A Complicated Love Story (Part 1)

Genre: Humor, Romance, Drama
Author: Muhammad Rizaldi
Tipe cerita: Cerbung
Enjoy it~

Pertama, ini adalah kisah hidup gue dan saudara kembar gue yang super menyebalkan itu. Iya, gue punya saudara kembar. Meskipun kami kembar dari segi fisik, sifat gue dan saudara kembar gue beda 180°, bagaikan sungai Ciliwung dan sungai Li -- itu lho sungai terbersih yang ada di China--..Gue sungai Li dan dia sungai Ciliwung!

Selain sifat kami yang beda, warna kesukaan, genre musik kesukaan, dan kebiasaan kami juga beda. Saudara kembar gue itu suka banget sama warna hitam -- warna hitam itu warna hitam katanya-- sedangkan gue suka warna biru, saudara kembar gue itu suka musik rock sedangkan gue suka musik pop. Dan, saudara kembar gue itu jorok sedangkan gue cinta kebersihan. Asal kalian tau nih ya, saudara kembar gue itu suka banget nyimpen kaos kaki sembarangan dan gak pernah dicuci sama sekali. Jorok, 'kan?

Mandi juga kalau belum disuruh dia gak bakal mau mandi. Beda banget sama gue yang cinta kebersihan. Saking cintanya, kalau sepatu gue nginjek tai ayam aja langsung gue cuci tujuh kali biar semua kuman dari tai ayam yang gue injak itu gak nempel di sepatu gue. Gue gak mau tai ayam yang gue injek itu jadi sumber penyakit. Terus kalau gue sakit nanti, masa iya gue bilang, "Ini dok, saya kena demam gara-gara saya nginjek tai ayam terus lupa saya bersihin". Sampe Lady Gaga nyanyi lagu religi pun gue gak mau!

Nah, walau sifat, genre musik kesukaan, warna kesukaan, dan kebiasaan kami beda, fisik kami ini sangat mirip. Kami punya wajah bule yang sangat mirip. Iya, kami ini blasteran atau istilah kerennya sih Indo. Nyokap gue orang Jawa sedangkan bokap gue orang Prancis. Jadi, karena itulah kami punya wajah tampan seperti bintang film Hollywood. Eh, cuma gue yang tampan. Saudara kembar gue itu gak tampan, dia itu jelek karena dia nyebelin. Bahkan, lebih nyebelin dari ibu-ibu motor matic penguasa jalan yang kalau kasih sen ke kanan eh beloknya malah ke kiri.

Ohya, nama gue itu Rio Sanjaya dan nama saudara kembar gue itu Mario Sanjaya. Bukan Mario Teguh ataupun Mario Maurer, ya. Walau bokap gue orang Prancis, dia lebih suka ngasih nama Indonesia pada kami daripada nama bule. Ya, itu bagus sih. Tandanya bokap gue itu cinta Indonesia tapi gue masih gak ngerti kenapa ada kata 'sanjaya' di belakang nama gue dan saudara kembar gue. Padahal, nama bokap gue tuh Alexandre Archenhaud dan nama nyokap gue tuh Anditya Banuwati. Gak nyambung, 'kan?

Okeh, lupakan tentang nama itu. Sekarang, gue akan mulai kisah gue dan Mario ini di pagi yang cerah nan sejuk ini.
**
"Rio.... Bangun, nak. Ayo sarapan!" itu suara ibu atau yang biasa gue panggil 'mamah' tapi bukan mamah Dedeh ataupun mamah Lauren, ya.
"Iya, mah. Nanti Rio turun" jawab gue sembari bergegas turun ke bawah untuk menikmati santap pagi supaya cacing-cacing di perut gue ini berhenti demo minta dikasih makan.

Sesampainya di meja makan, gue lihat Mario yang sedang mengambil nasi goreng buatan mamah yang terkenal paling enak di seantero rumah ini dan ditaruhnya ke dalam piringnya. Gue duduk di sebelah saudara kembar gue yang super nyebelin ini. Dia masih saja ngambil nasi goreng buatan mamah itu. Bukan hal baru lagi kalau si Mario ini kalau makan kayak badan kesurupan. Gue belum pernah liat badak kesurupan itu kayak gimana sih tapi pasti mirip sama Mario ini. Pasti!

Walau nafsu makan Mario ini gede, tapi tubuh Mario itu gak gendut karena terlalu banyak makan. Tubuhnya bagus malah. Perut sixpack-nya terbentuk dengan sangat rapih dan indah, dada bidangnya juga terlihat sangat kencang dan bagus, otot trisep dan bisepnya pun tak kalah bagus. Gue tau itu semua karena Mario pernah telanjang dada di depan gue. Eh, tapi jangan berpikiran yang macam-macam dulu, ya. Mario telanjang dada di depan gue itu karena -- kalau gak salah-- kami kehujanan ketika kami pulang sekolah dulu. Seragam sekolahnya basah kuyup, begitupun dengan baju seragam sekolahku. Karena basah, dia mengganti semua pakaiannya di kamar gue -- kebetulan kamar gue berada deket dari tangga sedangkan kamar Mario ada di lantai dua rumah gue. Jadi, dia menggantinya di kamarku karena lebih dekat daripada harus pergi kamarnya-- dia melepas seragamnya di depan gue. Jadi, gue bisa liat lekuk tubuh Mario.

Gue sempet iri karena Mario punya tubuh yang bagus, sangat bagus malah. Gue juga ingin punya tubuh kayak Mario. Gue sempet latihan keras di Gym supaya gue bisa punya tubuh kayak Mario tapi gue malah sakit karena terlalu keras latihannya. Ya, sebenarnya sih tubuh gue gak jelek-jelek amat kok, gak kurus kering kayak anak kurang gizi. Gue juga punya perut sixpack kayak Mario walaupun gak sebanyak dan sebagus dia. Otot trisep dan bisep gue juga lumayan gede walaupun gak segede yang Mario punya.

"Woy, kenapa diem aja lu kayak Miss Universe lagi kena stroke? Makan tuh nasi gorengnya atau nanti gue yang makan hahahaha" tanyanya membuyarkan lamunanku. Dia itu bisa gak sih sehari aja gak nyebelin? Eh, tadi dia bilang gue apa? Miss Universe yang lagi kena stroke? Kurang ajar! "Enak aja lo mau makan jatah nasi goreng gue! Dasar babon rakus!"

"Mah, Rio bilang aku mirip babon rakus" dia mengadu pada mamah dengan nada merengek seperti anak kecil. Cih! Mainnya aduan!

"Sudah, sudah. Cepat selesaikan sarapan kalian terus berangkat ke sekolah, ini sudah siang lho" balas mamah. Mamah gak belain Mario sialan itu. Hahahahaha "Iya, mah"

Gue bergegas menghabiskan santap pagi gue dan pergi ke sekolah duluan supaya Mario sialan itu gak minta bareng. Bukannya pelit atau apa, ya. Kalau Mario sudah minta bareng, semuanya akan diambil alih olehnya. Dia pasti maksa minta supaya dia yang nyetir mobil. Kalau dia yang nyetir, dia pasti milih lewat jalan yang jaraknya jauh dari sekolah gue dan sengaja berputar-putar hingga gue dan dia terlambat dan dihukum. Nyebelin, 'kan?

"Mah, Rio berangkat duluan, ya" gue pamit dan mencium kedua tangan mamah. "Hati-hati ya, Rio. Kalau ada lampu merah jangan lupa berhenti" gue memutar bola mata. Mamah pikir gue ini anak kecil yang buta rambu lalu lintas apa?

Aku tersenyum pada mamah dan bangkit dari kursiku untuk berangkat ke sekolah. "Rio.. gue bareng lu, ya." Ujar Mario sembar bergegas menyusul gue. "No way!" Balas gue.
**

Gue sampe di sekolah tepat waktu. Mungkin kalau Mario berangkat bareng gue, gue akan terlambat dan dihukum lagi kayak biasanya tapi untung hari ini gue bisa bebas darinya dan gak terlambat lagi.

Gue memarkirkan mobil gue di parkiran sekolah gue yang sangat luas ini dan dipenuhi oleh mobil mewah milik murid-murid sekolah ini. Ya, ini parkiran khusus murid sedangkan parkiran khusus guru ada di sebelah barat dari parkiran ini. Sekolah gue ini adalah sekolah favorit di kota tempat gue tinggal. Awalnya gue gak percaya bakal bisa diterima di sekolah ini karena waktu itu persaingannya ketat banget. Bahkan, lebih ketat dari celana cabe-cabean. Tapi, ternyata gue bisa diterima di sekolah ini.

Ohiya, gue ini anak kelas 3 SMA di sekolah ini dan Mario sekolah di sini juga, kelas 3 juga. Tapi, untungnya beda jurusan. Mario ambil IPS sedangkan gue ambil IPA. Dia gak mau ambil IPA, alasannya sih gak tertarik tapi tentu saja itu bukan alasan yang sebenernya. Otak Mario itu ada di perut, makanya dia gak ambil IPA karena takut gak bisa ngikuti pelajarannya.  Lagipula, gue juga gak mau satu jurusan sama dia. Dia itu babon rakus nyebelin.  Kalau dia pilih jurusan yang sama dengan gue, dia pasti akan terus ganggu gue. Dia itu nyebelinnnnnnn bangeeeet.

Gue punya tiga orang sahabat yang sangat setia sama gue, ke mana-mana selalu bersama. Bahkan, kami dikira boyband nyasar karena selalu jalan gerombolan. Mereka adalah Revan, Alfan, dan Vladislav. Nama sahabat gue yang ketiga emang agak aneh, soalnya dia ada darah keturunan Rusia gitu. Jadi, gak usah heran kalau namanya agak aneh tapi tenang, meski dia ada darah keturunan Rusia, dia gak punya hubungan darah kok sama Vladimir Putin.

"Hei" sapa gue pada tiga sahabat gue yang sedang asyik bincang-bincang ketika gue sampe ke kelas. "Hei juga bro"

Itu Alfan yang nyahut. Dia emang yang selalu manggil gue 'bro'. Padahal, guebkan bukan keturunan BROntosaurus ataupun BROkoli kok. Gue ini manusia tulen, bukan manusia jadi-jadian kayak Jenita -- nama aslinya sih Jono, cowok yang tingkahnya banci banget di sekolah gue-- itu. Bukan cuma gue yang dipanggil 'bro' sama si Alfan, hampir semua cowok di sekolah gue dipanggil 'bro' sama Alfan. Kecuali Jenita alias Jono. Khusus Jenita alias Jono, dia manggil cowok banci itu dengan sebutan 'seus'. Gue sih jijik dengernya tapi entahlah, si Alfan ini sama kayak Mario. Kalau Mario otaknya ada di perut, si Alfan ini otaknya ada di telapak kaki. Huh!

"Lagi apa nih guys?" Tanya gue basa-basi walaupun gue tau kalau mereka lagi ngegosip tentang Sisca -- cewek jalang yang suka godain cowok-cowok di sekolah gue-- yang baru putus dari cowok ke-29nya itu. Huh! Aku benci dia tapi bukan benci karena kalah pamor darinya, ya. Aku benci dia karena dia pernah bilang kalau wajahku mirip waria gak laku karena dulu aku pernah membuat hubungannya dengan cowok yang ke-20nya putus. Kurang ajar, 'kan?

"Lagi Qosidahan" cibir Revan. "Hehe iyaiya gue tau kalian ngegosip" kataku.
Revan, Alfan, dan Vladislav memutar bola secara bersamaan. "Ada gosip baru apa lagi
nih?" Tanya gue, mencoba untuk ikut nimbrung. "Bu Ria lagi jalan ke kelas kita" jawab Vladislav.

"Hah? Gosip macam apa itu?" Tanya gue polos. "Bukan gosip, stupid! Bu Ria emang lagi jalan ke kelas kita!" Jawab Vladislav dengan nada sinis.

Aku melihat ke arah luar dan benar saja, bu Ria sudah ada di sana. Berdiri dengan anggun. Aku bangkit dan pergi ke tempat dudukku.  "Selamat pagi, bu..." ujar seluruh murid di kelas gue secara bersamaan. "Selamat pagi, anak-anak" balas bu Ria seraya berjalan menuju mejanya.

"Keluarkan buku tulis kalian, pelajarn untuk hari ini akan segera dimulai." Perintah bu Ria.
"Baik, bu..."
***

Kriiiiiiiinnnnggggggggg

Beli istirahat telah berkumandang. Itu tandanya pelajaran telah selesai. Semua murid di kelas gue bergegas keluar untuk istirahat, bu Ria pun keluar dari kelas gue. Gue, Revan, Alfan, dan Vladislav keluar ketika kelas sudah kosong. "Ikut gue sini!" Ujar seseorang seraya menarik tangan gue agak kasar. Gue tau siapa yang menarik tangan gue barusan. Ya, dia adalah Mario.

To be continued...
===========================
Gimana bagian awalnya?
Klise yak?
Maafkan daku, wahai bunda ratu. xD
Okeh, komentar,  kritik dan sarannya ditunggu, ya. ;)
Komentar kalian sangat berharga untukku. ;)

Comments

Popular posts from this blog

A Complicated Love Story (Part 16)

Telepon

Telepon