Dia bahkan tidak menutup pintunya kembali.

Max mendongakkan kepalanya lalu mendapati sang Kakak sudah tidak ada di dalam kamarnya.

"Bahkan kau marah setelah mengetahui semuanya, Kak," gumamnya.

To be continued ... 


Comments

  1. ditunggu lanjutannya bro! i'm addicted to this story...

    ReplyDelete
  2. ditunggu lanjutannya bro! i'm addicted to this story...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon